Belajar Dari Dunia: Tim Reformasi Polri, Harapan Besar di Tengah Krisis Kepercayaan Publik

- Publisher

Senin, 10 November 2025 - 18:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Penampakan Presiden Prabowo Subianto melantik Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian di Istana Merdeka -Jakarta,Jumat,7/11/2025. (Foto: BPMI Setpres)

Penampakan Presiden Prabowo Subianto melantik Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian di Istana Merdeka -Jakarta,Jumat,7/11/2025. (Foto: BPMI Setpres)

SUARA UTAMA – Harapan di Tengah Gelombang Ketidakpercayaan

Kita menyaksikan di berbagai Media bahwa Presiden Prabowo Subianto melantik keanggotaan Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (07/11/2025).

Sebagai ketua Jimly Asshiddiqie dan 9 anggota lainnya didasarkan pada Keputusan Presiden RI Nomor 122/P Tahun 2025 tentang Pengangkatan Keanggotaan Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pembentukan Komisi Percepatan Reformasi Polri oleh pemerintah menjadi langkah penting di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Namun reformasi ini akan kehilangan arah jika tidak menyentuh struktur kelembagaan dan sistem pertanggungjawaban yang menjadi akar masalah.Pertanyaan mendasar kini muncul: Apakah struktur kepolisian yang berdiri langsung di bawah presiden masih ideal, atau perlu model baru seperti “Kementerian Keamanan Nasional” atau “Kementerian Kepolisian”?

  1. Krisis Kepercayaan dan Kebutuhan Reformasi Struktural

Krisis kepercayaan terhadap Polri telah menjadi isu nasional. Survei Indikator Politik Indonesia (2024) mencatat penurunan kepercayaan publik dari 70% (2022) menjadi 56% (2024). Beragam kasus pelanggaran etik dan penyalahgunaan kekuasaan menunjukkan bahwa masalah Polri tidak hanya bersifat personal, tetapi tertanam dalam sistem kelembagaan.

Editorial Kompas (2025) menyebut,

“Reformasi Polri sulit efektif tanpa perombakan tata kelola dan hubungan kelembagaan antara Polri dan lembaga pengawas sipil.”

  1. Belajar Dari Dunia: Model Kelembagaan Kepolisian

Beberapa negara berhasil mereformasi institusi kepolisian dengan menata ulang posisi kelembagaannya agar lebih akuntabel dan berorientasi sipil.

        a. Model Inggris – Dibawah Kementerian Dalam Negeri (Home Office)

  • Kepolisian Inggris berada di bawah Home Office, bukan langsung di bawah kepala negara.
  • Struktur ini memungkinkan pengawasan politik yang bersifat sipil dan kontrol transparan melalui parlemen.
  • Lembaga pengawas independen, IOPC (Independent Office for Police Conduct), memiliki kewenangan menyidik pelanggaran polisi tanpa campur tangan institusi kepolisian itu sendiri.                                                                                                                                                                                                                                                                    b. Model Jepang – Dewan Keamanan Polisi (NPSC)
  • Polisi Jepang berada di bawah National Public Safety Commission (NPSC), lembaga sipil semi-otonom yang bertanggung jawab kepada Perdana Menteri.
  • Model ini menyeimbangkan kemandirian operasional polisi dan pengawasan politik yang transparan.
  • Kementerian tidak secara langsung mengatur operasional, tetapi berfungsi sebagai regulator dan pembuat kebijakan keamanan nasional.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                c. Model Amerika Serikat – Desentralisasi dan Akuntabilitas Publik
  • Tidak ada kementerian khusus; kepolisian tersebar dalam struktur federal, negara bagian, dan kota.
  • Mekanisme akuntabilitas publik melalui pemilihan sheriff dan laporan publik tahunan memperkuat legitimasi sosial polisi.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      d. Model Korea Selatan – Kementerian Administrasi Publik dan Keamanan
  • Polisi berada di bawah kementerian, namun setiap operasi besar tetap dikontrol oleh Komisi Kepolisian Nasional independen untuk menjaga objektivitas dan mencegah intervensi politik.
  1. Arah Baru Indonesia: Opsi Kelembagaan Polri
BACA JUGA :  Wartawan Sebaiknya Tidak Rangkap Jabatan di LSM, Ini Penjelasannya

Berdasarkan praktik global, ada tiga opsi yang dapat menjadi bahan pertimbangan strategis bagi Tim Reformasi Polri dan pemerintah:

BACA JUGA :  Kilas Balik 28 Tahun Reformasi Indonesia

Opsi 1Tetap di Bawah Presiden (Status Qua dengan Penguatan Pengawasan Eksternal)

  • Polri tetap di bawah Presiden seperti diatur dalam Pasal 30 UUD 1945 dan UU No. 2/2002.
  • Namun perlu dibentuk Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang diperkuat secara hukum, dengan kewenangan penyidikan etik, audit kinerja, dan publikasi laporan tahunan.
  • Cocok bila pemerintah ingin menjaga stabilitas dan tidak mengubah sistem besar-besaran, namun tetap memperkuat check and balance.

Opsi 2 – Polri di bawah “Kementerian Keamanan Nasional”

  • Polri tidak lagi langsung di bawah Presiden, melainkan di bawah Kementerian Keamanan Nasional yang mengoordinasikan kepolisian, imigrasi, keamanan siber, dan intelijen sipil.
  • Opsi ini menciptakan kesatuan kebijakan keamanan publik, sekaligus memperjelas tanggung jawab politik kepada DPR dan publik.
  • Namun, perlu diimbangi dengan otonomi profesional Polri agar tidak mudah dipolitisasi oleh kepentingan kekuasaan.

