Ambiguitas Konsep ‘Menguji Kepatuhan’ dalam Pemeriksaan Pajak: Kritik terhadap Pasal 12A PMK 15/2025

Sabtu, 8 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi perdebatan filsafat klasik menggambarkan dialektika antara hukum dan keadilan merefleksikan ambiguitas konsep “menguji kepatuhan” dalam pemeriksaan pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 12A PMK 15/2025.

Ilustrasi perdebatan filsafat klasik menggambarkan dialektika antara hukum dan keadilan merefleksikan ambiguitas konsep “menguji kepatuhan” dalam pemeriksaan pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 12A PMK 15/2025.

SUARA UTAMA – Surabaya, 8 November 2025 Kebijakan terbaru Kementerian Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15 Tahun 2025 menuai perhatian dari kalangan akademisi, praktisi, dan organisasi Wajib Pajak. Ketentuan Pasal 12A dalam regulasi tersebut dinilai memperluas kewenangan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk meminjam atau meminta dokumen Wajib Pajak (WP) dalam rangka “menguji kepatuhan”, meskipun belum terdapat bukti pelanggaran yang konkret.

Secara normatif, istilah “menguji kepatuhan” memang diatur dalam Pasal 29 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). Namun, menurut sejumlah pakar hukum pajak, perluasan kewenangan tersebut menimbulkan ambiguitas yuridis dan potensi ketidakpastian hukum. Pemeriksa pajak kini dapat mengakses dokumen WP tanpa adanya bukti awal ketidakpatuhan, cukup dengan alasan “pengujian kepatuhan”.

“Pasal ini secara tidak langsung melegalkan tindakan pemeriksa berbasis asumsi,” ujar Eko Wahyu Pramono, S.Ak., praktisi pajak, anggota Ikatan Wajib Pajak Indonesia (IWPI), sekaligus pemegang Izin Kuasa Hukum (IKH) Pengadilan Pajak, saat dimintai tanggapan oleh Suara Utama, Sabtu (8/11).
Secara administratif memang sah, tetapi secara substansial menimbulkan risiko pelanggaran asas kepastian hukum dan proporsionalitas. Pemeriksa dapat melakukan tindakan seolah-olah ada pelanggaran, padahal belum tentu ada bukti awal,” tambahnya.

Eko menilai bahwa seharusnya “pengujian kepatuhan” memiliki batas objektif yang jelas agar tidak berubah menjadi bentuk dugaan sepihak. Menurutnya, peminjaman dokumen tanpa dasar indikasi kuat bisa menjadi beban administratif bagi WP yang sebenarnya patuh.

BACA JUGA :  Masyarakat tanyakan pengurangan DPT di wilayah Ketengban, Pegubin

Sebagai anggota IWPI, Eko juga menyoroti ketimpangan posisi antara fiskus dan Wajib Pajak dalam pelaksanaan pemeriksaan.

“Kami di IWPI memandang perlu adanya pembatasan yang jelas terhadap ruang lingkup pemeriksaan. DJP harus memastikan bahwa tindakan pemeriksa benar-benar proporsional dan berbasis data, bukan asumsi,” ujarnya.

Dalam praktiknya, pemeriksaan pajak memang sering dilakukan terhadap WP yang dianggap berisiko tinggi atau memiliki ketidaksesuaian data antara SPT dan data eksternal. Namun dengan adanya Pasal 12A, ruang pemeriksaan menjadi semakin luas tanpa batas eksplisit, sehingga potensi penyalahgunaan kewenangan semakin besar.

“Kalau DJP ingin menjaga kredibilitas pemeriksaan, maka transparansi prosedur dan pengawasan internal harus diperkuat. Jangan sampai fungsi pembinaan berubah menjadi fungsi represif,” tegas Eko.

Sementara itu, sejumlah akademisi juga menilai ambiguitas ini memperlihatkan pergeseran fungsi pemeriksaan pajak dari mekanisme pengawasan menjadi alat penegakan hukum yang berorientasi pada koreksi fiskal. Pemeriksaan tidak lagi netral, melainkan berangkat dari asumsi ketidakpatuhan yang harus dibuktikan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kementerian Keuangan belum memberikan penjelasan resmi terkait mekanisme kontrol dan batasan pelaksanaan Pasal 12A tersebut. Para pengamat dan organisasi Wajib Pajak, termasuk IWPI, mendesak agar beleid ini segera dievaluasi untuk memastikan keseimbangan antara efektivitas pengawasan dan perlindungan hak-hak Wajib Pajak.

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita : Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan
Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
P3N Desa Lubuk Birah M. Aidil Fitra Diduga Gelapkan Uang Adminitrasi Nikah  
Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah
Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah
‎Proyek Jalan Setapak Beton Kelurahan Sungai Nibung Banyak yang Rusak, Lurah: Nanti Kita Perbaiki

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:13

Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:41

Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:41

P3N Desa Lubuk Birah M. Aidil Fitra Diduga Gelapkan Uang Adminitrasi Nikah  

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 14:25

‎Proyek Jalan Setapak Beton Kelurahan Sungai Nibung Banyak yang Rusak, Lurah: Nanti Kita Perbaiki

Sabtu, 31 Januari 2026 - 13:42

Publik Menilai BK Ketakutan, Ketua BK Akan Berkonsultasi Dengan Oknum Terduga Pelanggar Kode Etik

Berita Terbaru