Esensi Manusia Persfektif Falsafah Pendidikan Islam

- Jurnalis

Kamis, 23 Maret 2023 - 09:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fhoto: Penulis Esensi Manusia Persfektif Falsafah Pendidikan Islam di Taman IAIDU Asahan

Fhoto: Penulis Esensi Manusia Persfektif Falsafah Pendidikan Islam di Taman IAIDU Asahan

Esensi Manusia Persfektif Falsafah Pendidikan Islam

Aliya Nandika Fitri Anyuba, Novita Eka Fitria,Selly Fania, Suhardi

Prodi PAI, FITK,IAIDU Asahan Kisaran

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Esensi Manusia Persfektif Falsafah Pendidikan Islam Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Pendahuluan

Kata Manusia diungkapkan dengan menggunakan istilah yang bermacam-macam, di antaranya: al-basyar, al-Ins dan al-Insân. Masing-masing istilah tersebut dicantumkan dengan frekuensi yang bervariasi.Keseluruhan kata tersebut berguna untuk menjelaskan manusia secara proporsional menurut pandangan Al-Qur’an.

Secara lebih luas Ibn Mansûr menguraikan bahwa kata al-Basyr digunakan untuk menyebut manusia baik laki laki ataupun perempuan, baik satu ataupun banyak.Kata al-Basyar adalah jama’ dari kata alBasyarah yang artinya permukaan kulit kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut atau bulu.Berbeda dengan itu, Ibn Bazrah mengartikannya sebagai kulit luar; dan Al-Lais mengartikannya sebagai permukaan kulit pada wajah dan kulit pada manusia seluruhnya.(Salminawati : 2011 : 35).

Istilah al-Ins dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali, masingmasing dalam 17 ayat dan 9 surat. Dalam semua ayat tersebut, kata al-Ins tetap dihubungkan dengan kata al-Jinn. Sebanyak 7 kali kata al-Ins mendahului kata al-jinn, sedangkan selebihnya, yaitu 10 ayat kata al-jinn mendahului kata al-Ins. Berdasarkaan hal itu, Aisyah Abdurrahman bintu al-Syati’ menyimpulkan bahwa makna jinak adalah penekanan dari kata al-Ins sebagai lawan dari kata al-Jinn yang bermakna buas.

Disisi lain, identitas manusia dengan pemaknaan al-Insân dalam Al-Qur’an terdapat juga potensi yang mendorong manusia pada arah dan tindakan, sikap dan peri laku negatif dan merugikan. Sebab, menurut Nizar bahwa pada beberapa ayat, Allah SWT.mempersandingkan kata al-Insân dengan kata Syaithân. Ayat-ayat tersebut pada umumnya berisikan peringatan Allah agar manusia senantiasa sadar dan menempatkan posisi fitrahnya sesuai dengan yang diinginkan Allah, yaitu pada posisi yang hanif.(Salminawati : 2011 : 40).

Melihat dari esensi manusia menurut filsafat pendidikan islam bahwa pada zaman sekarang ini sangat banyak orang yang tidak mau berkembang dan menciptakan sesuatu yang baru,padahal kita sebagai manusia harus menyadari bahwa kita memiliki potensi hanya saja kita sebagai manusia sangat malas untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita.Jika kita sebagai manusia tidak sadar akan potensi yang kita miliki bagaimana kehidupan kita akan berkembang? Ketika kita tidak mau berkonstribusi atau mengikut sertakan potensi kita dalam suatu hal kita akan tenggelam dimakan perkembangan zaman,seharusnya kita sebagai manusia terutama generasi muda harus menyadari potensi masing masing dan mengembangkan potensi tersebut sehingga kita ikut serta dalam memajukan perkembangan ilmu di era zaman sekarang yang sangat minim ilmu agama.

 

Esensi Manusia Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam

Al-Qur’an dalam  filsafat  Islam  merupakan  pondasi epistemeyang  digunakan untuk  menelaah dan merumuskan pengetahuan tentang hakikat manusia.Al-Qur’an menampilkantigakosa kata kunci teknisuntuk  penggambaran  eksistensimanusia:al-Insan, al-Basyar,  dan al-Nas (Ramayulis,2008). Tiga kosa kata kunci ini, merupakan medan semantik yangmemiliki pengertian dan makna yang khas. Toshihiko Izutsu memperkenalkan metodologi semantik sebagai kerangka yang dapat digunakan dalam upaya memahami konsep-konsep dasar Alquran. Pertama, memilih istilah kunci dalam teks  Alquran yang  ditengarai  sebagai  dasar  konseptualweltanschauung.  Kedua,  memetakan  makna  pokok  (basic meaning)   dan   makna   terkait   (relational   meaning). ketiga,   menyimpulkan   pandangan   dunia (weltanschauung) Alquran dalam konsepsi yang utuh (Izutsu,2002). (Nuryamin , dkk ,(13), 2021 : 39).

Hakikat manusia dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk memahami esensi yang tetap dan tidak berubah-ubah pada diri manusia, serta menandakan ciri khasnya yang membedakan dengan yang lain.Hakikat  manusia  dalam  filsafat  merupakan  kecenderungan  yang  menganggap  bahwa  manusia memiliki definisi pra wujud tentang kemanusiaannya yang mampu membedakannya dengan secara jelas dari eksistensinya. Jadi esensi lebih penting dari pada eksistensi (Kholil : 2006).

Hakikat kemanusiaan  manusia  melekat  setiap  saat  dalam  diri  manusia  mulai  lahir  sampai meninggal.   Manusia   dalam  mengaktualkan   kemanusiaannya   dalam   berbagai   kehidupan   akan mendapatkan  kehormatan. Dengan  demikian,  berbekalkan  hakikat  yang  selalu  melekat  pada  dirinya, manusia  mengembangkan  kehidupannya  di  muka  bumi  ini (Prayitno : 2009).Pembahasan  tentang hakikat manusia mencakup dua pembahasan utama yakni tentang manusia dan pendidikan. Pengetahuan tentang hakikat manusia menjadi dasar dalampengembangan pendidikan sekaligus menentukan arah garapan pendidikan (Hermawan : 2012).

