SUARAUTAMA,Nabire- awal kronologi Situasi keamanan di Kabupaten Dogiyai memanas menyusul insiden berdarah yang terjadi sejak 31 Maret sampai 2 April 2026.
Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai “Dogiyai Berdarah” bermula dari ditemukannya jasad seorang anggota polisi, Bripda Juventus Edowai, di dalam selokan depan Gereja Kingmi Ebenezer pada Selasa (31/3/2026).
Pasca penemuan tersebut, situasi di wilayah Moanemani dilaporkan mencekam. Warga menyebut terjadi penyisiran aparat di sejumlah kampung di Distrik Kamuu yang berujung pada jatuhnya korban sipil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Laporan awal dari masyarakat dan kelompok advokasi HAM menyebut sedikitnya lima warga sipil meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka tembak berat.
Beberapa korban yang disebutkan antara lain Siprianus Tibakoto yang dilaporkan tertembak di bagian kepala, Yulita Pigai seorang lansia lumpuh yang disebut meninggal di rumahnya, serta Martinus Yobee yang masih berusia remaja.
Hingga awal April 2026, warga dilaporkan mengungsi ke tempat yang dianggap aman karena khawatir akan operasi lanjutan aparat keamanan.
IPMADO Kota Studi Nabire bersama solidaritas Melakukan aksi demontrasi damai pada Senin, 11 Mei 2026, di Nabire, Papua Tengah.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap korban peristiwa “Dogiyai Berdarah” yang terjadi di Dogiyai pada akhir Maret sampai 2 April 2026.
Aksi dimulai sejak pagi hari dari beberapa titik kumpul massa, di antaranya Asrama Dogiyai Jalan Dosa BMW, Pasar Karang, USWIM, dan Siriwini.
Massa aksi melakukan orasi, konsolidasi, dan negosiasi dengan aparat keamanan terkait rencana long march menuju Kantor DPR Papua Tengah, pada Senin (11/05).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan tuntutan agar pemerintah dan aparat keamanan segera mengusut tuntas peristiwa Dogiyai Berdarah yang menelan korban jiwa warga sipil.
Kordinator umum marius Petege, juga meminta dibentuknya tim investigasi independen untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM yang terjadi selama insiden di Dogiyai.
Ia menambah, Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua bersama pelajar dan mahasiswa dogiyai mendesak dibentuknya tim investigasi independen untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM dalam peristiwa tersebut,jelas petege.
Mereka menilai insiden di Dogiyai menjadi salah satu kasus serius di wilayah Meepago karena adanya korban sipil, termasuk anak-anak dan lansia.
Ia katakan Selama aksi berlangsung, aparat keamanan tampak berjaga di sejumlah titik di Kota Nabire.
Beberapa kali terjadi negosiasi antara koordinator lapangan dan pihak kepolisian mengenai jalur aksi dan long march massa menuju Kantor DPR Papua Tengah,ujarnya.
Meski sempat mengalami pembatasan pergerakan, massa aksi akhirnya berkumpul di titik Pasar Karang sebelum bergerak bersama secara damai, ujarnya petege.
Aksi demontrasi damai tersebut berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan dan menjadi bagian dari seruan mahasiswa Papua untuk meminta keadilan bagi korban peristiwa Dogiyai Berdarah.
Sejumlah organisasi mahasiswa menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap korban peristiwa Dogiyai Berdarah sekaligus tuntutan agar pemerintah dan aparat keamanan mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan dan adil.











