Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam

- Jurnalis

Rabu, 15 Maret 2023 - 15:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Penulis Membaca di Perpustakaan IAIDU Asahan Kisaran

Foto : Penulis Membaca di Perpustakaan IAIDU Asahan Kisaran

Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam

Zaitun Khairani,  Rara Nurul Aulia, Sabrina Urkila Zahra, Feri Irwansyah Marpaung, Suhardi

Prodi PAI, FITK IAIDU Asahan Kisaran

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendahuluan

Filsafat pendidikan islam adalah kajian filosofis mengenai berbagai masalah pendidikan yang berlandaskan ajaran islam. Arifin menyatakan bahwa pengertian Filsafat Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah “Konsep berfikir tentang pendidikan yang bersumber pada ajaran Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam.”(M.Harifin; 1987)

Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari Filsafat Pendidikan Islam berarti memasuki area pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan.(Muzayyin Arifin :2005).

Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan. Secara makro, yang menjadi ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam adalah objek formal itu sendiri, yaitu mencari keterangan secara radikal mengenai Tuhan, manusia dan alam yang tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan biasa.Secara mikro, objek kajian Filsafat Pendidikan Islam adalah pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, logis, menyeluruh dan universal mengenai konsep-konsep pendidikan yang didasarkan pada ajaran Islam. Konsep-konsep tersebut mencakup lima faktor atau komponen pendidikan, yaitu: tujuan pendidikan Islam, pendidik, anak didik, alat pendidikan, (kurikulum, metode, dan penilaian/evaluasi pendidikan), dan lingkungan pendidikan (Endang Syaifuddin Anshari ;1987).

Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institut agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek kehidupan, jadi pada nyatanya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi zaman sekarang kurang memperhatikan masalah agama dan terjadi pemilahan, pemisahan, antara ilmu umum dan ilmu agama, seharusnya kita mengimbangi dan mengikut sertakan ilmu agama dalam perkembangan ilmu ilmu umum agar perkembangan ilmu tersebut lebih terarah dan lebih menjiwai islam.

 

Pengertian Filsafat Pendidikan Islam

Apabila mendengar kata filsafat, maka konotasinya mengarah kepada sesuatu yang bersifat prinsip antar dasar, yaitu sesuatu yang mengandung nilai-nilai dasar tertentu. Begitupula bila mendengar kata pendidikan, maka komotasinya tertuju kepada guru dan peserta didik. Bila mendengar kata Islam, maka komotasinya tertuju kepada ajaran agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. yaitu agama Islam.Filsafat sebenarnya berasal dari kata atau bahasa Yunani philosophia. Dari kata philosophia ini kemudian banyak diperoleh pengertian-pengertian Filsafat, baik dari segi pengertiannya secara harfiah atau etimologi maupun dari segi kandungannya. Menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Toumy Al- syaibany dalam bukunya Falsafatut Tarbiyah Al-Islamiyah yang diterjemahkan oleh Hasan Langgulung dengan judul Falsafah Pendidikan Islam, bahwa: pengertian bebas pada kata “Falsafah” “pada bahasa asalnya, Yunani Kuno, adalah “cinta akan hikmah.”(Mappasiara, 4(2),2017:271).

Arifin menyatakan bahwa pengertian Filsafat Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah “Konsep berfikir tentang pendidikan yang bersumber pada ajaran Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam (Salminawati : 2016)

Dapat dilihat bahwa di era sekarang ini Filsafat pendidikan Islam sangat sedikit mengikuti perkembangan ilmu, yang paling berperan dalam perkembangan zaman dan perkembangan ilmu adalah ilmu ilmu yang bersifat umum, sains dan sebagainya seolah olah ilmu agama sedikit tersingkirkan. Bahkan, dapat dilihat dari sekolah sekolah umum, sekolah menengah kejurusan mereka hanya sedikit mendapatkan ilmu agama dari tempat mereka menimba ilmu, begitu juga dengan pondok pondok pesantren, MA dan Institusi Islam  hanya sebagian dari sejumlah pembelajaran mereka yang masuk kedalam ajaran Islam selebihnya adalah ilmu umum, oleh karena itu perkembangan ilmu di era sekarang tidak dilandasi dengan keislaman.Sebagai seorang muslim dan muslimah seharusnya dapat menyadari bahwa sains, teknologi dan agama adalah hal yang harus berjalan dengan arah yang sama dan saling melengkapi.

