Mengapa di Sumatera Barat Keturunan Diturunkan melalui ibu?

- Publisher

Senin, 6 Januari 2025 - 10:27 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💰 Ayo Dukung Keberlanjutan Media & Jurnalisme
+ Berpartisipasi

Mengapa di Sumatera Barat Keturunan Diturunkan melalui ibu?

Oleh : Drs. Tonny Rivani, M.Si.

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa di Sumatera Barat, garis keturunan justru ditentukan oleh ibu, bukan ayah? Apa yang membuat sistem matrilineal ini bertahan lama, meski pengaruh agama dan budaya lain datang? Temukan alasan mendalam di balik tradisi unik ini yang membentuk identitas masyarakat Minangkabau hingga saat ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Sumatera Barat, khususnya di kalangan masyarakat Minangkabau, garis keturunan diturunkan melalui ibu, sebuah sistem yang dikenal dengan istilah matrilineal. Dalam sistem ini, warisan, hak kepemilikan tanah, dan identitas keluarga diturunkan melalui garis ibu, bukan ayah.

Beberapa alasan budaya dan sejarah yang mendasari mengapa sistem ini berkembang di masyarakat Minangkabau:

1.Adat Matrilineal: Pengaruh Budaya dan Sistem Kekerabatan Masyarakat Minangkabau telah lama menganut sistem matrilineal, yang berarti garis keturunan dan status sosial ditentukan oleh pihak ibu, bukan ayah. Hal ini terkait erat dengan cara mereka memandang peran dan kedudukan perempuan dalam masyarakat. Dalam sistem matrilineal, wanita memegang peranan penting sebagai pusat pengaturan keluarga dan harta. Oleh karena itu, tanah dan harta warisan biasanya diwariskan melalui garis ibu, yang kemudian dikelola oleh keluarga besar atau marga (suku) ibu. Konsep ini berakar pada nilai-nilai adat yang memandang perempuan sebagai penjaga warisan budaya dan keluarga.

BACA JUGA :  Terkesan Mengabaikan Permintaan Camat Tiris, Warga Mendesak DPMD dan Inspektorat Kabupaten Probolinggo Segera Turun Tangan

2.Peran Perempuan dalam Mengelola Warisan Tanah, terutama sawah dan kebun, merupakan warisan yang sangat berharga di Minangkabau. Dalam sistem matrilineal, tanah warisan ibu akan dikelola oleh anak perempuan (biasanya yang tertua). Ketika seorang perempuan menikah, tanah atau harta tersebut tetap menjadi milik keluarga ibu dan tidak ikut terbawa ke keluarga suami. Selain itu, apabila terjadi perceraian atau kematian pasangan, anak-anak tetap berada dalam garis keturunan keluarga ibu. Hal ini memberikan stabilitas bagi anak-anak, karena status mereka tidak berubah meskipun ayah mereka mungkin berpindah tempat tinggal atau beralih ke keluarga lain.

3.Perempuan sebagai Pengelola Rumah Tangga dan Adat Dalam masyarakat Minangkabau, ibu adalah figur sentral dalam kehidupan keluarga dan komunitas. Rumah gadang (rumah adat Minangkabau) yang besar dan dihuni oleh banyak anggota keluarga, menunjukkan bagaimana peran ibu dan perempuan dalam mengatur dan mengelola kehidupan bersama sangat dihargai.

Di luar urusan keluarga, perempuan juga berperan dalam menjaga kelangsungan adat dan budaya. Misalnya, dalam pernikahan dan ritual adat, perempuan memiliki hak untuk memimpin atau memberi persetujuan, menunjukkan kedudukan mereka yang penting dalam menjaga keseimbangan sosial dan adat istiadat.

4.Sistem matrilineal memberikan kekuatan ekonomi yang lebih besar bagi perempuan dalam hal pengelolaan tanah dan harta keluarga. Tanah yang diwariskan kepada perempuan memungkinkan mereka untuk lebih mandiri dalam ekonomi keluarga, serta memberi mereka hak yang lebih besar dalam keputusan-keputusan penting terkait pembagian kekayaan dan peran sosial. Hal ini juga berkaitan dengan prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” yang mencerminkan keseimbangan antara adat dan agama dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

BACA JUGA :  Andre Hariyanto Lulus UKW Dewan Pers, Perkuat Kompetensi sebagai Wartawan Profesional

Meskipun dalam ajaran agama Islam garis keturunan biasanya melalui ayah, dalam adat Minangkabau tetap mempertahankan tradisi matrilineal yang memberi keistimewaan pada perempuan.