 

Makna An-Nas, Al-basyar dan Bani Adam

Al-Quran memperkenalkan tiga kata istilah yang digunakan untuk menunjuk pengertian manusia.Ketiga kata tersebut adalah, al-Basyar, al-Insan dan an-Nas (Ramayulis : 2006 : 3).Ahmad Tafsir (2006:20) memasukan Bani Adam sebagai istilah yang digunakan untuk menunjuk pengertian manusia.Meskipun kenyataannya menunjukan arti pada manusia, tetapi secara khusus memiliki pengertian yang berbeda.Al-Insan memiliki akar kata nasiya bermakna lupa. Kata al-Insan disebutkan dalam al-Quran sebanyak 73 kali yang disebut dalam 43 surat. Quraish Shihab (2004:652) memaknai kata al-Insan sebagai semua manusia.Katakanlah Adam pernah tiada sebelum kehadirannya di pentas bumi ini.Si A yang lahir pada tahun 1000 mengalami ketiadaan selama sebelum 1000 tahun.Si B yang lahir tahun 2000 mengalami ketiadaan selama sebelum 2000 tahun.Sehingga tiada manusia, walau manusia pertama sekalipun yang tidak pernah mengalami ketiadaan sedang ketika itu dahr (tempat) telah ada.Kata al-Insan juga dapat menunjukan pada proses kejadian manusia, baik proses penciptaan Adam maupun proses manusia Kata al- insan tidak hanya merujuk kepada dimensi mental tetapi juga dimensi fisik. Jika di tinjau lebih jauh dan di analis secara mendalam, maka penggunaan kata al-Insan mengandung dua dimensi.Pertama, dimensi tubuh (dengan berbagai unsurnya).Kedua, dimensi spiritual (ditiupkan-Nya roh-Nya kepada manusia).Dengan demikian kedua dimensi tersebut, memberikan suatu penegasan, bahwa kata al-Insan mengandung makna keistimewaan manusia.Sebab manusia memiliki kelebihan dan keistimewaan, namun manusia juga memiliki keterbatasan seperti, tergesa-gesa, kikir, takut, gelisah, sombong, suka membantah dan lain sebagainya.Untuk itu manusiadiberikan potensi akal untuk mengembanngkan seluruh potensi yang dimilikinya secara optimal, dengan tetap berpedoman kepada ajaran Illahi.Agar manusia dapat mewujudkan dirinya sebagai makhluk Allah yang mulia. Jika tidak demikian, manusia akan terjerumus pada kehinaan, bahkan lebih hina dari binatang.Sedangkan basyar merupakan bentuk jamak dari kata basyarah bermakna kulit kepala , wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya rambut (Abudin Nata, 2005:82-83).(Hermawan A Heris: 2009 : 52).

Dengan demikian, kata basyar selalu mengacu kepada manusia dari aspek biologis, seperti mempunyai bentuk tubuh, makan dan minum, kebutuhanseks dan mengalami penuaan dan mati.Kata basyar ditunjukan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Hal ini mengisyaratkan bahwa nabi dan rasulpun memiliki dimensi al-Basyar, seperti dalam firman Allah Swt: Katakanlah: “Sesungguhnya Aku (Muhammad) hanyalah seorang manusia biasa seperti kamu.” (Q.S. al-Kahfi {18}: 10).Ayat di atas mengisyaratkan bahwa nabi memiliki sifat basyariah.Penggunaan kata al-basyar mempunyai makna bahwa manusia secara umum memiliki persamaan dengan makhluk ciptaan Allah Swt lainnya, seperti dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ciripokok yang umum tersebut diantaranya adalah persamaan, dalam dunia ini memerlukan ruang dan waktu, serta tunduk kepada sunatullah. Secara biologis manusia dan makhluk lainnya memiliki ketergantungan yang sama. Dengan demikian penggunaan kata al-basyar pada manusia hanya menunjukan persamaan dengan makhluk Allah Swt lainnya pada aspek material atau dimensi alamiahnya saja.

Kata an-Nas disebutkan dalam al-Quran sebanyak 241 kali yang tersebar dalam 53 surat (Abudin Nata, 2005:82-83). Kata an-Nas menunjukan pada hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan ditunjukan kepada seluruh manusia secara umum, baik beriman ataupun kafir.Penggunaan kata ini bersifat umum mendefinisikan hakikat manusia (Ramayulis, 2006:5-6).Kata an-Nas digunakan al-Quran untuk menunjukan bahwa karakteristik manusia senantiasa berada dalam keadaan labil.Meskipun manusia diberikan berbagai potensi untuk mengenal Tuhannya, namun hanya sebagian manusia saja yang mengikuti ajaran Tuhan.Sedangkan sebagian manusia tidak mempergunakan potensinya untuk mengenal Tuhan, bahkan sebagian manusia mempergunakannya untuk menentang kekuasaan Tuhan.Dengan demikian, manusia dapat dikatakan berdimensi ganda, yaitu sebagai makhluk yang mulia dan tercela.Sedangkan penggunaan Bani Adam karena manusia merupakan turunan Nabi Adam as.Manusia dan nabi pertama yang diciptakan Allah Swt adalah Adam as dijuluki sebagai abu basyar (nenek moyang manusia).

Para ahli pendidikan islam umumnya sependapat bahwa “teori dan praktek pendidikan islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang manusia”. Menurut Ahmad Tafsir, “ Pendidikan yang baik harus didesain sesuai dengan pengertian kita tentang manusia.” (Bakhtiar Ahmad Nur Alam: 2018 : 11). Bahkan dalam pandangan Ramayulis bahwa “Pengetahuan tentang hakikat manusia merupakan bagian amat esensial, karena dengan pengetahuan tersebut dapat diketahui tentang kedudukan dan perannya di alam semesta ini.” Lebih jauh dari itu, dalam buku “Crisis Muslim Education” dinyatakan bahwa: “Sifat yang sesungguhnya dari sistem pendidikan (Islam) dan perbedaannya dari sistem-sistem lain, hanya dapat difahami secara semestinya jika konsep manusia yang mendasarinya dianalisis dan diteliti.” Dengan analisis berdasarkan sumber primer (al-Qur’an) yang datang dan diwahyukan dari yang menciptakan manusia, maka akurasi imformasi tentang hakikat manusia yang lebih holistic dan komprehensif dapat ditemukan dan representatif.Demikian pula dalam kerangka merumuskan konsep tujuan pendidikan Islami, idelanya paradigma yang digunakan tidak hanya terbatas pada konsep hakikat manusia seperti dideskripsikan al-Qur’an, akan tetapi dalam merumuskan konsep tujuan pendidikan Islami pun sejatinya menggunakan paradigma dan worldview Islam dengan merujuk pada al-Qur’an maupun al-Hadits.

