12 Karyawan, Produksi 700 Kotak Roti Sehari, Naqi Cake Mengaku Tak Pernah Dilirik Pemerintah Merangin

- Publisher

Minggu, 30 Agustus 2026 - 20:34 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA,Merangin — Di tengah gencarnya pemerintah mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat, masih ada pelaku usaha di Kabupaten Merangin yang mengaku belum pernah merasakan sentuhan program maupun perhatian dari pemerintah daerah.

Salah satunya adalah Naqi Cake, usaha rumahan milik Makrifatul Hasanah, atau yang lebih akrab disapa Mbak Rifah, warga Desa Rasau, Kecamatan Renah Pamenang, Kabupaten Merangin.

Usaha yang dirintis secara mandiri sejak 2013 tersebut kini telah berkembang cukup pesat. Berawal dari peralatan sederhana berupa mixer rumahan dan oven warisan keluarga, Naqi Cake perlahan tumbuh menjadi salah satu usaha kuliner yang dikenal masyarakat di Kabupaten Merangin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berbagai produk kue dan roti diproduksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, mulai dari pesanan ulang tahun, acara keluarga, hajatan, pernikahan hingga berbagai kegiatan masyarakat lainnya.

Yang menarik, perkembangan Naqi Cake tidak hanya berbicara mengenai omzet atau produksi. Di balik usaha tersebut, terdapat puluhan orang yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan yang tersedia di sana.

Dalam keterangannya, Mbak Rifah menyebut saat ini usaha yang dikelolanya telah memiliki sekitar 12 orang karyawan yang terlibat dalam proses produksi.

Para pekerja tersebut berasal dari berbagai latar belakang. Ada ibu rumah tangga, perempuan yang berstatus single parent, hingga sejumlah anak muda dan guru yang menjadikan pekerjaan di Naqi Cake sebagai tambahan penghasilan.

Bahkan, sejumlah karyawan disebut memiliki latar belakang pendidikan perguruan tinggi, termasuk mereka yang sedang menempuh pendidikan dan menyandang gelar sarjana.

Kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Sebab, ketika sebuah usaha kecil mampu bertahan dengan modal pribadi, berkembang secara mandiri dan sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, keberadaannya bukan lagi sekadar urusan bisnis pribadi.

BACA JUGA :  Ahmad Fahmi Desak Bupati Merangin Segera Jalankan Putusan PTUN Terkait Kades Saliman

Usaha seperti ini secara tidak langsung telah ikut membantu pemerintah dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Namun, di balik perjalanan panjang tersebut, tersimpan sebuah kekecewaan.

Mbak Rifah mengaku hingga saat ini belum pernah mendapatkan bantuan maupun program pembinaan dari pemerintah desa, kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten Merangin untuk pengembangan usahanya.

Bantuan yang pernah diterimanya, menurut pengakuannya, hanya bantuan saat pandemi COVID-19 sebesar Rp300 ribu dan diberikan satu kali.

Padahal, dirinya melihat sejumlah pelaku UMKM di daerah lain justru mendapatkan perhatian berupa bantuan modal, sponsor maupun kegiatan seminar dan pembinaan.

Hal inilah yang kemudian membuat dirinya bertanya-tanya, apakah usaha yang selama ini dirintis dengan uang pribadi dan telah mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat memang belum layak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

“Dari tahun 2013 saya buat sendiri, promosi sendiri. Alhamdulillah sekarang sudah punya 12 karyawan yang membantu produksi,” demikian salah satu bagian curahan hati Mbak Rifah.

Ia mengaku tidak meminta sesuatu yang berlebihan.

Untuk meningkatkan kenyamanan dan kapasitas produksi, dirinya hanya berharap pemerintah dapat membantu menyediakan tiga unit meja stainless yang akan digunakan untuk menunjang proses produksi.