Menurut Marlian Arif Nasution dalam tesisnya yang berjudul Filsafat Sains Dalam Presfektif Pemikiran Islam ;Ilmu modern (sains Barat) yang berkembang saat ini telah memunculkan wacana baru bahwa ilmu itu bebas nilai, dalam artian ilmu mempunyai sifat netral atau tidak terpengaruh dari hal yang diyakini. Ditinjau dari sejarahnya ilmu yang berkembang saat ini berawal dari traumatik masyarakat Barat terhadap sejarah agama mereka yang mengekang, yang melepaskan ilmu pengetahuan dari kehidupan agama. Agama dikenal hanya sebatas doktrin, sedangkan ilmu pengetahuan yang berkembang yang bertentangan dengan agama dianggap melawan agama. Selanjutnya dalam kejumudan mereka munculah era Renaisans yang hadir pertama kali di Italia, lalu menyebar di daratan Eropa semacam Perancis dan kawasan sekitar. Perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang begitu pesatnya membuat masyarakat saat itu merasa hidupnya merdeka dan melepaskan agama dari kehidupan mereka yang dianggap mengekang (Marlian Arid Nasution , UINSU,2016).

Arifin menyatakan bahwa pengertian Filsafat Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah “Konsep berfikir tentang pendidikan yang bersumber pada ajaran Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam.(Saminawati : 2016).

Mulkhan memberikan pengertian Filsafat Pendidikan Islam adalah “Suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis,radikal, sistematis dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan Islam”.(Abdul Munir Mukhan :1993).

Dari pendapat kedua tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa Filsafat Pendidikan Islam merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder.

Berdasarkan pemikiran maka pengertian filsafat pendidikan Islam adalah: Suatu aktivitas berpikir sungguh-sungguh, menyeluruh,mendalam dan obyektif mengkaji isi/ kandungan,makna dan nilai-nilai dalam Al Qur’an dan/atau AlHadits yang dikaitkan dengan fenomena alam dalam rangka merumuskan konsep atau teori pendidikan Islam dan/atau mengatasi berbagai promblem pendidikan Islam.

Ilmu pengetahuan yang mengkaji secara sungguh sungguh, menyeluruh, mendalam dan obyektif kandungan, makna dan nilai-nilai dalam Al-Qur’an dan/atau Al-Hadits yang dikaitkan dengan fenomena alam dalam rangka merumuskan konsep atau teori pendidikan Islam dan/atau mengatasi berbagai promblem pendidikan Islam.Selanjutnya dikemukakan beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian filsafat pendidikan Islam sebagai beikut: Menurut Zuhairini, dkk (1995) filsafat pendidikan Islam adalah studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filasafat dalam Islam terdapat masalah-masalah kependidikan dan begaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia muslim dan umat Islam. Selain itu filsafat pendidikan Islam mereka mengartikan pula sebagai penggunaan dan penerapan metode dan sistem filsafat Islam dalam memecahkan problematika pendidikan umat Islam yang selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat Islam.(Ahmad Syar’I : 2020)

BACA :  kondisi Meeuwodide dari Perspektif Budaya

Abuddin Nata (1997) mendefinisikan filsafat pendidikan Islam sebagai suatu kajian secara filosofis mengenai berbagai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli khususnya para filosof Muslim sebagai sumber sekunder. Selain itu, filsafat pendidikan Islam dikatakan Abuddin Nata suatu upaya menggunakan jasa filosofis, yakni berpikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal tentang masalah-masalah pendidikan, seperti masalah manusia. (anak didik), guru, kurikulum, metode dan lingkungan dengan menggunakan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai dasar acuannya. (Ahmad Syar’I:2020)

Menurut Maragustam (2014) filsafat pendidikan Islam ialah pemikiran-pemikiran filosufis yang sistimatis dan radikal, yang diambil dari: 1) Sistem filsafat, yaitu pemikiran dari para filosuf di bidang pendidikan,dijadikan pedoman untuk memecahkan problematika pendidikan umat Islam, dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan Islam, 2) Jawaban filosufis terhadap masalah pendidikan, yang dapat dijadikan pedoman bagi proses pendidikan yang didasarkan ajaran Islam (Ahmad Syar’I : 2020).

