Untuk Apa Mencintai Allah? Sebuah Pencarian Makna

Jumat, 30 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suara Utama._ Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kita sering terjebak dalam rutinitas ibadah dan kewajiban agama tanpa sempat berhenti sejenak untuk bertanya: Untuk apa sebenarnya aku mencintai Allah? Apakah karena takut siksa-Nya? Karena berharap surga-Nya? Ataukah ada makna yang lebih dalam dari sekadar pahala dan hukuman?

Pertanyaan ini bukan bentuk keraguan, melainkan cermin dari hati yang sedang mencari keikhlasan. Mencintai Allah bukanlah hubungan transaksional antara hamba dan Tuhan semata, melainkan panggilan terdalam jiwa manusia yang merindukan kedamaian, keutuhan, dan arah hidup yang sejati.

Cinta yang Menjawab Kehampaan Jiwa

Setiap manusia pada hakikatnya mencari cinta—cinta yang menenangkan, yang menerima tanpa syarat, yang membimbing saat tersesat. Namun, cinta duniawi sering kali mengecewakan. Ketika cinta pada sesama terbatas, cinta pada Allah justru tak mengenal batas. Dialah yang menciptakan kita, mengenal kita lebih dalam dari diri kita sendiri, dan selalu membuka pintu kembali meski kita berulang kali lalai.

Mencintai Allah adalah jawaban bagi jiwa yang hampa. Dalam cinta itu, kita menemukan arti hidup, arah, dan tujuan yang lebih mulia dari sekadar memenuhi ambisi duniawi.

Lebih dari Sekadar Takut dan Harap

Sering kali kita diajarkan untuk beribadah karena takut pada neraka dan berharap surga. Tidak salah, karena itu bagian dari motivasi dasar manusia. Namun, ketika cinta kepada Allah hanya dibangun atas rasa takut dan harapan, kita belum menyentuh hakikat tertingginya.

Cinta sejati kepada Allah tumbuh ketika kita mengenal-Nya melalui nama-nama dan sifat-Nya: Ar-Rahman (Maha Pengasih), Al-Ghafur (Maha Pengampun), Al-Latif (Maha Lembut), dan seterusnya. Cinta itu tumbuh karena kesadaran bahwa Allah mencintai hamba-Nya lebih dari cinta seorang ibu kepada anaknya. Ia yang tak pernah meninggalkan, meski kita sering berpaling.

Cinta yang Menghidupkan Ibadah

Ibadah yang dilakukan dengan cinta terasa berbeda. Shalat menjadi pertemuan, bukan kewajiban. Zikir menjadi keintiman, bukan sekadar bacaan. Puasa menjadi penyucian, bukan sekadar menahan lapar. Ketika hati mencintai Allah, seluruh aktivitas ibadah berubah menjadi bentuk ekspresi rindu dan syukur.

BACA JUGA :  Perkuat Kapasitas Pemerintah Daerah, Yayasan PKPA dan BPBD Lakukan Workshop Penyusunan Dokumen Rencana Kontijensi Banjir

Cinta kepada Allah melahirkan keikhlasan. Kita berbuat baik bukan untuk dipuji, tapi karena ingin mendekat kepada-Nya. Kita menjauhi dosa bukan semata karena takut, tapi karena tak ingin mengecewakan-Nya.

Cinta yang Menguatkan di Tengah Ujian

Hidup tidak selalu mudah. Ujian datang silih berganti: kehilangan, sakit, pengkhianatan, dan kekecewaan. Namun, cinta kepada Allah memberi kekuatan untuk bertahan. Ia mengajarkan bahwa di balik setiap ujian, ada hikmah dan rencana Ilahi yang tak selalu bisa dimengerti saat ini, tapi pasti mengandung kebaikan.

Dengan mencintai Allah, seseorang akan merasa selalu ditemani, tak pernah benar-benar sendiri. Ketika seluruh dunia menutup pintu, pintu-Nya tetap terbuka.

