Longsor Mengancam. Perusahan Dan Pemerintah Hanya Diam, Kampung Tumbit Dayak di Lingkar Tambang Menanti Kepedulian

- Publisher

Selasa, 2 Juni 2026 - 00:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto salah satu warga yang menunjukkan longsong di tumbit dayak

Foto salah satu warga yang menunjukkan longsong di tumbit dayak

Suara utama.id, Berau – Di tengah gencarnya narasi pembangunan yang terus digaungkan pemerintah daerah dan perusahaan tambang, warga Kampung Tumbit Dayak justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Ancaman tanah longsor yang telah lama terjadi hingga kini belum mendapat penanganan serius.

Ironisnya, Kampung Tumbit Dayak berada di kawasan lingkar tambang yang selama ini dikelilingi aktivitas industri besar. Kehadiran perusahaan seperti PT Pama Persada yang beroperasi di bawah naungan PT Berau Coal seharusnya menjadi momentum percepatan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar. Namun fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi yang bertolak belakang.

Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, warga dihantui kekhawatiran akan pergerakan tanah yang dapat mengancam keselamatan jiwa maupun harta benda. Beberapa titik rawan longsor disebut semakin parah, namun belum terlihat langkah konkret yang mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Pertanyaan besar pun muncul. Di mana keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan? Mengapa persoalan yang menyangkut keselamatan warga terkesan dibiarkan berlarut-larut?

Selama ini pemerintah dan perusahaan kerap menyampaikan komitmen pembangunan, pemberdayaan masyarakat, hingga peningkatan kesejahteraan warga sekitar tambang. Namun masyarakat menilai pembangunan tidak boleh hanya sebatas slogan dan seremoni. Ketika ancaman longsor nyata berada di depan mata, yang dibutuhkan adalah tindakan, bukan sekadar pidato.

“Kami sering mendengar kata membangun dan membangun. Tapi sampai hari ini ancaman longsor masih ada. Kalau menunggu korban dulu baru bergerak, itu namanya terlambat, dan kita sudah sering meminta kepada pemerintah, apa lagi perusahaan kan kita yang dibilang lingkir tambang ini di prioritaskan tetapi kita sudah sering meminta bantuan, terkait pembangunan siring/ penahan tanah, oleh perusahaan seperti PT berau coal, dan PT Pama, hanya janji manis entah mengapa sejak beberpa tahun belakangan PT pama kendor untuk membantu dulu awal buka sering sekali membantu, tetepi beberpa tahun ini sudah mulai sama seperti PT berau coal apa bila ditanya soal bantuan. hanya iya iya iya jawapnya dan tidak ada tindakan yang pasti” ujar salah seorang warga.

BACA JUGA :  Pimpinan Umum & Redaksi SUARA UTAMA Kecam Penahanan 3 Jurnalis Indonesia oleh Militer Israel Saat Misi Kemanusiaan ke Gaza

Kondisi ini layak menjadi perhatian serius pemerintah daerah, instansi teknis terkait, maupun pihak perusahaan.Sebab tanah longsor tersebut berhadapan langsung dengan sekolah dasar dan otomatis jalur lalu lalang untuk mengantar anak sekolah dan pulang sekolah. Karna keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap dalam laporan tanggung jawab sosial perusahaan.

BACA JUGA :  Belum Seumur Jagung, Oknum Kepala PDAM  Unit Pedagangan Terindikasi Dugaan Melakukan Praktek Pungli di Dusun Nangger 

Apabila kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan yang jelas, maka publik berhak mempertanyakan sejauh mana manfaat keberadaan industri tambang bagi masyarakat lingkar tambang. Jangan sampai kekayaan alam terus diangkut keluar daerah, sementara warga yang tinggal di sekitar tambang justru hidup dalam bayang-bayang bencana.

Kini masyarakat Tumbit Dayak menunggu jawaban nyata. Bukan lagi janji pembangunan, melainkan tindakan konkret untuk mengatasi ancaman longsor yang setiap saat dapat berubah menjadi tragedi.

 

Penulis : Rudi Salam

Editor : R'Salam

Sumber Berita: SUARA UTAMA. ID

Berita Terkait

pekerja mengaku bekerja di PT BAR site PT BERAU COAL. mengeluhkan pembayaran upah molorrr.!
Akhirnya Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo Buka Suara, Pakopak Ikut Angkat Bicara Terkait Tukin P3K Tahun 2025
Bapelkum Bitung dan BNNK Perkuat Sinergi, Bahas Persiapan Penandatanganan PKS
Aliansi Masyarakat Karawang Jabar Menuntut Ketegasan Pemkab Menutup TNM
Pertalite dan Solar Langka di Banjar Kalsel, Namun Masih Banyak Dijual Eceran
Pertamax Rp16.650 per Liter: Rakyat Dipaksa Menyesuaikan. UMKM, Hingga Pengemudi Transportasi Terasa Dampaknya.
Penertiban Pedagang di Tanjung Bunga
Polres Maros Bersihkan Rumah Ibadah Sambut Hari Bhayangkara ke-80
Berita ini 50 kali dibaca

Komentar

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 21:17 WIB

pekerja mengaku bekerja di PT BAR site PT BERAU COAL. mengeluhkan pembayaran upah molorrr.!

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:34 WIB

Akhirnya Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo Buka Suara, Pakopak Ikut Angkat Bicara Terkait Tukin P3K Tahun 2025

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:24 WIB

Bapelkum Bitung dan BNNK Perkuat Sinergi, Bahas Persiapan Penandatanganan PKS

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:18 WIB

Aliansi Masyarakat Karawang Jabar Menuntut Ketegasan Pemkab Menutup TNM

Rabu, 10 Juni 2026 - 10:24 WIB

Pertamax Rp16.650 per Liter: Rakyat Dipaksa Menyesuaikan. UMKM, Hingga Pengemudi Transportasi Terasa Dampaknya.

Berita Terbaru