Tripusat Pendidikan Embrio Membentuk Ketahanan Keluarga di Era Disrupsi

Oleh: Widi Hastuti, S.Pd., M.Si, Pengawas Madya Jenjang MA di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul

- Publisher

Rabu, 3 Mei 2023 - 23:10 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA – Ki Hadjar Dewantara memandang dalam proses tumbuh kembangnya seorang anak, terdapat tiga pusat pendidikan yang memiliki peranan besar. Semua ini disebut “Tripusat Pendidikan”, yaitu; 1) Pendidikan di lingkungan keluarga, 2) Pendidikan di lingkungan perguruan/sekolah/madrasah dan 3) Pendidikan di lingkungan kemasyarakatan atau alam pemuda. Tripusat Pendidikan ini besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter seseorang. Tripusat pendidikan merupakan sistem pendidikan Tamansiswa yang dilakukan dalam perguruan (sitem perguron) yang memusatkannya 3 (tiga) lingkungan pendidikan yaitu: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lingkungan erat dilaksanakan dalam bentuk perguruan yang mensyaratkan adanya: rumah pamong, kegiatan belajar mengajar, kegiatan berlatih, kegiatan hidup kemasyarakatan berasaskan kekeluargaan, pondok asrama bagi siswa.

Lingkungan keluarga adalah suatu proses pembelajaran yang terjadi di kehidupan sehari-hari dalam keluarga terdekat. Sebagai orang tua mengenalkan nama benda-benda dan cara mengucapkan dengan benar, cara menghargai orang, cara menulis, cara menggambar, dan cara beribadah. Pada prinsipnya pendidikan dalam keluarga untuk membantu anak bagaimana belajar dasar anak memasuki dunia formal (sekolah dan masyarakat). Pendidikan sekolah adalah pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, sedangkan pendidikan dalam masyarakat adalah pendidikan nonformal tidak dikesampingkan dari pendidikan keluarga dan sekolah.

BACA JUGA :  Perkuat Kapasitas Epidemiolog, Indonesia Ikuti Training of Trainers FETP di Bangkok Thailand
Pendidikan di lingkungan madrasah/ sekolah
Pendidikan di lingkungan madrasah/ sekolah

Pergerakan kehidupan yang luar biasa cepat sedang terjadi di semua lini kehidupan, yang disebut era disrupsi. Di era ini, perubahannya sangat cepat, bahkan cenderung tak terdetaksi. Pergerakannya juga lateral, acak, zigzag, sekaligus mampu memorakporandakan tatanan lama, kemudian merekonstruksi menjadi tatanan dan pola baru, bahkan sama sekali baru. Era disrupsi menginisiasi lahirnya banyak model baru dengan pendekatan, metode, dan strategi yang lebih visioner dan transformatif. Cakupan perubahan era ini, meliputi ranah bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan. Era ini mengajak dan menuntut kita untuk berani beradaptasi dan berubah. Sebab jika tidak, kita akan tergilas, lalu akhirnya hilang tak berbekas.

Realitas tersebut tentu menjadi tantangan semua pihak, tak terkecuali keluarga. Pada era disrupsi ini, keluarga dituntut menjadi oasis, samudera kehangatan, dan surga bagi anak. Keluarga sebagai bagian terkecil dari masyarakat harus menjadi tempat bersemayam inspirasi, motivasi, dan sugesti positif. Gempuran perkembangan teknologi dan informasi tidak boleh membuat goyah keluarga. Sebaliknya, realitas tersebut harus menjadi alasan untuk memperkuat ikatan keluarga. Orang tua sebagai penjaga dan pengelola keluarga harus bersinergi untuk menyikapi dan menyambut tantangan tersebut. Pada era disrupsi ini, pergaulan dan pendidikan anak harus mendapatkan perhatian yang serius. Melalui ponsel pintar, anak bisa berselancar di dunia maya. Apabila tidak mendapatkan arahan dan pemahaman terhadap nilai-nilai positif dari orang tua, apa yang dilihat dan dipelajari anak dari dunia maya akan menjadi landasan dalam berpikir dan bersikap.

BACA JUGA :  Koperasi Desa: Kesejahteraan atau Kontrol Negara?
Kegiatan Kepramukaan memiliki tujuan untuk melatih generasi muda agar memaksimalkan setiap potensi yang ada di dalam dirinya
Kegiatan Kepramukaan memiliki tujuan untuk melatih generasi muda agar memaksimalkan setiap potensi yang ada di dalam dirinya

Seorang anak senantiasa ingin merasa nyaman, damai, dan aman. Karena itu, keluarga seyogianya menjadi sebuah tempat yang sangat menyenangkan dan menenangkan bagi anak. Keluarga yang nyaman akan membuat anak bisa menikmati kehidupannya. Muaranya, anak merasa bahagia, yang tentu saja bisa menjadi titik awal anak untuk terus belajar dan berkarya. Sebuah kehidupan akan memberikan makna yang sugestif-transformatif jika yang bersangkutan senantiasa mempraktikkan kebajikan dan kebijaksanaan. Sebagai sebuah masyarakat terkecil, keluarga bisa memainkan peran yang sangat penting apabila di dalamnya ada nilai-nilai arif tersebut. Orang tua pun harus menampilkan keteladanan yang baik. Sebab, anak akan belajar dan meniru nilai-nilai positif tersebut. Orang tua juga harus memperhatikan semua potensi, kecerdasan, dan gaya belajar anak. Pemahaman ini akan membuat anak senantiasa termotivasi. Era disrupsi tak akan mampu menggoyahkan atau memorakporandakan keluarga.

Berita Terkait

Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk
Perkuat Kapasitas Epidemiolog, Indonesia Ikuti Training of Trainers FETP di Bangkok Thailand
Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah
Dedikasi Membuahkan Hasil: Delegasi SMA Ar Rohmah Guncang Panggung Asean Olympiad 2026 dengan Sederet Kemenangan
“Quo Vadis” UU Perampasan Asset
Krisis Integritas dalam Negara Hukum
Mahasiswa STAI Samarinda Jalani PKL di Twonash Law Office, Belajar Praktik Hukum Langsung dari Advokat
Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami
Berita ini 90 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:38 WIB

Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk

Sabtu, 12 September 2026 - 21:11 WIB

Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah

Jumat, 11 September 2026 - 13:53 WIB

Dedikasi Membuahkan Hasil: Delegasi SMA Ar Rohmah Guncang Panggung Asean Olympiad 2026 dengan Sederet Kemenangan

Kamis, 10 September 2026 - 15:16 WIB

“Quo Vadis” UU Perampasan Asset

Kamis, 3 September 2026 - 12:19 WIB

Krisis Integritas dalam Negara Hukum

Berita Terbaru

FOTO: Penulis Mendekatkan Buku kepada Pembacanya

Berita Utama

Mendekatkan Buku Kepada Pembacanya

Selasa, 22 Sep 2026 - 20:25 WIB

https://mancingjitu.com/