PFII Dinilai Jadi Solusi Pembiayaan Daerah, SMSI Dorong Sinergi Percepat Penerbitan Obligasi Daerah

- Publisher

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:26 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA, Jakarta – Upaya memperkuat kemandirian fiskal daerah melalui skema pembiayaan alternatif kembali menjadi perhatian. Laporan terbaru United Nations Development Programme (UNDP) mengungkap fakta bahwa hingga kini belum ada satu pun pemerintah daerah di Indonesia yang berhasil menerbitkan obligasi daerah, meskipun regulasinya telah tersedia selama hampir dua dekade.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa mandeknya penerbitan obligasi daerah bukan disebabkan oleh rendahnya minat investor, melainkan karena masih lemahnya kapasitas teknis pemerintah daerah dalam menyiapkan proyek yang memenuhi standar investasi global. Tantangan itu meliputi proses kurasi proyek, penyusunan struktur pembiayaan, hingga penyediaan proyek yang layak investasi (bankable).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Persoalan ini semakin mendesak setelah pemerintah melakukan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar 24 persen atau sekitar Rp226 triliun pada tahun 2026. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat pembangunan daerah apabila tidak diimbangi dengan sumber pembiayaan alternatif.

BACA JUGA :  Karhutla 17,5 Hektare di Barsel Meluas, Polres Buru Pelaku Pembakaran

Dalam Rapat Dewan Pengurus Pusat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) yang digelar pada Jumat, 24 Juli 2026, di Jalan Veteran II No. 7C, Jakarta Pusat, pembahasan mengenai solusi pembiayaan daerah menjadi salah satu agenda utama. Forum tersebut menyoroti pentingnya kehadiran Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai instrumen yang dapat membuka akses pendanaan baru bagi pemerintah daerah.

Pada kesempatan itu, Dr. Agus Syabarrudin menegaskan bahwa daerah tidak boleh terus bergantung pada transfer fiskal dari pemerintah pusat, sementara peluang pendanaan dari pasar keuangan global semakin terbuka.

“Kita tidak bisa membiarkan daerah terus-menerus terbelenggu ketergantungan fiskal, sementara potensi likuiditas global begitu melimpah,” tegas Dr. Agus di hadapan pengurus DPP SMSI.

Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan strategi kolaboratif agar mampu memanfaatkan peluang investasi global. Salah satu langkah yang ditawarkan adalah memperkuat peran Bank Pembangunan Daerah (BPD) menjadi Regional Investment Bank yang mampu mendampingi pemerintah daerah dalam menyiapkan proyek investasi sesuai standar internasional.

BACA JUGA :  Korban PTSL Mendesak Selesaikan Semua Permasalahan, ATR/BPN Kabupaten Probolinggo Jangan Kejar Terget PTSL 2026

Dr. Agus menjelaskan bahwa kehadiran PFII dapat menjadi katalis dalam membuka akses pembiayaan non-pemerintah, termasuk dari lembaga keuangan internasional dan family office yang memiliki minat terhadap proyek-proyek berorientasi keberlanjutan.

Karena itu, proyek-proyek strategis daerah, seperti pembangunan infrastruktur, pengelolaan sumber daya air, serta sektor pelayanan publik lainnya, perlu disusun dengan mengacu pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) agar memenuhi standar investasi global.

Dalam forum tersebut juga mengemuka pentingnya membangun sinergi antara Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA), Fundbridge Globalink Investa (FGI), dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI). Kolaborasi ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan kapasitas teknis pemerintah daerah sebagaimana diungkap dalam kajian UNDP.

BACA JUGA :  Persib Bungkam Sabah FC 3-0, Cukup Incar Hasil Seri Kontra Bali United untuk Kunci Juara Grup

SMSI sendiri dipandang memiliki peran strategis sebagai mitra edukasi publik dan pengawal transparansi dalam proses pengembangan pembiayaan daerah berbasis investasi.

Sementara itu, BPD diharapkan memegang peran sentral melalui beberapa fungsi utama, yakni melakukan studi kelayakan (feasibility study), menyusun struktur instrumen pembiayaan sesuai regulasi dan standar ESG, serta bertindak sebagai penasihat keuangan (financial advisor) sekaligus lead underwriter dalam proses penerbitan obligasi daerah.

Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, diharapkan Indonesia mampu mengakhiri penantian panjang selama dua dekade tanpa penerbitan obligasi daerah. Lebih dari itu, langkah ini diyakini dapat memperkuat kemandirian fiskal pemerintah daerah, memperluas akses investasi, serta menjaga keberlanjutan pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik di tengah terbatasnya transfer dana dari pemerintah pusat.

Penulis : Hamsir

Editor : Hamsir

Sumber Berita: Suara Utama

Berita Terkait

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Gunung Anak Krakatau, Founder YSUI Ajak Insan Pers Panjatkan Doa
Dedikasi Membuahkan Hasil: Delegasi SMA Ar Rohmah Guncang Panggung Asean Olympiad 2026 dengan Sederet Kemenangan
Yayasan Suara Utama Indonesia Soroti Polemik Sound Horeg dan Etika, Pernyataan “Goblok” Jadi Sorotan
Yayasan Suara Utama Indonesia Perkuat Kiprah di Dunia Pers
DPC APPRODI Bekasi Raya Periode 2026–2031 Resmi Dilantik pada Ajang Engagement Day 2026
Kolaborasi 30 TBM Kab. Tanggamus Dorong Akselerasi Literasi Berbasis Kearifan Lokal
Resmi Berdiri, Yayasan Suara Utama Indonesia (YSUI) Siap Perkuat Ekosistem Media, Pendidikan, dan Sosial
Dinkes Dogiyai Gelar Pelatihan Pengelola Imunisasi
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 13:24 WIB

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Gunung Anak Krakatau, Founder YSUI Ajak Insan Pers Panjatkan Doa

Jumat, 11 September 2026 - 13:53 WIB

Dedikasi Membuahkan Hasil: Delegasi SMA Ar Rohmah Guncang Panggung Asean Olympiad 2026 dengan Sederet Kemenangan

Kamis, 10 September 2026 - 11:29 WIB

Yayasan Suara Utama Indonesia Soroti Polemik Sound Horeg dan Etika, Pernyataan “Goblok” Jadi Sorotan

Selasa, 8 September 2026 - 10:21 WIB

Yayasan Suara Utama Indonesia Perkuat Kiprah di Dunia Pers

Senin, 7 September 2026 - 15:15 WIB

DPC APPRODI Bekasi Raya Periode 2026–2031 Resmi Dilantik pada Ajang Engagement Day 2026

Berita Terbaru

FOTO: Andre Hariyanto, Pembina Yayasan Suara Utama Indonesia dan Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (Dok. Internal)

Artikel

Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah

Sabtu, 12 Sep 2026 - 21:11 WIB

https://mancingjitu.com/