
Seorang putra Sultan Gowa tercatat dalam sejarah Sri Lanka karena gugur saat memimpin pasukan Melayu melawan Inggris pada 1803. Tokoh tersebut adalah Karaeng Sangunglo, putra Sultan Fakhruddin Abdul Khair, Sultan Gowa ke-26, yang diasingkan VOC ke Ceylon bersama keluarganya.
Berbeda dengan sebagian saudaranya yang mengabdi dalam Resimen Melayu Inggris, Karaeng Sangunglo memilih bergabung dengan Kerajaan Kandy, kerajaan terakhir di Sri Lanka yang masih merdeka dari kekuasaan Inggris.
Di Kandy, ia menjadi salah satu pemimpin komunitas Melayu dan turut memimpin pasukan Melayu dalam Perang Inggris–Kandy tahun 1803. Perang tersebut mempertemukan Karaeng Sangunglo dengan saudara tirinya sendiri yang bertugas di pihak Inggris, mencerminkan bagaimana diaspora Makassar di Ceylon terpecah akibat dinamika politik kolonial.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada 24 Juni 1803, ketika pasukan Kandy menyerang garnisun Inggris, Karaeng Sangunglo gugur di medan pertempuran. Namanya kemudian dikenang sebagai salah satu tokoh Melayu yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Kerajaan Kandy.
Kisah Karaeng Sangunglo menunjukkan bahwa diaspora Makassar tidak hanya meninggalkan jejak sebagai komunitas perantauan, tetapi juga berperan dalam sejarah politik dan militer Sri Lanka pada awal abad ke-19. Perjalanannya menjadi salah satu bukti bahwa jejak sejarah Makassar turut terukir di berbagai wilayah di seberang Samudra Hindia.
Ilustrasi: Pertempuran dari sumber Eropa (bukan ilustrasi langsung Perang Kandy 1803).
Referensi
Suryadi. 2008. Sepucuk Surat dari Seorang Bangsawan Gowa di Tanah Pembuangan (Ceylon). Wacana, Vol. 10 No. 2.
A.C.S. Hussainmiya. 1990. Lost Cousins: The Malays of Sri Lanka (dikutip dalam Suryadi, 2008).
Christopher Buyers. Genealogy of the Royal House of Gowa (dikutip dalam Suryadi, 2008).