Tanpa mempersoalkan apakah filsafat pendidikan Islam itu sebagai aktivitas berpikir sungguh-sungguh,mendalam, menyeluruh dan spekulatif atau ilmu pengetahuan yang melakukan kajian menyeluruh, mendalam dan spekulatif menganai masalah-masalah pendidikan dari sumber wahyu Allah, baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits, paling tidak terdapat dua hal pokok yang patut mendapat perhatian sebagai berikut: 1). Kajian sungguh-sungguh, menyeluruh, mendalam, obyektif dan spekulatif terhadap kandungan Al-Qur’an dan/atau Al-Hadits yang dihubungkan dengan fenomena alam dalam rangka merumuskan konsep dasar atau teori pendidikan Islam. Artinya, filsafat pendidikan Islam memberikan jawaban bagaimana pendidikan dapat dilaksanakan sesuai dengan tuntunan nilai-nilai Islam.Misalnya saja ketika muncul pertanyaan bagaimana aplikasi pendidikan Islam menghadapi tantangan dan menggali peluang masa depan, maka filsafat pendidikan Islam melakukan kajian sungguh-sungguh, mendalam, menyeluruh, dan obyektif terhadap isi Al-Qur’an dan/atau Al-Hadits sehingga menemukan sekaligus merumuskan konsep atau teori pendidikan Islam yang dapat menghadapi tantangan sekarang dan ke depan seperti tantangan era globalisasi, era teknologi digital dan sebagainya. 2). Kajian sungguh-sungguh, menyeluruh, mendalam dan spekulatif terhadap kandungan Al-Qur’an dan/atau AlHadits yang dikaitkan berbagai peristiwa alam dalam rangka mengatasi berbagai problema yang dihadapi pendidikan Islam. Misalnya ketika suatu konsep pendidikan Islam diterapkan dan ternyata dihadapkan kepada berbagai problema, maka ketika itu dilakukan kajian untuk mengatasi problema tadi. Aktivitas melakukan kajian terhadap Al-Qur’an dan/atau Alhadits yang dihubungkan dengan berbagai peristiwa alam, yang menghasilkan konsep dan perilaku mengatasi problema pendidikan Islam tersebut merupakan makna dari filsafat pendidikan Islam.

Sebenarnya kajian sungguh-sungguh, mendalam, menyeluruh dan spekulatif antara merumuskan konsep dasar pendidikan Islam dengan pikiran mengatasi problematika pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan secara tegas, sebab ketika suatu problema pendidikan Islam dipecahkan melalui hasil sebuah kajian mendasar dan menyeluruh, maka hasil kajian tersebut sesungguhnya menjadi konsep dasar atau teori pelaksanaan pendidikan Islam selanjutnya (Ahmad Syar’I : 2020).

Sebaliknya ketika suatu rumusan pemikiran pendidikan Islam dibuat, misalnya konsep pendidikan Islam di era globalisasi dan teknologi digital yang penuh persaingan kualitatif maka sebetulnya konsep yang dihasilkan tersebut merupakan konsep antisipatif menghadapi problema pendidikan Islam diera globalisasi, era teknologi digital dan persaingan kualitatif.( Ahmad Syar’I : 2020 ).

Berbagai pendapat para ahli mencoba merumuskan pengertian filsafat pendidikan Islam. Muzayyin Arifin, misalnya mengatakan bahwa filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumberkan atau berlandaskan ajaran-ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia Muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. Sedangkan menurut Omar Muhammad al-Taomy al-Syaibany, filsafat pendidikan Islam tidak lain ialah pelaksanaan pandangan filsafat dari kaidah filsafat Islam dalam bidang pendidikan yang didasarkan pada ajaran Islam. Dari uraian dan analisa tersebut kiranya dapat diketahui bahwa filsafat pendidikan Islam itu merupakan kajian secara filosofis mengenai berbagai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof muslim, sebagai sumber sekunder ( A. Heris Hermawan :2009 ).

Filsafat pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam Islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia Muslim dan Umat Islam. Di samping itu filsafat pendidikan Islam, juga merupakan studi tentang penggunaan dan penerangan metode dan sisten filsafat Islam dalam memecahkan problematika pendidikan umat Islam,dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat Islam (Hamdani Ihsan & A. Fuad Ihsan,2001:22). Menurut Ahmad Tafsir (2006:6), filsafat pendidikan Islam adalah pemikiran tentang beberapa hal mengenai pendidikan yang dituntun oleh ajaran Islam.(Lilis Romdom Nurhasanah : 2021).

Selain itu, Filsafat Pendidikan Islam mereka artikan pula sebagai penggunaan dan penerapan metode dan sistem filsafat islam dalam memecahkan problematika pendidikan umat islam yang selanjutnya memberikan arah dan tujuan. Sedangkan Abuddin Nata mendefinisikan Filsafat Pendidikan Islam sebagai suatu kajian filosofis mengenai berbagai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada Al- Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli khususnya filosof muslim sebagai sumber skunder. Selain itu, Filsafat Pendidikan Islam dikatakan Abuddin Nata suatu upaya menggunakan jasa filosofis, yakni berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal tentang masalah-masalah pendidikan seperti masalah manusia (anak didik), guru, kurikulum, metode dan lingkungan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai dasar acuannya. Tanpa mempersoalkan apakah filsafat pendidikan islam itu sebagai aktivitas berfikir mendalam, meyeluruh dan spekulatif atau ilmu pengetahuan yang melakukankajian menyeluruh, mendalam dan spekulatif mengenai masalah- masalah pendidikan dari sumber wahyu Allah, baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