Dengan menjadikan dasar konsep hakikat manusia seperti digambarkan al-Qur’an melalui studi tafsir tematis ayat-ayat berlafal al-Basyar, al-Insan, al- Ins, al-Nas, dan Bani Adam dan konsep tujuan pendidikan Qur’ani selaras dengan tujuan Islam, maka diharapkan dapat menghasilkan rumusan konsep tujuan pendidikan Islami yang dapat merespon dan memenuhi kebutuhan hakikat manusia, baik secara integral maupun merespon kebutuhan manusia secara parsial dari masing-masing sisi manusia sebagai al-Basyar, al-Insan, al-Nas dan Bani Adam.( Bakhtir Ahmad Nur Alam: 2018 : 11).

BACA :  Hati-Hati dengan "Sejuta Mulut" Calon Pemimpin Saat Ini

Basyar sering dimaknai dimensi jasmaniah manusia, antara lain dikemukakan oleh Ali Shari`ati dan beberapa buku yang mengupas tentang manusia perspektif Al-Quran. Makna ini tidak sama sekali salah, tapi tidak mampu mengungkap makna yang dimaksud. Term basyar diungkapkan 37 kali dalam Al-Quran.Term ini ditujukan kepada manusia dengan ciri sifat-sifat biologis, seperti berjalan, makan-minum, berbicara, hubungan suami-istri, dan lain-lain.Ayat-ayat Al-Quran yang menyebut term ini menujukkan bahwa yang dimaksud al-basyar memang manusia dalam konteks fisik dan biologis. (Rahmat Munawar, 10(2), 2012 : 105).

Insan disebut di dalam Al-Quran sekitar 65 kali. Term ini dikaitkan dengan penciptaan awal manusia yang sangat baik, tapi kemudian (karena kafir,musyrik, dan dzalim) dijatuhkan ke tempat yang serendah-rendahnya. Term al-insan lebih sering diungkap Al-Quran sebagai peringatan akan kedzaliman, kebodohan,kekafiran, dan segala watak buruk lainnya dari manusia. An-nas memang menunjuk kepada manusia sebagai makhluk sosial yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.Tapi term ini lebih mengingatkan manusia untuk berhati-hati dari pengaruh agama atau ajaran nenek-moyang dan dari pengaruh lingkungan social.

 

Proses Penciptaan Manusia dalam Sains dan Islam

Sesungguhnya dalam penciptaan setiap makhluk yang hidup itu telah dibekali dengan berbagai potensi yang memudahkan untuk berkembang setelah masa kelahirannya, seperti halnya yang terjadi pada binatang ia juga memiliki potensi yang berupa naluri, nampak begitu lahir ia langsung mempunyai naluri yang mampu dengan cepat untuk menemukan cara menyusu, berlindung pada induknya dan cara makan. Berbeda dengan manusia, ia juga memiliki naluri semacam ini bahkan lebih kuat. Apa yang dimiliki manusi tidak dimiliki oleh binatang. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dari sari pati tanah, maksudnya proses kejadian manusia itu berasal dari sari pati tanah yang menghasilkan berbagai jenis makanan yang kemudian dikonsumsi oleh manusia. Hal ini diterangkan dalam Al- Qur’an surat Al–Mu’minun ayat 12-14 “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”. (Sudarto: 2019 : 6).

Kemudian didalam perkembangan kejadian dan proses penciptaan manusia selanjutnya, itu melalui jalur yang bertahap dan evolutif. Perkembangan evolusi itu mulai dari yang sederhana menuju kearah kesempurnaan. Setiap tingkat merupakan makhluk tersendiriyang mempunyai kode genetik yang berbeda, sehingga keturunan dari jenis tertentu akan sama dengan yang menurunkannya. (Hakim Ahmad : 2012).

Surat Al baqarah ayat 30 dan 31, Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” . Dalam keterangan Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30-31 ini, digambarkan bagaimana kisah awal penciptanaan Adam, dalam hal ini terdapat faktor yang mempengaruhi dalam proses penciptaan Adam (manusia pertama) yaitu ketidak sesuaian dari para malaikat, sehingga terjadi perdebatan antara Allah dengan para malaikat, begitu juga setelah penciptaan manusia tersebut, malaikat pun masih menentang dan tidak mau untuk tunduk dan bersujud kepada manusia (Adam), tetapi setelah Allah meyakinkan dengan mengajarkan Adam, barulah para malaikat tunduk kepada Adam, kecuali iblis. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari ayat Al-Qur’an seperti keterangan Al-Qur’an surat Al-Baqarah diatas sehingga berdampak pada cucu Adam hingga sekarang, dimana para jin dan sebangsanya selalu menggoyahkan iman kita.

Telah Kami ciptakan kamu, kemudian kami beri kamu bentuk, kemudian Kami berfirman kepada malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” lalu mereka pun sujud kecuali iblis, ia bukanlah tergolong orang yang sujud. (Allah) bertanya, “Apakah yang menghalangimu bersujud ketika Aku perintahkan kepadamu?” (iblis) menjawab,”berilah aku waktu sampai hari mereka dibangkitkan.” (Allah) berfirman, “ (Baiklah). Kamu diberi penangguhan waktu.”(Iblis) berkata,” Karena Engkau mengusir aku kajalan sesat, maka aku akan menghadang mereka dijalan-Mu yang lurus”. “Kemudian akan kudatangi mereka dari depan dan belakang, dari kanan dan kiri, dan Engkau dapati bahwa kebanyakan mereka tidak bersyukur”. (Allah) berfirman, “Keluarlah dari sini, dibenci dan terusir.Barang siapa diantara mereka mengikutimu, akan Aku masukkan neraka dengan kamu sekalian”.( Hakim Ahmad : 2012)

“ Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu didalam surga, dan makanlah dari mana saja kamu suka, tapi janganlah kamu ganggu pohon ini, nanti kamu akan jadi orang yang durjana”. Ketika nabi Adam bersama Siti Hawa berada didalam surga, maka setanpun berbisik kepada mereka supaya memperlihatkan aurat mereka yang tersembunyi dari mereka, katanya,” Tuhan-Mu hanya melarang kamu (Mengganggu) pohon ini supaya kamu jangan jadi malaikat atau makhluk yang hidup abadi.” Dan ia (setan) bersumpah kepada mereka,” Aku sungguh penasehat (yang baik) bagimu,”. Demikianlah mereka menjatuhkan keduanya dengan tipuan.maka mereka mencicipi (Buah) pohon itu nampaklah kepada mereka auratnya, dan merekapun mulai menjalin daun-daun dari surga (menutupi) auratnya. Dan Tuhannya berseru kepada mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu (mengganggu) pohon itu.Dan Aku katakan kepadamu, “Sungguh, setan adalah musuh nyata bagi kamu.” Mereka menjawab, “Tuhan kami, kami telah manganiaya diri kami.Jika tiada Engkau ampuni kami dan rahmati kami, pastilah kami jadi orang yang merugi”. (Allah) berfirman, “Turunlah kamu, yang satu memusuhi yang lain. Bagimu didunia tempat kediaman dan kesenangan hingga suatu masa”.Allah berfirman, “Disitu kamu hidup dan disitu kamu mati.dan kamu akan dibangkitkan dari padanya”. Hai Bani Adam, telah kami turunkan kepadamu pakaian guna menutupi auratmu dan sebagai perhiasan bagimu. Tapi pakaian berupa taqwa, itu lebih baik. Demikianlah beberapa diantara tanda-tanda kekuasaan Allah, supaya mereka ingat selalu.( Hakim Ahmad : 2012).

Awal terciptanya manusia berlangsung dengan adanya pembuahan. Jutaan sperma laki-laki akan menuju sel telur wanita yang jumlahnya hanya satu dari setiap siklusnya. Sperma melakukan perjalanan yang sulit di tubuh wanita sampai menuju sel telur wanita. Sel telur wanita hanya akan membolehkan masuk satu sperma saja. Setelah masuk dan terjadi fertilisasi pun belum tentu zigot menempel di tempat yang tepat pada rahim.

Proses pembuahan atau fertilisasi adalah bertemunya sel telur dengan sel sperma untuk bersatu sehingga membentuk zigot, lalu menjadi embrio sebagai cikal bakal janin. Fertilisasi disebut juga sebagai konsepsi, dan inilah awal mula terjadinya kehamilan.

Ovulasi, Sebelum terjadi pembuahan, sel telur harus terjadi ovulasi terlebih dahulu. Ovulasi merupakan keluarnya sel telur dari ovarium / indung telur setiap bulannya. Didalam ovarium banyak sel telur namun hanya satu yang keluar pada setiap bulannya. Terdapat sebuah kantung yang dipersiapkan untuk tempat pematangan sel telur dan pematangan ini akan dipengaruhi oleh hormon. Sel Telur Berpindah Ke Saluran Tuba Falopi, Selanjutnya apabila telah keluar dari ovarium, sel telur akan berpindah ke saluran tuba falopi (saluran yang menghubungkan ovarium dengan rahim). Umur sel telur di dalam tuba falopi hanya 24 jam, sehingga jika tidak ada sperma yang membuahinya, maka ia akan mati dan kehamilan tidak bisa terjadi.

Meningkatnya Hormon, Apabila sel telur telah berpindah ke saluran tuba falopi maka dinding Rahim akan bersiap-siap menebalkan dindingnya. Kemudian akan terjadi peningkatan hormon setelah sel telur meninggalkan folikel. Folikel dalam ovarium akan berkembang menjadi korpus luteum. Korpus luteum ini kemudian akan menghasilkan hormon progesteron yang berperan sebagai menebalkan lapisan dinding Rahim. (Afkarina Robiah Husna, x (x), 2020 : 3)

Jika Sel Telur Tidak Dibuahi, Apabila sel telur tidak di buahi maka sel telur akan berpindah ke Rahim dan hancur atau yang sering di sebut menstruasi pada wanita setiap bulannya. Menstruasi berbeda-beda pada wanita, ada yang 28 hari namun juga ada yang kurang dan lebih, tapi masa normal haid adalah 6 Sampai 8 hari. Korpus luteum mengecil dan kadar hormon dalam tubuh kembali normal seperti biasanya. Lapisan dinding rahim yang menebal tadi akan mengalami proses peluruhan sehingga keluarlah darah haid.

Jika Sel Telur Dibuahi, Apabila sel telur dibuahi terjadi pembuahan yaitu pertemuan sperma dengan sel telur. Maka sperma akan menembus kedalam sel telur. Apabila sel telur sudah di buahi maka sperma akan gugur dan tidak dapat masuk kedalam sel telur.

Setetes Air Mani , Sebelum proses fertilisasi terjadi, Jutaan sperma laki-laki terpancar pada satu waktu dan menuju sel telur wanita yang jumlahnya hanya satu dalam setiap siklusnya. Sperma-sperma tersebut melakukan perjalanan yang sangat sulit untuk menuju sel telur karena saluran reproduksi wanita yang berbelok-belok, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan sperma dan juga gaya gravitasi yang berlawanan. Dari Jutaan sperma yang masuk, hanya seribu sperma yang berhasil mencapai sel telur dan sel telur hanya akan membolehkan satu sperma saja untuk mencapai inti sel telur. Setelah masuk dan terjadi fertilisasipun belum tentu zigot akan menempel di tempat yang tepat di dalam rahim.

BACA :  PKBM Bina Generasi Menghadiri Bimtek Implementasi Kurikulum Merdeka

Segumpal Darah Yang Melekat Di Rahim, Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, maka akan membentuk sel tunggal. Sel tunggal ini dikenal sebagai ‘zigot’ dalam ilmu sains dan zigot ini akan berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi ‘segumpal daging’. (Afkarina Robiah Husna, x (x), 2020 : 5). Proses ini hanya bisa dilihat manusia dengan menggunakan bantuan mikroskop. Jangan dikira prosesnya mudah dan simpel, proses ini sangat sulit di setiap proses pembelahannya. Kalau sampai ada kesalahan kecil sedikit saja di waktu tahapan-tahapan tertentu, janin akan mengalami kecacatan. Tapi zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja, ia melekat pada dinding rahim seperti  akar yang kokoh menancap di bumi.