Permintaan tersebut terdengar sederhana. Namun bagi pelaku usaha rumahan seperti Naqi Cake, fasilitas produksi yang layak tentu memiliki arti penting dalam meningkatkan kapasitas sekaligus menjaga kebersihan dan kualitas produk.

Terlebih, produksi roti sobek Naqi Cake saat ini disebut telah mampu mencapai sekitar 600 hingga 700 kotak per hari.

Angka tersebut menunjukkan bahwa usaha rumahan yang dibangun secara bertahap itu bukanlah usaha yang berjalan tanpa perkembangan.

Dari yang awalnya hanya mengandalkan mixer sederhana dan oven warisan nenek, kini Naqi Cake telah mampu menggunakan oven deck dan mixer heavy duty untuk memenuhi permintaan konsumen.

BACA JUGA :  Maba UNILA Diduga Dihalangi Menjalankan Salat, Masyarakat Minta Panitia Dievaluasi

Jangan Hanya Datang Saat UMKM Sudah Besar

Kisah Naqi Cake juga menjadi sebuah pertanyaan bagi pemerintah: sejauh mana perhatian terhadap pelaku UMKM yang tumbuh dari bawah dengan modal sendiri?

Jangan sampai perhatian pemerintah terhadap UMKM hanya terlihat ketika usaha tersebut sudah besar, memiliki nama dan mudah dipublikasikan.

Justru usaha-usaha kecil yang sejak awal bertahan dengan kemampuan sendiri, membuka lapangan pekerjaan dan melayani kebutuhan masyarakat sekitar semestinya menjadi salah satu kelompok yang aktif dijangkau melalui program pembinaan.

Mbak Rifah pun berharap Pemerintah Kabupaten Merangin, khususnya Bupati Merangin, dapat melihat secara langsung kondisi usaha yang dijalankannya.

Ia tidak meminta pemerintah percaya begitu saja terhadap apa yang disampaikannya.

Menurutnya, pemerintah dapat melakukan survei dan pengecekan langsung ke lokasi usaha Naqi Cake di Desa Rasau untuk melihat kondisi produksi, jumlah pekerja, kapasitas usaha hingga kebutuhan yang memang diperlukan.

Dengan demikian, bantuan yang diberikan nantinya benar-benar berdasarkan kondisi di lapangan, bukan sekadar proposal di atas kertas.

Pemerintah Desa dan Kecamatan Juga Dipertanyakan.
Sorotan bukan hanya ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten Merangin.

Mbak Rifah juga mempertanyakan keberadaan pemerintah desa dan kecamatan dalam mendampingi pelaku usaha di wilayahnya.

Sebab, menurut pengakuannya, selama menjalankan usaha hingga berkembang seperti sekarang, belum ada perhatian maupun pendampingan berarti dari pemerintah desa maupun kecamatan.

Di sisi lain, dirinya melihat pelaku UMKM di sejumlah desa lain mendapatkan berbagai bentuk perhatian dan kegiatan pembinaan.

Kondisi tersebut tentu menimbulkan tanda tanya sekaligus rasa kecewa bagi pelaku usaha yang selama bertahun-tahun berjuang secara mandiri.

Bukan soal iri terhadap bantuan yang diterima pelaku UMKM lain.

BACA JUGA :  Undangan Sudah Beredar, Musdalub APKASINDO Merangin Terancam Batal Digelar

Namun, pertanyaannya sederhana: kalau usaha yang sudah berjalan bertahun-tahun, mampu mempekerjakan masyarakat dan memiliki produksi ratusan kotak per hari saja belum tersentuh program pemerintah, lalu pelaku usaha seperti apa yang sebenarnya menjadi sasaran perhatian pemerintah?

Pertanyaan tersebut tentunya menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah desa, kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten Merangin.

Melalui curahan hatinya, Mbak Rifah menyampaikan harapan kepada Bupati Merangin agar pemerintah tidak hanya mendengar keluhan pelaku UMKM, tetapi juga hadir dan melihat langsung potensi usaha masyarakat.

