Ilusi Trump Mengalahkan Iran

- Writer

Sabtu, 7 Maret 2026 - 06:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Image: Flickr.com & Gage Skidmore

Image: Flickr.com & Gage Skidmore

Pada 2013 Trump pernah mengatakan “Obama akan menyerang Iran untuk menyelamatkan mukanya,” dan di malam kemenangan Pilpres, dia berjanji untuk tidak memulai perang, melainkan menghentikan perang. Nyatanya, sejak menjabat di periode kedua, Trump sudah dua kali menyerang Iran.

Enam hari lalu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei dan para pejabat tinggi Iran tewas oleh serangan militer Amerika yang bernama Operasi Epic Fury. Delapan bulan sebelumnya, Operasi Midnight Hammer menghancurkan tiga fasilitas nuklir Iran:Isfahan, Fordow, dan Natanz. Trump menyatakan kepada masyarakat Iran untuk mengambil alih pemerintahan, tetapi justru sebaliknya. Mayoritas warga Iran melihat serangan Washington bukan pembebasan, melainkan invasi. Dampaknya, solidaritas masyarakat menguat dan rezim masih berdiri.

Dokumen Strategi Keamanan Nasional yang ditandatangani Trump Desember lalu, menetapkan wilayah Western Hemisphere sebagai prioritas utama Washington, sementara Timur Tengah tidak lagi menjadi agenda utama politik luar negeri. Namun, dengan gaya khas Trump, apa yang disepakati bukan berarti dilakukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di dalam Amerika sendiri, hanya satu dari empat orang yang mendukung kebijakan militer ini, angka tersebut jauh di bawah tingkat dukungan publik saat Bush menyerang Iraq pada 2003. Bahkan di antara pemilih Partai Republik sendiri, hanya 55 persen yang setuju aksi serangan ini. Tingkat dukungan serendah ini belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika.

Serangan sepihak Washington tanpa pemberitahuan kepada negara sekutu Eropa harus dibayar mahal. Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer Amerika, bandara, hotel, kedutaan, dan fasilitas energi di Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Akibat serangan tersebut Trump membutuhkan bantuan sekutu. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, hanya mengizinkan operasi defensif secara terbatas. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, menolak membantu Amerika dan mengingatkan kesalahan perang di Irak. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengkritik serangan Trump dan menolak membantu. Ketika bantuan sekutu dibutuhkan Trump, ketiga pemimpin negara membatasi atau menolak karena operasi militer ini tidak sesuai Hukum Internasional.

BACA JUGA :  Ancaman Serangan Nuklir Rusia Kepada Inggris Raya dan Eropa

Prajurit yang menang meraih kemenangan terlebih dahulu, kemudian berperang, sedangkan prajurit yang kalah berperang terlebih dahulu, kemudian berupaya untuk menang (Sun Tzu). Awalnya Trump memperkirakan perang akan selesai dalam waktu empat minggu. Sehari kemudian, dia merevisi pernyataannya dengan mengatakan perang dapat bertahan lebih lama.

Trump tidak mempunyai visi untuk Iran. Mulai dari alasan melakukan perang hingga siapa sosok yang akan memimpin Iran selanjutnya. Sebelum perang, putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, bertemu dengan penasihat Timur Tengah Trump, Steve Witkoff, dan Reza memposisikan diri sebagai pemimpin transisi. Setelah Khamenei meninggal, Trump menganggap lebih tepat jika Iran mempunyai pemimpin moderat dari dalam Iran. Polanya sama dengan Irak 2003: menggulingkan pemimpin tanpa rencana lanjutan.

Trump tidak bisa melakukan perang konvensional atau memenangkan perang asimetris menghadapi Iran. Amerika sangat mampu menang melawan Iran secara konvensional, mengingat Amerika mempunyai keunggulan militer, teknologi modern, dan anggaran yang jauh lebih besar. Namun, harga yang dibayar sangat mahal: cadangan minyak, Selat Hormuz, dan infrastruktur berpotensi hancur dan tidak dapat menguntungkan Washington. Jika berperang secara asimetris Amerika memiliki catatan buruk, dari Vietnam hingga Afghanistan.

BACA JUGA :  PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan

Selain tidak ada strategi yang tepat untuk mengalahkan Iran, Trump menghadapi dilema. Jika Amerika memfokuskan serangan militer ke Iran, Rusia berpeluang melakukan serangan intensif terhadap Ukraina dan China mendapat ruang untuk menekan Taiwan. Di sisi lain, jika Trump tidak melakukan invasi skala besar di Iran, perang dapat terjadi selama bertahun-tahun. Trump terjebak di antara dua pilihan buruk.

Jika Amerika tidak ingin menghadapi Iran dengan mengirim pasukan darat, satu-satunya pilihan adalah offshore balancing. Untuk itu, Amerika memerlukan rekan sekutu di Timur Tengah ikut berperang menghadapi Iran di garis depan. Masalahnya, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait menolak wilayahnya dijadikan basis operasi militer Amerika, sementara Oman secara terbuka mengkritik operasi militer terhadap Iran. Israel sulit terlibat lebih jauh karena konflik yang sedang berlangsung dengan Palestina. Strategi offshore balancing tidak bisa dijalankan jika tidak ada sekutu yang bersedia berada di garis depan.

Pasukan konvensional kalah jika tidak menang, pasukan gerilya menang jika tidak kalah (Henry Kissinger). Menghadapi konflik seperti ini, Iran cukup menahan serangan militer Amerika hingga situasi politik menjadi terlalu mahal, seperti Vietnam dan Afghanistan.

BACA JUGA :  Muhammadiyah Mengecam Serangan Amerika-Israel Terhadap Iran

Sembilan bulan lagi Amerika melaksanakan Midterm Election, anggota-anggota Partai Republik dan Demokrat akan memperebutkan 435 suara di DPR. Perang ini menjadi ancaman bagi Trump dan Partai Republik untuk mempertahankan  mayoritas di parlemen. Kongres berupaya membatasi serangan militer terhadap Iran, namun, upaya tersebut gagal dengan selisih tipis 212-219. Approval rating Trump berada di titik rendah sejak periode kedua. Perang ini menjadi momentum bagi Partai Demokrat untuk memenangkan mayoritas kursi parlemen—terutama jika melihat mayoritas warga tidak setuju dengan perang di Iran—dan mendorong proses pemakzulan terhadap Trump. Perang ini menjadi pertaruhan politik besar bagi Trump dan partai Republik.

Betapapun besarnya, kekuatan Amerika terbatas (Walter Lippmann). Sejak Amerika merdeka pada 1776, Negeri Paman Sam hampir selalu berperang, hanya 17 tahun dalam kondisi damai. Sejak 2001, Amerika telah menghabiskan dana lebih dari 8 triliun dolar untuk berperang. Di pidato pelantikannya Trump menyampaikan ingin meninggalkan warisan sebagai pembawa perdamaian dan pemersatu. Iran, Venezuela, dan Palestina bukti sebaliknya.

Trump harus mampu membuang ilusi menyerang dan mengganti rezim di Iran berarti kemenangan. Oman siap kembali menjadi mediator Amerika dan Iran untuk melanjutkan perundingan Muscat. Pemimpin negara hegemoni yang sesungguhnya menyelesaikan masalah bukan dengan senjata, melainkan diplomasi.

Penulis : Keitaro Alfarizi

Sumber Berita: Dokumen NSS 2025, Analisis NSS 2025 Brookings, CNN, Aljazeera,Ipsos,Long War Journal, Sun Tzu, The Art of War, Foreign Affairs, Januari 1969, Walter Lippmann Today & Tomorrow kolom reguler.

Berita Terkait

Kedaulatan Pangan dan Masa Depan Indonesia, Refleksi Kedaulatan Negara di Era Ketidakpastian Global
Jangan Abaikan Benjolan, SADARI Bisa Jadi Penyelamat
Keikhlasan dan Amal Lebih Utama dari Sekadar Wadah Organisasi
Spiritual Endurance: Ramadhan sebagai Maraton Jiwa
Nyawa yang Terenggut di Tual Alarm Keras bagi Reformasi Kepolisian dan Supremasi Hukum
Pimpinan Suara Utama dan AR Learning Center, Andre Hariyanto, Serukan Maksimalkan Ibadah di Bulan Ramadhan
Menjaga Marwah Kemanusiaan Melalui Respons Kritis PMII UMAHA Sidoarjo Terhadap Kasus Anggota Brimob dalam Kekerasan di Tual
Ramadhan dan Estetika Kemanusiaan
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 Maret 2026 - 06:13 WIB

Ilusi Trump Mengalahkan Iran

Kamis, 5 Maret 2026 - 14:49 WIB

Kedaulatan Pangan dan Masa Depan Indonesia, Refleksi Kedaulatan Negara di Era Ketidakpastian Global

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:51 WIB

Jangan Abaikan Benjolan, SADARI Bisa Jadi Penyelamat

Sabtu, 28 Februari 2026 - 19:30 WIB

Keikhlasan dan Amal Lebih Utama dari Sekadar Wadah Organisasi

Rabu, 25 Februari 2026 - 10:28 WIB

Spiritual Endurance: Ramadhan sebagai Maraton Jiwa

Berita Terbaru

Image: Flickr.com & Gage Skidmore

Artikel

Ilusi Trump Mengalahkan Iran

Sabtu, 7 Mar 2026 - 06:13 WIB