banner 728x250
Opini  

Sumber Pengetahuan dan Kebenaran

Foto Dokumentasi Suhardi, Sumber Pengetahuan dan Kebenaran
Foto Dokumentasi Suhardi, Sumber Pengetahuan dan Kebenaran
banner 120x600
1,327 Kali Dibaca

Penulis Oleh : Frizki Nurul Pasa dan Suhardi

FITK IAIDU Asahan Kisaran, Manajemen Pendidikan Islam

SUARA UTAMA, Dalam kamus besar bahasa Indonesia, sumber diartikan sebagai asal. Menyukai misalnya, sumber berarti asal usul air di sumber itu. Dengan oleh karena itu, sumber informasi adalah asal dari informasi ini diperoleh manusia. Jika membicarakan masalah asal pengetahuan dan ilmu pengetahuan tidak dibedakan karena dalam sumber pengetahuan juga terdapat sumber ilmu pengetahuan (Suendi : 2016 :8).

Kata ilmu berasal dari bahasa Arab “alima” dan berarti pengetahuan. Pemakaian kata ini dalam bahasa Indonesia kita ekuivalenkan dengan istilah “science”. Science berasal dari bahasa Latin: Scio, Scire yang juga berarti pengetahuan. Ilmu adalah pengetahuan. Namun, ada berbagai macam pengetahuan. Dengan “pengetahuan ilmu” dimaksud pengetahuan yang pasti, eksak, dan betul-betul terorganisir.Jadi,pengetahuan yang berasaskan kenyataan dan tersusun baik( Suendi:2016:20).

Kebenaran adalah kesesuaian yang dapat diterima oleh orang terutama di kalangan para ahli. Teori ini digagas oleh Thomas Kuhn yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan berkembang dalam beberapa tahapan, pertama, pengetahuan diterima oleh masyarakat berdasarkan konsepsi ilmiah. Dalam perkembangannya, kebenaran pengetahuan tersebut dipertanyakan keabsahannya dan terjadi revolusi ilmu pengetahuan dan menyebabkan pergeseran paradigma dalam masyarakat ilmiah. Pergeseran tersebut ditentukan oleh penerimaan masyarakat terhadap paradigma dan konsepsi kebenaran ilmiah. Berdasarkan teori tersebut, teori ilmiah dianggap benar jika mendapat dukungan atau kesepakatan dalam masyarakat ilmiah terhadap kebenaran teori tersebut (Faradi, Abdul Aziz 2019: 97 –  114 ).

Sumber Pengetahuan

Sumber pengetahuan ialah apa yang menjadi  titik-tolak atau apa yang merupaan objek pengetahuan itu sendiri. Sumber itu dapat bersifat atau berasal dari “ dunia eksternal” atau juga terkait dan berasal dari “ dunia internal” atau kemampuan subjek ( Akhyar Yusuf Lubis : 2016 :32).

Ada beberapa macam mengenai sumber pengetahuan. Berikut macam-macamnya :

BACA : Yayasan AR Learning Center Adakan Halal Bihalal Virtual bersama Penasehat Coach Yuan Coach Dadang. Yuk Ikutan

  1. Perception (Persepsi/Pengamatan Indrawi

Persepsi adalah hasil tanggapan indrawi terhadap fenomena alam. Adapun istilah yang lebih umum untuk istilah persepsi ini adalah empiri atau pengalaman (empeiria; experiential). Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang diterima dalam epistemologi (Barat dan Islam).

Dalam filsafat Barat, pandangan yang menyatakan bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan dikenal dengan nama empirisme. Dengan kata lain, empirisme mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan diperoleh melalui pengalaman indrawi dan bukan melalui  rasio, Kaum empiris berpendapat bahwa semua abstraksi atau konsep universal ditarik dari pengalaman indrawi Francis Bacon (1561-1626), filsuf empiris dari Inggris misalnya melalui Novum Organum-nya (1620), menyatakan bahwa ilmu pengetahuan diperoleh lewat pengalaman atau metode induksi (a posteriori knowledge, synthetic statement). Dalam pandangan kaum empirisme Guga positivisme) yang membedakan ilmu pengetahuan dari non-ilmu adalah persoalan verifikasi. Ilmu pengetahuan dengan demikian hanya menerima suatu teori atau pernyataan yang dapat dibuktikan secara empiris (metodologis).

