SUARA UTAMA, Surabaya – Memendam perasaan sendirian kerap kali menimbulkan beban yang tidak tampak juga tidak langsung dirasakan. Seperti merakit ‘bom waktu’ untuk diri sendiri, semuanya bisa meledak tiba-tiba tanpa terkontrol.

Demikianlah salah satu alasan yang diungkap Sarah Safira, selaku ketua panitia, dalam sambutannya, yang membuat mahasiswi semester 6 program studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) STAIL Surabaya memilih membuat event yang bertajuk ‘self healing talk & flower bouquet workshop’ yang diselenggarakan di Co-working Space, Marvel City Mall, Surabaya, Jawa Timur pada hari Ahad tanggal 10 Mei 2026, sebagaimana rilis diterima Redaksi Suara Utama (23/05/2026).
Hadir sebagai narasumber, Dr. Dhian Kusumastuti, M.Psi, owner Klinik Psikologi Kusuma, Sidoarjo. Dalam pemaparan materinya, Dian, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa memendam perasaan dan emosi sendirian itu sangat melelahkan baik secara psikologis maupun fisiologis, karena keduanya saling berkaitan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa Penulisan Berita Tidak Dianjurkan Mencantumkan Gelar Nama
Hal itu bisa terjadi, sambungnya, karena kondisi psikologis yang tertekan itu dapat memengaruhi tubuh, misalnya menimbulkan kelelahan, gangguan tidur, atau penurunan daya tahan tubuh. Dan sebaliknya, tubuh yang lemah juga dapat memperburuk kondisi mental, sehingga tercipta lingkaran yang saling memengaruhi.
Selain itu, pemateri juga membagikan tips sederhana yang kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental, diantaranya jujur pada diri sendiri, mengenali pola kita apakah butuh koneksi sosial atau butuh waktu sendiri, meluangkan waktu tenang untuk memetakan masalah, serta mencari media penyaluran emosi yang aman seperti menulis, melukis, dan kegiatan positif lainnya.
“Tidak mudah untuk perlahan membuka diri setelah bertahun-tahun memendam perasaan. Tetapi, tidak mudah, bukan berarti tidak mungkin.”, ungkap lulusan S2 Psikologi UNAIR tersebut.
Setelah melewati sharing session, peserta diajak untuk membuat buket bunga yang menjadi media healing, sekaligus kreativitas bagi para peserta. Pada sesi ini, peserta merangkai bunga menjadi bouquet yang indah dengan suasana hangat, santai, dan penuh kebersamaan.
Semntara itu, Azza, salah seorang peserta, mengungkapkan kebahagiaannya mengikuti acara tersebut.
“Dari acara ini, saya jadi mendapat pengalaman baru yang membuat saya menjadi lebih berani untuk bertanya. Berani mencoba langkah awal dalam membuat perubahan pada diri saya!” ungkap Azza, salah satu peserta yang mengikuti acara tersebut.
Peserta lain Fatimah, asal Pontianak, Kalimantan Barat, mengungkapkan kesannya; “Membuat bouquet bunga itu, seperti mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan self-love pada diri sendiri. Karena dengan merangkai bunga itu jadi membuat kita bisa menilai hidup yang sudah dijalani, dan juga mengajarkan kalau sebenarnya itu banyak yang bisa kita lakuin. Hidup itu nggak akan indah kalau kita tidak melewati banyak hal, kayak bouquet bunga ini bakal kelihatan monoton kalau hanya satu warna.” Katanya.
Sarah Safira, sebagai ketua panitia mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran acara tersebut, serta antusiasme para peserta. Hal itu menjadi kebahagiaan dan kepuasan tersendiri bagi seluruh panitia penyelenggara.
Acara ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas mata kuliah Manajemen Event yang diinisiasi oleh Mahasiswi semester 6 MPI STAIL Surabaya. Acara ini, memang secara khusus ditujukan bagi muslimah di Surabaya dengan kuota peserta sebanyak 20 orang, agar lebih intimate.
Penulis : Khairul Hibri & Tim
Editor : Andre Hariyanto
Sumber Berita: STAIL Surabaya












Komentar
Silakan login untuk berkomentar.