Sebenarnya antara kajian mendalam, menyeluruh dan spekulatif merumuskan konsep dasar pendidikan islam dengan pikiran mengatasi problematika pendidikan islam sulit untuk dapat dipisahkan secara tegas, sebab ketika suatu problem pendidikan islam dipecahkan melalui hasil sebuah kajian mendasar menyeluruh, maka hasil tersebut sesungguhnya menjadi konsep dasar pelaksanaan pendidikan islam selanjutnya. Sebaliknya ketika suatu rumusan pemikiran pendidikan islam dibuat, misalnya konsep pendidikan di era globalisasi yang penuh persaingan kualitatif maka sebetulnya konsep yang dihasilkan tadi merupakan antisipatif menghadapi problem pendidikan islam di era milenium yang ditandai globalisasi informasi dan persaingan kualitatif. Perpaduan antara agama dan akal pikiran membuat kita untuk menjelaskan persoalan khusus (misal tentang universalisme), pemikiran pengakuan, dan menjawab keberatan- keberatan utama yang ditujukan pada solusi Aristotelesnya, yaitu dengan menyempurnakan metode skolastiknya.

 

Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam

Ruang lingkup dari filsafat pendidikan Islam jika dilihat secara komperhensif maka mengindentifikasikan termasuk diakui sebagian dari disiplin ilmu. Sebagai bagian dari disiplin ilmu, oleh karenanya filsafat pendidikan Islam harus mendeskripsikan sekaligus menunjukan dengan jelas mengenai bidang kajian dalam ruang lingkup filsafat pendidikan itu sendiri, terkait dengan kajian atau cakupan pembahsannya. Ruang lingkup filsafat pendidikan Islam adalah masalah masalah yang terkait dengan kegitan pendidikan, seperti kurikulum, metode, dan lingkungan (Achmad Amirudin : 2022).Karena pendidikan Islam menyangkut problem manusia dalam kehidupannya yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan (pekerjaan mendidik), maka secara garis besar filsafat pendidikan Islam mencakup pemikiran mengenai: pertama, hakikat filsafat pendidikan Islam; kedua, hakikat pendidikan Islam; ketiga, hakikat sumber dan dasar pendidikan Islam; keempat, hakikat ilmu dalam Islam; kelima, hakikat manusia dan proses pendidikan dalam Islam; keenam, hakikat tujuan pendidikan Islam; ketujuh, hakikat pendidik dalam pendidikan Islam; kedelapan, hakikat peserta didik dalam pendidikan Islam; kesembilan, hakikat sarana dan prasarana pendidikan Islam; kesepuluh, hakikat kurikulum pendidikan Islam; kesebelas, hakikat strategi, pendekatan, dan metode pendidikan Islam; keduabelas, hakikat evaluasi pendidikan Islam; dan ketigabelas, hakikat lingkungan pendidikan Islam (Syamsul Kurniawan : 2015).

BACA :  Kemenag Menerbitkan Aturan Terkait Kekerasan Seksual pada Satuan Pendidikan

Karena pendidikan Islam menyangkut problem manusia dalam kehidupannya yang berhubungan dengan aktivitas pendidikan (pekerjaan mendidik), maka secara garis besar filsafat pendidikan Islam mencakup pemikiran mengenai: pertama, hakikat filsafat pendidikan Islam; kedua, hakikat pendidikan Islam; ketiga, hakikat sumber dan dasar pendidikan Islam; keempat, hakikat ilmu dalam Islam; kelima, hakikat manusia dan proses pendidikan dalam Islam; keenam, hakikat tujuan pendidikan Islam; ketujuh, hakikat pendidik dalam pendidikan Islam; kedelapan, hakikat peserta didik dalam pendidikan Islam; kesembilan, hakikat sarana dan prasarana pendidikan Islam; kesepuluh, hakikat kurikulum pendidikan Islam; kesebelas, hakikat strategi, pendekatan, dan metode pendidikan Islam; keduabelas, hakikat evaluasi pendidikan Islam; dan ketigabelas, hakikat lingkungan pendidikan Islam.

Beberapa persoalan inilah yang menjadi ruang lingkup pembahasan filsafat pendidikan Islam yang selanjutnya dikaji dari aspek kosmologi,ontologi, epistemologi, dan aksiologinya. Hakikat Filsafat Pendidikan Islam membahas tentang Definisi filsafat pendidikan Islam, Motivasi berfilsafat dalam islam, Pendekatan filsafat pendidikan Islam,Ruang lingkup filsafat pendidikan Islam,Urgensi Filsafat Pendidikan Islam ; Hakikat Filsafat Pendidikan Islam ; Definisi filsafat pendidikan IslamMotivasi berfilsafat dalam islam,Pendekatan filsafat pendidikan Islam,Ruang lingkup filsafat pendidikan Islame,Urgensi Filsafat Pendidikan Islam Hakikat Pendidikan Islam ; Definisi Pendidikan,Definisi Pendidikan Islam, Hakikat Sumber dan Dasar Pendidikan Islam; Sumber pendidikan Islam,Dasar Pendidikan Islam Hakikat Ilmu dalam Islam; Definisi ilmu,Keutamaan ahli ilmu,Paradigma integratif ilmu dan agama. Hakikat Manusia dan Proses Pendidikan dalam Islam; Kajian istilah manusia dalam Al-Quran,Manusia sebagai makhluk yang bisa dididik dan mendidik,Fitrah manusia,Fitrah manusia dan hubungannya dengan aliran pendidikan nativisme, empirisme, dan konvergensi ,Pendidikan hakikatnya berlangsung seumur hidup.  Hakikat Tujuan Pendidikan Islam;Definisi tujuan pendidikan,Kedudukan tujuan pendidikan,Tujuan pendidikan Islam,Kekhasan pendidikan Islam. Hakikat Pendidik dalam Pendidikan Islam;Definisi pendidik,Kedudukan pendidik dalam Islam Syarat-syarat pendidik dalam Islam Sifat-sifat pendidik dalam Islam ,Tugas dan peranan pendidik dalam pembelajaran. Hakikat Peserta Didik dalam Pendidikan Islam;Definisi peserta didik,Dimensi-dimensi peserta didik yang akan dikembangkan,Adab peserta didik dalam Islam,Peranan peserta didik dalam pembelajaran. Hakikat Sarana dan Prasarana Pendidikan Islam; Sarana fisik pendidikan,Sarana non fisik pendidikan. Hakikat Kurikulum Pendidikan Islam; Definisi kurikulum,Pentingnya kurikulum dalam pendidikan Islam ,Dasar kurikulum pendidikan Islam,Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam,komponen kurikulum pendidikan Islam. Hakikat Strategi, Pendekatan, dan Metode Pendidikan;Definisi strategi, pendekatan, dan metode pendidikan,Strategi dan pendekatan dalam pendidikan Islam,Metode dalam pendidikan Islam. Hakikat Evaluasi Pendidikan Islam; Definisi evaluasi pendidikan,Objek evaluasi pendidikan ,Tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan,Prinsip-prinsip evaluasi pendidikan,Sasaran evaluasi pendidikan,Jenis-jenis evaluasi pendidikan,Evaluasi dalam pendidikan Islam. Hakikat Lingkungan Pendidikan Islam; Definisi lingkungan pendidikan,Tripusat lingkungan pendidikan,Pengaruh timbal balik antara tripusat lingkungan pendidikan terhadap perkembangan peserta didik (Syamsul Kurniawan; 2015).

Setiap ahli memiliki sudut pandang yang berbeda-beda, sehingga dalam melihat dan menentukan obyek filsafat pendidikan juga terdapat perbedan. Cakupan atau hal-hal yang menjadi kajian filsafat pendidikan sungguh sangat luas, sehingga sangat sulit mencari titik temu dari pendapat para ahli. Di samping ruang lingkup ada yang menyebut dengan istilah obyek sebagaimana disebutkan oleh Muhmidayeli (2011:41-42). Ia menyebutkan hal-hal yang menjadi obyek kajian filsafat pendidikan terdapat 12 hal penting, berkenaan dengan 1). Hakikat manusia ideal sebagai acuan pokok bagi pengembangan dan penyempurnaan, 2). Pendidikan dan nilai-nilai yang dianut sebagai suatu landasan berpikir dan berbuat dalam tatanan hidup suatu masyarakat.3).Hakikat tujuan kependidikan sebagai arah bangun pengembangan pola dunia pendidikan.4).Hakikat pendidik dan anak didik sebagai subyek-subyek yang terlihat langsung dalam pelaksanaan proses edukasi.5).Hakikat pengetahuan dan nilai sebagai aspek penting yang dikembangkan dalam aktivitas pendidikan.6).Hakikat kurikulum sebagai tahapan-tahapan yang akan dilalui dalam proses kependidikan menuju peraihan tujuan-tujuan.7).Hakikat metode dan strategi pembelajaran yang memungkinkan penumbuh kembangan potensi subyek didik (Noor Amiruddin:2018).

Setiap ilmu pengetahuan mempunyai objek tertentu yang menjadi sasaran penyelidikan ( objek material) dan yang akan dipandang ( objek formal). Perbedaan satu ilmu pengetahuan dengan lainnya terletak pada sudut pandang ( objek formal) yang digunakannya. Objek material Filsafat Pendidikan Islam sama dengan filsafat pada umumnya, yaitu segala sesuatu yang ada.Segala sesuatu yang ada mencakup “ada yang tampak” dan “ada yang tidak tampak”. Ada yang tampak adalah dunia empiris, dan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika.