Ia berharap Naqi Cake dapat menjadi salah satu UMKM yang mendapatkan pembinaan, pendampingan, fasilitas produksi maupun akses program pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Tidak banyak, tiga meja stainless saja,” menjadi gambaran sederhana mengenai harapan yang disampaikan pemilik Naqi Cake.

Bagi sebagian orang, tiga meja mungkin bukan sesuatu yang besar.

Tetapi bagi sebuah usaha rumahan yang setiap harinya memproduksi ratusan kotak roti dan menjadi sumber penghasilan bagi belasan pekerja, fasilitas tersebut bisa menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kapasitas produksi.

Kini, tinggal bagaimana pemerintah meresponsnya.

Apakah keluhan pelaku UMKM seperti Naqi Cake hanya akan berhenti sebagai curahan hati di media sosial, atau justru menjadi pintu masuk bagi pemerintah untuk turun langsung, melakukan verifikasi dan melihat potensi ekonomi masyarakat yang selama ini tumbuh dengan kekuatan sendiri.

Sebab, pembangunan ekonomi daerah tidak selalu harus dimulai dari perusahaan besar.

Kadang, ia justru tumbuh dari dapur-dapur kecil milik masyarakat yang berjuang setiap hari, membuka lapangan pekerjaan, membayar upah karyawan dan memenuhi kebutuhan warga di sekitarnya.

Dan Naqi Cake adalah salah satu contohnya.

Kini pertanyaannya: kapan pemerintah desa, kecamatan dan Kabupaten Merangin benar-benar menoleh?

Penulis : Ady Lubis

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Viral! Dugaan Aktivitas Dompeng di Tengah Kota Bangko Disorot Publik, Warga Khawatir Anak-Anak Jadi Korban
Suara Utama Buka Ruang Berkarya bagi Penulis, Jurnalis dan Wartawan di Indonesia
Peduli Kesehatan di Tengah Kabut Asap, Lapas Bangko Bagikan Masker dan Vitamin kepada Masyarakat
Jaga Kesehatan, Perkuat Pembinaan. Warga Binaan Lapas Bangko Jalani Pemeriksaan Kesehatan
Lapas Bangko Gelar Doa Bersama untuk Keselamatan Jurnalis dan Awak Kapal yang Hilang Kontak
Dedikasi Membuahkan Hasil: Delegasi SMA Ar Rohmah Guncang Panggung Asean Olympiad 2026 dengan Sederet Kemenangan
Yayasan Suara Utama Indonesia Soroti Polemik Sound Horeg dan Etika, Pernyataan “Goblok” Jadi Sorotan
Puluhan Dompeng Rakit Gegerkan Tanjung Lamin, Warga Sebut Oknum BPD dan RT Terlibat PETI: “Jangan Hanya Imbauan!”
Berita ini 245 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 19:48 WIB

Viral! Dugaan Aktivitas Dompeng di Tengah Kota Bangko Disorot Publik, Warga Khawatir Anak-Anak Jadi Korban

Jumat, 11 September 2026 - 18:16 WIB

Suara Utama Buka Ruang Berkarya bagi Penulis, Jurnalis dan Wartawan di Indonesia

Jumat, 11 September 2026 - 14:36 WIB

Peduli Kesehatan di Tengah Kabut Asap, Lapas Bangko Bagikan Masker dan Vitamin kepada Masyarakat

Jumat, 11 September 2026 - 14:30 WIB

Jaga Kesehatan, Perkuat Pembinaan. Warga Binaan Lapas Bangko Jalani Pemeriksaan Kesehatan

Jumat, 11 September 2026 - 14:25 WIB

Lapas Bangko Gelar Doa Bersama untuk Keselamatan Jurnalis dan Awak Kapal yang Hilang Kontak

Berita Terbaru

https://mancingjitu.com/