Peran Pria sebagai Penjaga dan Pelindung Walaupun garis keturunan diturunkan melalui ibu, peran laki-laki dalam masyarakat Minangkabau tetap sangat penting, meskipun lebih sebagai penjaga dan pelindung. Laki-laki, dalam konteks ini, lebih berfungsi sebagai pengatur rumah tangga atau pengelola warisan yang diberikan kepada wanita, serta sebagai pemimpin dalam kegiatan sosial atau adat. Namun, karena harta dan warisan tetap berada dalam tangan keluarga ibu, pria tidak memiliki hak penuh atas tanah atau properti tersebut. Tanggung jawab laki-laki lebih banyak terletak pada mengurus harta tersebut, bukan mewariskannya ke keturunannya.

5. Sejarah dan Pengaruh Islam Sistem matrilineal ini sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam di Minangkabau, yang menambah kompleksitas dalam pemahaman mengenai garis keturunan. Meskipun Islam mengajarkan sistem patrilineal (garis keturunan melalui ayah), masyarakat Minangkabau tetap mempertahankan tradisi matrilineal mereka sebagai bagian dari warisan adat yang sudah ada sejak lama. Pengaruh Islam yang lebih baru tidak menghapus sistem matrilineal, melainkan beradaptasi dengan tradisi lokal yang sudah ada.

BACA JUGA :  DPC APPRODI Bekasi Raya Periode 2026–2031 Resmi Dilantik pada Ajang Engagement Day 2026

Dalam hal ini, adat dan agama di Minangkabau berjalan berdampingan dan saling mempengaruhi, tetapi tetap memberi ruang bagi peran perempuan yang lebih besar dalam garis keturunan dan pengelolaan keluarga.

Di Sumatera Barat, garis keturunan yang diturunkan melalui ibu atau sistem matrilineal adalah bagian integral dari budaya Minangkabau yang telah berlangsung turun-temurun. Sistem ini memberi perempuan posisi sentral dalam mengelola harta warisan, kehidupan sosial, dan kelangsungan adat. Walaupun Islam mempengaruhi banyak aspek kehidupan, masyarakat Minangkabau tetap mempertahankan adat matrilineal sebagai bagian dari identitas dan tradisi mereka yang kuat.

Konsepnya, harta adat (pusako tinggi) adalah milik kaum adat (yg dipimpin oleh seorang Datuk) dan anggota kaumnya. Anggota kaum adat tersebut didasarkan atas garis keturunan perempuan atau dari garis keturunan ibu.

Sebagai penutup kita Simak Pantun  Minangkabau

“Dimano bumi dipijak, disinan langik dijunjuang, dimano sumua dikali disinan aia disauak, dimano nagari diunyi disinan Adat dipakai” Artinya Ajaran Adat Minangkabau dapat diamalkan dimana saja, asal pandai menyesuaikan diri dengan masyarakat yang kita gauli..

https://sumbarprov.go.id/home/news/9286-mengenal-adat-dan-budaya-minangkabau

Penulis : Drs. Tonny Rivani, M.Si

Editor : -

Sumber Berita: -

Berita Terkait

Sikap Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terbongkar, Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Segera Akan Melakukan Koordinasi 
Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan
Pasca Pemberitaan Pabrik PT Sasa Inti Gending Bersihkan Sampah di Area Irigasi, Petani Meminta OPD melakukan Investigasi
BBM Jenis Pertalite Hilang di Pasaran Pengecer, Pedagang Keliling Sebut Urat Nadi Masyarakat Pegunungan Hilang 
Kebakaran Gunung Arjuno – Welirang, Founder Persatuan Kelana Alam Indonesia Ajak Masyarakat Berdoa dan Turun Hujan
Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terkesan Arogansi, Anti Kritik dan Intimidatif Saat di Konfirmasi Media
PP Barokatul Hasan Desa Tegalwatu Peringati HSN 2026, Payung Hias Mempunyai Filosofi dan Makna Yang Mendalam 
Irigasi Diduga Mengalir di Area Pabrik PT Sasa Inti, Dugaan Juga Tertuju Pada Pemasangan dan Pengoperasian Turbin Gas Bumi
Berita ini 471 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:23 WIB

Sikap Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terbongkar, Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Segera Akan Melakukan Koordinasi 

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:14 WIB

Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:33 WIB

BBM Jenis Pertalite Hilang di Pasaran Pengecer, Pedagang Keliling Sebut Urat Nadi Masyarakat Pegunungan Hilang 

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Kebakaran Gunung Arjuno – Welirang, Founder Persatuan Kelana Alam Indonesia Ajak Masyarakat Berdoa dan Turun Hujan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:08 WIB

Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terkesan Arogansi, Anti Kritik dan Intimidatif Saat di Konfirmasi Media

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp