Cerita Bapak Maksum Melihat Anaknya Mondok

- Wartawan

Senin, 11 April 2022 - 01:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Demi Bertemu Anaknya Di Pesantren, Laki-Laki Ini Rela Mengendarai Motor Yang Sudah Tidak Layak Pakai

Demi Bertemu Anaknya Di Pesantren, Laki-Laki Ini Rela Mengendarai Motor Yang Sudah Tidak Layak Pakai

SUARA UTAMA,BLITAR – Melihat seorang anak menjadi penghafal Al-Qur’an adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi orang tua, khususnya seperti yang dirasakan Bapak Muhammad Maksum. Pak Maksum, sapaan akrabnya ini mendapatkan kabar dari pengasuh Pusat Pendidikan Anak Sholeh (PPAS) Hidayatullah Blitar, Jawa Timur, bahwasannya putranya yang bernama Rohmatullah mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan belajar di Ma’had Tahfizdul Qur’an Darul Hijrah, Surabaya.

BACA JUGA: Tantangan Dakwah STID M. Natsir, Sulitnya Akses Mengaji

Rintangan Pak Maksum Ketinggalan Kereta Api dan dibuntutin Polisi demi Anaknya

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Cerita Bapak Maksum Melihat Anaknya Mondok Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekolah tingkat Menengah Pertama (SMP) ini merupakan sekolah yang tidak sekedar menerima siswa baru, melainkan berbagai seleksi akan ditempuh oleh siswa baru dan harus memiliki hafalan Al-Qur’an terlebih dahulu. Kabar gembira ini langsung dirasakan oleh Pak Maksum, karena anaknya Rohmatullah yang semenjak duduk di Sekolah Dasar Integral Yaa Bunayya, Blitar sudah belajar dan menerima hafalan Al-Qur’an sebelumnya yang akhirnya muda diterima di Ma’had Darul Hijrah.

Ketinggalan kereta Api

Pagi harinnya Rohmatullah harus segera berangkat di Surabaya, Jawa Timur. Tiba di pagi hari, Rohmatullah yang sudah di dampingi oleh pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Blitar, Khairul Umam menanti kehadiran Pak Maksum di Stasiun Kota Blitar. Tepat pukul 07.00 WIB Kereta Api Penataran Jurusan Surabaya tiba, hanya berkisar 5 menit Kereta Api berhenti dan harus berangkat, tapi Pak Maksum belum terlihat di area Stasiun, akhirnya Khairul umam bergegas dengan Rohmatullah untuk menaiki Kereta Api. Tak lama kemudian Pak Maksum tiba, setiba di Stasiun dia mondar-mandir mencari anaknya, disetiap penjuru stasiun dia cari, akhirnya dia bertanya kepada salah satu petugas stasiun.

BACA JUGA: Santriwati Gunung Tembak Bercita-Cita Bangun Pesantren di Dubai

“Permisi Pak, Kereta api jurusan Surabaya apakah sudah berangkat?” tanya Orang Tua Rohmatullah tersebut.

“Sudah pak, barusan” jawab salah petugas keamanan Stasiun Blitar.

Dia melihat jam yang ternyata sudah melewati batas pemberangkatan, tak pikir panjang pak Maksum memberanikan diri berangkat dari Blitar ke Surabaya dengan sepeda motor bututnya yang tidak ada lampu depan, ritingnya putus, roda duannya sudah tak layak pakai, tidak ada plat nomor, kedua remnya tidak berfungsi, helm tidak ada dan joknya berupa tumpukan karpet bekas yang diikat karet ban.

