SUARA UTAMA, Probolinggo – Kritik tajam di lontarkan warga masyarakat kabupaten Probolinggo Jawa Timur perihal peringatan Hari jadi kabupaten Probolinggo (Harjakapro) ke 2080 tahun 2026. Pasal nya dari beberapa OPD Menggelontorkan anggaran yang bersumber dari APBD sekira Rp. 200.000.000.00 (Dua ratus juta rupiah) lebih. 25/04/2026.
Harjakapro ke 280 yang berlangsung selama 10 hari, di nilai tidak berdampak positif bagi warga masyarakat yang ekonomi nya menengah ke bawah. Melainkan terindikasi hanya menguntungkan oknum EO. Pasal nya, Selain mendapat anggaran dari pemerintah, Oknum EO terindikasi dugaan memperjual belikan Lapak (Kanan kiri kenak).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ditengah isu harus efisiensi anggaran, OPD malah Menggelontorkan anggaran yang nilai tidak tepat sasaran oleh masyarakat. Bahkan Informasi yang beredar ASN dalam setiap malam nya di siapkan absensi (wajib hadir). Sehingga terkesan pemborosan bagi ASN yang seharusnya efesiensi benar benar di rasakan oleh semua lapisan.
Seorang kuli bangunan “LT” yang mengaku dirinya asal wilayah kecamatan Tiris Menilai, anggaran yang di gelontorkan oleh OPD khusus Dinas pendidikan dan kebudayaan, tidak berdampak langsung kepada masyarakat menengah kebawah. Ia sangat menyangkan pasal nya masih banyak fasilitas pendidikan yang memprihatinkan.
“Kami sebagai masyarakat kecil menganggap anggaran yang di gelontor oleh OPD salah satu nya Disdikdaya tidak tepat. Apakah pendidikan sudah bagus di kabupaten Probolinggo?. Coba kepala dinas nya suruh turun, gedung gedung sekolah masih banyak yang tidak layak. Untuk apa Harjakapro semewah dan sebesar itu sementara manfaat tidak bisa di rasakan oleh masyarakat kecil. “Ungkap nya.
Ia mengaku pernah berkunjung ke Harjakapro ke 280, Menurut wajar jika barang barang yang di jual oleh pelaku UMKM mahal. Dengan alasan Ia mendapat informasi dugaan praktik jual beli lapak. Sehingga terkesan Harjakapro menjadi ajang Bisnis oknum EO bukan Pesta rakyat.
“Harga makanan dan minuman UMKM mahal, Contoh harga minuman, susu kedelai Rp 6.000, di harjakapro jadi Rp.12.000. Mana yang namanya pesta rakyat?. Ya memang wajar sih, menaikan harga karena lapak yang mereka tempati terindikasi membayar pada oknum oknum EO. Harjakapro yang menikmati masyarakat atau siapa?. “Pungkas nya.
Salah satu pengunjung Harjakapro “HL” asli kelahiran kabupaten Probolinggo, mengaku bahwa ASN di siapkan absen di acara tersebut. Sehingga Harjakapro di dominasi ASN ditengah situasi efisiensi untuk keluarga masing-masing malah pengeluaran menambah.
“Absen Khusus (AK) dibuka jam 18.00 wib. pulang naik motor dari Kraksaan, Jalan kemungkinan sepi karena musim begal. Kalau ada apa apa, apakah pimpinan yang mengusulkan kebijakan ini tanggung jawab?, bagi ASN yang rumah nya jauh. Mereka (ASN) harus mengeluarkan belanja lebih banyak. “Ucap nya.
Penulis : Ali Misno











