Di Balik Gemerlap Investasi: Berau Kaya Sumber Daya, Namun Lingkungan Tergerus Bebas..!

Selasa, 26 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

lubang raksasa bekas tambang yang tidak direboisasi. dan akan menjadi ancaman ,untuk masa depan.

lubang raksasa bekas tambang yang tidak direboisasi. dan akan menjadi ancaman ,untuk masa depan.

SUARA UTAMA  BERAU – Di tengah gencarnya narasi pembangunan dan serbuan investasi yang digaungkan pemerintah sebagai kemajuan daerah, Bumi Batiwakkal, Berau, kini menyimpan ironi besar yang menyakitkan. Di balik angka pertumbuhan ekonomi dan perputaran modal yang diklaim menguntungkan, tersembunyi kerusakan alam yang kian parah, menimbulkan satu pertanyaan mendasar: Pembangunan untuk siapa, jika lingkungan hidup harus menjadi korban utama?

Janji kemakmuran yang dibawa perusahaan-perusahaan besar tampak semakin pudar dibandingkan kenyataan pahit yang dirasakan warga sehari-hari. Berdasarkan pemantauan dan catatan pemantauan lingkungan, setidaknya ada sembilan perusahaan di wilayah ini yang masuk dalam daftar peringkat merah, karena diduga kuat menjadi penyebab utama tekanan ekologis yang berat. Perusahaan-perusahaan tersebut meliputi: PT. Indo Pusaka Berau, PT. Marina Bara Lestari, PT. Mega Alam Sejahtera, PT. Supra Bara Energi, PT. Berau Sawit Sejahtera, PT. Gunta Samba Jaya, PT. Satu Sembilan Delapan, PT. Jabontara Eka Karsa, hingga PT. Hutan Hijau Mas.

BACA JUGA :  Perkuat Deteksi Dini Gangguan Kamtib, Lapas Bangko Gelar Razia Rutin Blok Hunian Warga Binaan

Daftar panjang ini menjadi bukti nyata betapa masifnya aktivitas industri di sini—mulai dari pertambangan hingga perkebunan—yang beroperasi di tengah minimnya pengawasan ketat dan penegakan hukum yang lemah. Akibatnya, jejak kerusakan tak terelakkan membentang luas. Hutan-hutan yang dulunya berfungsi sebagai paru-paru daerah dan penyangga air bersih, kini terus menyusut luasnya, berubah menjadi lahan gundul yang tandus.
Perubahan wajah alam ini terasa dampaknya hingga ke urat nadi kehidupan warga: sungai-sungai yang dulu jernih dan menjadi sumber kehidupan, kini kerap berubah warna menjadi keruh kecokelatan, tercemar endapan lumpur dan limbah aktivitas industri. Debu halus menebal di udara, menempel pada dedaunan, rumah warga, hingga masuk ke saluran pernapasan setiap hari. Banjir dan genangan lumpur bukan lagi kejadian langka saat musim hujan, melainkan pemandangan rutin yang mengganggu aktivitas dan keselamatan masyarakat.

BACA JUGA :  Warga Sambaliung Resah, Aktivitas Galian C Diduga Ilegal Milik GWN Dituding Rusak Jalan dan Ancam Keselamatan

Di tengah keprihatinan ini, suara tanya masyarakat semakin lantang menggema: Siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dan menjaga kelestarian Berau? Apakah pemerintah, pengusaha, atau hanya rakyat kecil yang menanggung segala risiko kerusakan ini?
Ironi semakin tajam saat kita menengok realitas sosialnya. Berau dikenal sebagai salah satu daerah terkaya di Indonesia dari sisi sumber daya alam. Cadangan batu bara, hutan, dan potensi tanahnya sangat melimpah, menyumbang pendapatan besar bagi negara dan keuntungan luar biasa bagi korporasi.

BACA JUGA :  Menkum Dorong Reformasi Royalti Global di Forum WIPO

Namun, apa yang diterima masyarakat justru sebaliknya: kemiskinan kualitas lingkungan.

Kita berteriak dalam keprihatinan: Melaratlah kita! Daerah ini kaya raya harta alamnya, namun perlahan menjadi miskin hak hidup dan lingkungan yang sehat. Yang lebih mengkhawatirkan, kerusakan ini adalah warisan buruk yang sedang kita persiapkan untuk generasi mendatang. Jika eksploitasi berlebihan dan pengabaian terhadap kelestarian alam terus dibiarkan, maka kemajuan yang dibanggakan hari ini hanyalah kemajuan sesaat, yang kelak akan dibayar mahal dengan kehancuran ekologis yang sulit diperbaiki.
Kini saatnya semua pihak berhenti sejenak dan merenung: Apakah definisi pembangunan benar-benar selesai hanya ketika angka ekonomi naik, sementara kesejahteraan dan hak hidup warga serta kelestarian alam dikorbankan begitu saja?

Penulis : Rudi Salam

Editor : R'Salam

Sumber Berita: SUARA UTAMA.ID

Berita Terkait

Transformasi IAI TABAH Lamongan Resmi menjadi Universitas Tarbiyatut Tholabah Lamongan
Presiden DPP Aliansi Alam Bersatu Jaya Minta Polisi Usut Tuntas Kebakaran Kantor Organisasi
Wamenlu: Tugas Jurnalis Mengantar Publik dari Pendangkalan Menuju Pendalaman
GEGER PEMBEBASAN TERDUGA PENGEDAR NARKOBA MUARA SINGOAN, WARGA DESAK AUDIT INVESTIGASI
DJKI Sesuaikan Tarif Pendaftaran Merek Mulai 1 Agustus, UMK Tetap Nikmati Tarif Khusus Rp500 Ribu
Diduga Milik Cuncun, Aktivitas PETI dan Galian C di Kecamatan Tabir Kembali Jadi Sorotan
Bapelkum Bitung Pastikan Pelatihan Berdampak Nyata, Evaluasi Kompetensi ASN di Kanwil Kemenkum Sulsel
Satu Unit HD Diduga Terbalik di Area Operasional PT PSG, Proses Investigasi Masih Berlangsung

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:35

Transformasi IAI TABAH Lamongan Resmi menjadi Universitas Tarbiyatut Tholabah Lamongan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 06:29

Presiden DPP Aliansi Alam Bersatu Jaya Minta Polisi Usut Tuntas Kebakaran Kantor Organisasi

Jumat, 17 Juli 2026 - 17:36

Wamenlu: Tugas Jurnalis Mengantar Publik dari Pendangkalan Menuju Pendalaman

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:56

GEGER PEMBEBASAN TERDUGA PENGEDAR NARKOBA MUARA SINGOAN, WARGA DESAK AUDIT INVESTIGASI

Jumat, 17 Juli 2026 - 03:47

DJKI Sesuaikan Tarif Pendaftaran Merek Mulai 1 Agustus, UMK Tetap Nikmati Tarif Khusus Rp500 Ribu

Berita Terbaru