Ketika Dunia Mendengar Hati Nurani: Palestina dan Iran, Simbol Perlawanan Global

- Publisher

Selasa, 24 Juni 2025 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA– Di tengah arus globalisasi yang mendewakan kekuatan ekonomi dan kepentingan geopolitik, nurani kemanusiaan sering kali terpinggirkan. Namun, ada saat ketika dunia berhenti sejenak—bukan karena kekuatan senjata atau propaganda, melainkan karena jeritan kemanusiaan yang tak lagi bisa diabaikan.

Dalam pusaran konflik dan penindasan yang panjang, Palestina dan Iran muncul sebagai simbol perlawanan global, bukan hanya karena perjuangan politiknya, tapi karena mereka mewakili sesuatu yang lebih dalam: panggilan hati nurani umat manusia.

Palestina: Simbol Ketertindasan yang Tak Terpadamkan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Palestina telah lama menjadi luka terbuka di hati dunia. Sejak awal abad ke-20, rakyat Palestina terusir dari tanahnya, disekap di bawah pendudukan, dan hidup dalam ketakutan serta ketidakpastian. Namun, dari reruntuhan rumah, puing-puing sekolah, dan pelukan anak-anak yatim, bangkit sebuah semangat yang tak pernah padam.

BACA JUGA :  Kilas Balik 28 Tahun Reformasi Indonesia

Di mata banyak orang di seluruh dunia, bendera Palestina tidak hanya mewakili sebuah negara yang belum merdeka, tapi juga melambangkan perlawanan terhadap penjajahan, ketidakadilan, dan pengkhianatan atas hak asasi manusia. Setiap suara yang berseru untuk kemerdekaan Palestina adalah gema dari hati nurani global yang menolak untuk diam saat kezaliman berlangsung terang-terangan.

Iran: Suara Perlawanan terhadap Hegemoni Dunia

Iran, dalam lanskap politik global, sering digambarkan melalui lensa konflik, embargo, dan perlawanan terhadap dominasi Barat, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya. Namun di balik narasi itu, Iran telah membentuk dirinya sebagai lambang kedaulatan, keberanian, dan penolakan terhadap sistem dunia yang timpang.

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran memilih jalur mandiri, menolak menjadi bagian dari sistem global yang dikendalikan oleh kekuatan adidaya. Terlepas dari kritik atas kebijakan dalam negerinya, di panggung internasional Iran konsisten menyuarakan dukungan bagi Palestina dan menolak normalisasi dengan penjajah. Posisi ini bukan sekadar politik, melainkan cerminan dari keberpihakan pada yang lemah dan yang tertindas.

BACA JUGA :  Operasi Ketupat Menumbing 2026 Berakhir, Polda Babel Lanjutkan Pengamanan Arus Balik Lewat Skema KRYD

Nurani Global yang Terbangun

Ketika rakyat dunia, dari Asia hingga Amerika Latin, mulai turun ke jalan, mengibarkan bendera Palestina dan Iran berdampingan dalam demonstrasi damai, itu bukan sekadar solidaritas politis. Itu adalah tanda bahwa nurani global mulai terbangun. Dunia mulai menyadari bahwa diam berarti ikut bersekongkol, dan bahwa keberpihakan bukan pilihan netral, melainkan keharusan moral.

Dalam banyak mural, grafiti, puisi, dan karya seni di berbagai penjuru dunia, kita melihat wajah anak-anak Gaza dan semangat perlawanan dari Quds; kita melihat bendera Palestina dan Iran sebagai ikon simbolik dari dunia yang menolak tunduk pada ketidakadilan dan kekuasaan buta.

BACA JUGA :  Wali Kota Pangkalpinang Lepas 291 Calon Jemaah Haji di Masjid Agung Kubah Timah

Penutup: Harapan dari Perlawanan

Ketika dunia mendengar hati nurani, maka perlawanan bukan lagi tentang satu bangsa atau satu wilayah. Ia menjadi perjuangan bersama umat manusia—melawan penindasan, melawan kebohongan sistemik, dan melawan apatisme kolektif.

Palestina dan Iran adalah wajah dari perlawanan itu. Keduanya menandai bahwa di tengah dunia yang dikuasai kepentingan, masih ada mereka yang memilih untuk berdiri tegak, membawa lentera kebenaran, sekalipun harus membayar harga yang mahal.

Dan saat dunia benar-benar mendengar hati nuraninya, mereka tidak lagi sendiri.

Sumber Berita: Wartawan SUARA UTAMA

Berita Terkait

Rumah Kaprawi Disorot Warga, Diduga Jadi Lokasi Penampungan dan Pembakaran Emas Hasil PETI
Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 
Self Healing Talk & Workshop Bouquet untuk Muslimah
Seorang Pelajar Angkat Bicara, Pernyataan Oknum Sekda Terindikasi Kontradiktif Berpotensi Sanksi Administratif Bahkan Pidana
Kompak, Oknum Ketua Poktan Gemah Ripah Krajan dan Oknum PPL Banyuanyar Enggan Menjawab Konfirmasi Media 
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau. Terbitkan Surat Edaran Pelaku Usaha dan Industri Wajib Kelola Sampah Mandiri Mulai 16 Maret 2026
PREDIKSI JITU dan AKURAT: Persib Menuju Singgasana Keabadian Hat-trick Champion, Rekor Tak Terkalahkan di Kandang, dan Dipastikan Terima Bintang Kelima Besok Sore!
Pernyataan Kontradiktif Antara Pesan Suara dan Dokumen Tertulis, Oknum Sekda Terindikasi Dugaan Abuse Of Power
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 17:42 WIB

Rumah Kaprawi Disorot Warga, Diduga Jadi Lokasi Penampungan dan Pembakaran Emas Hasil PETI

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:12 WIB

Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 

Sabtu, 23 Mei 2026 - 09:51 WIB

Seorang Pelajar Angkat Bicara, Pernyataan Oknum Sekda Terindikasi Kontradiktif Berpotensi Sanksi Administratif Bahkan Pidana

Sabtu, 23 Mei 2026 - 09:46 WIB

Kompak, Oknum Ketua Poktan Gemah Ripah Krajan dan Oknum PPL Banyuanyar Enggan Menjawab Konfirmasi Media 

Jumat, 22 Mei 2026 - 22:12 WIB

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau. Terbitkan Surat Edaran Pelaku Usaha dan Industri Wajib Kelola Sampah Mandiri Mulai 16 Maret 2026

Berita Terbaru

Moslem Woman Silhouette in Old Vintage Brick Wall Background

Artikel

Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:12 WIB