Bukan Egois, Tapi Bijak Menyikapi Permintaan yang tidak Bisa Kita Penuhi

- Publisher

Selasa, 8 April 2025 - 13:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMADalam kehidupan di era modern sekarang ini, sering kali kita merasa tertekan untuk selalu mengatakan “iya” dan enggan untuk mengatakan “tidak”. Kita cenderung  berkeinginan untuk disukai banyak orang, tidak ingin mengecewakan, dan terjebak dalam rasa tanggung jawab yang berlebihan , sehingga membuat kita lupa untuk memperhatikan diri sendiri. Memenuhi keinginan orang lain sering kali membuat kita kewalahan dan stress, karena kita selalu berusaha untuk menjadi orang yang serba bisa di mata semua orang tanpa memberikan batasan. Belajar untuk mengatakan “tidak” bukan hanya tentang menolak, tetapi juga tentang menghargai waktu dan energi, serta menghormati diri sendiri.

Menolak permintaan tanpa rasa bersalah memanglah sulit, apalagi pada kehidupan sekarang yang selalu mengajarkan kita untuk membuat orang lain senang dan memenuhi harapan mereka. Seseorang yang mengatakan  “tidak” akan merasa telah di anggap tidak peduli dan mengecewakan orang lain. Padahal menolak bukanlah bentuk ketidakpedulian, tetapi menolak merupakan bentuk pengakuan terhadap batasan diri. Menolak permintaan seseorang bukanlah hal yang mementingkan diri sendiri, dengan menolak sesuatu yang tidak mampu kita lakukan, kita sebenarnya sedang memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memahami bahwa kita bukanlah manusia yang sempurna sehingga memiliki keterbatasan.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang merasa takut untuk mengatakan “tidak” padahal dirinya sendiri sedang kesulitan, dan terus menerus membantu orang lain meskipun merasa tertekan atau kelelahan. 1) Takut mengecewakan orang lain. Perasaan takut untuk mengecewakan orang lain, membuat seseorang akan selalu mengiyakan permintaan orang lain, meskipun itu membuat dirinya merasa lelah dan kesulitan, dia merasa bahwa menolak permintaan berarti akan kehilangan hubungan dan dianggap tidak peduli. Oleh karena itu, mereka akan selalu memberikan bantuan meskipun sedang kelelahan dan kesusahan, karena takut jika tidak membantu, mereka akan disalahkan, dianggap sombong, dan dihargai lebih sedikit. 2) Kesulitan untuk mengatakan tidak. Kurangnya kemampuan berkomunikasi dengan tegas membuat seseorang kesulitan untuk memberikan penolakan dan akan terus menerus menyetujui permintaan meskipun itu menguras energi dirinya. 3) Faktor lingkungan. Jika seseorang tinggal dan dibesarkan pada lingkungan yang selalu mengajarkan untuk membantu orang lain, dia akan selalu menerapkan ajaran itu hingga dewasa. 4) Menghindari masalah. Karena merasa canggung dan menghindari perasaan tidak enak, seseorang akan mengiyakan meskipun itu memberatkannya. 5) Keinginan disukai dan diterima. Seseorang yang sangat menginginkan disukai dan diterima oleh orang lain, jika menolak permintaan bantuan dia akan merasa kehilangan teman, persahabatan, atau hubungan yang ada. Rasa takut ini menjadikan seseorang selalu mengutamakan orang lain dari pada dirinya.

Perasaan bersalah setelah menolak permintaan bantuan dari orang lain merupakan hal yang biasa, namun jangan biarkan rasa bersalah itu mengendalikan diri sendiri. Untuk mengatasi perasaan bersalah, kita dapat mengingat kembali apa alasan kita menolak permintaan tersebut. Seperti, apakah kita benar benar bisa membantu, atau karena ingin mengutamakan diri sendiri dan menjaga kesejahteraan. Jangan langsung merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri. Berikan waktu pada diri untuk memahami keadaan yang terjadi, kita mempunyai hak atas diri kita untuk mengatakan “tidak”. Mengatakan tidak bukan berarti egois atau tidak peduli dengan orang lain, tetapi menunjukkan bahwa kita menyayangi diri sendiri dan dapat mengendalikan waktu dan energi dengan bijak.

BACA JUGA :  Sengketa Tanah di Kalimantan Timur: Kenapa Sertifikat Tidak Selalu Menjamin Kepemilikan?