Rintangan Pak Maksum Ketinggalan Kereta Api dan dibuntutin Polisi demi Anaknya
Foto: Rintangan Pak Maksum Ketinggalan Kereta Api dan dibuntutin Polisi demi Anaknya/Suara Utama ID

“Saya merasa ini adalah sebuah keharusan untuk mensuport anak saya, ini adalah rasa syukur saya, tetapi dengan kemampuan apa harus kesana, fisik saya sudah tidak mengikuti, kendaraan saya seperti ini, belum tau jalan, tapi saya serahkan semua kepada Allah, pasti saya akan diberi kemudahan sampai disana” kata lelaki kelahiran Blitar 1963 dalam wawancara khusus untuk mengenang peristiwa tersebut, Ahad  (10/04/2022) sebagaimana diterima dapur redaksi suarautama.id

Mulailah pak Maksum berangkat dari Blitar menuju Surabaya, berbagai hambatan dan kesulitan dia rasakan, mulai macetnya lalu lintas, tenggak tenggok melihat arah, tanya kemana-kemari dia lakoni demi putrannya yang berhasil melanjutkan sekolah di Ma’had Tahfizdul Qur’an Darul Hijrah, Surabaya. Dalam perjalanannya tiba-tiba sepeda motornya mogok tengah jalan, daya baterai HP-nya pula habis, tapi semua itu dia nikmatin dengan hati gembira.

Tulang keliling dunia dibuntutin polisi

Sesampai di Kota Sidoarjo, Pak Maksum diperhatikan sebagian polisi, karena melihat kendaraan yang tak layak dipakai itu, beberapa polisi mengikutinnya.

BACA JUGA :  Aksi oleh Geng Motor, Warga: Pekanbaru Sudah Tidak Aman 

Kelelahan dalam perjalanan menuju Surabaya dia lalui dari Blitar, Malang, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya yang yang menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh jam, sesampai di Surabaya Gubeng dia merasakan kebingunan kemana dia harus mencari lagi dan dia juga lupa nama lengkap Ma’had Tahfizdul Qur’an Darul Hijrah, akhirnya dia mulai kelelahan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tentunnya tidak akan diam melihat hambahnya berusaha dalam menuju kebaikan, akhirnya bertemulah Pak Maksum dengan orangtua dengan beberapa pemuda baik. Mereka langsung berusaha membantu Pak Maksum. Ada yang memperbaiki motornya, men-charge HP-nya, mencarikan makan-minum, membuka internet untuk mencari tujuannya, memberikan uang, dan mengantarnya ke Darul Hijrah.

Akhirnya sesampai di tempat tujuan, bapak tua berbaju taqwa, bersongkok putih, dan bersandal jepit ini merasakan kelelahan, makhlum Pak Maksum sudah usia diatas 50 tahun lebih, tapi tekad dan mujahadah ini dia lakukan untuk memastikan putranya berangkat sampai tujuan dengan keadaan selamat dalam belajar menghafal al-Qur’an di Surabaya. Sebelum dia menginjakkan kaki di kampus Darul Hijrah, beberapa orang berpakain seorang polisi menghampirinnya.

Semarak Taklim Jurnalistik bersama Republika dan Penggiat Media Massa
Foto: Semarak Taklim Jurnalistik bersama Republika dan Penggiat Media Massa/Suara Utama ID

“Pak, Ngapain bapak disini?” tanya salah satu dari polisi tersebut.

“Menenggok anak saya yang masuk di sekolah barunnya?” jawab ayah dari 5 anak ini.

“Kalau bapak berkendara tolong dijaga peraturannya, jangan asal ngegas saja, jangan diulang lagi ya” tanya kembali polisi yang mengikutinnya saat berada di wilayah Sidoarjo.

Dia menjelaskan bahwasanya sepeda motor yang dia miliki memang kendaran yang harus saya beli untuk kebutuhan yang sebelumnya hanya memiliki sepeda buntut tua, sepeda motor ini dibeli dengan harga 800 ribu. Tapi anehnya, motor yang sebelumnya masih ada riting menyala, tiba-tiba konslet, lampu putus, dan akhirnya dia servis berulang-ulang kali, apa adannya namanya juga sepeda motor lama akan cepat terasa hasilnya, salah satunnya muda rewel.

“Berkali-kali saya service motornya, sampai ganti lampu baru, tapi kok setelah diservice mala tambah rusak, akhirnya saya putus semua kabel dan lampunya sampai terliyat tulang belulangnya,” ujar lelaki yang tinggal di Desa Kuningan, Kec. Kanigoro, Kab. Blitar, Jawa Timur.

