Suara Utama.- Kisah Abu Nawas udah tersebar dari rakyat ke rakyat sebagai hiburan, humor dan pelajaran di balik semua cerita jenakanya.
Ddalam cerita-cerita dongeng merupakan tokoh fiksi yang terinspirasi dari seorang penyair dan ahli sastra terkenal bernama Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Ia dikenal karena kecerdasan, humor, dan kejenakaannya yang luar biasa.
Karena Humor dan Jenakanya dia menyampaikan pada khalayak Masyarakat bahwa Abu Nawas bisa masukkan Seekor Unta ke lubang jarum.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kisah ini konon diawali suatu hari Baginda Raja tampak termenung di singgasananya, Dilaporkan dia sedang dilanda masalah yang membuat tidak bisa tidur. tapi, masalah yang dihadapi hanya Baginda Raja sendiri yang tahu.
Beliau sengaja merahasiakannya dari orang-orang sekitar Kerajaan, baik kepada penasihat istana maupun Rakyat. Ingin rasanya Baginda Raja melupakan masalah yang menimpanya.
Kalaupun bisa lari menghindar, tentulah ia akan melakukannya. Tapi kenyataannya permasalahan yang dihadapi terasa seperti mengikutinya ke mana pun Baginda Raja pergi. Sejak saat itu Baginda Raja sering terlihat melamun seorang diri. Kemudian penasihat istana mendekati Baginda Raja.
“Maaf Paduka yang mulia, hamba perhatikan belakangan ini Paduka terlihat murung. Hamba khawatir paduka nanti jatuh sakit. Apakah ada sesuatu yang Paduka pikirkan?” tanya penasihat istana.
“Tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja. Kau urusi saja pekerjaanmu,” jawab Baginda Raja dengan memalingkan wajahnya.
Penasihat istana pun hanya terdiam. Ia merasakan gelagat bahwa Baginda Raja sedang dilanda masalah besar. Dikarenakan Baginda Raja tidak mau berterus terang, penasihat istana tidak berani membujuknya untuk menceritakan masalah yang dihadapi.
Sikap Baginda Raja makin tertutup, bahkan kini enggan menerima tamu. Hal ini membuat para pejabat istana menjadi sangat khawatir.
“Apa yang harus kita lakukan? Makin hari Baginda Raja terlihat mengkhawatirkan. Ini sangat buruk untuk kondisinya. Jangan sampai Baginda Raja jatuh sakit,” kata salah seorang menteri.
“Aku juga cemas melihat sikap Baginda Raja belakangan ini. Aku sudah coba membujuknya supaya mau menceritakan masalah yang dialami, tapi ia malah memalingkan wajah. Baginda Raja memilih menutup diri,”.
“Saya ada saran, bagaimana kalau masalah ini kita sampaikan kepada Abu Nawas biasanya dia tahu solusinya,” ujar salah satu dari menteri.
“Iya saya setuju dengan sarannya,” Jawab lainnya.
Maka beberapa menteri istana segera mendatangi rumah Abu Nawas. Melihat yang datang adalah para menteri, Abu Nawas sempat terkejut. Biasanya yang diutus Baginda Raja adalah prajurit istana.
“Kenapa kalian yang datang?” tanya Abu Nawas.
“Kami ke sini bukan diutus Baginda Raja, tapi atas kemauan sendiri,” jawab para menteri.
Kemudian para menteri ini memberi tahu Abu Nawas tentang keadaan yang menimpa Baginda Raja.
“Kami semua sudah berusaha memberi perhatian, tapi Baginda Raja selalu menutup diri,” kata salah satu menteri.
“Baiklah aku akan coba menghiburnya. Mari kita ke istana sekarang,” ajak Abu Nawas.
Singkat cerita, Abu Nawas menghadap Baginda Raja. Ia lalu bercerita kisah-kisah jenaka di hadapan Baginda Raja, berharap bisa terhibur dan tertawa.
Tapi ternyata tidak ada reaksi apa pun. Baginda Raja hanya terdiam, malah meninggalkan Abu Nawas, lalu masuk ke kamarnya.
Selepas Baginda Raja pergi, para menteri segera menghampiri Abu Nawas. “Bagaimana ini Abu Nawas? Kamu lihat sendiri kan,” ucap mereka.
“Sepertinya Baginda Raja sedang mengalami masalah berat. Biarkan aku pulang dulu. Aku akan memikirkan cara untuk mengatasi masalah ini,” ucap Abu Nawas.
Setibanya di rumah, Abu Nawas terus memikirkan cara terbaik memecahkan masalah ini. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Abu Nawas menemukan ide cemerlang.
Esok harinya Abu Nawas pergi ke pasar. Di hadapan orang-orang, Abu Nawas berteriak, “Apakah di antara kalian ada yang bisa memasukkan unta ke lubang jarum?”
Mendengar pertanyaan Abu Nawas, semua orang yang ada di sana heran. Salah satu dari mereka lalu menjawab, “Mana mungkin bisa, itu perkara yang mustahil.”
Dengan lantang, Abu Nawas membalas, “Tidak ada perkara yang mustahil di dunia ini. Jangankan aku, anak kecil pun bisa.”
“Kalau kau memang bisa, coba tunjukkan kepada kami,” pinta mereka.
“Maaf kawan-kawan, sayangnya aku hanya bisa membuktikannya bila di hadapan Baginda Raja,” jawab Abu Nawas.
Begitulah seterusnya setiap ada keramaian orang ataupun perkumpulan, Abu Nawas selalu mengatakan hal yang sama. Akhirnya kabar tentang Abu Nawas bisa memasukkan unta ke lubang jarum sampai juga hingga telinga Baginda Raja.
Awalnya Baginda Raja tidak terlalu mempedulikannya, tapi lama-kelamaan timbul juga rasa penasaran pada dirinya. Maka diperintahkanlah beberapa pengawal istana memanggil Abu Nawas.
“Tuan Abu Nawas, Anda diperintah Paduka untuk datang ke istana,” ucap seorang prajurit.
“Benarkah?” tanya Abu Nawas memastikan.
“Benar Tuan Abu Nawas,” jawab dia.
“Rencanaku akhirnya berhasil,” pikir Abu Nawas.
“Oh iya, bagaimana kondisi Baginda Raja sekarang?” tanya Abu Nawas lagi.
“Baginda masih sering mengurung diri dan sering tampak termenung,” jawab salah satu prajurit.
“Baiklah, aku akan ke sana sekarang,” balas Abu Nawas.
Tidak lama kemudian Abu Nawas sampai di istana menghadap Baginda Raja.
Penulis : Tonny Rivani