Kesenjangan Pendidikan Kita: Mengapa Masih Terjadi dan Apa Solusinya?

- Publisher

Selasa, 20 Mei 2025 - 09:11 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas. (SUARAUTAMA.ID)

Ilustrasi: Kegiatan Belajar Mengajar di Kelas. (SUARAUTAMA.ID)

SUARA UTAMA- Pendidikan adalah hak semua anak bangsa. Kalimat ini tidak hanya menjadi jargon, tapi juga mandat konstitusi. Namun faktanya, kesenjangan pendidikan di Indonesia masih nyata terasa, terutama ketika kita melihat ke wilayah-wilayah pelosok.

Ada sekolah dengan fasilitas lengkap, guru berstatus PNS, dan siswa yang terbiasa mengakses teknologi. Tapi ada pula sekolah yang kekurangan guru, ruang kelas seadanya, serta anak-anak yang harus berjalan jauh, bahkan menyeberangi sungai, demi mendapatkan hak belajar.

Mengapa ketimpangan ini masih terjadi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketimpangan di Lapangan

Salah satu masalah mendasar terletak pada status dan distribusi guru. Di banyak daerah terpencil, guru honorer masih mendominasi, dengan kesejahteraan yang jauh dari layak. Banyak dari mereka yang menerima honor tidak lebih dari uang bensin, tapi tetap menjalankan tugas dengan dedikasi tinggi.

BACA JUGA :  Menjadi Manusia yang Bermanfaat dan Berjiwa Penolong

Ironisnya, beban kerja justru kerap lebih berat. Mereka dituntut menguasai teknologi, mengikuti berbagai pelatihan, dan mengajar di kelas dengan kondisi seadanya. Sementara di kota-kota besar, tak jarang guru justru menumpuk, bahkan kesulitan mendapatkan jam mengajar penuh.

Tak hanya itu, persepsi masyarakat juga turut memperparah keadaan. Sekolah-sekolah kecil di desa sering dianggap “kurang menjanjikan”, padahal mereka menjalankan kurikulum yang sama dan memiliki potensi yang sama besar, jika diberi kesempatan.

Tantangan Teknologi dan Akses

Digitalisasi pendidikan yang digaungkan pasca pandemi juga menyoroti kesenjangan lain: akses terhadap teknologi. Di kota, siswa belajar lewat gawai dan platform digital. Tapi di pelosok, banyak anak yang bahkan belum terbiasa menggunakan perangkat digital, karena tidak tersedia.

BACA JUGA :  Komnas PA Kota Batu Berikan Edukasi Perlindungan Anak pada Pertemuan Forum Anak Desa Tlekung

Platform belajar seperti Merdeka Mengajar, meski sangat bermanfaat, belum sepenuhnya bisa menjangkau sekolah-sekolah dengan keterbatasan infrastruktur. Akibatnya, para guru di daerah tertinggal sering merasa tertinggal secara sistem.

Apa Solusinya?

Pertama, pemerintah perlu mempercepat penyelesaian masalah status dan kesejahteraan guru honorer. Program rekrutmen PPPK harus dilanjutkan dengan pengawasan ketat, agar benar-benar menyasar mereka yang telah lama mengabdi.

Kedua, pemerataan fasilitas pendidikan menjadi keharusan. Sekolah-sekolah kecil tidak boleh dianaktirikan. CSR perusahaan, APBD, hingga gotong royong masyarakat bisa menjadi alternatif solusi jangka pendek.

Ketiga, distribusi guru harus dilakukan lebih adil. Program seperti Guru Penggerak dan Guru Garis Depan sudah baik, namun harus dijaga kesinambungannya dan diperluas jangkauannya.

BACA JUGA :  Dosen PBA UNJ Tingkatkan Kompetensi Guru Desa Muktiwari melalui Pembelajaran Digital Berbasis StudyStack

Keempat, edukasi publik perlu terus dilakukan. Masyarakat perlu paham bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh nama besar sekolah, tetapi oleh lingkungan belajar yang sehat dan dukungan guru yang kompeten.

Terakhir, pemerintah harus memastikan digitalisasi pendidikan tidak menciptakan jurang baru. Platform pembelajaran harus ramah akses, dan dukungan perangkat serta pelatihan harus menjangkau semua wilayah.

Penutup

Kesenjangan pendidikan adalah PR besar kita bersama. Selama masih ada anak yang sulit mengakses pendidikan layak hanya karena tempat tinggalnya, maka cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa belum sepenuhnya tercapai.

Pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tapi soal harapan. Dan harapan itu seharusnya milik semua anak, di mana pun mereka tinggal.

 

Editor : Nafian Faiz

Sumber Berita: Yoni Wahyu Sampurna, S.Pd.Gr. — Guru Bahasa Indonesia SMPN Satu Atap 1 Rawajitu Timur, Tulang Bawang

Berita Terkait

Perjuangan Siswa KIP Berprestasi Arya
Peneliti PBA FBS Universitas Negeri Jakarta Kembangkan Modul Digital Interaktif Berbasis AI untuk Pembelajaran Berbicara Bahasa Arab
Smart TBN Hadir di Desa Wisata Kampung Raja Prailiu, Waingapu!  
Sikap Ksatria SMK Swasta di Kabupaten Bandung Rayakan Arahan Gubernur KDM: Bagikan Ijazah hingga Antar ke Rumah, Meski Hak Dana Pemerintah Masih Tertahan
Menjadi Manusia yang Bermanfaat dan Berjiwa Penolong
Pernyataan Hotman Paris, Pemred SUARA UTAMA Ajak Hormati Profesi Wartawan
Transformasi IAI TABAH Lamongan Resmi menjadi Universitas Tarbiyatut Tholabah Lamongan
Bahasa Banua Terancam Punah, Sekda Berau: Jangan Biarkan Identitas Daerah Hilang
Berita ini 256 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:59 WIB

Peneliti PBA FBS Universitas Negeri Jakarta Kembangkan Modul Digital Interaktif Berbasis AI untuk Pembelajaran Berbicara Bahasa Arab

Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:28 WIB

Smart TBN Hadir di Desa Wisata Kampung Raja Prailiu, Waingapu!  

Selasa, 4 Agustus 2026 - 18:02 WIB

Sikap Ksatria SMK Swasta di Kabupaten Bandung Rayakan Arahan Gubernur KDM: Bagikan Ijazah hingga Antar ke Rumah, Meski Hak Dana Pemerintah Masih Tertahan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 11:55 WIB

Menjadi Manusia yang Bermanfaat dan Berjiwa Penolong

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:15 WIB

Pernyataan Hotman Paris, Pemred SUARA UTAMA Ajak Hormati Profesi Wartawan

Berita Terbaru

mancingjitu slot thailand slot thailand