Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 

- Publisher

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Moslem Woman Silhouette in Old Vintage Brick Wall Background

Moslem Woman Silhouette in Old Vintage Brick Wall Background

Penulis oleh: Lathifah Nurul ‘Izzah, Mahasiswi Markazul Qur’an Wal Lughoh (MQL) STAIL, asal Kuaro

SUARA UTAMA Apakah kamu pernah merasa kehilangan harapan? Merasa nggak punya motivasi lagi untuk melakukan segala sesuatu?

Lowongan Wartawan dan Jurnalis Dibuka di Seluruh Indonesia
Lowongan Wartawan dan Jurnalis Dibuka di Seluruh Indonesia

Tahukah, bahwa ternyata di dunia ini ada sekitar 33% perempuan pernah mengalami depresi berat, yang seringkali disertai rasa putus asa. Setidaknya sekali dalam hidup kita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal ini terjadi, adanya harapan yang membumbung tinggi. Namun segalanya ditenggelamkan oleh realita, dihancurkan oleh keadaan. Akhirnya, muncullah rasa bahwa diri tidak lagi berguna, merasa gagal, dan takut berharap karena kita tak ingin lagi merasa kecewa. Puncak yang paling tinggi, sampai menyalahkan takdir.

Bila keadaan ini terus berlanjut, terang akan berdampak pada kehidupan sehari hari dan memicu masalah mental lainnya, seperti kesedihan yang berkepanjangan, kecemasan, kesepian, dan bahkan mengakar pada depresi, membenci diri sendiri, juga keinginan untuk bunuh diri.

Sekala Prioritas Harapan

Apa yang sebenarnya salah dari berharap? Memang tidak ada yang salah. Kita memang butuh berharap agar terus punya alasan untuk hidup, dan itu memang tabiat seorang manusia. Hanya saja kita harus sangat berhati-hati meletakkan prioritas harapan itu.

BACA JUGA :  Aliansi Masyarakat Karawang Jabar Menuntut Ketegasan Pemkab Menutup TNM

Semua orang punya banyak harapan. Sudah pasti, harapan yang dianggap paling penting bagi diri, akan menjadi prioritas untuk menggapainya. Demi itu, rela akan mengorbankan banyak waktu, tenaga dan biaya agar bisa mencapainya.

Pada titik ini lah, kita harus berhati-hati dalam memporsikan harapan-harapan tersebut. Jangan sampai salah prioritas. Terutama yang bersifat keduniawian. Karena segala hal yang duniawi sifatnya temporer, tidak kekal, itu hanya sementara dan akan hilang. Jika itu yang kita jadikan fondasi besar dalam hidup, harapan-harapan itu terlalu rapuh, tidak kuat. Wajar kemudian, tumbuh rasa putus asa yang akut.

Dan satu hal yang harus kita percaya. Kita memang nggak punya control atas apapun, tapi kita punya Allah. Allah lah yang memegang kendali atas segalanya, Allah lah yang berkuasa atas segala sesuatu dalam hidup kita.

Seorang Muslimah, idealnya menautkan harapannya hanya kepada Allah semata. Sebab, ajaran kita menuntunkan, bahwa dengan sikap demikian, akan melapangkan dada, manakala takdir tak sesuai dengan harapan. Ikhlas dan ridho akan bersemi di hati.

BACA JUGA :  TNI AL dan Yayasan Sail Indonesia Jaya Luncurkan Program Maritime Leadership di KRI Dewa Ruci

Teladan Maryam

Jika kita bicara tentang perasaan hancur, takut, dan dihakimi oleh keadaan, kita harus menengok kisah Maryam binti Imran. Bayangkan seorang wanita suci yang menjaga kehormatannya, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa ia mengandung tanpa seorang suami—sebuah ujian yang secara logika manusia akan menghancurkan reputasi dan hidupnya selamanya.

Dalam kesendirian dan rasa sakit yang luar biasa saat hendak melahirkan, Maryam bahkan sempat berucap:

“Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS. Maryam: 23).