Pembentukan Tulang Oleh Otot, Didalam rahimlah awal mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini. Para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Ketika jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras, maka sel-sel otot yang disekitar tulang-tulang akan bergabung dan membungkus tulang-tulang tersebut.

Tiga Tahapan Bayi dalam Rahim 

Menurut perspektif sains modern, dijelaskan bahwa proses kejadian manusia juga terjadi dalam tiga fase yaitu fase zigot yaitu sejak pembuahan hingga akhir minggu ke 2. Fase embrio yaitu akhir minggu ke 2 hingga akhir bulan ke 2 dan fase janin yaitu akhir bulan ke 2 hingga kelahiran. Sains modern mendapatkan informasi perkembangan manusia dalam rahim setelah melakukan pengamatan dengan menggunakan peralatan modern.

Fase Zigot, Zigot merupakan hasil dari pembuahan atau bisa disebut dengan fertilisasi. Fertilisasi adalah peleburan dari inti sperma dan inti sel telur yang terjadi di dalam rahim. Zigot akan tumbuh dan berkembang sampai mengalami pembelahan menjadi embrio.Proses penciptaan manusia dapat dijelaskan pada fase zigot atau disebut dengan pre-embriotik. Pada fase ini, Zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel kemudian menjadi segumpalan sel yang membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin besar, sel-sel penyusunnya mengatur diri mereka sendiri untuk membentuk tiga lapisan.( Afkarina Robiah Husna, x (x), 2020 : 4).

Fase Embrio, Proses penciptaan manusia yang berikutnya memasuki tahap kedua atau disebut dengan embriotik. Tahap ini berlangsung lima setengah minggu. Bayi pada tahap ini disebut “embrio”. Pada tahap ini, organ dan sistem bayi mulai terbentuk dari lapisan-lapisan sel tersebut. Pada tahap ini juga terjadi pembentukan organ-organ serta pengatur posisi sumbu tubuh.Fase perkembangan pada embrio memiliki beberapa tahapan dalam prosesnya. Dalam setiap tahapan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Hal ini tentu akan berpengaruh pada kondisi kehamilan manusia serta yang akan dirasakan bunda. Berikut penjelasan selengkapnya :

Fase Morula, Pada fase morula, zigot yang masih mempunyai sel tunggal akan memulai pembelahan. Pembelahan tersebut dinamakan pembelahan mitosis dan akan membentuk sel-sel baru yang bernama blastomer. Sel-sel ini mempunyai sifat yang padat berisi dan jumlahnya sebanyak 16 sel. Kemudian, sel blastomer yang berjumlah 16 tersebut akan berkumpul dan membentuk sebuah bola yang dinamakan sebagai morula. Hal ini disebut sebagai morula karena memang bentuknya menyerupai buah arbei yang bentuknya kecil-kecil serta tidak mempunyai rongga.

Fase Blastula, Setelah melewati fase morula, perkembangan berikutnya sampai pada tahapan atau fase blastula. Pada fase ini, morula yang telah terbentuk akan terus mengalami pembelahan hingga jumlahnya menjadi 100 sel. Karena jumlahnya lumayan banyak, maka bola tersebut juga akan membentuk rongga-rongga di dalamnya yang disebut sebagai blastula. Rongga yang ada tersebut selanjutnya dinamakan kembali sebagai blastosol. Selanjutnya, massa sel yang terdiri dari asam laktat, piruvat, asam amino, dan juga glukosa akan berkembang menjadi embrio manusia. (Afkarina Robiah Husna, x (x), 2020 : 5) Lalu, sel terluar yang membungkus massa akan mengalami perkembangan menjadi plasenta yang mana hal tersebut memiliki fungsi sebagai makanan embrio.

Fase Gastrula, Dalam fase gastrula, sel-sel yang telah terbentuk dalam fase blastula akan mengalami perombakan-perombakan.Perombakan tersebut akan menghasilkan 3 buah lapisan germinal. Lapisan ini juga sering disebut sebagai lapisan embriogenik yang nantinya akan menghasilkan lapisan-lapisan yang ada di dalam embrio nantinya.  Adapun, lapisan yang akan terbentuk pada fase ini meliputi Lapisan ektoderm yang merupakan lapisan paling luar dari embrio. Lapisan mesoderm yang merupakan lapisan tengah. Lapisan endoderm yang merupakan lapisan inti sel dari embrio yang akan mengalami perkembangan menjadi janin.

Fase Organogenesis, Fase terakhir dari tahapan perkembangan pada embrio yakni fase organogenesis. Dalam fase ini, sel-sel tubuh akan mulai terbentuk secara lengkap tahap demi tahap. Pembentukan ini berasal dari tiga lapisan sel germinal yang sudah terbentuk pada tahapan gastrula. Setiap lapisan germinal akan membentuk organ yang berbeda-beda pada janin.

Fase Janin, Proses penciptaan manusia yang ketiga atau fase fetus dimulai sejak kehamilan bulan 8 hingga kelahiran. Pada tahap ini bayi telah menyerupai manusia dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang hanya 3 cm, kesemua organnya sudah jelas. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.

Sedangkan menurut teori biologi yang dikembangkan oleh Charles Robert Darwin (1800-1882) ia mengemukakan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari makhluk hidup yang sangat sederhana dan menyatakan bahwa manusia adalah keturunan kera atau simpanse. (Afkarina Robiah Husna, x (x), 2020 : 6).

Dalam membuat teori evolusi manusia ini memadukan 3 teori sekaligus, pertama, spesies, kedua, adaptasi, dan ketiga, evolusi. Di dalam teori evolusi manusia, Darwin mengatakan bahwa perkembangan makhluk hidup ini sudah mengalami atau melewati proses yang sangat panjang, sehingga sudah banyak peristiwa yang dilewati demi mempertahankan hidup dari manusia itu sendiri.