Ada beberapa ciri pokok pengalaman. Pertama, pengalaman indrawi selalu berhubungan dengan objek tertentu di luar si pengamat (subjek) Kedua. pengalaman manusia tidak seragam (pancaindra). Terakhir, pengalaman manusia terus berkembang. Tentang ciri yang pertama, hubungan antara subjek dengan objek dapat dalam bentuk melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasa. Objek itu bisa berbentuk benda-benda fisis seperti orang, binatang, hewan, tumbuhan ataupun ide atau gagasan. Tentang ciri kedua, karena pengalaman manusia tidak seragam, maka sebagai hasilnya kita dapat berpikir, menilai, membandingkan, memutuskan, atau kita dapat sedih, gembira, kecewa dan lain-lain. Tentang yang ketiga, pengalaman manusia terus berkembang, ini disebabkan pelbagai faktor entah itu lantaran disebabkan pertambahan usia, pendidikan/lingkungan, atau perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi dan lain-lain ( Akhyar Yusuf Lubis : 2016 :35).

Sumber Pengetahuan dan Kebenaran

Foto: Dok. Mas Andre Hariyanto. Pamflet Poster/Redaksi Suara Utama Kembali Membuka Kesempatan Bergabung Menjadi Kaperwil, Kabiro, Koresponden, Jurnalis/Suara Utama
Foto: Dok. Mas Andre Hariyanto. Pamflet Poster/Redaksi Suara Utama Kembali Membuka Kesempatan Bergabung Menjadi Kaperwil, Kabiro, Koresponden, Jurnalis/Suara Utama
  1. Memory (Ingatan)

Pengetahuan, baik secara teoretis maupun praktis. banyak sekali mengandalkan ingatan. Pengalaman langsung atau tidak langsung harus didukung oleh ingatan agar hasil pengalaman itu dapat disusun secara logis dan sistematis (menjadi pengetahuan). Dalam epistemologi realisme, al yang disebut dengan “realisme langsung”, yang dimengerti sebagai apa yang kita pahami tentang sesuatu pengalaman, sama dengan peristiwa itu sendir (bandingkan dengan “teori cermin”). Sementara itu, pendukung “realisme tak langsung berpendapat bahwa yang diketahui/diingat hanyalah gambaran (citraan) dalam pikiran tentang peristiwa masa lampau yang tinggal dan pernah kita alami.

Ingan tentu tidak selalu benar dan tentu tidak akan persis sama dengan penghayatan dan pengalaman kita di masa sekarang Pertanyaannya kemadian, bagaimana supaya ingatan itu dapat dijadikan dasar yang dapat dipertangungjawabkan bagi pengetahuan?

Sekurang-kurangnya, ada dua syarat minimal agar ingatan itu dapat dijadikan sumber pengetahuan. Yaitu adalah a) perlu ada kesaksian orang lain bahwa ingatan dan pengalaman masa lalu saya itu benar adanya dan b) ingatan itu konsisten dan bernilai pragmatis (dapat membantu memecahkan masalah).

Misalnya ingatan/pengalaman masa lalu saya ketika tinggal di Prancis, dapat membantu saya/orang lain untuk menelusuri kota Paris, sehingga apa yang saya ingat dan ceritakan konsisten dengan cerita saya (ada hubungan antara teori dan praktik) ( Akhyar Yusuf Lubis ; 2016 ;36).

 

BACA : Perbedaan Fisik Tidak Membatasi Manusia Berbagi Kasih dan Pengetahuan

  1. Reason (Akal, Nalar)

Akal diterima sebagai salah satu sumber pengetahuan. Adapun pikiran atau penalaran adalah hal yang paling mendasar bagi kemungkinan adanya pengetahuan. Penalaran adalah proses yang harus dilalui dalam menarik kesimpulan. Ada hubungan yang erat antara metode (metodologi) dengan logika (penalaran).

Logika adalah cabang filsafat yang membahas prinsip-prinsip yang digunakan untuk membedakan antara argumen-argumen yang masuk akal (rasional) dengan argumen-argumen yang tidak masuk akal. Logika merumuskan aturan-aturan yang harus diikuti untuk menarik kesimpulan yang lurus/tepat. Dengan kata lain, logika adalah ilmu dan kecakapan berpikir dengan tepat. Karena itu, jelas ada hubungan yang sangat dekat antara metode dan logika, sehingga metode-metode ilmiah dapat juga dipandang sebagai bagian dari logika (lihat Baker, 1996: 12; Runnes (ed), 1943: 196).

