SUARAUTAMA—Mantan Presiden Sementara Israel, Avraham Burg, mengungkapkan Al-Aqsa telah lima kali hampir dihancurkan oleh kelompok ekstrimis Yahudi sejak 1967.
Pernyataan itu disampaikan Burg dalam wawancara dengan jurnalis Tucker Carlson yang ditayangkan di The Tucker Carlson Show, Selasa (24/03/2026).
Burg menegaskan ancaman terhadap Al-Aqsa bukan soal jumlah pendukung, melainkan soal fanatisme kelompok ekstrimis yang siap bertindak. “Setidaknya sejak tahun 1967 ada lima percobaan untuk menyingkirkan masjid-masjid dari Temple Mount yang dilakukan kelompok-kelompok ini. Ini soal dedikasi, kesiapan, dan fanatisme mereka yang siap bertindak,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di balik percobaan-percobaan itu berdiri gerakan mesianik Yahudi yang dikenal sebagai Gerakan Bukit Bait Suci—kelompok-kelompok ekstrimis yang bertujuan mengambil kawasan Al-Aqsa untuk dialihkan sebagai tempat eksklusif orang Yahudi. Gerakan ini mendapat dukungan langsung dari sejumlah anggota kabinet dan menteri Israel.
Percobaan paling terkenal terjadi di tahun 1980-an, dilakukan oleh kelompok Jewish Underground—sebuah kelompok pemukim Yahudi. Burg mengakui beberapa temannya sebagai pelaku aksi teror. Mantan Ketua Knesset menjelaskan nasib para pelaku tersebut. “Mereka yang ditangkap, dihukum, dan dipenjara, mendapat kesepakatan politik beberapa bulan atau dua tahun kemudian. Beberapa dari mereka, bahkan mungkin banyak, menjadi tokoh-tokoh Israel yang terkemuka. Menjadi salah satu editor surat kabar paling penting di Israel, penasihat menteri, anggota Knesset, dan sebagainya. Diterima kembali ke masyarakat. Tidak dikucilkan. Tidak disingkirkan,” katanya.
Burg menyampaikan kekhawatrian akibatnya jika Al-Aqsa dihancurkan. “Di pihak Israel jika hal ini terjadi akan menjadi akhir dari pembenaran keberadaan negara Israel. Saya khawatir itu akan memicu massa di seluruh dunia Muslim. Hal ini bisa menggulingkan beberapa rezim. Sehingga seluruh tatanan dunia yang kita kenal tidak dapat kita kenali lagi,” ungkapnya.
Burg menegaskan jika hal tersebut terjadi dampaknya lebih berbahaya daripada nuklir.
Penulis : Keitaro Alfarizi
Sumber Berita: The Tucker Carlson Show