Makhluk hidup yang mengalami perkembangan harus bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya atau agar mampu bertahan hidup. Hal seperti itu dapat dikatakan sebagai cara makhluk hidup untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Makhluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan alam, maka manusia tersebut bisa mengalami kematian atau bahkan kepunahan. Akan tetapi, Darwin mengatakan bahwa dengan kematian para makhluk hidup yang tidak dapat beradaptasi, maka akan menghasilkan suatu perubahan. Para makhluk hidup yang mati akan meninggalkan jejak berupa fosil-fosil tak terkecuali manusia. Dari fosil-fosil itulah, Darwin mulai melakukan pengamatan atau penelitian tentang evolusi manusia. Beliau melakukan penelitian tentang evolusi manusia itu berdasarkan keingintahuannya tentang asal-usul manusia bisa hidup di dunia ini. Namun, sangat sayang disayangkan ternyata dalam penelitian itu, Darwin tidak menemukan jawaban tentang pertanyaan asal-usul manusia.

Dengan tidak ditemukan asal-usul manusia yang telah dilakukan Darwin, maka ia hanya sampai pada suatu kesimpulan bahwa setiap makhluk hidup termasuk manusia akan hanya berasal dari makhluk bersel satu yang kemudian membelah diri dan mengalami perkembangan atau pertumbuhan. Dengan demikian, Darwin mengatakanbahwa selama perjalanan mengelilingi dunia menggunakan kapal laut, ia tidak menemukan bagaimana manusia itu bisa muncul ke dunia ini.

Kemudian ada seorang ahli yang bernama Thomas H. Huxley menggunakan hasil dari penelitian yang telah dilakukan oleh Darwin untuk melakukan penelitian tentang perkembangan atau evolusi manusia. Dari hasil penelitian itu, Huxley mulai sedikit menemukan suatu hal yang berkaitan dengan manusia yaitu adanya makhluk hidup yang memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan manusia. Makhluk hidup yang dimaksud adalah simpanse. Menurut Huxley, kesamaan itu terletak pada struktur anatomi simpanse dengan manusia dan proses perkembangan simpanse dengan manusia. Dari penelitian yang sudah dilakukan oleh Charles Darwin dan Thomas H. Huxley, maka dapat dikatakan bahwa manusia bukanlah keturunan langsung dari spesies kera atau simpanse.  (Afkarina Robiah Husna, x (x), 2020 : 7).

 

Tujuan dan Fungsi Penciptaan Manusia Dalam Islam

Terdapat beberapa ayat yang memiliki indikasi tentang maksud atau tujuan penciptaan manusia, indikasi tersebut antara lain termuat dalam ungkap- an seperti; al-ibadah, al-khilafah (khalifah) dan al-amanah. Ketiga ungkapan kata tersebut tertuang dalam beberapa ayat al-Quran.

Al-Ibadah

Ungkapan kata al-Ibadah beserta musytaq-nya dalam al-Quran terulang sebanyak 275 kali (M. Fuad Abdul Baqiy, t.th.:560-565). Namun demikian disini hanya akan dipaparkan beberapa ayat yang paling relevan dengan pokok kajian, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 21 ”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” Surat  Al-Dzariyat ayat 56 “manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Ayat 21 dari surat al-Baqarah merupakan ajakan untuk menghambakan diri hanya kepada Allah SWT. Ayat-ayat sebelumnya menggambarkan beberapa kelompok manusia, yaitu kelompok orang-orang kafir yang menolak hidayah dan kelompok orang-orang munafikyang masih dalam keadaan ragu-ragu.( Satriadi Inong, 12, 1, 2009 : 4). Kemudian pada ayat 56 surat al- Dzariyat dijelaskan bahwa tujuan hakiki dari penciptaan jin dan manusia adalah dalam rangka berubudiyah kepada-Nya. Pada ayat sebelumnya diungkapkan bagaimana pengingkaran orang-orang Quraisy terhadap kerasulan Muhammad bahwa mereka menuding bahwa Muhammad adalah tukang sihir dan se- bagainya.Hal itu bukanlah sesuatu yang baru, karena umat-umat sebelumnya juga berbuat serupa ketika menolak para nabi yang diutus. Lalu Nabi Muhammad diajak untuk berpaling dari mereka serta hendaklah ia senantiasa berzikir, sebab itulah yang dapat mendatangkan manfaat bagi kaum beriman.

 

Al-Khilafah 

Al-khalifah dan yang semakna dengannya (al-khalifah, al- khalaif dan alkhulafa) terulang dalam al- Quran sebanyak 9 kali, yaitu dalam al- Quran Surat al-Baqarah ayat 30, surat al- An’am ayat 165, surat al-A’raf ayat 69dan 74, surat Yunus ayat 14 dan 73,surat al-Namal ayat 62, surat Fathir ayat 39 dan surat Shad ayat 26. (M.Fuad Abdul Baqiy, t.th.: 305). Dalam hal ini akan dikemukakan beberapa ayat yaitu:

BACA :  Jihad Santri dan Wakaf

Surat Al-Baqarah ayat 30 ” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguh- nya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan men- sucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Satriadi Inong, 12, 1, 2009 : 5).

Surat al-An’am ayat 165 ”Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Pada ayat ini ditegaskan bahwa Allah akan menobatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pengukuhan manusia sebagai khalifah ini mencakupkhilafah (kepemimpinan) antar sesama mereka serta khilafah terhadap makhluk lainnya di alam ini.Khilafah antar se- samanya adalah berupa penugasan Allah terhadap beberapa hambaNya yang terpilih (nabi dan rasul) untuk menyampaikan syariat (wahyu) kepada manusia. Sedangkan khilafah manusia terhadap makhluk lainnya adalah berupa pengendaliannya terhadap alam secara umum, baik di darat, laut maupun di udara serta juga mencakup bagaimana pengendaliannya terhadap hewan, tum- buh-tumbuhan atau barang-barang tam- bang yang tersimpan di dalam bumi. Dalam hal ini manusia dengan kekuatan akalnya mengatur dan mengendalikan bumi sesuai dengan sunnah yang digariskan. Namun demikian, tidak semua manusia dapat menjalankan misi tersebut, karena diantara mereka banyak yang berbuat kerusakan serta me- numpahkan darah, sehingga semua itu akan menganggu stabilitas dan kemakmuran bumi. Namun di balik semua itu terkandung hikmah yang cukup dalam akan kekuasaan dan keagungan Sang Pencipta.

