Penulis oleh: Lathifah Nurul ‘Izzah, Mahasiswi Markazul Qur’an Wal Lughoh (MQL) STAIL, asal Kuaro
SUARA UTAMA – Apakah kamu pernah merasa kehilangan harapan? Merasa nggak punya motivasi lagi untuk melakukan segala sesuatu?

Tahukah, bahwa ternyata di dunia ini ada sekitar 33% perempuan pernah mengalami depresi berat, yang seringkali disertai rasa putus asa. Setidaknya sekali dalam hidup kita.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal ini terjadi, adanya harapan yang membumbung tinggi. Namun segalanya ditenggelamkan oleh realita, dihancurkan oleh keadaan. Akhirnya, muncullah rasa bahwa diri tidak lagi berguna, merasa gagal, dan takut berharap karena kita tak ingin lagi merasa kecewa. Puncak yang paling tinggi, sampai menyalahkan takdir.
Bila keadaan ini terus berlanjut, terang akan berdampak pada kehidupan sehari hari dan memicu masalah mental lainnya, seperti kesedihan yang berkepanjangan, kecemasan, kesepian, dan bahkan mengakar pada depresi, membenci diri sendiri, juga keinginan untuk bunuh diri.
Sekala Prioritas Harapan
Apa yang sebenarnya salah dari berharap? Memang tidak ada yang salah. Kita memang butuh berharap agar terus punya alasan untuk hidup, dan itu memang tabiat seorang manusia. Hanya saja kita harus sangat berhati-hati meletakkan prioritas harapan itu.
Semua orang punya banyak harapan. Sudah pasti, harapan yang dianggap paling penting bagi diri, akan menjadi prioritas untuk menggapainya. Demi itu, rela akan mengorbankan banyak waktu, tenaga dan biaya agar bisa mencapainya.
Pada titik ini lah, kita harus berhati-hati dalam memporsikan harapan-harapan tersebut. Jangan sampai salah prioritas. Terutama yang bersifat keduniawian. Karena segala hal yang duniawi sifatnya temporer, tidak kekal, itu hanya sementara dan akan hilang. Jika itu yang kita jadikan fondasi besar dalam hidup, harapan-harapan itu terlalu rapuh, tidak kuat. Wajar kemudian, tumbuh rasa putus asa yang akut.
Dan satu hal yang harus kita percaya. Kita memang nggak punya control atas apapun, tapi kita punya Allah. Allah lah yang memegang kendali atas segalanya, Allah lah yang berkuasa atas segala sesuatu dalam hidup kita.
Seorang Muslimah, idealnya menautkan harapannya hanya kepada Allah semata. Sebab, ajaran kita menuntunkan, bahwa dengan sikap demikian, akan melapangkan dada, manakala takdir tak sesuai dengan harapan. Ikhlas dan ridho akan bersemi di hati.
Teladan Maryam
Jika kita bicara tentang perasaan hancur, takut, dan dihakimi oleh keadaan, kita harus menengok kisah Maryam binti Imran. Bayangkan seorang wanita suci yang menjaga kehormatannya, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa ia mengandung tanpa seorang suami—sebuah ujian yang secara logika manusia akan menghancurkan reputasi dan hidupnya selamanya.
Dalam kesendirian dan rasa sakit yang luar biasa saat hendak melahirkan, Maryam bahkan sempat berucap:
“Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS. Maryam: 23).
Ini adalah bukti bahwa rasa lelah dan ingin menyerah adalah hal yang manusiawi. Namun, bagaimana sikap Maryam? Ia tetap melangkah, meski takut, ia tetap menjalankan perintah Allah untuk menjauh ke tempat yang asing.
Ia Melakukan ‘Ikhtiar Kecil’. Allah memerintahkannya untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma agar buahnya jatuh. Secara logika, seorang wanita yang lemas setelah melahirkan tidak akan sanggup menggoyangkan pohon besar. Tapi Maryam tetap mencoba.
Hasilnya? Allah menjamin semuanya. Allah memberinya air, makanan, dan yang paling luar biasa: Allah yang membela kehormatannya melalui lisan bayinya, Isa AS.
Maryam mengajarkan kita bahwa: Tugas kita hanya melangkah meski gemetar, selebihnya adalah urusan Allah untuk mengatur skenario pembelaan-Nya.
Dalam self improvement modern, orang berbicara tentang “letting go” dan acceptance. Acceptance adalah kesadaran untuk berhenti menolak kenyataan pahit agar energi mental kita tidak terkuras habis, sedangkan letting go adalah menghentikan obsesi untuk mengontrol hal yang di luar kendali agar kita bisa fokus kembali pada diri sendiri.
Sementara dalam islam, konsep itu jauh lebih dalam maknanya, jauh lebih besar pengertiannya, dan itu sering kita sebut dengan ‘Tawakkal’. Tawakkal yaitu “melepaskan” sambil meletakkan kepercayaan penuh bahwa Tuhan akan mengatur segalanya dengan lebih baik.
Yang pasti, ada jaminan kepada Allah, bahwa bagi mereka yang menggantungkan harapan (tawakkal) kepada Allah, Allah akan ‘turun tangan’ secara langsung dalam menyelesaikan setiap urusan hamba-Nya.
“ Bertawakkal lah kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan(keperluan)nya”. (QS. At-Talaq:3)
Jadi, ayo kita benahi konsep membangun harapan, agar kita bisa menjadi Muslimah yang kuat, terhindar dari rasa putus asa atas kesukaran hidup yang dihadapi. Atau di saat realitas tak sejalan dengan idealita yang dimimpikan.
Editor : Andre Hariyanto












Komentar
Silakan login untuk berkomentar.