PB XIII Hadirkan Pesona Adhang Tahun Dal, Tradisi Karaton Solo yang Langka

- Publisher

Senin, 8 September 2025 - 14:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Surakarta,suarautama.id–

Minggu (7/9/2025) Malam, menjadi saksi digelarnya sebuah prosesi sakral yang jarang sekali bisa disaksikan publik. Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melaksanakan Hajad Dalem Adhang Tahun Dal 1959 Jawa di Kagungan Dalem Pawon Gondorasan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Prosesi ini semakin istimewa karena SISKS Pakoe Boewono XIII hadir secara langsung memimpin jalannya ritual bersama GKR Pakoe Boewono.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tradisi Adhang Tahun Dal bukanlah peristiwa biasa. Ia hanya dilakukan setiap delapan tahun sekali, tepatnya pada Tahun Dal dalam siklus penanggalan Jawa. Karena itu, keberlangsungannya selalu dinanti dan dianggap sakral. Di balik prosesi ini tersimpan nilai historis, spiritual, sekaligus budaya yang berakar dari leluhur Karaton.

 

Keunikan Adhang Tahun Dal terletak pada penggunaan pusaka dandhang yang dipercaya peninggalan Ki Ageng Tarub, leluhur Karaton. Tiga pusaka itu adalah Kangjeng Kyai Dhudha, Kangjeng Kyai Godrag, dan Kangjeng Rejeki. Ketiganya tidak hanya dipandang sebagai alat memasak, melainkan simbol berkah, rejeki, dan kesinambungan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, pusaka tersebut tetap dirawat sebagai Kagungan Dalem Karaton Kasunanan Surakarta.

 

Malam itu, suasana Pawon Gondorasan dipenuhi aroma kayu bakar saat SISKS Pakoe Boewono XIII menyalakan api tungku sebagai tanda dimulainya prosesi. Api yang menyala di tungku pusaka seolah membakar semangat kebersamaan seluruh Sentono dalem dan abdi dalem yang hadir. Putri dalem GKR Timoer Rumbai kemudian menanak nasi dalam dandhang pusaka, sementara para abdi dalem mengumandangkan shalawat Nabi dengan khidmat menambah suasana semakin teduh dan penuh rasa syukur.

 

Nantinya setelah nasi matang, prosesi dilanjutkan dengan pembagian kepada para abdi dalem. Bagi mereka, menerima nasi hasil Adhang Tahun Dal adalah sebuah berkah. Bukan sekadar santapan, melainkan berkah yang diyakini membawa keselamatan dan rejeki.

 

KPA Dani Nur Adhiningrat, selaku Pengageng Sasana Wilapa Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, menegaskan bahwa prosesi ini semakin sakral karena dipimpin langsung oleh SISKS Pakoe Boewono XIII.

BACA JUGA :  Pimpinan Umum & Redaksi SUARA UTAMA Kecam Penahanan 3 Jurnalis Indonesia oleh Militer Israel Saat Misi Kemanusiaan ke Gaza

 

“Adhang Tahun Dal menjadi sangat istimewa ketika SISKS Pakoe Boewono XIII hadir langsung bersama GKR Pakoe Boewono. Kehadiran beliau bukan hanya simbol kepemimpinan, tetapi juga teladan spiritual bagi seluruh abdi dalem dan masyarakat. Prosesi ini menunjukkan bahwa Karaton masih teguh menjaga amanah leluhur dalam bentuk nyata, bukan sekadar cerita,” ujarnya.

 

Tradisi ini, lanjut KPA Dani, adalah ruang pembelajaran budaya dan spiritual yang sangat berharga. Di tengah arus globalisasi, Adhang Tahun Dal mengingatkan generasi muda bahwa kebudayaan Jawa tidak hanya berupa pertunjukan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur tentang syukur, kebersamaan, dan pengabdian.

 

“Kami ingin generasi muda memahami bahwa setiap detail dalam prosesi ini memiliki makna. Api yang dinyalakan oleh Sampeyan Dalem melambangkan semangat hidup, dandhang pusaka mencerminkan keberlangsungan rejeki, dan nasi yang dibagikan adalah wujud syukur serta kepedulian. Karaton ingin memastikan bahwa tradisi ini terus diwariskan agar jati diri bangsa tidak hilang ditelan zaman,” tambahnya.