Sepintas berbicara ihwal logika dan metodologi, kedua ini adalah “tool studies” atau “mata pelajaran sebagai alat” yang dibedakan dengan “content studies” atau “mata pelajaran mengenai bahan”. Contoh content studies adalah seperti sosiologi, psikologi, ekonomi, komunikasi, dan lain – lain. Logika dan metodologi disebut mata pelajaran sebagai alat karena logika dan metodologi diperlukan oleh semua ilmu sebagai alat untuk memperoleh dan mendeskripsikan/menjelaskan semua ilmu pengetahuan. Selain logika dan metodologi, bahasa sebetulnya juga dapat dipandang sebagai sarana untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan (tool studies) ( Akhyar Yusuf Lubis : 2016 : 37).

  1. Intropection (Introspeksi)

Introspeksi juga dianggap sebagai sumber pengetahuan di mana manusia mendapatkan pengetahuan (pengenalan atau pemahaman terhadap sesuatu) ketika ia mencoba melihat ke dalam dirinya. Socrates pernah menyatakan, “Kenalilah dirimu sendiri”. Sebagai metode, introspeksi terkenal dalam dunia akademis melalui Freud. Freud menggunakan metode ini untuk memandang (observasi) ke dalam pikiran atau mental seseorang atau diri sendiri. Freud menggunakan metode introspeksi (dan interpretasi) untuk psikoanalisanya. Namun, tokoh-tokoh dari gugusan behaviorisme menolak penggunaan metode ini pada psikologi lantaran dianggap tidak ilmiah, tidak objektif dan tidak terukur.

  1. Intuition (Intuisi)

Intuisi adalah “tenaga rohani”, suatu kemampuan yang mengatasi rasio, kemampuan untuk menyimpulkan serta memahami secara mendalam. Intuisi adalah pengenalan terhadap sesuatu secara langsung dan bukan melalui inferensi logis (deduksi-induksi). Intuisi merupakan kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan secara tiba-tiba dan secara langsung. Intoisi itu terdiri dari intuisi indrawi dan intuisi intelektual. Intuisi indrawi timbul sebagai hasil pengamatan atau pengalaman. Misalnya, pengalaman Archimedes tatkala ia merasakan berat badannya berkurang ketika ia masuk ke kolam renang, dan secara tiba-tiba ia langsung menemukan jawaban atas apa yang dipikirkannya, sehingga ia berlari dan berteriak, “Eureka, Eureka” (telah kutemukan).

Istilah intuisi ini sangat dikenal melalui (salah satunya) Henri Bergson (1859-1941). Bergson menguasai secara mendalamn ilmu-ilmu alam dan matematika, dan di masa mudanya ia mengagumi positivisme, tetapi kemudian perhatiannya beralih pada masalah filsafat dan hidup. Bergson mengidentikkan cara kerja akal (rasio) seperti kamera yang mengabadikan yang dipotret dalam gambar yang mati. Rasio berguna sekali untuk fisika dan mekanika, namun sama sekali tidak berguna untuk menyelami hakikat terdalam sesuatu. la mengembangkan spiritualisme dan mengkritik tajam materialisme dan positivisme itu. Gaya berpikir Bergson agak khas, metodenya bersifat “intuitif”. Bergson berpikir dalam bentuk “riak gelombang” ketimbang dalam konsep-konsep sistematis dan logika yang kaku. Metodenya hanya dapat digambarkan dalam suatu gerakan dinamis, sesuai dengan bagaimana kenyataan itu dialami.

Bergson membedakan “pengetahuan mengenai” (knowledge about) dengan “pengetahuan tentang” (knowledge of). Pengetahuan mengenai disebut pengetahuan diskursif atau pengetahuan simbolis (pengetahuan yang diperantarai). Pengetahuan ini sangat dipengaruhi oleh sudut pandang. paradigma yang kita gunakan. Adapun “pengetahuan tentang” adalah pengetahuan intuitif (atau pengetahuan langsung tanpa perantara). Ia menyatakan bahwa intuisi sanggup menangkap dunia dalam keberubahannya/ keberlangsungan yang esensial. Dari hasil intuisi (a priori) tentang seluruh kenyataan, ia menyatakan bahwa seluruh kenyataan kosmis yang disebutnya “la dured” (keberlangsungan, lamanya) yaitu “waktu yang dialami secara langsung” (“la duree” ini dibedakannya dengan waktu kuantitatif (objektif- fisis) yang ia sebut “temps”).