“Tulang keliling dunia, motor jelek luar biasa, apalagi memakai motor sehat sangat luar biasannya,” imbuhnya.

Hidup sederhana

Hidup sebagai manusia tidak mampu dalam segi financial tidak membuat Pak Maksum putus asa dalam menghantarkan putranya kejenjang pendidkan yang baik dalam menuntut ilmu, meskipun pekerjaanya hanya seorang pencari barang bekas (Pemulung) dia bertekad bahwasannya anak-anaknya harus bisa mengikuti jejak para Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebaliknya dengan putranya, Rohmatullah pantang menyerah, semangat mencari ilmu terliyat dari cara hidupnya semenjak bersekolah di SD Integral Yaa Bunayya, Blitar. Khairul umam.S.Pd.I., M.Pd.I selaku kepala Sekolanya menggambarkan bahwasannya Rohmatullah anaknya tidak pernah gengsi dengan teman-temannya yang rata-rata kehidupannya lebih baik dari secara finansial. Sehariannya Rohmatullah tinggal di Pusat Pendidikan Anak Sholeh (PPAS) Hidayatullah Blitar, Khairul Umam mengatakan anaknya sangat aktif mengikuti kegiatan, tiap pagi bersih-bersih kampus, sekolah, mengaji dan menhhafal al-qur’an.

“Orangnya jujur, prestasi akademiknya bagus, hafalannya juga lancar, bapak ibunya seorang pemulung tapi semangat belajar diacungi jempol,” ujar lelaki asal Sumenep, Madura ini.

Berita Terkait

Parkir Liar di Purbalingga Semakin Merajalela
Dosen PAI Harus Menjadi Ruh Masjid Kampus: Mengokohkan Peran dalam Pembangunan Peradaban
Kunjungan Team Ekspedisi Universitas Bengkulu & Universitas Mulawarman di Paser
MPLS 2024 SMK Darul Falah Berjalan Lancar dan Meriah
Pilkada Serentak 2024: Mewujudkan Pemilihan yang Sehat dan Bermartabat di Kabupaten Musi Rawas Utara
Srikandi Kota Ale – Ale Ketapang Merintis di Dunia Akademis dan Pecinta Sastra
Obyek Wisata D’Las Lembah Asri Serang Purbalingga : Pesona Liburan Sekolah di Lereng Gunung Slamet
Keluarga Besar DPC PWRI Kabupaten Tasikmalaya Mengucapkan Selamat Anniversary Ke 39 Kepada Ketua Ormas BRIGEZ Sekaligus Dewan Pembina DPC PWRI Kabupaten Tasikmalaya!!!
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juli 2024 - 19:08 WIB

Parkir Liar di Purbalingga Semakin Merajalela

Minggu, 21 Juli 2024 - 19:42 WIB

Dosen PAI Harus Menjadi Ruh Masjid Kampus: Mengokohkan Peran dalam Pembangunan Peradaban

Jumat, 19 Juli 2024 - 16:05 WIB

Kunjungan Team Ekspedisi Universitas Bengkulu & Universitas Mulawarman di Paser

Kamis, 18 Juli 2024 - 09:20 WIB

MPLS 2024 SMK Darul Falah Berjalan Lancar dan Meriah

Minggu, 14 Juli 2024 - 12:35 WIB

Pilkada Serentak 2024: Mewujudkan Pemilihan yang Sehat dan Bermartabat di Kabupaten Musi Rawas Utara

Rabu, 10 Juli 2024 - 12:32 WIB

Srikandi Kota Ale – Ale Ketapang Merintis di Dunia Akademis dan Pecinta Sastra

Minggu, 7 Juli 2024 - 12:32 WIB

Obyek Wisata D’Las Lembah Asri Serang Purbalingga : Pesona Liburan Sekolah di Lereng Gunung Slamet

Jumat, 5 Juli 2024 - 18:21 WIB

Keluarga Besar DPC PWRI Kabupaten Tasikmalaya Mengucapkan Selamat Anniversary Ke 39 Kepada Ketua Ormas BRIGEZ Sekaligus Dewan Pembina DPC PWRI Kabupaten Tasikmalaya!!!

Berita Terbaru