Mencari dan Menemukan

Perjalanan mencintai Allah bukan sesuatu yang instan. Ia membutuhkan pencarian, kejujuran, dan waktu. Terkadang, cinta itu lahir di tengah kegelapan. Terkadang, ia tumbuh perlahan dalam sujud yang sunyi, dalam tangisan yang hanya Allah yang tahu.

Namun, siapa yang sungguh-sungguh mencari, akan menemukan. Allah berfirman dalam hadits qudsi:

“Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan barangsiapa datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta kepada Allah bukan hanya tujuan, tapi juga jalan. Ia bukan hanya jawaban, tapi juga pertanyaan yang menuntun kita pada hidup yang lebih bermakna.

Maka, untuk apa mencintai Allah?

Karena hanya dengan mencintai-Nya, hidup menjadi utuh. Karena dengan cinta itu, ibadah menjadi nikmat, ujian menjadi ringan, dan hati menjadi tenang. Cinta kepada Allah bukan beban, tapi anugerah. Bukan paksaan, tapi kebutuhan.

Dan pada akhirnya, cinta kepada Allah adalah jembatan menuju cinta yang lain—cinta pada sesama, pada kebaikan, dan pada kehidupan yang lebih bermakna. Ia adalah cahaya yang menerangi jalan pulang ke rumah yang sebenarnya: surga bersama-Nya.

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

KNPB Wilayah Dogiyai Gelar Pelantikan Pengurus dan Pergantian Nama Sektor Puga Yamo
PETI di Desa Bukit Bungkul Mengamuk, Aparat Diam: Ada Beking Kuat di Balik Ponidi?
Diduga Lalai Dalam Menjalankan Tugas, Oknum Petugas Jalan PU Ruas Jalan Pekalen -Klenang Jadi Sorotan 
Pembangunan Jembatan di Desa Lubuk Birah Mangkrak, Warga Keluhkan Janji Tak Tepat Waktu: Kades Bungkam
Hari Pers Nasional 2026, Suara Utama Konsisten Mengabarkan Kebenaran untuk Publik
Kayu Sengon Ditebang, Oknum Petugas DPUPR Ruas Jalan Pekalen -Klenang Terindikasi Gagal Dalam Penegakan Hukum
Pemuda Pancasila Tanggamus Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Ketua dan Sekretaris DPW PPP Lampung
Solar Jadi Nyawa PETI Tabir Barat: Penyuplai BBM Diduga Bebas Berkeliaran, Aparat Seolah Tutup Mata

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:46

KNPB Wilayah Dogiyai Gelar Pelantikan Pengurus dan Pergantian Nama Sektor Puga Yamo

Selasa, 10 Februari 2026 - 06:38

PETI di Desa Bukit Bungkul Mengamuk, Aparat Diam: Ada Beking Kuat di Balik Ponidi?

Senin, 9 Februari 2026 - 18:30

Diduga Lalai Dalam Menjalankan Tugas, Oknum Petugas Jalan PU Ruas Jalan Pekalen -Klenang Jadi Sorotan 

Senin, 9 Februari 2026 - 07:31

Pembangunan Jembatan di Desa Lubuk Birah Mangkrak, Warga Keluhkan Janji Tak Tepat Waktu: Kades Bungkam

Minggu, 8 Februari 2026 - 20:02

Hari Pers Nasional 2026, Suara Utama Konsisten Mengabarkan Kebenaran untuk Publik

Minggu, 8 Februari 2026 - 18:46

Pemuda Pancasila Tanggamus Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Ketua dan Sekretaris DPW PPP Lampung

Minggu, 8 Februari 2026 - 17:56

Solar Jadi Nyawa PETI Tabir Barat: Penyuplai BBM Diduga Bebas Berkeliaran, Aparat Seolah Tutup Mata

Minggu, 8 Februari 2026 - 10:50

Mungkinkah Tangisan Masyarakat Dapat Terobati Dengan Hasil Pemeriksaan BK DPRD kabupaten Probolinggo 

Berita Terbaru