Dengan metode intuitif, Bergson mengamati adanya satu élan vital, energi kreatif yang menyebabkan berbagai macam variasi dalam evolusi. Kreativitas sering dikaitkan dengan imajinasi yang oleh kaum positivisme.

diabaikan dalam ilmu pengetahuan musabab dianggap tidak objektif. Kini justru imajinasi” (image) atau daya untuk membentuk gambaran dan konsep. konsep mental yang diperoleh secara tidak langsung dari pengalaman diak berperan penting dalam ilmu pengetahuan (perhatikan penemuan ilmiah seperti teori gravitasi Newton dan penemuan lain) ( Akhyar Yusuf Lubis : 2016 : 38) .

  1. Authority (Otoritas)

Ororitas mengacu pada individu atau kelompok yang dianggap memiliki pengetahuan sahih dan memiliki legitimasi sebagai sumber pengetahuan Otoritas juga dapat berasosiasi atau berarti negatif bila otoritas itu justru bersifat dominasi, menindas dan otoritasnya tidak absah. Otoritas ini dapat memasuki dunia politik, kehidupan religius dan moral. Dalam kehidupan masyarakat pra-ilmiah dan pada masa Abad Pertengahan otoritas ini memegang peran penting sebagai sumber pengetahuan. Sedangkan pada masa Modern otoritas itu kemudian beralih melalui justifikasi ilmiah.

  1. Precognition (Prakognisi)

Prakognisi ialah kemampuan untuk mengetahui sesuatu peristiwa yang akan terjadi. Misalnya Nosradamus, seorang yang terkenal karena memiliki kemampuan ini, mampu memberi peringatan akan terjadinya gempa bumi di San Francisco, dan mengemukakan akan terjadinya pembunuhan pada Presiden Kennedy jauh sebelum terjadinya kejadian tersebut ( Akhyar Yusuf Lubis ; 2016 : 40).

  1. Clairvoyance

Clairvoyance adalah kemampuan mempersepsi suatu peristiwa tanpa menggunakan indra. Seseorang ahli nujum yang mampu mengetahui barang Anda yang hilang beberapa hari lalu, maka orang ini memiliki kemampuan Clairvoyance. Contoh yang menarik adalah pencarian seseorang yang disembunyikan dengan jarak beberapa kilometer dan kemudian dicari dengan berjalan kaki sambil mata tertutup seperti yang pernah dilakukan oleh Dedi Corbusier, seorang magician yang terkenal itu.

  1. Telepathy (Telepati)

Telepati adalah kemampuan berkomunikasi tanpa menggunakan suara atau tanpa menggunakan bentuk simbolik lain, namun hanya dengan menggunakan kemampuan mental. Misalnya jika seseorang dapat mengetahui pikiran orang lain tanpa menggunakan salah satu bentuk komunikasi. Telepati harus dibedakan dari fantasi dan ilusi (illusion). Fantasi berkaitan dengan daya untuk membayangkan sesuatu yang sesungguhnya tidak real dan tidak mungkin terjadi. Sedangkan ilusi adalah “ide” atau “keyakinan” atau kesan yang salah tentang sesuatu. Ilusi itu dapat diciptakan misalnya oleh seorang pesulap atau magician (seperti David Copperfield). Seorang pesulap atau magician dapat menciptakan kesan (yang keliru) di mata penonton secara sedemikian rupa sehingga ia bisa seolah-olah memotong-motong bagian badan dan menyatukannya kembali.

Di antara sekian sumber pengetahuan yang telah dibahas tersebut, baik yang diambil dari pandangan Hospers atau Honderich, tentu saja Anda boleh bersepakat atau tidak bersepakat mana yang betul-betul dianggap sebagai sumber pengetahuan dan mana yang tidak. Sekarang marilah kita beralih ke pembahasan lain yakni tentang model-model penalaran (Akhyar yusuf lubis, 2016 :41).

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, sumber diartikan sebagai asal. Menyukai misalnya, sumber berarti asal usul air di sumber itu. Dengan oleh karena itu, sumber informasi adalah asal dari informasi ini diperoleh manusia. Jika membicarakan masalah asal pengetahuan dan ilmu pengetahuan tidak dibedakan karena dalam sumber pengetahuan juga terdapat sumber ilmu pengetahuan.

