Kontradiksi Kebijakan Penghentian Penerimaan Guru Honorer Versus Kekurangan Guru pada SMP dan SMA

- Publisher

Kamis, 18 Desember 2025 - 11:44 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA – Analisis Kritis: Kontradiksi Kebijakan Penghentian Penerimaan Guru Honorer Versus Kekurangan Guru pada Satuan Pendidikan SMP dan SMA

Keputusan pemerintah untuk menghentikan pengangkatan dan keberlanjutan tenaga honorer, termasuk guru honorer, telah menjadi salah satu polemik paling tajam di ranah pendidikan Indonesia hari ini. Kebijakan yang dimaksud bukan sekadar penataan administratif semata, tetapi juga refleksi dari perubahan besar dalam sistem kepegawaian negara yang dipicu oleh regulasi terbaru dan agenda reformasi birokrasi.

Secara hukum, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN), dengan tegas menyatakan bahwa status kepegawaian di instansi pemerintah hanya terdiri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Dengan berlakunya UU ini, keberadaan tenaga honorer sebagai kategori pekerjaan non-ASN secara bertahap dihapuskan, sehingga ruang bagi guru honorer untuk terus bekerja dalam status non-ASN semakin menipis. Pemerintah telah mengeluarkan surat edaran yang menegaskan bahwa status honorer akan dihapus total pada 2026, dan ini menjadi momentum akhir bagi honorer yang ingin beralih status ke ASN melalui jalur seleksi nasional (CASN) termasuk guru PPPK atau CPNS.

Di tengah perubahan besar tersebut, pemerintah menawarkan jalur PPPK sebagai “status sah” baru bagi guru honorer. Skema PPPK dianggap sebagai bentuk kompromi antara kebutuhan profesionalisme dan kebutuhan tenaga pendidik yang masih sangat besar, apalagi banyak guru honorer yang telah mengabdi puluhan tahun. Namun, proses seleksi PPPK bukan tanpa tantangan. Ada persyaratan administrasi, kualifikasi pendidikan, dan keharusan terdaftar dalam database BKN dan Dapodik yang membuat tidak semua honorer bisa dengan mudah beralih status.

Polemik ini berlangsung di tengah fakta bahwa Indonesia masih menghadapi kelangkaan guru di banyak wilayah, terutama di daerah terpencil, perbatasan, dan 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Kekurangan guru bukanlah permasalahan baru, berbagai data sebelumnya menunjukkan bahwa kebutuhan guru jauh melebihi jumlah pengajar yang tersedia, apalagi setelah sebagian guru pensiun tanpa cukup pengganti berkualifikasi.

Kebijakan yang terlalu cepat menghapus honorer tanpa transisi efektif berpotensi memperlebar celah ketimpangan ketersediaan guru. Ditambah adanya pembatasan porsi anggaran BOSP dalam Permendikdasmen Nomor 8 tahun 2025. Pembayaran gaji PTK honorer maksimal hanya 20%. Akibatnya, celah kesenjangan ketersediaan guru sesuai bidangnya di satuan pendidikan menjadi semakin menganga, karena sekolah tidak bisa membayar gaji honorer lebih dari ketentuan dan tidak boleh merekrut tenaga pendidik yang baru bila ada guru PNS pensiun, karena peluang telah ditutup. Aturan ini juga  melarang pembayaran gaji guru honor bila ia  tidak masuk ke data Dapodik.

BACA JUGA :  Dana Pensiun Indonesia: Dari Paham Menjadi Punya

Kebijakan pendidikan sejatinya harus menyeimbangkan kepatuhan terhadap aturan dan respons terhadap realitas sosial. Penataan tenaga pendidik dengan menghapus honorer sebagai status guru memang dapat dipahami sebagai upaya menuju profesionalisasi ASN yang lebih transparan dan berkelanjutan. Pada kondisi nyata, apakah pemerintah memahami bahwa setiap tahun ada beratus ribu guru PNS yang pensiun? Ada berapa cuman PPPK yang diangkat? Sebandingkah? Apabila kebijakan itu dilakukan tanpa melihat kondisi nyata yang ada di satuan pendidikan tingkat SMP dan SMA yang pada saat ini mengalami kekurangan pada banyak mata pelajaran tertentu, serta tanpa pemetaan kebutuhan guru yang akurat, maka  kebijakan tersebut bisa menimbulkan pelemahan bagi kualitas pendidikan nasional. Tidaklah mungkin guru mata pelajaran tertentu yang hanya menguasai bidang studinya disuruh mengajar bidang studi lain. Dimana nanti letak aspek profesionalisme guru tersebut? Wallahualam menguasai kompetensi pembelajaran di luar bidang studinya.