Ini adalah bukti bahwa rasa lelah dan ingin menyerah adalah hal yang manusiawi. Namun, bagaimana sikap Maryam? Ia tetap melangkah, meski takut, ia tetap menjalankan perintah Allah untuk menjauh ke tempat yang asing.

Ia Melakukan ‘Ikhtiar Kecil’. Allah memerintahkannya untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma agar buahnya jatuh. Secara logika, seorang wanita yang lemas setelah melahirkan tidak akan sanggup menggoyangkan pohon besar. Tapi Maryam tetap mencoba.

Hasilnya? Allah menjamin semuanya. Allah memberinya air, makanan, dan yang paling luar biasa: Allah yang membela kehormatannya melalui lisan bayinya, Isa AS.

BACA JUGA :  Genah Rasa Snack: Pelopor Oleh Oleh Bandung 24 Jam yang Guncang Shopee Lewat Kelezatan Tempe Goreng Fenomenal!

Maryam mengajarkan kita bahwa: Tugas kita hanya melangkah meski gemetar, selebihnya adalah urusan Allah untuk mengatur skenario pembelaan-Nya.

Dalam self improvement modern, orang berbicara tentang “letting go” dan acceptance. Acceptance adalah kesadaran untuk berhenti menolak kenyataan pahit agar energi mental kita tidak terkuras habis, sedangkan letting go adalah menghentikan obsesi untuk mengontrol hal yang di luar kendali agar kita bisa fokus kembali pada diri sendiri.

Sementara dalam islam, konsep itu jauh lebih dalam maknanya, jauh lebih besar pengertiannya, dan itu sering kita sebut dengan ‘Tawakkal’. Tawakkal yaitu “melepaskan” sambil meletakkan kepercayaan penuh bahwa Tuhan akan mengatur segalanya dengan lebih baik.

Yang pasti, ada jaminan kepada Allah, bahwa bagi mereka yang menggantungkan harapan (tawakkal) kepada Allah, Allah akan ‘turun tangan’ secara langsung dalam menyelesaikan setiap urusan hamba-Nya.

“ Bertawakkal lah kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan(keperluan)nya”. (QS. At-Talaq:3)

Jadi, ayo kita benahi konsep membangun harapan, agar kita bisa menjadi Muslimah yang kuat, terhindar dari rasa putus asa atas kesukaran hidup yang dihadapi. Atau di saat realitas tak sejalan dengan idealita yang dimimpikan.

Editor : Andre Hariyanto

Berita Terkait

Ketua STAI Samarinda: Akreditasi Program Studi Bukan Sekadar Formalitas, Ini Kewajiban Hukum
Menakar Etika Demokrasi Dan Keadilan Pemilu Dalam Bayang Politik Kepentingan
Genah Rasa Snack: Pelopor Oleh Oleh Bandung 24 Jam yang Guncang Shopee Lewat Kelezatan Tempe Goreng Fenomenal!
Pandeglang, Infrastruktur dan Mental Pejabat yang Rusak ?
Batu bara global kembali menunjukkan taringnya. Batu bara kalori rendah bahkan menyentuh kisaran CNY 563–568 per ton.
Legalisasi Tambang Emas Rakyat di Kalimantan Tengah: 5 Kabupaten Jadi Fokus Utama
Mengapa Strava & Body Goals Menjadi Mata Uang Sosial Baru Menggeser Flexing Harta
PUTUSAN FENOMENAL PRA PERADILAN 2026: KORBAN MENANG, NEGARA DIPAKSA MEMBERI KEPASTIAN HUKUM
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 05:15 WIB

Ketua STAI Samarinda: Akreditasi Program Studi Bukan Sekadar Formalitas, Ini Kewajiban Hukum

Kamis, 28 Mei 2026 - 02:12 WIB

Menakar Etika Demokrasi Dan Keadilan Pemilu Dalam Bayang Politik Kepentingan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:12 WIB

Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:47 WIB

Genah Rasa Snack: Pelopor Oleh Oleh Bandung 24 Jam yang Guncang Shopee Lewat Kelezatan Tempe Goreng Fenomenal!

Sabtu, 16 Mei 2026 - 09:15 WIB

Pandeglang, Infrastruktur dan Mental Pejabat yang Rusak ?

Berita Terbaru