Dekat Kantor Bupati, Tapi Terlupakan: Kisah Pilu Warga Maki Paket

- Publisher

Sabtu, 2 Agustus 2025 - 20:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA, NAGEKEO NTT

Di balik megahnya pembangunan di pusat Kabupaten Nagekeo, tersembunyi sebuah kampung kecil yang seolah tak pernah masuk dalam peta keadilan pembangunan. Maki Paket, nama kampung itu. Terletak di Kelurahan Mbay II, Kecamatan Aesesa, wilayah ini sebenarnya hanya berjarak beberapa kilometer dari kantor Bupati Nagekeo. Tapi soal pembangunan? Warganya seakan hidup ratusan kilometer dari perhatian pemerintah.

Sekilas Dekat, Tapi Sejauh-Jauhnya dari Pemerataan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Maki Paket terdiri dari dua Rukun Tetangga (RT) dengan sekitar 52 kepala keluarga. Meski secara geografis dekat dari pusat pemerintahan, kondisi infrastruktur dan pelayanan publik di sana sangat memprihatinkan.

“Kalau om mau ke Maki Paket, jangan lewat jalan baru yang digusur tahun 2013. Nanti om tidak bisa balik. Jalan itu sekarang tergenang air, motor bisa macet. Kalau mau, putar jauh lewat jalan PT Cheetham,” ujar Paulus Ratu, pemuda asal Maki Paket, kepada Media Suara Utama.

BACA JUGA :  Semua Hanya Titipan Allah

Jalan yang dimaksud Paulus adalah akses utama warga yang pernah dijanjikan akan ditingkatkan. Kala itu, pembangunan jalan sempat disentuh melalui proyek era kepemimpinan sebelumnya. Tapi seiring waktu dan bergantinya kepala daerah, janji itu ikut terkubur bersama lumpur yang kini menenggelamkan jalan mereka.

“Jalan itu sempat jadi prioritas, kami dengar begitu. Tapi sekarang sudah ganti bupati. Kami hanya berharap yang baru tidak lupa kami,” tambah Paulus.

Listrik? Tiangnya Ada. Tapi Arusnya Entah Ke Mana

Tak hanya soal jalan, listrik juga menjadi mimpi panjang yang belum menyala. Di kampung itu, tiang-tiang listrik berdiri kokoh, seolah membawa harapan. Namun kenyataan berkata lain: tidak ada kabel, tidak ada arus.

“Kami tidak tahu kabelnya ke mana. Yang ada hanya tiang. Jadi sampai sekarang kami masih bergantung pada panel surya bantuan dari Yayasan Wadah Foundation. Puji Tuhan, panel itu masih berfungsi sampai hari ini,” kata Paulus.

BACA JUGA :  7 Tips Menjadi Wartawan Kompeten di Era Digital

Ia menyebut, bantuan panel surya itu bisa hadir berkat dukungan dari Kaka Yan Siga, seorang anggota DPR yang selama ini diam-diam memperhatikan warga kampung kecil tersebut. “Kalau tidak ada Kaka Yan, mungkin kami masih gelap total,” ujarnya.

Air Bersih: Bantuan Ada, Tapi Hanya Untuk Seremonial

Warga Maki Paket juga pernah menerima bantuan sumur bor dari Polres Nagekeo sekitar dua tahun lalu. Namun lagi-lagi, itu tidak benar-benar menjadi solusi.

(Kampung maki Paket Foto: Venus j )

“Sumur itu sempat dipakai sebentar saja. Habis itu, mesin dan fiber-nya hilang entah ke mana. Sekarang yang tersisa hanya besinya. Kami tidak pernah benar-benar menikmati air bersih dari sumur itu,” keluh warga.

Akhirnya, air hujan dan aliran dari sumber alam yang jauh jadi harapan terakhir. Di musim kering, mereka harus menempuh jarak untuk mendapatkan air. Bukan hanya melelahkan, tapi juga sangat berisiko bagi lansia dan anak-anak.

BACA JUGA :  Pemerintah Resmi Tetapkan Idul Adha 2026 Jatuh pada 27 Mei 2026

Warga Bertahan, Tapi Sampai Kapan?

Di tengah semua keterbatasan itu, warga Maki Paket tetap bertahan. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya ingin akses jalan yang layak, air bersih yang mengalir, dan listrik yang benar-benar menyala tiga kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi hak semua warga negara.

“Kami ini bukan di gunung atau pulau terpencil. Kami ini hanya di belakang kantor bupati. Tapi rasanya seperti tinggal di dunia lain,” ujar seorang ibu rumah tangga yang enggan disebutkan namanya.

Melalui rilis ini, Media Suara Utama mengetuk hati pemerintah daerah dan semua pihak yang berwenang pembangunan yang adil bukan hanya tentang beton dan proyek, tetapi tentang kehadiran nyata untuk mereka yang selama ini luput dari perhatian.

Penulis: Severinus je

Sumber Berita: Suara Utama

Berita Terkait

Fahry Lamato Buka Suara Soal Isu SARA: “Jangan Ada Upaya Mengadu Domba Masyarakat Bitung”
Dinamika Persaingan Media di Makassar dan Gowa Jadi Sorotan, Profesionalisme Pers Dipertanyakan
Self Healing Talk & Workshop Bouquet untuk Muslimah
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau. Terbitkan Surat Edaran Pelaku Usaha dan Industri Wajib Kelola Sampah Mandiri Mulai 16 Maret 2026
Tebar 45 Ekor Sapi Kurban, Ridwan Wittiri: Idul Adha Momentum Perkuat Solidaritas dan Kemanusiaan
Ratusan Massa Akan Kepung Balaikota dan PDAM Makassar, GEMPAK-HAM Soroti Krisis Air Bersih
PREDIKSI JITU dan AKURAT: Persib Menuju Singgasana Keabadian Hat-trick Champion, Rekor Tak Terkalahkan di Kandang, dan Dipastikan Terima Bintang Kelima Besok Sore!
Penegakan UU Minerba di Jeneponto Dipertanyakan, Respons Polres Dinilai Lemah
Berita ini 279 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 02:13 WIB

Fahry Lamato Buka Suara Soal Isu SARA: “Jangan Ada Upaya Mengadu Domba Masyarakat Bitung”

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:13 WIB

Dinamika Persaingan Media di Makassar dan Gowa Jadi Sorotan, Profesionalisme Pers Dipertanyakan

Jumat, 22 Mei 2026 - 22:12 WIB

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau. Terbitkan Surat Edaran Pelaku Usaha dan Industri Wajib Kelola Sampah Mandiri Mulai 16 Maret 2026

Jumat, 22 Mei 2026 - 16:07 WIB

Tebar 45 Ekor Sapi Kurban, Ridwan Wittiri: Idul Adha Momentum Perkuat Solidaritas dan Kemanusiaan

Jumat, 22 Mei 2026 - 12:04 WIB

Ratusan Massa Akan Kepung Balaikota dan PDAM Makassar, GEMPAK-HAM Soroti Krisis Air Bersih

Berita Terbaru

Moslem Woman Silhouette in Old Vintage Brick Wall Background

Artikel

Muslimah: Let’s Say “No” to Hopelessness 

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:12 WIB