Suara utama.id, Berau – Di tengah gencarnya narasi pembangunan yang terus digaungkan pemerintah daerah dan perusahaan tambang, warga Kampung Tumbit Dayak justru dihadapkan pada kenyataan pahit. Ancaman tanah longsor yang telah lama terjadi hingga kini belum mendapat penanganan serius.
Ironisnya, Kampung Tumbit Dayak berada di kawasan lingkar tambang yang selama ini dikelilingi aktivitas industri besar. Kehadiran perusahaan seperti PT Pama Persada yang beroperasi di bawah naungan PT Berau Coal seharusnya menjadi momentum percepatan pembangunan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar. Namun fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi yang bertolak belakang.
Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, warga dihantui kekhawatiran akan pergerakan tanah yang dapat mengancam keselamatan jiwa maupun harta benda. Beberapa titik rawan longsor disebut semakin parah, namun belum terlihat langkah konkret yang mampu memberikan rasa aman kepada masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaan besar pun muncul. Di mana keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat yang hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan? Mengapa persoalan yang menyangkut keselamatan warga terkesan dibiarkan berlarut-larut?
Selama ini pemerintah dan perusahaan kerap menyampaikan komitmen pembangunan, pemberdayaan masyarakat, hingga peningkatan kesejahteraan warga sekitar tambang. Namun masyarakat menilai pembangunan tidak boleh hanya sebatas slogan dan seremoni. Ketika ancaman longsor nyata berada di depan mata, yang dibutuhkan adalah tindakan, bukan sekadar pidato.
“Kami sering mendengar kata membangun dan membangun. Tapi sampai hari ini ancaman longsor masih ada. Kalau menunggu korban dulu baru bergerak, itu namanya terlambat, dan kita sudah sering meminta kepada pemerintah, apa lagi perusahaan kan kita yang dibilang lingkir tambang ini di prioritaskan tetapi kita sudah sering meminta bantuan, terkait pembangunan siring/ penahan tanah, oleh perusahaan seperti PT berau coal, dan PT Pama, hanya janji manis entah mengapa sejak beberpa tahun belakangan PT pama kendor untuk membantu dulu awal buka sering sekali membantu, tetepi beberpa tahun ini sudah mulai sama seperti PT berau coal apa bila ditanya soal bantuan. hanya iya iya iya jawapnya dan tidak ada tindakan yang pasti” ujar salah seorang warga.
Kondisi ini layak menjadi perhatian serius pemerintah daerah, instansi teknis terkait, maupun pihak perusahaan.Sebab tanah longsor tersebut berhadapan langsung dengan sekolah dasar dan otomatis jalur lalu lalang untuk mengantar anak sekolah dan pulang sekolah. Karna keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap dalam laporan tanggung jawab sosial perusahaan.
Apabila kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan yang jelas, maka publik berhak mempertanyakan sejauh mana manfaat keberadaan industri tambang bagi masyarakat lingkar tambang. Jangan sampai kekayaan alam terus diangkut keluar daerah, sementara warga yang tinggal di sekitar tambang justru hidup dalam bayang-bayang bencana.
Kini masyarakat Tumbit Dayak menunggu jawaban nyata. Bukan lagi janji pembangunan, melainkan tindakan konkret untuk mengatasi ancaman longsor yang setiap saat dapat berubah menjadi tragedi.
Penulis : Rudi Salam
Editor : R'Salam
Sumber Berita: SUARA UTAMA. ID











Komentar
Silakan login untuk berkomentar.