Adanya perusakan dan kemaksiatan serta pertumpahan darah di bumi menimbulkan protes dari Malaikat, padahal mereka adalah makhluk yang taat serta senantiasa mensucikan dan mengagungkan Allah.Maka Allah menjawab ba- nyak hal yang tidak dapat mereka ketahui dibalik semua ciptaan-Nya, sebab Dia menciptakan alam ini penuh dengan hikmah, rahasia dan kesempurnaan yang tidak dapat diketahui oleh semua makhluk. (Al-Maraghiy, t.th, juz 1, 77-81)

Surat Al-Baqarah ayat 30 ini adalah informasi awal tentang akan dinobatkannya manusia sebagai khalifah, sedangkan Surat Al-An’am ayat 165 adalah penobatan dan pengukuhan manusia sebagai khalifah. Ayat-ayat sebelumnya berbicara dalam konteks pokok-pokok agama (ushul al-din), yaitu penolakanterhadap aqidah orang-orang musyrik serta pengingkaran terhadap kemaksiatan. Kemudian dijelaskan bahwa millah Muhammad adalah melanjutkan millah Ibrahim sebelumnya.Shalat, seluruh penghambaan serta hidup dan matinya hanya untuk dan karena Allah SWT. Tidaklah pantas bagi seseorang untuk menghambakan diri kepada yang lain. Lalu ditegaskan lagi bahwa seseorang akan menerima ganjaran sesuai dengan amal dan perbuatannya masing-masing serta seseorang tidak akan mewarisi dosa atau pahala orang lain. Setelah itu, pada ayat ini Allah ungkapkan bahwa dia telah mengangkat manusia sebagai klala’if al-ardh, di mana mereka melanjutkan kedudukan, pekerjaan dan kekuasaan orang-orang sebelumnya.Dalam menjalankan khilafah tersebut, terdapat ibrah dan pelajaran berharga bagi mereka yang mau merenungi dan mendalaminya. (Satriadi Inong, 12, 1, 2009 : 8).

Kemudian Allah mengangkat derajat sebagian mereka dari yang lainnya, sehingga ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang kuat dan ada yang lemah serta ada yang alim dan ada yang bodoh. Semua itu dimaksudkan sebagai ujian dan co- baan dimana kelak mereka akan mem- peroleh balasan sesuai dengan amal dan perbuatan masing-masing. Itu semua adalah sunnah yang digariskan Allah bagi kehidupan dunia.

Ditegaskan bahwa azab dan iqab Allah siap menanti bagi mereka yang kafir, menolak kenabian (Muhammmad), melangar syari’at serta menyimpang dari sunnah yang telah diciptakan untuk kemaslahatan dan kedamaian dunia. Azab itu akan berlaku baik di dunia maupun di akhirat. Azab dunia adalah seperti kecelakaan dan kehancuran, akal yang tidak berfungsi untuk kebaikan, tidak punya harga diri, kehilangan harta, keresahan dan lain-lain sebagainya. Kemudian Allah memberi berita gembira bahwa Dia Maha Pengampunbagi mereka yang bertaubat serta senantiasa mengasihi kaum beriman dan orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan.(Al-Maraghiy, t.th.juz III: 93- 94).

 

Al-Amanah

Ungkapan kata al-amanah terulang dalam al-Quran sebanyak 6 kali yang juga terdapat dalam enam ayat.Kata tersebut dalam bentuk mufrad (tunggal/ singular) terulang sebanyak dua kali, sedangkan dalam bentuk jamak/ plural terulang sebanyak empat kali. Ayat-ayat tersebut terdapat dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 283, surat al-Nisa’ayat 58, surat al-Anfal ayat 27, surat al- Mukminun ayat 8, surat al-Ahzab ayat 72 dan surat al-Ma’arij ayat 32.( Satriadi Inong, 12, 1, 2009 : 9).

Kedudukan yang dipegang dan peranan yang dimainkan manusia dalam panggung kehidupannya di dunia pasti berakhir dengan kematian. Sesudahitu, dia akan dibangkitkan atau dihidupkan kembali di alam akhirat. Di alam akhirat ini segala peranan yang dilaksanakan manusia selama hidup di dunia, sekecil apapun peranan itu, akan dipertanggungjawabkan, lalu dinilai dan diperhitungkan oleh Allah Yang Maha Adil. Setiap peranan akan mendapat balasan. Peranan yang baik akan mendapat balasan yang baik, sementara peranan yang buruk akan mendapatkan balasan yang buruk pula. Manusia yang mendapatkan balasan yang buruk akan merasakan kesengsaraan yang teramat sangat, dan manusia yang memperoleh balasan yang baik akan merasakan kebahagiaan yang abadi.(Sami’uddin, 14,(2),2019 : 26).

Tugas atau fungsi manusia di dalam kehidupan ini adalah menjalankan peranan itu dengan sempurna dan senantiasa menambah kesempurnaan itu sampai akhir hayat.Hal itu dilakukan agar manusia benar-benar menjadi makhluk yang paling mulia dan bertakwa dengan sebenar-benar takwa.

Kita tak mungkin mengasumsikan bahwa ada tujuan yang diinginkan Tuhan untuk dirinya sendiri dan juga tidak mungkin kita mempercayai bahwa Tuhan menginginkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhanNya dalam setiap tindakanNya.Anggapan seperti itu akan memungkinkan lahirnya asumsi lain bahwa Tuhan melakukan sesuatu itu karena ingin menyempurnakan diriNya atau karena mengharapkan sesuatu yang sebelumnya Dia tidak punya, sebuah asumsi yang sangat tidak mungkin. Akan tetapi, harus dipahami bahwa, tujuan penciptaan adalah untuk keperluan “makhluk” itu sendiri, bukan untuk “khaliq”. Dalam pengertian yang lain, tujuan penciptaan mencakup dan menjadi bagian dari proses penyempurnaan makhluk, bukan penyempurnaan khaliq. Sehingga, jika kita berpikir bahwa di dalam penciptaan selalu ada proses penyempurnaan, maka dapat dikatakan bahwa penciptaan memang memiliki maksud dan tujuan.( Muthahhari Murtadha: 2018 : 18).