 

Dengan berlangsungnya Hajad Dalem Adhang Tahun Dal 1959 ini, Karaton Surakarta kembali menegaskan dirinya sebagai pusat budaya Jawa. Tradisi yang hanya hadir sekali dalam delapan tahun ini menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur bukan sekadar benda pusaka, melainkan juga nilai hidup yang mengikat manusia dengan Sang Pencipta dan sesama.

 

Bagi masyarakat luas, prosesi ini sekaligus menjadi ajakan untuk terus mencintai kebudayaan. Sebab di balik setiap tradisi, tersimpan ajaran tentang bagaimana manusia harus hidup dengan rasa syukur, peduli, dan senantiasa menjaga hubungan harmonis antarMohon ijin Abang Senior Nitip Rilis Berita Giat Dari Keraton Surakarta.

 

  1. Judul Pilihan:

Adhang Tahun Dal, Tradisi Delapan Tahun Sekali: SISKS Pakoe Boewono XIII Pimpin Prosesi Sakral di Pawon Gondorasan

 

Langka! PB XIII Pimpin Ritual Adhang Tahun Dal di Karaton Solo

 

Delapan Tahun Sekali, PB XIII Gelar Adhang Sakral di Pawon Gondorasan

BACA JUGA :  Warga Soroti Dugaan Setoran Tambang PETI di Area Cetak Sawah Dam Sesah, Nilainya Capai Puluhan Juta Rupiah

 

PB XIII Nyalakan Api Sakral, Adhang Tahun Dal Karaton Solo Digelar Meriah

 

Istimewa! Tradisi Adhang Tahun Dal Dipimpin Langsung PB XIII

 

PB XIII Hadirkan Pesona Adhang Tahun Dal, Tradisi Karaton Solo yang Langk

 

Surakarta – Minggu (7/9/2025) Malam, menjadi saksi digelarnya sebuah prosesi sakral yang jarang sekali bisa disaksikan publik. Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melaksanakan Hajad Dalem Adhang Tahun Dal 1959 Jawa di Kagungan Dalem Pawon Gondorasan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Prosesi ini semakin istimewa karena SISKS Pakoe Boewono XIII hadir secara langsung memimpin jalannya ritual bersama GKR Pakoe Boewono.

 

Tradisi Adhang Tahun Dal bukanlah peristiwa biasa. Ia hanya dilakukan setiap delapan tahun sekali, tepatnya pada Tahun Dal dalam siklus penanggalan Jawa. Karena itu, keberlangsungannya selalu dinanti dan dianggap sakral. Di balik prosesi ini tersimpan nilai historis, spiritual, sekaligus budaya yang berakar dari leluhur Karaton.

 

Keunikan Adhang Tahun Dal terletak pada penggunaan pusaka dandhang yang dipercaya peninggalan Ki Ageng Tarub, leluhur Karaton. Tiga pusaka itu adalah Kangjeng Kyai Dhudha, Kangjeng Kyai Godrag, dan Kangjeng Rejeki. Ketiganya tidak hanya dipandang sebagai alat memasak, melainkan simbol berkah, rejeki, dan kesinambungan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, pusaka tersebut tetap dirawat sebagai Kagungan Dalem Karaton Kasunanan Surakarta.

 

Malam itu, suasana Pawon Gondorasan dipenuhi aroma kayu bakar saat SISKS Pakoe Boewono XIII menyalakan api tungku sebagai tanda dimulainya prosesi. Api yang menyala di tungku pusaka seolah membakar semangat kebersamaan seluruh Sentono dalem dan abdi dalem yang hadir. Putri dalem GKR Timoer Rumbai kemudian menanak nasi dalam dandhang pusaka, sementara para abdi dalem mengumandangkan shalawat Nabi dengan khidmat menambah suasana semakin teduh dan penuh rasa syukur.

 

Nantinya setelah nasi matang, prosesi dilanjutkan dengan pembagian kepada para abdi dalem. Bagi mereka, menerima nasi hasil Adhang Tahun Dal adalah sebuah berkah. Bukan sekadar santapan, melainkan berkah yang diyakini membawa keselamatan dan rejeki.

BACA JUGA :  Pemerintah Resmi Tetapkan Idul Adha 2026 Jatuh pada 27 Mei 2026

 

KPA Dani Nur Adhiningrat, selaku Pengageng Sasana Wilapa Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, menegaskan bahwa prosesi ini semakin sakral karena dipimpin langsung oleh SISKS Pakoe Boewono XIII.