Sumber utama informasi sebagai berikut :

  1. Rasionalisme

Paham rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusiaadalah rasio. Jadi, dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio, mustahil manusia dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Rasio itu adalah berpikir. Oleh karena itu, berpikir inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Ini adalah orang yang berpikir memperoleh informasi. Semakin seseorang berpikir semakin banyak informasi yang Anda dapatkan. Berdasarkan informasi seseorang membuat dan menentukan tindakannya sedemikian rupa sehingga perbedaan akan muncul kemudian tingkah laku, perbuatan dan tindakan manusia menurut perbedaan ilmu yang diterima. Karakter tersebut adalah Rene Descartes, Spinoza,  Leibzniz dan Wolff, meskipun pada dasarnya akar pemikiran mereka dapat ditemukan pada pemikiran filsuf klasik seperti Plato, Aristoteles dan lain-lain.

Namun, hubungan itu tidak bisa sendirian. Dia juga membutuhkan dunia nyata, sehingga proses memperoleh pengetahuan ini adalah hubungan yang menyentuh dengan dunia nyata dalam berbagai pengalaman empiris. Dengan demikian, seperti yang telah disinggung sebelumnya kualitas pengetahuan manusia menentukan berapa banyak hubungan bekerja. Semakin sering hubungan berhasil dan dalam kontak dengan realitas sekitarnya, semakin dekat pula orang itu kepada kesempurnaan.

Profesor Dr. Muhmidayeli, tulis M.Ag dalam bukunya Philosophy of Education yaitu, “Kualitas hubungan manusia ini tergantung pada tersedianya kondisi memungkinkan pengembangan karakter utama dalam arah yang dapat diamati berbagai permasalahan hidup menuju kesempurnaan dan kemajuan”.

Dalam hal ini, penulis memahami apa arti istilah-istilah tersebut adalah menciptakan lingkungan positif yang memberdayakan seseorang didorong untuk mempertimbangkan dan mempertimbangkan berbagai persoalan yang muncul memungkinkannya mengarah pada kesempurnaan dan peningkatan diri. Karena perkembangan akal manusia sangat bergantung padanya pemanfaatan maksimum unsur spiritual individu, yang sangat bergantung padanya proses psikologis yang lebih dalam daripada proses mental.

Karena,Mengembangkan sumber daya manusia sesuai dengan aliran rasionalisme dengan pendekatan mental disiplin yaitu melalui pola latihan dan sistematika untuk berpikir tentang seseorang dengan cara ini melalui logika sistematis sehingga ia dapat menghubungkan berbagai informasi dan fakta semuanya mulai dari kenyataan melalui ujian pemikiran sistem logis hingga pengambilan keputusan yang lebih baik ( Suendi : 2016: 7).

  1. Empirisme

Secara epistemologis, istilah empiris berasal dari kata Yunani empiria yang artinya pengalaman. Tokoh-tokoh tersebut adalah Thomas Hobbes, John Locke,Berkeley dan terutama David Hume.

Berbeda dengan rasionalisme yang memberi status pada hubungan empirisme memilih pengalaman sebagai sumber pengetahuan, empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenala, baik pengalaman eksternal maupun pengalaman internal. Thomas Hobbes menganggap pengalaman indrawi sebagai permulaan setiap perkenalan. Kognisi intelektual hanyalah semacam perhitungan (kalkulus), yaitu menggabungkan data sensorik yang sama dengan cara yang berbeda-berbeda. Dunia dan materi adalah objek pengetahuan, yang merupakan sistem materi dan ada proses berdasarkan itu yang berlanjut tanpa batas hukum mekanisme. Dari sudut pandang ini, ajaran Hobbes adalah sebuah sistem materialis pertama dalam sejarah filsafat modern.

Dia adalah orang pertama yang menerapkan prinsip dan metode empirisme John Locke.  Demonstrasi Langkah terpenting adalah Locke mencoba terhubung teori empirisme seperti yang diajarkan Bacon dan Hobbes dengan ajarannya rasionalisme Descartes. Penggabungan ini sebenarnya menguntungkan secara empiris. Dia menentang teori rasionalis tentang gagasan dan prinsip pertama dianggap asli. Menurutnya, segala pengetahuan datang dari pengalaman dan tidak lebih, dan akal manusia adalah pasif setelah informasi ini dikumpulkan. Pikiran tidak dapat menerima pengetahuan dari dirinya sendiri. Alasannya tidak lain adalah kertas putih kosong,  ia hanyalah menerima saja apa yang datang dari pengalaman. Locke tidak membedakan antara pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektual, satu-satunya objek pengetahuan adalah ide-ide yang muncul dari pengalaman eksternal dan karena pengalaman batin. Pengalaman eksternal mengacu pada hal-hal apa yang ada di luar diri kita. Meskipun kekalahan mental ada hubungannya dengan banyak hal-hal yang ada dalam diri/jiwa manusia itu sendiri.

