SUARA UTAMA, BERAU, Ziarah Agung di Tembudan, Ahli Waris Kesultanan Berau Desak Pemerintah Beri Perhatian Layak bagi Makam Raja Alam
Berau, – Dalam sebuah momen penuh khidmat sekaligus refleksi sejarah, jajaran petinggi adat dan ahli waris Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur melaksanakan ziarah ke makam pahlawan besar Bumi Batiwakkal, Raja Alam (Sultan Alimuddin), di Tembudan, Kecamatan Batu Putih, pada Kamis (16/4/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kunjungan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci, di antaranya PJM Adji Raden Moh. Bahrun, Sultan Sambaliung PYM Datu Amir M.A. (Sultan Raja Muda Perkasa), serta pemangku adat Sambaliung, Hasanuddin.
Kehadiran para pemangku adat ini tidak hanya untuk mengirimkan doa, tetapi juga untuk meninjau langsung kondisi situs bersejarah tersebut.
Raja Alam merupakan Sultan ke empat Kesultanan Sambaliung yang memerintah pada tahun 1810–1844. Sebagai keturunan langsung dari Baddit Dipattung (Raja Berau pertama), beliau dikenal sebagai sosok yang gigih melawan hegemoni penjajah.
Atas jasa-jasanya, Raja Alam merupakan satu-satunya Sultan dari Kabupaten Berau yang telah menerima penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia dan kini tengah dalam proses pengusulan sebagai Pahlawan Nasional.
Suasana haru sempat berubah menjadi keprihatinan saat rombongan melihat kondisi makam Raja Alam dan gurunya, Syech Nurjati, yang dinilai kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Berau.
PYM Datu Amir M.A. (Sultan Sambaliung) menyampaikan pernyataan tegas terkait kondisi fisik situs yang tampak tidak terawat tersebut.
“Kami datang ke sini dengan rasa hormat yang mendalam, namun hati kami berat melihat kondisi makam leluhur kami. Raja Alam bukan sekedar nama dalam buku sejarah, beliau adalah simbol harga diri dan perlawanan Republik Indonesia terhadap penjajahan. Sangat disayangkan jika pemerintah seolah menutup mata terhadap situs yang seharusnya menjadi mercusuar edukasi dan jati diri daerah ini. Kami meminta aksi nyata, bukan sekedar janji administratif,” Ujar PYM Datu Amir M.A.
Senada dengan Sultan Gunung tabur, PJM Adji Raden Moh. Bahrun menekankan bahwa pemeliharaan makam ini adalah bentuk penghormatan terhadap kedaulatan sejarah Berau.
Menurutnya, pemerintah daerah tidak boleh melupakan akar sejarah yang membentuk Kabupaten Berau saat ini.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Makam Raja Alam dan Syech Nurjati adalah bukti otentik perjuangan melawan kolonialisme. Jika situs ini dibiarkan terbengkalai, kita sedang menghapus jejak perjuangan kita sendiri. Kami mendesak Pemerintah Kabupaten Berau untuk segera melakukan restorasi dan perawatan berkala. Jangan sampai kita menikmati kemerdekaan di tanah ini, namun melupakan mereka yang berdarah-darah memperjuangkannya.”
Pesan untuk Pemerintah Kabupaten Berau
Kunjungan ini diakhiri dengan ziarah ke makam Syech Nurjati, guru spiritual Raja Alam, untuk memberikan doa bersama.
Para tokoh adat menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah dan pemangku adat sangat diperlukan agar situs sejarah seperti di Tembunan ini dapat dijaga kelestariannya sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kesultanan berharap ada respon cepat dari dinas terkait untuk meninjau kembali alokasi anggaran perawatan situs-situs bersejarah di pelosok Kabupaten Berau.
Penulis : Rudi salam
Sumber Berita: Wartawan suara utama