Adapun  objek formal Filsafat Pendidikan Islam adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan objektif tentang Pendidikan Islam untuk dapat diketahui hakikatnya. Objek formal Filsafat Pendidikan Islam dapat dibagi menjadi dua kerangka, yaitu makro dan mikro. Yang dimaksud makro di sini adalah melihat Filsafat  Pendidikan Islam dari sudut teoretis-filosofis, sedangkan maksud dari mikro adalah melihat objek Filsafat Pendidikan Islam dari segi praktis-pragmatis dalam sebuah proses pelaksanaannya (Ismail Tholib : 2019).

Dengan Demikain Ruang lingkup filsafat Pendidikan islam adalah sejumlah pembahasan yg bersifat radikal tentang prinsip yang mendasar dari pendidikan Islam yaitu hakikat pendidikan islam,manusia,pendidik, peserta didik, kurikulum,metode,dan evaluasi. Filsafat menjelaskan tentang esensi realita beruntun dan metodis, sehingga dapat memberikan pandangan hidup yang universal.filsafat hadir tidak terlepas dari masalah-masalah manusia yg dihadapi manusianya sendiri.filsafat pendidikan merupakan suatu ilmu pendidikan yg bersendikan filsafat, atau filsafat yg diterapkan dalam usaha pemikiran dan pemecahan masalah pendidikan. filsafat pendidikan Islam dapat di artikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam Islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia muslim dan ummat Islam.objek kajian filsafat terbagi menjadi dua bagian yaitu objek material dan objek formal.

 

Urgensi Filsafat Pendidikan Islam

Para ahli telah menyoroti dunia pendidikan yang berkembang saat ini, baik dalam pendidikan Islam pada khususnya, maupun pendidikan pada umumnya. Menurut mereka pelaksanaan pendidikan tersebut kurang bertolak dari atau belum dibangun oleh landasan filosofis yang kokoh, sehingga berimplikasi pada kekaburan dan ketidakjelasan arah dan jalannya pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Pelaksanaan pendidikan agama Islam selama ini berjalan melalui cara didaktis metodis seperti halnya pengajaran, dan lebih didasarkan pedagogis umum yang berasal dari sifat pendidikan Model Barat sehingga lebih menekankan pada “transmisi pengetahuan”. Untuk menemukan pedagogis Islam diperlukan lebih dahulu rumusan filsafat pendidikan Islam yang kokoh. Fondasi filosofis yang mendasari sistem pendidikan Islam selama ini masih rapuh, terutama tampak pada adanya bentuk dualisme dikotomis antara apa yang dikategorikan ilmu-ilmu agama yang menduduki fardu ‘ain dan ilmu-ilmu sekular yang paling tinggi berada pada posisi fardu kifayah. Yang sering kali terbaik dan bahkan terapkan. Di samping itu, kegiatan pendidikan Islam seharusnya berorientasi ke langit (orientasi transendental). Tampaknya belum tercermin secara tajam dan jelas dalam rumusan filsafat pendidikan Islam, dan bahkan belum dimilikinya. Karena itu, penyusunan suatu filsafat pendidikan Islam merupakan tugas strategis dalam usaha pembaruan pendidikan Islam. Ilmu pendidikan di Indonesia dewasa ini tampaknya mulai kehilangan jati diri, yang antara lain disebabkan karena penelitian- penelitian lebih koheren dalam persoalan-persoalan praktis operasional dan formal yang terdapat di sekolah. Sedangkan pemikiran ilmu pendidikan yang lebih bersifat kondisional termasuk di dalamnya filsafat pendidikan mengalami stagnasi. Demikian pula riset-riset di dalamnya.” (Moch.Tolchah : 2015 ).

BACA :  Cosmos Perspektif Falsafah Pendidikan Islam

Menurut Shofwan Almuzani dalam penilitiannya yang berjudul Urgensi Filsafat Pendidikan Dan Hubungannya Terhadap Pengembangan Kurikulum 2013 ; Filsafat Pendidikan bukanlah suatu hasil dari studi eksperimen yang mana tidak bisa diuji secara factual, namun filsafat adalah hasil dari pemikiran yang mengarahkan kepada persetujuan dan penolakan. Ilmu pengetahuan yang merupakan alat utama dalam kegiatan berfikir yang dapat menjadi pencerah. Hal ini menjelaskan bahwasannya berfikir akan membuahkan ilmu pengetahuan. Acuan berfikir adalah kebenaran berfilsafat. Sehingga filsafat berperan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan (Shofwan Almuzani , 3 (1),2021:52).