BACA JUGA :  Pamit di Podium Kemerdekaan ​Momen Perpisahan dan Tugas Terakhir

Negara perlu memastikan bahwa setiap langkah regulasi mengikuti asas keadilan, keberpihakan pada pendidikan, serta tidak menggusur tenaga guru dari perannya tanpa memberi alternatif yang setara. Hanya melalui transisi yang adil, jelas, dan berorientasi pada kebutuhan sekolah, kita bisa menjembatani kontradiksi antara penataan birokrasi dan kebutuhan mendesak akan guru yang kompeten di seluruh Indonesia.

Mengingat kondisi nyata yang terjadi di lapangan saat ini, sebagai masukan yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah pusat, untuk mengevaluasi kembali kebijakan penghentian penerimaan tenaga honorer fungsional guru untuk segera dibatalkan. Berikanlah peluang ke satuan pendidikan untuk mengangkat honorer guru tertentu agar gurunya tidak kurang di sekolah itu. Sungguh menyedihkan di sebuah sekolah ada beberapa guru mata pelajaran tertentu yang nihil. Lalu kepala sekolah mengambil kebijakan asalkan ada yang mengajarkan, maka solusi hanya guru mata pelajaran lain mengajarkan mata pelajaran yang tak ada gurunya. Jika kondisinya demikian, mungkinkah tercapai kualitas pendidikan yang diharapkan? Untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) saja mungkin sulit untuk dicapai. (18/12)

Penulis : Suwardi

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama. Id

Berita Terkait

Paroki Idakebo Sambut Bulan Maria dengan Perarakan Patung Bunda Maria, Doa Rosario, dan Perayaan Ekaristi
Itjen Kementrian ATR/BPN Jakarta Pusat Investigasi ATR/BPN Kabupaten Probolinggo, APH di Minta Segera Ambil Bagian 
Penyidikan Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek – KRL Bekasi, Polisi Tetapkan Masinis Tersangka
Dua Speedboat Hadir di Sukikai Selatan, Kepala Distrik: Ini Sejarah Baru bagi Kami
Siswa SDN 66 Jelatang I Diduga Dikeroyok Enam Teman di Dalam Kelas, Orang Tua Tempuh Jalur Hukum
Sarbumusi Kota Batu Peringati Harlah ke-71, Perkuat Silaturahmi dan Perjuangan Buruh
Pengurus RAPI 05 Prabumulih Resmi Dilantik, Herwan Widodo Jadi Ketua
Vonis Ringan Terhadap Terdakwa Pemalsuan SK ASN di Gresik
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:19 WIB

Paroki Idakebo Sambut Bulan Maria dengan Perarakan Patung Bunda Maria, Doa Rosario, dan Perayaan Ekaristi

Rabu, 30 September 2026 - 19:31 WIB

Itjen Kementrian ATR/BPN Jakarta Pusat Investigasi ATR/BPN Kabupaten Probolinggo, APH di Minta Segera Ambil Bagian 

Rabu, 30 September 2026 - 06:20 WIB

Dua Speedboat Hadir di Sukikai Selatan, Kepala Distrik: Ini Sejarah Baru bagi Kami

Senin, 28 September 2026 - 21:43 WIB

Siswa SDN 66 Jelatang I Diduga Dikeroyok Enam Teman di Dalam Kelas, Orang Tua Tempuh Jalur Hukum

Minggu, 27 September 2026 - 12:59 WIB

Sarbumusi Kota Batu Peringati Harlah ke-71, Perkuat Silaturahmi dan Perjuangan Buruh

Berita Terbaru

https://mancingjitu.com/