Surat Al Mukminun ayat 115″Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu hanya main-main (tanpa ada maksud), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”.Tujuan diciptakannya manusia terdapat dalam Surat Adz Dzariyat ayat 56 adalah semata untuk beribadah kepada Allah “Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-ku”

Ayat di atas jelas menyebutkan tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah, hanya menyembah Allah semata. Ayat ini mengisyaratkan pentingnya tauhid, karena tauhid adalah bentuk ibadah yang paling agung, mengesakan Allah dalam ibadah. Ayat ini juga mengisyaratkan pentingnya beramal, setelah tujuan pertama manusia diciptakan adalah agar berilmu. Maka buah dari ilmu adalah beramal. Tidaklah ilmu dicari dan dipelajari kecuali untuk diamalkan. Sebagaimana pohon, tidaklah ditanam kecuali untuk mendapatkan buahnya.

Manusia diciptakan berpasang-pasangan sesuai Surah az-Zumar (39) ayat 6 khalaqakum min nafsin wahidatin wa jala minha zaujala. Syeikh Nawawi menafsirkan bahwa anusia diciptakan berpasang-pasangan, sama seperti makhluk lain yaitu hewan, mereka diciptakan berpasang-pasangan. Hal ini merupakan kekuasaan Allah. Manusia diciptakan dalam beberapa tahapan. Berhala, dan segala makhluk yang disembah selain Allah tidak mampu untuk menciptakan seperti yang Allah ciptakan. Oleh sebab itu tidak ada sedikit pun motif untuk beribadah kepada selain-Nya.( Sugiarto Rachmat Morado: 2015 : 171).

Soemarwoto mengemukakan bahwa “kelangsungan hidup manusia sangat tergantung pada lingkungan”. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa manusia memiliki fungsi untuk menjaga lingkungan. Hal ini disebabkan dengan menjaga kelestarian lingkungan berarti menjaga kelestarian dan keberlanjutan manusia. Baik dan buruknya kondisi lingkungan, sedikit banyak akan berdampak signifikan terhadap eksistensi kehidupan manusia.(Alijaya Adudin: 2019 : 27).

Dalam penciptaannya, manusia diciptakan oleh Allah Swt. dengan dua fungsi, yaitu fungsi sebagai khalifah di muka bumi dan fungsi manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki kewajiban untuk menyembah-Nya. Kedua fungsi tersebut juga dijelaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi” (QS Al-Baqarah [2]: 30). Ketika Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan dengannya Allah Swt. mengamanahkan bumi beserta isi kehidupannya kepada manusia, maka manusia merupakan wakil yang memiliki tugas sebagai pemimpin di bumi Allah. (Kurniasih Imas: 2010 : 106).

Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk berpribadi,sebagai makhluk yang hidup bersama-sama dengan orang lain,sebagai makhluk yang hidup di tengah-tengah alam dan sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh oleh Allah. Manusia sebagai makhluk berpribadi, mempunyai fungsi terhadap diri pribadinya. Manusia sebagai anggota masyarakat mempunyai fungsi terhadap masyarakat. Manusia sebagai makhluk yang hidup di tengah- tengah alam, berfungsi terhadap alam. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan dan diasuh, berfungsi terhadap yang menciptakan dan yang mengasuhnya. Selain itu manusia sebagai makhluk pribadi terdiri dari kesatuan tiga unsur yaitu: unsur perasaan, unsur akal, dan unsur jasmani.( Khoiruddin Muhammad: 2022 : 91).

 

Berita Terkait

7 Tips Menghindari Stres Pasca Mudik Lebaran Idul Fitri
6 Tantangan Jurnalis dalam Mempertahankan Integritas dan Kebenaran
Ini Kiat – Kiat Buah Hati Agar Bisa Menghafal Al-Quran Dengan Mudah
Brigpol Polresta Sidoarjo Rizky Dwi Ikuti Training SDM AR Learning Center
Arus Kedatangan Orang Luar Ke Papua Sangat Deras:Yang Minta DOB Bertanggungjawab
Ipmanapandode Joglo Gelar Turnamen Voli di Jogja Expo Center
Liburan Paskah 2024, Ratusan Siswa Hindu Pasraman Tirta Bhuana Bekasi Kunjungi Pura di Banyuwangi
TK DWK Gedung Karya Jitu Tulang Bawang Gelar Sanlat Ramadhan Perkenalkan Nilai Kebaikan Sejak Dini
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 15 April 2024 - 20:46 WIB

7 Tips Menghindari Stres Pasca Mudik Lebaran Idul Fitri

Senin, 15 April 2024 - 06:14 WIB

6 Tantangan Jurnalis dalam Mempertahankan Integritas dan Kebenaran

Sabtu, 13 April 2024 - 15:11 WIB

Ini Kiat – Kiat Buah Hati Agar Bisa Menghafal Al-Quran Dengan Mudah

Jumat, 12 April 2024 - 13:44 WIB

Brigpol Polresta Sidoarjo Rizky Dwi Ikuti Training SDM AR Learning Center

Rabu, 10 April 2024 - 12:52 WIB

Arus Kedatangan Orang Luar Ke Papua Sangat Deras:Yang Minta DOB Bertanggungjawab

Rabu, 10 April 2024 - 09:24 WIB

Ipmanapandode Joglo Gelar Turnamen Voli di Jogja Expo Center

Jumat, 5 April 2024 - 15:55 WIB

Liburan Paskah 2024, Ratusan Siswa Hindu Pasraman Tirta Bhuana Bekasi Kunjungi Pura di Banyuwangi

Kamis, 4 April 2024 - 15:10 WIB

TK DWK Gedung Karya Jitu Tulang Bawang Gelar Sanlat Ramadhan Perkenalkan Nilai Kebaikan Sejak Dini

Berita Terbaru

Illustrasi Stress dan Relax  .Foto:pixabay.com/id/illustrations/search/stress

Artikel

7 Tips Menghindari Stres Pasca Mudik Lebaran Idul Fitri

Senin, 15 Apr 2024 - 20:46 WIB