Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan

- Publisher

Jumat, 10 Oktober 2025 - 16:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Padang, 10 Oktober 2025 — Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day. Tahun ini, tema global yang diangkat adalah “Kesehatan Mental dalam Keadaan Darurat Kemanusiaan” — sebuah seruan moral dan kemanusiaan agar isu kesehatan mental tidak lagi dipandang sebelah mata, terutama saat masyarakat menghadapi bencana, konflik, atau situasi krisis.

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1 dari 5 orang yang hidup dalam situasi konflik atau bencana mengalami gangguan mental, mulai dari stres berat, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD). Angka ini menunjukkan betapa rentannya kesehatan jiwa manusia dalam kondisi darurat yang menekan secara fisik dan emosional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kesehatan Jiwa: Bukan Sekadar Isu Pribadi

Kesehatan mental bukan hanya urusan individu, tetapi isu sosial dan kemanusiaan. Dalam keadaan darurat — seperti bencana alam, pandemi, atau konflik sosial — masyarakat kehilangan banyak hal: keluarga, rumah, pekerjaan, bahkan harapan. Di sinilah trauma dan tekanan psikologis muncul, seringkali tanpa perhatian memadai dari sistem bantuan yang ada.

BACA JUGA :  Wali Kota Pangkalpinang Lepas 291 Calon Jemaah Haji di Masjid Agung Kubah Timah

Padahal, “tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental”, seperti ditegaskan WHO. Artinya, setiap program bantuan kemanusiaan sejatinya harus memasukkan dukungan psikososial sebagai komponen utama, bukan tambahan.

Tantangan di Lapangan

Dalam banyak kasus di Indonesia, layanan kesehatan jiwa sering kali belum menjadi prioritas. Tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater masih terbatas jumlahnya, terutama di daerah bencana. Di sisi lain, stigma terhadap gangguan jiwa masih kuat — banyak orang enggan mencari bantuan karena takut dianggap lemah atau “tidak waras.”

Selain itu, koordinasi antara lembaga kemanusiaan, pemerintah daerah, dan masyarakat sering belum optimal. Padahal, di tengah darurat kemanusiaan seperti bencana gempa, banjir, atau konflik sosial, dampak psikologis bisa bertahan jauh lebih lama dibanding luka fisik.

BACA JUGA :  Kemacetan Parah Akibat Pekerjaan Reservasi Jalan Paket 1 di Poros Hertasning Makassar, Pengendara Keluhkan Antrean Panjang

Langkah dan Harapan

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran dan aksi nyata.
Ada tiga langkah strategis yang perlu diperkuat:

1. Integrasi Layanan Kesehatan Jiwa dalam Penanganan Bencana
Pemerintah daerah dan lembaga tanggap darurat harus menyediakan layanan pendampingan psikososial sejak tahap awal tanggap bencana. UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa telah memberi dasar hukum yang kuat untuk implementasi ini.

2. Pelatihan dan Kolaborasi Relawan
Lembaga kemanusiaan dapat melatih relawan lapangan agar mampu memberikan dukungan emosional dasar bagi penyintas, terutama anak-anak, perempuan, dan lansia. Pendekatan empatik dapat mencegah trauma jangka panjang.

BACA JUGA :  Konflik ini memuncak dalam pertemuan di Kantor Camat Teluk Bayur. Masjid yang lama saja berukuran 16×16 meter, Mengapa sekarang membantu bertambah kecil.

3. Edukasi dan Penghapusan Stigma
Media massa, komunitas, dan tokoh masyarakat berperan penting dalam mengedukasi publik bahwa mencari bantuan psikologis adalah langkah keberanian — bukan kelemahan. Dukungan sosial dan empati harus menjadi budaya bersama.

 

Pesan Kemanusiaan

Dalam setiap situasi darurat, manusia kehilangan banyak hal — tetapi harapan harus tetap dijaga. Menjaga kesehatan jiwa berarti menjaga kemanusiaan itu sendiri. Dukungan psikologis adalah hak setiap korban bencana, sama pentingnya dengan makanan, obat, dan tempat tinggal.

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini mengajak semua pihak — pemerintah, organisasi kemanusiaan, media, hingga masyarakat luas — untuk bersatu memastikan layanan kesehatan mental hadir di setiap keadaan darurat. Karena sejatinya, di tengah penderitaan, empati dan kepedulian adalah bentuk paling nyata dari kemanusiaan.

 

Penulis : Ziqro Fernando

Editor : Ziqro Fernando

Sumber Berita: Tim wartawan

Berita Terkait

Fahry Lamato Buka Suara Soal Isu SARA: “Jangan Ada Upaya Mengadu Domba Masyarakat Bitung”
Rumah Kaprawi Disorot Warga, Diduga Jadi Lokasi Penampungan dan Pembakaran Emas Hasil PETI
Dinamika Persaingan Media di Makassar dan Gowa Jadi Sorotan, Profesionalisme Pers Dipertanyakan
Self Healing Talk & Workshop Bouquet untuk Muslimah
Seorang Pelajar Angkat Bicara, Pernyataan Oknum Sekda Terindikasi Kontradiktif Berpotensi Sanksi Administratif Bahkan Pidana
Kompak, Oknum Ketua Poktan Gemah Ripah Krajan dan Oknum PPL Banyuanyar Enggan Menjawab Konfirmasi Media 
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau. Terbitkan Surat Edaran Pelaku Usaha dan Industri Wajib Kelola Sampah Mandiri Mulai 16 Maret 2026
Tebar 45 Ekor Sapi Kurban, Ridwan Wittiri: Idul Adha Momentum Perkuat Solidaritas dan Kemanusiaan
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 02:13 WIB

Fahry Lamato Buka Suara Soal Isu SARA: “Jangan Ada Upaya Mengadu Domba Masyarakat Bitung”

Sabtu, 23 Mei 2026 - 17:42 WIB

Rumah Kaprawi Disorot Warga, Diduga Jadi Lokasi Penampungan dan Pembakaran Emas Hasil PETI

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:13 WIB

Dinamika Persaingan Media di Makassar dan Gowa Jadi Sorotan, Profesionalisme Pers Dipertanyakan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 09:51 WIB

Seorang Pelajar Angkat Bicara, Pernyataan Oknum Sekda Terindikasi Kontradiktif Berpotensi Sanksi Administratif Bahkan Pidana

Sabtu, 23 Mei 2026 - 09:46 WIB

Kompak, Oknum Ketua Poktan Gemah Ripah Krajan dan Oknum PPL Banyuanyar Enggan Menjawab Konfirmasi Media 

Berita Terbaru

Moslem Woman Silhouette in Old Vintage Brick Wall Background

Artikel

Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:12 WIB