Mengapa Strava & Body Goals Menjadi Mata Uang Sosial Baru Menggeser Flexing Harta

- Publisher

Kamis, 16 April 2026 - 15:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: 2026, Mengapa Strava & Body Goals Menjadi Mata Uang Sosial Baru Menggeser Flexing Harta (Mohamad Rivai R Naha/SUARA UTAMA)

FOTO: 2026, Mengapa Strava & Body Goals Menjadi Mata Uang Sosial Baru Menggeser Flexing Harta (Mohamad Rivai R Naha/SUARA UTAMA)

SUARA UTAMA Di tahun 2026 ini, kita menyaksikan pergeseran fundamental dalam cara masyarakat, khususnya Generasi Z dan Milenial, mendefinisikan “kesuksesan”. Jika beberapa tahun lalu status sosial diukur dari apa yang kita beli—jam tangan mewah, mobil, atau unggahan di kafe premium—kini kiblatnya telah bergeser. Validasi sosial kini berpindah ke metrik fisik dan performa: pamer screenshot lari di Strava atau transformasi fisik (body goals).

FOTO: Kesempatan Bergabung di Media Nasional dan Internasional SUARA UTAMA Terbuka untuk Jurnalis dan Penulis di Seluruh Indonesia (Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)
FOTO: Kesempatan Bergabung di Media Nasional dan Internasional SUARA UTAMA Terbuka untuk Jurnalis dan Penulis di Seluruh Indonesia (Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)

Selamat datang di era Performance Flexing.

Harta Bisa Diwariskan, Disiplin Tidak. Mengapa body goals dan data aktivitas fisik terasa lebih “mahal” daripada barang branded? Jawabannya sederhana: otentisitas melalui waktu.

​Harta kekayaan bisa didapat melalui warisan, keberuntungan, atau cara-cara instan lainnya. Namun, tubuh yang bugar dan catatan waktu lari yang impresif tidak bisa dibeli dengan uang. Keduanya adalah hasil dari investasi waktu, kedisiplinan harian, dan ketangguhan mental selama bertahun-tahun. Ketika seseorang mengunggah data latihan mereka, mereka tidak hanya memamerkan fisik; mereka memamerkan bukti nyata dari dedikasi yang tidak bisa dipalsukan.

Kesehatan sebagai “The New Luxury”

​Pascapandemi, terjadi ledakan komunitas lari dan gym yang masif. Bagi generasi sekarang, wellness bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan simbol kemewahan baru (wellness as luxury). Memiliki akses ke nutrisi berkualitas, waktu untuk berlatih di tengah kesibukan, dan energi untuk menjaga kesehatan mental adalah bentuk kemewahan yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang memprioritaskan diri sendiri.

BACA JUGA :  Wartawan Sebaiknya Tidak Rangkap Jabatan di LSM, Ini Penjelasannya

​Di sini, olahraga bukan lagi sekadar hobi, melainkan mekanisme koping utama untuk menghadapi tekanan hidup. Komunitas lari yang tumbuh subur pun menjadi ruang jejaring sosial yang lebih sehat, di mana validasi didapatkan melalui dukungan antarsesama (support system)—bukan melalui kompetisi konsumerisme yang toksik.

Literasi Gaya Hidup: Membangun Aset yang Abadi

​Artikel ini mengajak pembaca Suara Utama untuk menilik kembali: apa sebenarnya aset terbesar kita di tahun 2026?

​Jika kita terus mengejar validasi melalui materi, kita akan terus merasa kurang karena standar materi akan selalu naik. Namun, jika kita membangun “aset” berupa kesehatan fisik dan ketangguhan mental, kita sedang membangun fondasi yang akan bertahan seumur hidup.

BACA JUGA :  Menakar Etika Demokrasi Dan Keadilan Pemilu Dalam Bayang Politik Kepentingan

​Tren pamer body goals dan aktivitas fisik memang dimulai dari layar ponsel, namun esensinya jauh lebih dalam. Ini adalah cerminan dari masyarakat yang mulai menyadari bahwa tubuh adalah satu-satunya tempat yang benar-benar kita miliki selamanya.

​Mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pamer harta yang melelahkan. Mari mulai berinvestasi pada disiplin, karena di masa depan, orang yang paling “kaya” bukanlah dia yang memiliki barang terbanyak, melainkan dia yang memiliki kendali penuh atas tubuh dan pikiran mereka sendiri.

Penulis oleh: Mohamad Rivai R Naha, Mahasiswa Semester VIII KPI STAIL, Surabaya, Jawa Timur

Editor : Andre Hariyanto

Berita Terkait

Mencari Keadilan di Tengah Kemakmuran yang Semu
Menakar Etika Demokrasi Dan Keadilan Pemilu Dalam Bayang Politik Kepentingan
Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 
Genah Rasa Snack: Pelopor Oleh Oleh Bandung 24 Jam yang Guncang Shopee Lewat Kelezatan Tempe Goreng Fenomenal!
Kisah Inspiratif Jack @orsonajaa: Mandiri Secara Finansial, Berani dalam Rivalitas, Tapi Gemetar di Hadapan Camer
Pandeglang, Infrastruktur dan Mental Pejabat yang Rusak ?
Fardy Iskandar: Seleksi KPID Kaltim Bukan Sekadar Formalitas, Ini Soal Marwah Penyiaran Daerah
Kilas Balik 28 Tahun Reformasi Indonesia
Berita ini 104 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 17:41 WIB

Mencari Keadilan di Tengah Kemakmuran yang Semu

Kamis, 28 Mei 2026 - 02:12 WIB

Menakar Etika Demokrasi Dan Keadilan Pemilu Dalam Bayang Politik Kepentingan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:12 WIB

Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:47 WIB

Genah Rasa Snack: Pelopor Oleh Oleh Bandung 24 Jam yang Guncang Shopee Lewat Kelezatan Tempe Goreng Fenomenal!

Rabu, 20 Mei 2026 - 18:21 WIB

Kisah Inspiratif Jack @orsonajaa: Mandiri Secara Finansial, Berani dalam Rivalitas, Tapi Gemetar di Hadapan Camer

Berita Terbaru