Ada tiga komponen dasar yang harus dibahas dalam teori pendidikan Islam dan pada gilirannya dapat dibuktikan validitasnya dalam operasionalisasi: pertama, tujuan pendidikan Islam harus dirumuskan dan ditetapkan secara jelas dan sama bagi seluruh umat Islam sehingga bersifat universal; kedua, metode pendidikan Islam yang diciptakan harus berfungsi secara efektif dalam proses pencapaian tujuan pendidikan Islam. Komprehensivitas dari tujuan pendidikan Islam harus dengan keanekaragaman metode, mulai dari metode verbalistik-simbolistik sampai pada berinteraksi langsung dengan situasi belajar-mengajar. Metode yang dipakai dalam proses pendidikan Islam hendaknya bertumpu pada paedasentrisme di mana kemampuan fitrah manusia dijadikan pusat proses kependidikan; ketiga, irama gerak yang harmonis antara metode dan tujuan akan mengalami vakum bila tanpa kehadiran nilai atau idea. Oleh karena itu content pendidikan Islam yang diwujudkan dalam kurikulum harus mengandung makna dan nilai sebagai petunjuk ke arah pengembangan kualitas hidup manusia sebagai khalifatullah dan hamba Allah, yang memiliki kepribadian utuh (Basuki dan M. Miftahul Ulum, 2007: 22).

Urgensi Sebagai teori umum mengenai sistem pendidikan, maka filsafat pendidikan Islam berfungsi sebagai peletak dasar bagi kerangka sistem pendidikan yang akan berfungsi dalam mengaplikasikan ajaran agama Islam di bidang pendidikan, yang tujuannya identik dengan tujuan yang akan dicapai oleh ajaran Islam itu sendiri.Urgensi filsafat ilmu dapat dilihat dari peranannya sebagai mitra dialog yang kritis terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu juga mencoba memperkenalkan diskursus ilmu pengetahuan secara utuh-integral-integratif.Sebab pendidikan tanpa dijiwai oleh filsafat maka pendidikan tersebut tidak akan dapat berjalan dengan baik dan sempurna sekaligus akan kesulitan dalam menentukan arah serta tujuan yang diharapkan. Hubungan antara pendidikan dengan filsafat adalah suatu keharusan, sebab filsafat itu sendiri merupakan sebuah teori dasar, konsep general, pedoman dan arah ke mana seharusnya pendidikan itu difungsikan dengan baik dan tepat. Sementara pendidikan merupakan hasil dari penerapan yang matang, mendalam dan kritis tentang tujuan filsafat yang diharapkan.

Pendidikan merupakan suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebihefektif dan efisien. Hemat kami, pendidikan lebih daripada pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, sementara pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan kepribadian peserta didik di samping transfer ilmu dan keahlian.

Pengertian pendidikan secara umum yang dihubungkan dengan Islam sebagai suatu sistem keagamaan melahirkan pengertian- pengertian baru, yang secara implisit menjelaskan karakteristik- karakteristik yang dimilikinya. Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam konteks Islam inheren dengan konotasi istilah tarbiyah, ta’lim,dan ta’dib yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah ini mengandung makna yang mendalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah-istilah itu pula sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam: informal, formal, dan non formal.

Ada tiga komponen dasar yang harus dibahas dalam teori pendidikan Islam dan pada gilirannya dapat dibuktikan validitasnya dalam operasionalisasi: pertama, tujuan pendidikan Islam harus dirumuskan dan ditetapkan secara jelas dan sama bagi seluruh umat Islam sehingga bersifat universal; kedua, metode pendidikan Islam yang diciptakan harus berfungsi secara efektif dalam proses pencapaian tujuan pendidikan Islam. Komprehensivitas dari tujuan pendidikan Islam harus dengan keanekaragaman metode, mulai dari metode verbalistik-simbolistik sampai pada berinteraksi langsung dengan situasi belajar-mengajar. Metode yang dipakai dalam proses pendidikan Islam hendaknya bertumpu pada paedasentrisme di mana kemampuan fitrah manusia dijadikan pusat proses kependidikan; ketiga, irama gerak yang harmonis antara metode dan tujuan akan mengalami vakum bila tanpa kehadiran nilai atau idea. Oleh karena itu content pendidikan Islam yang diwujudkan dalam kurikulum harus mengandung makna dan nilai sebagai petunjuk ke arah pengembangan kualitas hidup manusia sebagai khalifatullah dan hamba Allah, yang memiliki kepribadian utuh (Basuki dan M. Miftahul Ulum, 2007: 22).

Secara umum ada empat urgensi mempelajari filsafat pendidikan islam yaitu:  1). membantu para pendidik menjadi paham akan persoalan-persoalan pendidikan islam.2).Memungkinkan para pendidik untuk dapat mengevaluasi secara lebih baik mengenai berbagai tawaran yang merupakan solusi bagi persoalan- persoalan tersebut.3).membekali para pendidik berfikir klarifikatif tentang tujuan-tujuan hidup dan pendidikan islam,4).memberi bimbingan dalam mengembankan suatu sudut pandang yang konsisten secara internal dan dalam mengembangka suatu program pendidikan yang berhubungan secara realistic dengan konteks global yang lebih luas (Syamsul Kurniawan :2015).