Dr. Mulyadi Kartanegara mendefinisikan sumber informasi sebagai alat atau sesuatu dari mana orang dapat memperoleh informasi tentang subjek sains yang pada dasarnya berbeda. Karena sumber informasi kemudian menjadi alat ia menyebut indera, akal dan hati sebagai sumber ilmu.

Amsal Bakhtiar mengklaim bahwa itu tidak jauh berbeda. Menurut sumber informasi adalah alat untuk mengumpulkan informasi. Dengan dalam istilah lain ia menyebutkan empat jenis sumber pengetahuan yaitu Empirisme, rasionalisme, intuisi dan wahyu. Sama halnya dengan Jujun Surya Sumantri menyebutkan empat sumber ilmu.

Meskipun John Hospers menyebutkannya dalam bukunya An Instruction untuk analisis filosofis seperti yang disebutkan Surajiyo alat untuk memperoleh pengetahuan, termasuk pengalaman indrawi,alasan, Otoritas, Intuisi, Wahyu dan Iman.

Sumber Ilmu Pengetahuan dirinci oleh John Hospers dalam kebung sebagai berikut.a) Pengalaman indrawi atau sense-experince, pengetahuan yang diperoleh dari kehidupan nyata pengalaman manusia yang berhubungan penggunaan indra manusia. Ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada fakta sensorik manusia. b) Penalaran atau penalaran. informasi diterima proses berpikir manusia melalui akal. karya penalaran bagaimana membandingkan kalimat yang ada dengan kalimat baru. Kebenaran tentang hasil kontradiksi keduanya merupakan ilmu pengetahuan baru. c) Rene Descartes (1596-1650) dianggap sebagai bapak rasionalisme. Rasionalisme tidak menganggap pengalaman indrawi (empiris) sebagai sumber pengetahuan tetapi akal (hubungan). kelemahan pengalaman empiris dapat diperbaiki jika alasan digunakan. Itu bukan rasionalisme melarang penggunaan indera dalam memperoleh pengetahuan, tetapi panca indra hanyalah rangsangan bagi nalar untuk berpikir dan menemukan kebenaran/pengetahuan. d) Otoritas atau authority. Informasi lahir dari otoritas kekuasaan diakui oleh anggota kelompoknya. Ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kebenarannya ini tidak perlu mengujinya. e) Intuisi atau instuition   Ilmu pengetahuan yang bersumber dari intuisi tidak dapat dibuktikan secara nyata merta melainkan melalui proses yang panjang dan tentu dengan memanfaatkan intuisi manusia. f) Kritik paling tajam terhadap empirisme dan rasionalisme dilontarkan oleh Hendry Bergson (1859−1941). Menurutnya bukan hanya indra yang terbatas, akalpun mempunyai keterbatasan juga. Objek yang ditangkap oleh indra dan akal hanya dapat memahami suatu objek bila mengonsentrasikan akalnya pada objek tersebut. Dengan memahami keterbatasan indra, akal,
serta objeknya, Bergson mengembangkan suatu kemampuan tingkat tinggi yang dinamakannya intuisi. Kemampuan inilah yang dapat memahami suatu objek secara utuh, tetap, dan menyeluruh. Untuk memperoleh intuisi yang tinggi, manusia pun harus berusaha melalui pemikiran dan perenungan yang konsisten terhadap suatu objek. g) Wahyu atau revelation. Ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu Ilahi melalui para nabi dan utusan-Nya demi kepentingan umat. Dasar penerimaan kebenarannya adalah kepercayaan terhadap sumber wahyu itu sendiri. Dari kepercayaan ini munculah apa yang disebut dengan keyakinan.

Wahyu sebagai sumber pengetahuan juga berkembang di kalangan agamawan. Wahyu adalah pengetahuan agama disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara para nabi yang memperoleh pegetahuan tanpa mengusahakannnya. Pengetahuan ini terjadi karena kehendak Tuhan.

