Kritik menghantam Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Rp75 miliar untuk pengadaan, Kendaraan khusus. Sementara jalan dari Rantau Pulung ke Sangatta. gang-gang di pusat kota masih kupak-kapik

Cakra Kaltim juga menyoroti fenomena standar ganda publik dalam mengawasi anggaran, Pembangunan jalan alternatif menuju RSUD Kudungga yang stagnan menjadi bukti nyata kegagalan skala prioritas.

- Publisher

Minggu, 10 Mei 2026 - 22:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi Rp 75 milyar

Foto ilustrasi Rp 75 milyar

SUARA UTAMA, Sangatta, – Gelombang kritik tajam menghantam Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) setelah terungkapnya alokasi anggaran fantastis senilai Rp75 miliar untuk pengadaan dua unit kendaraan khusus (Ransus) berteknologi tinggi.

Kebijakan ini memicu polemik besar mengenai prioritas penggunaan uang rakyat di tengah hancurnya infrastruktur dasar di wilayah tersebut.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Cakra Kaltim secara terbuka menuding Bupati Kutai Timur telah kehilangan empati terhadap kebutuhan mendasar masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) dengan Kode RUP 61496528, Dinas Kominfo Staper Kutim mengalokasikan pagu sebesar Rp75.022.893.747 melalui APBD Perubahan 2025.

 

Anggaran tersebut digunakan untuk membeli dua unit kendaraan khusus. Signal Jammer (Penghambat Sinyal Selektif) dan

BACA JUGA :  Seorang Pelajar Angkat Bicara, Pernyataan Oknum Sekda Terindikasi Kontradiktif Berpotensi Sanksi Administratif Bahkan Pidana

Direction Finder (Pendeteksi/Penyadap Arah Komunikasi).

 

Ketua LSM Cakra Kaltim, Budi Untoro, menyebut langkah ini sebagai pemborosan anggaran yang nirmakna bagi kesejahteraan publik.

“Ini adalah kebijakan yang buta tuli. Bagaimana mungkin pemerintah lebih memprioritaskan alat penyadap senilai puluhan miliar sementara akses jalan dari Rantau Pulung ke Sangatta hingga gang-gang di pusat kota masih kupak-kapik?” ujar Budi dengan nada tajam saat dikonfirmasi, Minggu (10/5).Poin krusial yang disorot adalah dugaan salah alamat dalam pembiayaan. Budi menegaskan bahwa kendaraan canggih tersebut diduga diperuntukkan bagi lembaga vertikal (Kejaksaan), yang secara struktural seharusnya dibiayai oleh APBN, bukan membebani APBD daerah.

BACA JUGA :  Lapas Bangko Fasilitasi Pernikahan Warga Binaan, Suasana Haru Warnai Prosesi

 

Tidak hanya soal kendaraan, Cakra Kaltim juga membongkar data akumulasi anggaran sejak 2022 yang mengalir ke fasilitas lembaga vertikal termasuk pembangunan gedung kantor baru dengan total mencapai Rp140 miliar.

 

“Bupati seolah menjadi donatur bagi lembaga pusat menggunakan uang rakyat Kutim. Ini melenceng jauh dari janji politik pro-rakyat. Ada indikasi kuat praktik KKN di balik skema hibah dan pengadaan melalui penunjukan langsung ini,” tegas Budi.

 

Cakra Kaltim juga menyoroti fenomena standar ganda publik dalam mengawasi anggaran. Ia membandingkan hiruk-pikuk kritik terhadap anggaran Rp8,5 miliar di tingkat Provinsi, sementara angka Rp75 miliar di Kutim seolah melenggang tanpa pengawasan ketat.

BACA JUGA :  Keluhan Pelanggan Meningkat, Warga Ingatkan Masyarakat Lebih Selektif Memilih Layanan Internet Rumah

 

“Masyarakat harus bangun. Di saat warga pedalaman berjuang dengan jalan berlumpur, pemerintah justru sibuk belanja teknologi intelijen yang tidak ada hubungannya dengan urusan perut atau mobilitas rakyat,” tambahnya.

 

Memasuki periode kedua kepemimpinannya, Bupati Kutim dinilai mulai menjauh dari realitas sosial di lapangan.

 

Pembangunan jalan alternatif menuju RSUD Kudungga dan perbaikan konektivitas antar-kecamatan yang stagnan menjadi bukti nyata kegagalan skala prioritas.

 

Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kabupaten Kutai Timur maupun Diskominfo Staper belum memberikan pernyataan resmi terkait urgensi pengadaan perangkat canggih tersebut di tengah defisit infrastruktur jalan.

Penulis : Rudi Salam

Editor : R'Salam

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

pekerja mengaku bekerja di PT BAR site PT BERAU COAL. mengeluhkan pembayaran upah molorrr.!
Akhirnya Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo Buka Suara, Pakopak Ikut Angkat Bicara Terkait Tukin P3K Tahun 2025
Bapelkum Bitung dan BNNK Perkuat Sinergi, Bahas Persiapan Penandatanganan PKS
Aliansi Masyarakat Karawang Jabar Menuntut Ketegasan Pemkab Menutup TNM
Pertalite dan Solar Langka di Banjar Kalsel, Namun Masih Banyak Dijual Eceran
Pertamax Rp16.650 per Liter: Rakyat Dipaksa Menyesuaikan. UMKM, Hingga Pengemudi Transportasi Terasa Dampaknya.
Penertiban Pedagang di Tanjung Bunga
Polres Maros Bersihkan Rumah Ibadah Sambut Hari Bhayangkara ke-80
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:17 WIB

pekerja mengaku bekerja di PT BAR site PT BERAU COAL. mengeluhkan pembayaran upah molorrr.!

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:34 WIB

Akhirnya Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo Buka Suara, Pakopak Ikut Angkat Bicara Terkait Tukin P3K Tahun 2025

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:24 WIB

Bapelkum Bitung dan BNNK Perkuat Sinergi, Bahas Persiapan Penandatanganan PKS

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:18 WIB

Aliansi Masyarakat Karawang Jabar Menuntut Ketegasan Pemkab Menutup TNM

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:24 WIB

Pertamax Rp16.650 per Liter: Rakyat Dipaksa Menyesuaikan. UMKM, Hingga Pengemudi Transportasi Terasa Dampaknya.

Berita Terbaru