 

Kesimpulan

Setiap manusia menghendaki menjadi manusia yang berkepribadian baik, maka dari itu pendidikan adalah jalan untuk dapat menggapai impian tersebut karena merupakan proses sosial yang bertujuan membentuk manusia yang baik. Adanya impian dan keinginan tersebut tergambarkan dari filsafat pendidikan yang mendasari sistem pendidikan. Islam dengan sumber ajarannya al Qur’an dan al Hadist yang diperkaya oleh penafsiran para ulama ternyata telah menunjukkan dengan jelas dan tinggi terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan. Karenanya tidak heran untuk kita katakan bahwa secara epistimologis Islam memilki konsep yang khas tentang pendidikan, yakni pendidikan Islam.Demikian pula pemikiran filsafat Islam yang diwariskan para filosof Muslim sangat kaya dengan bahan-bahan yang dijadikan rujukan guna membangun filsafat pendidikan Islam. Konsep ini segera akan memberikan warna tersendiri terhadap dunia pendidikan jika diterapkan secara konsisten. Namun demikian adanya pandangan tersebut bukan berarti Islam bersikap ekslusif. Rumusan, ide dan gagasan mengenai kependidikan yang dari luar dapat saja diterima oleh Islam apabila mengandung persamaan dalam hal prinsip, atau paling kurang tidak bertentangan. Tugas kita selanjutnya adalah melanjutkan penggalian secara intensif terhadap apa yang telah dilakukan oleh para ahli, karena apa yang dirumuskan para ahli tidak lebih sebagai bahan perbangdingan, zaman sekarang berbeda dengan zaman mereka dahulu. Karena itu upaya penggalian masalah kependidikan ini tidak boleh terhenti, jika kita sepakat bahwa pendidikan Islam ingin eksis ditengah-tengah percaturan global.

 

 

 

Berita Terkait

Sidak Setelah Mudik Masih Efektifkah?
7 Tips Menghindari Stres Pasca Mudik Lebaran Idul Fitri
6 Tantangan Jurnalis dalam Mempertahankan Integritas dan Kebenaran
Ini Kiat – Kiat Buah Hati Agar Bisa Menghafal Al-Quran Dengan Mudah
Brigpol Polresta Sidoarjo Rizky Dwi Ikuti Training SDM AR Learning Center
Arus Kedatangan Orang Luar Ke Papua Sangat Deras:Yang Minta DOB Bertanggungjawab
Ipmanapandode Joglo Gelar Turnamen Voli di Jogja Expo Center
Liburan Paskah 2024, Ratusan Siswa Hindu Pasraman Tirta Bhuana Bekasi Kunjungi Pura di Banyuwangi
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 April 2024 - 12:00 WIB

Sidak Setelah Mudik Masih Efektifkah?

Senin, 15 April 2024 - 20:46 WIB

7 Tips Menghindari Stres Pasca Mudik Lebaran Idul Fitri

Sabtu, 13 April 2024 - 15:11 WIB

Ini Kiat – Kiat Buah Hati Agar Bisa Menghafal Al-Quran Dengan Mudah

Jumat, 12 April 2024 - 13:44 WIB

Brigpol Polresta Sidoarjo Rizky Dwi Ikuti Training SDM AR Learning Center

Rabu, 10 April 2024 - 12:52 WIB

Arus Kedatangan Orang Luar Ke Papua Sangat Deras:Yang Minta DOB Bertanggungjawab

Rabu, 10 April 2024 - 09:24 WIB

Ipmanapandode Joglo Gelar Turnamen Voli di Jogja Expo Center

Jumat, 5 April 2024 - 15:55 WIB

Liburan Paskah 2024, Ratusan Siswa Hindu Pasraman Tirta Bhuana Bekasi Kunjungi Pura di Banyuwangi

Kamis, 4 April 2024 - 15:10 WIB

TK DWK Gedung Karya Jitu Tulang Bawang Gelar Sanlat Ramadhan Perkenalkan Nilai Kebaikan Sejak Dini

Berita Terbaru

Nafian Faiz (SUARA UTAMA.ID)

Artikel

Sidak Setelah Mudik Masih Efektifkah?

Rabu, 17 Apr 2024 - 12:00 WIB

Illustrasi Stress dan Relax  .Foto:pixabay.com/id/illustrations/search/stress

Artikel

7 Tips Menghindari Stres Pasca Mudik Lebaran Idul Fitri

Senin, 15 Apr 2024 - 20:46 WIB