SUARA UTAMA,Merangin— Pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Kolonel Abundjani Bangko kembali mendapat sorotan. Kali ini, seorang pasien perempuan yang tengah hamil tujuh bulan disebut mengalami sesak pada pernapasan dan diduga tidak mendapatkan penanganan medis secara cepat sebagaimana yang diharapkan pihak keluarga.
Keluhan tersebut disampaikan Tabroni, orang tua pasien bernama Dian. Kepada media ini, Tabrani mengaku kecewa terhadap pelayanan yang diterima anaknya ketika dibawa ke IGD RSUD Kolonel Abundjani Bangko. Senin (31/8/26).
Menurut Tabroni, sebelum membawa Dian ke rumah sakit, pihak keluarga terlebih dahulu membawa pasien berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan, dr. Kusairi. Karena kondisi pasien mengalami sesak pada pernapasan dan sedang dalam kondisi hamil tujuh bulan, keluarga kemudian disarankan untuk membawa pasien ke rumah sakit.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengingat lokasi RSUD Kolonel Abundjani Bangko cukup dekat dengan kediamannya, Tabroni memilih membawa anaknya ke rumah sakit milik pemerintah tersebut.
Namun, setibanya di IGD, Tabrani mengaku justru merasa kebingungan lantaran keluarganya disebut diarahkan dari satu bagian ke bagian lainnya. Ia juga mengaku sempat ditanyakan mengenai surat pengantar dari dokter yang sebelumnya menangani Dian.
“Ya, Bang. Sebelumnya anak saya yang hamil tujuh bulan mengalami sesak pada pernapasan. Saya bawa ke dokter spesialis kandungan, Pak Kusairi, dan disarankan untuk dibawa ke rumah sakit umum,” ujar Tabrani.
“Karena rumah saya dekat dengan rumah sakit umum dan mengingat istri saya juga berjualan dari pagi sampai sore, saya memilih RSUD Kolonel Abundjani yang dekat dengan kediaman saya,” sambungnya.
Tabrani mengaku semakin kecewa karena menurutnya, dalam kondisi tersebut anaknya membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin. Ia menyebut sekitar 15 menit anaknya berada dalam kondisi yang menurutnya belum mendapatkan pertolongan medis sebagaimana yang diharapkan.
“Setibanya di IGD kami malah dilempar sana-sini. Bahkan ditanya surat pengantar dari Pak Kusairi, dan tentunya tidak ada. Saya sangat menyayangkan. Seharusnya cepat diambil tindakan karena ini menyangkut nyawa. Selama 15 menit anak saya tergantung-gantung, tidak diberikan pertolongan medis,” ungkapnya.
Merasa kecewa dengan pelayanan yang diterima, Tabrani akhirnya memutuskan meninggalkan RSUD Kolonel Abundjani Bangko dan membawa Dian ke Rumah Sakit Merangin Medical Center (MMC).
Menurutnya, setibanya di MMC, Dian langsung mendapatkan pelayanan medis dan penanganan yang dinilainya lebih cepat.
“Untuk itu saya meninggalkan rumah sakit tersebut dengan membawa anak saya dan berpindah ke MMC. Dengan penuh kekecewaan, alhamdulillah setelah di MMC kami langsung mendapatkan pelayanan tanpa membutuhkan waktu lama dan cepat tanggap. Beda dengan pelayanan yang ada di RSUD milik pemerintah tersebut,” kata Tabroni.
Tabroni juga mengungkapkan bahwa ketika Dian masih berada di IGD RSUD Kolonel Abundjani Bangko, dirinya sempat menghubungi Plt Direktur RSUD Kolonel Abundjani Bangko, dr. Irwan Kurniawan.
Ia mengatakan, dalam komunikasi tersebut dirinya kemudian diberikan nomor telepon kepala ruangan bernama Andika untuk membantu menangani persoalan yang dialaminya.
“Iya, Bang. Saya waktu anak saya berada di IGD sempat menelepon Pak Direktur. Saya kemudian diberi nomor telepon kepala ruangan yang bernama Andika. Setelah itu saya dihubungi Andika,” jelas Tabroni.
Namun, menurut Tabroni, saat itu dirinya sudah terlanjur kecewa dan memilih membawa anaknya ke rumah sakit lain.
“Saya sudah terlanjur kecewa karena saya menganggap pelayanan terhadap pasien di RSUD Bangko ini sangat buruk,” ujarnya.
Keluhan keluarga pasien tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana standar pelayanan dan respons petugas IGD terhadap pasien dengan kondisi khusus, terutama pasien hamil yang datang dengan keluhan sesak pada pernapasan.
Hingga berita ini ditayangkan, keterangan mengenai kronologi dari pihak keluarga tersebut masih merupakan versi Tabroni selaku orang tua pasien. Media ini belum memperoleh penjelasan resmi dari manajemen RSUD Kolonel Abundjani Bangko terkait prosedur pelayanan terhadap Dian, alasan pasien belum mendapatkan penanganan sesuai harapan keluarga, maupun klarifikasi mengenai dugaan lambannya respons petugas IGD.
Media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak manajemen RSUD Kolonel Abundjani Bangko maupun pihak-pihak terkait untuk memberikan penjelasan secara utuh mengenai peristiwa tersebut.
Penulis : Ady Lubis
Sumber Berita: Wartawan Suara Utama