Hanya para nabilah yang mendapat wahyu. h) Keyakinan atau faith. Ilmu pengetahuan yang bersumber dari sebuah keyakinan yang kuat. Keyakinan yang telah berakar dalam diri manusia atas kebenaran wahyu Ilahi dan pembawa berita Wahyu Ilahi tersebut. Ilmu
pengetahuan ini tidak perlu diuji kebenarannya. Penganutnya akan serta
merta mempercayainya sebagai sebuah keharusan ( Suendi : 2016 : 8).

Teori Kebenaran dalam Perspektif Islam

 

Pengertian Kebenaran

Dari jenis katanya, “kebenaran” merupakan kata benda. Namun janganlah terlalu cepat langsung menanyakan dan mencari benda yang namanya “kebenaran”, jelas itu tidak akan ada hasilnya; itu merupakan usaha yang sesat. Meskipun ada kata benda “kebenaran”, namun dalam realitanya tidak ada benda “kebenaran”, yang ada dalam kenyataan secara ontologis adalah sifat “benar”. Kata benda “kebenaran” merupakan kata jadian dari kata sifat “benar” (sebagai kata dasarnya); ini merupakan rekayasa morfologis, agar hal yang merupakan sifat itu dapat dijadikan subyek atau obyek dalam suatu struktur kalimat perlu dijadikan kata benda terlebih dahulu, meskipun kenyataannya adalah tetap sebagai sifat ( Paulus Wahana : 2016 : 125).

Kebenaran Metafisik

Kebenaran ini tidak dapat ditegakkan (baik dengan pembenaran, maupun dengan pemalsuan/kritik) atas dasar standar eksternal seperti kewajaran, logika deduktif atau standar profesional. Kebenaran metafisik adalah kebenaran paling mendasar dan puncak dari semua kebenaran (kebenaran dasar, kebenaran hakiki) karena harus diterima apa adanya (take for granted). Misalnya kebenaran iman dan ajaran agama yang mutlak.

Kebenaran Etis

Kejujuran etis mengacu pada seperangkat standar moral atau profesional mengenai perilaku yang sesuai. Seseorang dianggap etis ketika mereka berperilaku sesuai dengan standar perilaku ini. Sumber kebenaran etis dapat berasal dari kebenaran metafisik atau dari norma sosial budaya komunitas sosial atau profesional khusus. Beberapa dari kebenaran ini bersifat mutlak (sesuai dengan standar etika universal) dan beberapa bersifat relatif.

Kebenaran logis

Sesuatu dianggap benar ketika konsisten secara logis atau matematis dan sesuai dengan apa yang diketahui benar atau dengan apa yang benar menurut keyakinan metafisik. Aksioma metafisik 1+1=2 dapat dianggap benar secara logis. Namun, kebenaran ini tidak lepas dari persetujuan orang-orang yang terlibat. Misalnya 1+1 ≠ 3 karena diterima secara musyawarah.

Kebenaran Empiris

Dipercaya secara luas bahwa kebenaran ini mendasari penelitian para peneliti. Rasional (kepercayaan pada asumsi, pernyataan, hipotesis, pernyataan) dianggap benar ketika sesuai dengan realitas alam dalam arti dapat diverifikasi, dibenarkan atau dikritik. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa fokus terpenting dalam kajian filsafat ilmu adalah kebenaran empiris (T4). Kebenaran empiris sering disebut sebagai kebenaran ilmiah. Tentu saja tanpa mengesampingkan kebenaran lainnya ( Suendi :2016 : 43-44).

Teori kebenaran

Purwadar Minta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menyatakan bahwa ini adalah kebenaran a) Keadaan (hal dll) benar (sesuai dengan hal atau keadaan nyata). Misalnya, saya masih meragukan kebenaran pesan ini: Kita harus berani membela kebenaran dan keadilan.b) Sesuatu yang benar (benar-benar ada, benar-benar ada, dll). Misalnya, kebenaran yang diajarkan oleh agama. c) Kejujuran, ketulusan hati, misalnya, tidak ada yang akan dihukum atas kebaikan dan kejujuran Anda.