 

“Adhang Tahun Dal menjadi sangat istimewa ketika SISKS Pakoe Boewono XIII hadir langsung bersama GKR Pakoe Boewono. Kehadiran beliau bukan hanya simbol kepemimpinan, tetapi juga teladan spiritual bagi seluruh abdi dalem dan masyarakat. Prosesi ini menunjukkan bahwa Karaton masih teguh menjaga amanah leluhur dalam bentuk nyata, bukan sekadar cerita,” ujarnya.

 

Tradisi ini, lanjut KPA Dani, adalah ruang pembelajaran budaya dan spiritual yang sangat berharga. Di tengah arus globalisasi, Adhang Tahun Dal mengingatkan generasi muda bahwa kebudayaan Jawa tidak hanya berupa pertunjukan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur tentang syukur, kebersamaan, dan pengabdian.

 

“Kami ingin generasi muda memahami bahwa setiap detail dalam prosesi ini memiliki makna. Api yang dinyalakan oleh Sampeyan Dalem melambangkan semangat hidup, dandhang pusaka mencerminkan keberlangsungan rejeki, dan nasi yang dibagikan adalah wujud syukur serta kepedulian. Karaton ingin memastikan bahwa tradisi ini terus diwariskan agar jati diri bangsa tidak hilang ditelan zaman,” tambahnya.

 

Dengan berlangsungnya Hajad Dalem Adhang Tahun Dal 1959 ini, Karaton Surakarta kembali menegaskan dirinya sebagai pusat budaya Jawa. Tradisi yang hanya hadir sekali dalam delapan tahun ini menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur bukan sekadar benda pusaka, melainkan juga nilai hidup yang mengikat manusia dengan Sang Pencipta dan sesama.

 

Bagi masyarakat luas, prosesi ini sekaligus menjadi ajakan untuk terus mencintai kebudayaan. Sebab di balik setiap tradisi, tersimpan ajaran tentang bagaimana manusia harus hidup dengan rasa syukur, peduli, dan senantiasa menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.[*/red]a manusia, alam, dan Tuhan.[*/re

Penulis : Ziqro fernando

Berita Terkait

konflik agraria penyerobotan lahan adat dikawasan kampung bumi jaya, Paduka Yang Mulia (PYM) Datu Amir M.A, Raja Muda Perkasa, Sultan Sambaliung, menyambangi lokasi
Fahry Lamato Buka Suara Soal Isu SARA: “Jangan Ada Upaya Mengadu Domba Masyarakat Bitung”
Rumah Kaprawi Disorot Warga, Diduga Jadi Lokasi Penampungan dan Pembakaran Emas Hasil PETI
Dinamika Persaingan Media di Makassar dan Gowa Jadi Sorotan, Profesionalisme Pers Dipertanyakan
Self Healing Talk & Workshop Bouquet untuk Muslimah
Seorang Pelajar Angkat Bicara, Pernyataan Oknum Sekda Terindikasi Kontradiktif Berpotensi Sanksi Administratif Bahkan Pidana
Kompak, Oknum Ketua Poktan Gemah Ripah Krajan dan Oknum PPL Banyuanyar Enggan Menjawab Konfirmasi Media 
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau. Terbitkan Surat Edaran Pelaku Usaha dan Industri Wajib Kelola Sampah Mandiri Mulai 16 Maret 2026
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:14 WIB

konflik agraria penyerobotan lahan adat dikawasan kampung bumi jaya, Paduka Yang Mulia (PYM) Datu Amir M.A, Raja Muda Perkasa, Sultan Sambaliung, menyambangi lokasi

Minggu, 24 Mei 2026 - 02:13 WIB

Fahry Lamato Buka Suara Soal Isu SARA: “Jangan Ada Upaya Mengadu Domba Masyarakat Bitung”

Sabtu, 23 Mei 2026 - 17:42 WIB

Rumah Kaprawi Disorot Warga, Diduga Jadi Lokasi Penampungan dan Pembakaran Emas Hasil PETI

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:13 WIB

Dinamika Persaingan Media di Makassar dan Gowa Jadi Sorotan, Profesionalisme Pers Dipertanyakan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:20 WIB

Self Healing Talk & Workshop Bouquet untuk Muslimah

Berita Terbaru