Jika seseorang terus menerus mengiyakan permintaan bantuan, hal itu dapat membahayakan mental dan kesehatan fisiknya. Karena kurang tidur, kurang istirahat, dan kurang refreshing, seseorang tidak punya waktu untuk diri sendiri dan selalu merasa terbebani. Dalam waktu yang panjang hal ini dapat menyebabkan depresi. Seseorang akan merasa terjebak dalam kebiasaan yang tidak diinginkan dan pasti akan berpengaruh pada kefokusan tujuan diri sendiri. Terlalu fokus membantu orang lain akan membuat kita menghalangi waktu istirahat, melakukan hobi, produktifitas dan pengembangan diri. Kurangnya waktu untuk diri sendiri dapat menyebabkan perasaan kesepian dan hilangnya rasa percaya diri. Oleh sebab itu, belajar untuk mengatakan “tidak” dan menetapkan batasan yang sehat sangatlah penting, demi menjaga kesehatan mental dan fisik sehingga tidak merasa terbebani dan tertekan.

BACA JUGA :  Wartawan Sebaiknya Tidak Rangkap Jabatan di LSM, Ini Penjelasannya

Seseorang dapat menolak permintaan bantuan dengan sopan dan efektif melalui beberapa cara. Yaitu, 1) Jujur dan tegas. Bersikap jujur dengan mengatakan “ tidak” dengan tegas agar mudah dipahami. Berikan alasan  singkat yang jelas atau tidak bertele tele dalam menyatakan ketidakmampuan untuk membantu dan jangan menggunakan alasan yang tidak masuk akal. Alasan yang singkat akan mudah dimengerti dan dihargai. 2) Memberikan solusi lain. Seperti memberikan informasi yang valid dan menyarankan orang lain yang labih ahli untuk membantu. 3) Tunjukkan rasa peduli dengan memahami kondisi dan kesulitan mereka. 4) Memberikan dukungan.

Mengatakan “tidak” berarti kita telah menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan dengan orang lain. Jika tidak ada batasan kita akan selalu kehabisan waktu, energi, dan tidak melindungi kesehatan mental serta kesehatan fisik. Hal ini  menjadikan kita untuk lebih menikmati hidup dan mencapai keseimbangan yang lebih baik.

Mengatakan “tidak” bukan berarti egois, tetapi ini merupakan cara yang sehat untuk menjaga keseimbangan hidup, menghormati dan menyayangi diri sendiri, serta menjauhi kelelahan. Dengan mengatakan “tidak” dengan bijak, kita telah menciptakan kehidupan yang lebih bermakna dan lebih bahagia. Semoga tulisan ini dapat memberikan pencerahan bagi pembaca, Ammin.

Penulis : Alin Yusti Hamdani (Mahasiswa ITB HAS Bukitinggi)

Berita Terkait

Fardy Iskandar: Seleksi KPID Kaltim Bukan Sekadar Formalitas, Ini Soal Marwah Penyiaran Daerah
Kilas Balik 28 Tahun Reformasi Indonesia
Urgensi Reformasi Pendidikan Menggugat Sistem Pendidikan yang Kaku
Unifikasi Hukum untuk Kepastian Hak Warga Negara
Sengketa Tanah di Kalimantan Timur: Kenapa Sertifikat Tidak Selalu Menjamin Kepemilikan?
KUHAP 2025 Perkuat Hak Bantuan Hukum: Advokat Kini Wajib Hadir Sejak Awal Penyidikan
Kantor Hukum Samarinda Tangani Sengketa Ketenagakerjaan Tambang Bernilai Tinggi di Kutai Timur
Mengapa Strava & Body Goals Menjadi Mata Uang Sosial Baru Menggeser Flexing Harta
Berita ini 58 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 05:12 WIB

Fardy Iskandar: Seleksi KPID Kaltim Bukan Sekadar Formalitas, Ini Soal Marwah Penyiaran Daerah

Rabu, 6 Mei 2026 - 15:16 WIB

Kilas Balik 28 Tahun Reformasi Indonesia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 08:49 WIB

Urgensi Reformasi Pendidikan Menggugat Sistem Pendidikan yang Kaku

Selasa, 28 April 2026 - 13:48 WIB

Unifikasi Hukum untuk Kepastian Hak Warga Negara

Senin, 27 April 2026 - 19:23 WIB

Sengketa Tanah di Kalimantan Timur: Kenapa Sertifikat Tidak Selalu Menjamin Kepemilikan?

Berita Terbaru

Moslem Woman Silhouette in Old Vintage Brick Wall Background

Artikel

Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:12 WIB

FOTO: Self Healing Talk & Workshop Bouquet untuk Muslimah (Dok. Robinsah/SUARA UTAMA)

Berita Utama

Self Healing Talk & Workshop Bouquet untuk Muslimah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:20 WIB