Sedangkan menurut Abbas Hamam, kata “kebenaran” dapat digunakan sebagai kata benda konkrit maupun abstrak. Jika subjek ingin mengatakan yang sebenarnya, itu berarti pernyataan itu benar. Makna kalimat adalah makna yang terkandung dalam kalimat atau pernyataan. Keberadaan kebenaran selalu terkait dengan pengetahuan orang (subjek yang tahu) tentang objek. Jadi kebenaran terletak pada sejauh mana subjek memiliki pengetahuan tentang objek. Pada saat yang sama, informasi datang dari banyak sumber. Sumber-sumber ini kemudian berfungsi sekaligus sebagai standar kebenaran. Berikut ini adalah teori-teori kebenaran ( Ahmad     Atabik : 34)

BACA : Setahun Konsisten Mengabarkan Kebenaran Dengan Data Faktual dan Akurat, Suara Utama Siap Bersaing Dengan Berita Online Lainnya

Teori korespondensi (correspondence theory of truth)

Korespondensi menegaskan bahwa kebenaran adalah kesepakatan pemikiran dan teori dengan realitas. Moto teori ini adalah “Kebenaran adalah… kesetiaan pada realitas objektif” (kebenaran yang setia/tunduk pada realitas objektif). Implikasi dari teori ini adalah sifat pencarian kebenaran ilmiah, mengarah pada upaya serius untuk menemukan hubungan kebenaran yang selalu konsisten atau keadaan realitas adalah ketika ada pernyataan atau kesepakatan antara makna yang dimaksudkan dari suatu pendapat dan objek pendapat. pernyataan atau pendapat Teori ini berkaitan erat dengan kebenaran empiris .

Teori koherensi / konsistensi (teori koherensi kebenaran)

Teori tersebut menegaskan bahwa kebenaran adalah ketika terdapat koherensi makna antara dua logika atau lebih yang tidak bertentangan pada saat yang sama. Kebenaran terjadi Kebenaran muncul ketika ada kesepakatan antara pernyataan saat ini dan pernyataan sebelumnya. Sumber kebenaran, menurut teori ini, adalah logika (manusia), yang pada dasarnya koheren: sebuah pernyataan dikatakan benar jika sesuai dengan jaringan luas pernyataan yang terkait secara logis. Menurut teori ini, kebenaran tidak terdiri dari hubungan antara keputusan dan sesuatu yang lain, yaitu fakta dan kenyataan, tetapi dari hubungan antara keputusan itu sendiri Teori yang koheren berjumlah kebenaran logis .

Teori Pragmatisme (Teori kebenaran pragmatis.)

Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragmai yang berarti apa yang dilakukan, perbuatan, perbuatan, nama filsafat yang dikembangkan oleh William James di Amerika Serikat. Teori kebenaran pragmatis adalah teori bahwa makna gagasan dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, pribadi atau sosial. Benar atau tidaknya suatu pernyataan atau teori tergantung dari apakah pernyataan atau teori tersebut bermanfaat bagi manusia dalam kehidupannya. Kebenaran pernyataan itu harus bekerja dalam kehidupan praktis. Menurut teori ini, kebenaran diukur dari segi utilitas, fungsionalitas, dan konsekuensi yang memuaskan. Kebenaran mengacu pada seberapa baik sesuatu bekerja dalam kehidupan seseorang ( Suendi : 2016 : 44)

Kesimpulan

Dari apa yang telah tersaji diatas, penulis coba menyimpulkan, bahwa epistemologi merupakan cabang dari ilmu filsafat mempelajari batas-batas pengetahuan dan asal-usul pengetahuan serta dikriteria kebenaran. Pembahasan dalam epistemologi lebih terfokus pada sumber pengetahuan ( the origin of knowledge) dan teori tentang kebenaran (the theory of truth) pengetahuan. Pembahasan yang pertama telah menjawab suatu pertanyaan apakah pengetahuan itu bersumber pada akal pikiran semata ( aqliyyah), indera  (tajribiyyah) , kritik (naqliyyah) dan intuisi (hadasiyyah).

Fokus lain pada pembahasan epistemologi diatas adalah tentang teori-teori kebenaran pengetahuan, dapat digambarkan teori-teori itu adalah korespondensi, koherensi, praktis-pragmtis dan performatif. Selanjutnya, pembahasan dalam epistemologi mengalami perkembangan, yakni pembahasannya terfokus pada sumber pengetahuan, proses dan metode untuk memperoleh pengetahuan, cara untu membuktikan kebenaran pengetahuan, dan tingkat-tingkat kebenaran pengetahuan.

Konstruksi pemikiran epistemologi khususnya teori-teori kebenaran yang terdapat dalam karya ilmiah ini tentu tidak dapat mengeksplor kerangka pemikiran epistemologi secara keseluruhan.

banner 468x60
banner 468x60

Respon (12)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90