Suara utama.id Berau, – Garis retakan tanah yang menganga di Kampung Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, bukan lagi sekedar ancaman geologis biasa. Ini adalah bom waktu dengan sumbu pendek yang siap meledak kapan saja.
Pasca-insiden longsor susulan yang menghantam pada Minggu (31/5/2026), tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau akhirnya tiba di lokasi pada Senin (1/6/2026) pagi.
Namun, bagi warga yang didera ketakutan, kedatangan birokrat ini dinilai terlambat, formalitas belaka, dan kehilangan urgensi kemanusiaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Longsoran masif sepanjang hampir 200 meter di bantaran Sungai Kelay ini dituding bukan murni bencana alam, melainkan akibat dari akumulasi pembiaran bertahun-tahun atas eksploitasi lingkungan skala besar dan kelalaian fatal birokrasi.
Kemarahan warga Tumbit Melayu telah mencapai titik didih. Ismail, salah satu tokoh masyarakat setempat, mengungkap fakta mengejutkan, ancaman bencana ini sudah dilaporkan secara resmi ke instansi pemerintah sejak setahun lalu. Namun, laporan itu menguap di laci meja pejabat tanpa ada tindakan preventif.
“Pas saya menanyakan yang punya rumah, kurang lebih satu tahun lalu sudah melaporkan ancaman ini ke pemerintah terkait, tapi sama sekali tidak direspons oleh Pemerintah Kabupaten Berau. Sekarang kondisinya sudah sangat parah. Satu rumah sudah hanyut terkena longsor waktu itu, dan ini longsor sudah memanjang kurang lebih 200 meter,” ujar Ismail dengan nada tinggi di lokasi kejadian, Senin (1/6/2026).
Ismail melontarkan kritik tajam yang menampar wajah pemangku kebijakan yang berada di kabupaten Berau maupun provinsi Kalimantan Timur.
“Apakah pemerintah menunggu jatuh korban jiwa baru mau bergerak. Yang saya takutkan, saat masyarakat sedang terlelap di dalam rumah, longsor susulan menghantam. Wallahualam apa yang akan terjadi nanti. Jangan sampai jatuh korban dulu, baru pemerintah sibuk memotong pita belasungkawa!” cetus Ismail retoris.
Investigasi di lapangan mengonfirmasi bahwa abrasi dan longsor di Tumbit Melayu tidak terjadi di ruang hampa. Ada korelasi linear yang kuat antara kerusakan struktural tanah dan aktivitas industri ekstraktif yang mengepung kampung mereka.
Berdasarkan kesaksian warga, Tumbit Melayu kini telah diubah menjadi zona eksploitasi komoditas tinggi yang brutal, seperti Pertambangan Batu Bara yang mengubah lanskap dan kestabilan hidrologi tanah. Pembalakan Hutan, baik yang berlindung di balik izin legal maupun yang digerakkan oleh cukong ilegal, merampas akar pohon sebagai penahan air. Penambangan Pasir yang diduga Ilegal, Mengeruk dasar dan bibir sungai secara liar di sekitar areal pemukiman.
Kombinasi destruktif ini membuat kawasan pemukiman warga kehilangan benteng alamiahnya. Tanah kehilangan daya ikat, sementara arus Sungai Kelay terus menggerus fondasi kampung dari bawah.
Secara geografis, wilayah RT 1 dan RT 2 Tumbit Melayu kini berada dalam status Siaga Merah. Kerusakan tanah kian diperparah oleh faktor hidrometeorologi intensitas hujan ekstrem yang tak menentu serta siklus banjir tahunan yang kian agresif.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Berau, Masyhadi, mengakui situasi kritis ini berdasarkan verifikasi lapangan yang baru dilakukan.
“Hasil tinjauan lapangan untuk informasi bahwa 3 rumah warga yang terdiri dari 3 KK dan 10 jiwa ini perlu penanganan karena sudah berada di posisi pinggir longsor dan teras rumah sudah dilepas karena terkena longsor,” kata Masyhadi.
Masyhadi menambahkan adanya kekhawatiran besar jika banjir kiriman datang dari hulu Sungai Kelay, dampak langsung yang fatal tidak akan terhindarkan.
“Rekomendasinya jika mungkin direlokasi, tapi tentu harus dirapatkan dengan para pihak agar sesuai dengan ketentuan,” jelasnya normatif.
Bagi warga, retorika rapat dan sesuai ketentuan dari pemerintah adalah bentuk penundaan yang mengancam nyawa. Kesabaran warga Tumbit Melayu sudah habis.
Lebih lanjut, Ismail kembali menegaskan bahwa jika Pemerintah Daerah Berau tidak segera menurunkan tim teknis secepatnya untuk melakukan penguatan struktur tebing secara masif atau mengeksekusi evakuasi yang aman, warga siap mengambil tindakan ekstrem.
“Kami warga RT 1 dan RT 2 berada di garis depan ancaman ini. Potensi bencananya sangat besar karena abrasi Sungai Kelay terus dipicu oleh cuaca ekstrem dan banjir tahunan. Kami menuntut Pemerintah Daerah Berau dan instansi terkait segera mengambil tindakan nyata. Turun ke lokasi sekarang juga,” tuntut Ismail memberikan ultimatum keras.
“Ini soal keselamatan nyawa manusia, bukan proyek jangka panjang yang bisa ditunda. Jika dalam waktu dekat penanganan ini masih lambat dan berbelit-belit, kami pastikan masyarakat Tumbit Melayu akan mengepung Kantor Bupati Berau untuk melakukan unjuk rasa besar-besaran.”tutupnya
Penulis : Rudi salam
Sumber Berita: Suara utama. Id












Komentar
Silakan login untuk berkomentar.