Opsi3 – Pembentukan “Kementerian Kepolisian dan Ketertiban Publik”

  • Mencontoh Jepang dan Korea Selatan, kementerian ini berfungsi sebagai pembuat kebijakan dan pengawas, bukan pelaksana teknis operasi kepolisian.
  • Polri tetap memiliki struktur komando profesional, tetapi berada di bawah payung kebijakan nasional yang dikontrol sipil.
  • Cocok untuk masa transisi menuju kepolisian modern yang otonom dan transparan.
  1. Pandangan Pakar dan Media Nasional
BACA JUGA :  Sengketa Tanah di Kalimantan Timur: Kenapa Sertifikat Tidak Selalu Menjamin Kepemilikan?

Beberapa pakar hukum dan keamanan memberikan pandangan berbeda:

  • Hikmahanto Juwana (UI) menilai bahwa “Polri perlu tetap di bawah Presiden agar tidak terjebak dalam birokrasi kementerian, namun Kompolnas harus diberi taring hukum.”
  • Mahfud MD, dalam wawancara dengan Media Indonesia (2025), mengatakan bahwa “struktur kelembagaan Polri harus dievaluasi agar pengawasan sipil lebih nyata dan tidak hanya administratif.”
  • Tempo berpendapat, “Reformasi kelembagaan Polri harus menuju model yang menyeimbangkan independensi dan kontrol publik, bukan kembali ke era militeristik atau birokrasi berlapis.”       Rekomendasi Kongkret Tim Reformasi Polri                                                                                                  
  • Menyusun peta jalan (roadmap) reformasi kelembagaan dengan tiga fase: audit kelembagaan, rekomendasi struktur, dan uji publik.
  • Mendorong revisi UU No. 2 Tahun 2002 untuk menegaskan posisi Polri dan memperkuat peran Kompolnas sebagai lembaga pengawas independen.
  • Membentuk Komisi Kepolisian Independen (seperti IOPC Inggris) yang memiliki otoritas penyidikan pelanggaran etik dan publikasi laporan tahunan ke publik.
  • Memperkuat fungsi Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) untuk mengintegrasikan kebijakan keamanan nasional tanpa mengintervensi operasional Polri.
  • Menetapkan indikator kinerja reformasi yang terukur: tingkat kepercayaan publik, transparansi kasus, penurunan pelanggaran etik, dan persepsi integritas.

Penutup: Membangun Polisi Dipercaya, Bukan Ditakuti

Belajar dari dunia, Indonesia perlu menata ulang hubungan antara negara, kepolisian, dan warga negara.

Reformasi Polri tidak boleh berhenti pada pelatihan atau rotasi jabatan, tetapi harus menyentuh tulang punggung kelembagaan dan nilai moral di dalamnya.

Seperti dikatakan mantan Sekjen Interpol, Jürgen Stock:

“Trust is not restored by slogans, but by structure and accountability.”

Kini, di tangan Tim Percepatan Reformasi Polri, kepercayaan publik yang retak dapat disatukan kembali — bila keberanian untuk menata struktur diiringi dengan kemauan untuk melayani rakyat, bukan kekuasaan.

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

Fardy Iskandar: Seleksi KPID Kaltim Bukan Sekadar Formalitas, Ini Soal Marwah Penyiaran Daerah
Kilas Balik 28 Tahun Reformasi Indonesia
Urgensi Reformasi Pendidikan Menggugat Sistem Pendidikan yang Kaku
Unifikasi Hukum untuk Kepastian Hak Warga Negara
Sengketa Tanah di Kalimantan Timur: Kenapa Sertifikat Tidak Selalu Menjamin Kepemilikan?
KUHAP 2025 Perkuat Hak Bantuan Hukum: Advokat Kini Wajib Hadir Sejak Awal Penyidikan
Kantor Hukum Samarinda Tangani Sengketa Ketenagakerjaan Tambang Bernilai Tinggi di Kutai Timur
Mengapa Strava & Body Goals Menjadi Mata Uang Sosial Baru Menggeser Flexing Harta
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 05:12 WIB

Fardy Iskandar: Seleksi KPID Kaltim Bukan Sekadar Formalitas, Ini Soal Marwah Penyiaran Daerah

Rabu, 6 Mei 2026 - 15:16 WIB

Kilas Balik 28 Tahun Reformasi Indonesia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:49 WIB

Urgensi Reformasi Pendidikan Menggugat Sistem Pendidikan yang Kaku

Selasa, 28 April 2026 - 13:48 WIB

Unifikasi Hukum untuk Kepastian Hak Warga Negara

Senin, 27 April 2026 - 19:23 WIB

Sengketa Tanah di Kalimantan Timur: Kenapa Sertifikat Tidak Selalu Menjamin Kepemilikan?

Berita Terbaru

Moslem Woman Silhouette in Old Vintage Brick Wall Background

Artikel

Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:12 WIB

FOTO: Self Healing Talk & Workshop Bouquet untuk Muslimah (Dok. Robinsah/SUARA UTAMA)

Berita Utama

Self Healing Talk & Workshop Bouquet untuk Muslimah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:20 WIB