Perpajakan Selebgram Anak, Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?

- Publisher

Jumat, 26 Desember 2025 - 19:45 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar: Ilustrasi kalkulator dengan tampilan "TAX-2025" menggambarkan perencanaan dan pengelolaan pajak untuk tahun 2025 (Eko Wahyu/SUARA UTAMA)

Gambar: Ilustrasi kalkulator dengan tampilan "TAX-2025" menggambarkan perencanaan dan pengelolaan pajak untuk tahun 2025 (Eko Wahyu/SUARA UTAMA)

SUARA UTAMA, Surabaya – Perkembangan media sosial telah menciptakan beragam profesi baru, salah satunya adalah selebriti Instagram atau selebgram. Fenomena ini tidak hanya diikuti oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang memiliki popularitas tinggi di dunia maya. Sejumlah selebgram cilik kini aktif terlibat dalam kerja sama komersial, mulai dari endorsement hingga iklan produk.

Keberadaan selebgram cilik ini menimbulkan pertanyaan di bidang perpajakan, khususnya mengenai kewajiban pajak bagi anak yang belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Dalam praktiknya, banyak agensi atau perusahaan yang meminta Nomor Induk Kependudukan (NIK) anak untuk keperluan administrasi perpajakan, termasuk pembuatan bukti potong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21.

Pemotongan Pajak Penghasilan untuk Selebgram Cilik

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Otoritas pajak, melalui informasi yang disampaikan di laman Pajak.go.id, menegaskan bahwa pemberi penghasilan tetap wajib memotong PPh Pasal 21 atas penghasilan yang diterima oleh selebgram cilik. Dengan implementasi sistem Coretax DJP, proses pemotongan pajak ini kini dapat dilakukan dengan menggunakan NIK anak, meskipun anak tersebut belum memiliki NPWP.

Namun, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana penghasilan tersebut dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan?

BACA JUGA :  Silatnas dan Milad 2026 Perkuat Ukhuwah, Komitmen, dan Kompetensi Anggota AR Learning Center serta Suara Utama

Penggabungan Penghasilan Anak dalam SPT Tahunan Orang Tua

Di dalam sistem perpajakan Indonesia, keluarga diperlakukan sebagai satu kesatuan ekonomis. Berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan, seluruh penghasilan anggota keluarga digabungkan dan kewajiban perpajakannya dilaksanakan oleh kepala keluarga. Dengan kata lain, penghasilan anak yang belum dewasa, termasuk dari aktivitas sebagai selebgram, tidak perlu dilaporkan secara terpisah. Anak tidak diwajibkan untuk menyampaikan SPT Tahunan sendiri. Penghasilan anak akan digabungkan dengan penghasilan orang tua, khususnya ayah sebagai kepala keluarga, dan dilaporkan dalam SPT Tahunan orang tua tersebut.

Peraturan Perpajakan Anak dalam Data Unit Keluarga (DUK)

Ketentuan ini juga dijelaskan lebih lanjut dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-7/PJ/2025, yang menyatakan bahwa hak dan kewajiban perpajakan anak dilaksanakan sepanjang anak tersebut tercatat dalam Data Unit Keluarga (DUK) untuk keperluan administrasi pajak. DUK mencatat semua anggota keluarga yang terdaftar dalam kartu keluarga.

Dengan demikian, meskipun bukti potong PPh Pasal 21 diterbitkan atas nama anak dengan menggunakan NIK, penghasilan dari selebgram cilik tetap dianggap sebagai bagian dari penghasilan orang tua. Penghasilan ini dilaporkan dalam SPT Tahunan orang tua pada bagian penghasilan neto dalam negeri yang terkait dengan usaha dan/atau pekerjaan bebas.

BACA JUGA :  SPBU Kalaserenna Diserbu Mobil Siluman, Warga Desak Polisi Turun Tangan

Pajak yang Telah Dipotong: Pengaruhnya dalam SPT Tahunan Orang Tua

Selain itu, pajak yang telah dipotong atas penghasilan anak juga tidak hilang begitu saja. Nilai PPh Pasal 21 yang tercantum dalam bukti potong dapat dikreditkan sebagai kredit pajak dalam SPT Tahunan orang tua, yang akan mengurangi pajak terutang pada akhir tahun.

Namun, orang tua harus memastikan bahwa data penghasilan dan kredit pajak yang dilaporkan sudah sesuai. Jika suatu saat terjadi klarifikasi oleh Direktorat Jenderal Pajak, wajib pajak diharapkan dapat menunjukkan dokumen pendukung seperti kontrak kerja sama, invoice, serta bukti transfer penghasilan anak.

Kepatuhan Administratif untuk Menghindari Masalah Pajak di Masa Depan

Kepatuhan administratif sejak awal sangat penting untuk mencegah potensi masalah hukum di masa depan. Hal ini juga mencerminkan praktik perpajakan yang transparan dan bertanggung jawab di era ekonomi digital.

Pendapat Advokat Yulianto Kiswocahyono: Kewajiban Perpajakan Orang Tua atas Penghasilan Anak

Menurut Advokat Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, yang juga merupakan konsultan pajak dan Ketua Komite Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur, fenomena selebgram cilik ini seharusnya disikapi dengan pemahaman yang baik terkait kewajiban perpajakan. “Meskipun anak-anak tidak diwajibkan memiliki NPWP, penghasilan yang mereka terima dari aktivitas komersial seperti endorsement atau iklan tetap menjadi objek pajak. Penghasilan tersebut digabungkan dengan penghasilan orang tua dan dilaporkan dalam SPT Tahunan orang tua,” ujar Yulianto.

BACA JUGA :  Kanwil Kemenkum Sulut dan Bapelkum Bitung Ziarah ke TMP Kairagi Sambut Hari Pengayoman Ke-81

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam memastikan pengelolaan pajak anak dilakukan dengan benar. “Orang tua harus memastikan bahwa bukti potong PPh Pasal 21 yang diterbitkan atas nama anak tercatat dengan benar dalam SPT Tahunan orang tua. Jika terjadi ketidaksesuaian, orang tua harus siap dengan dokumen pendukung, seperti kontrak kerja sama dan bukti transfer penghasilan,” tambahnya.

Pentingnya Transparansi dalam Administrasi Pajak Selebgram Cilik di Era Digital

Yulianto juga mengingatkan pentingnya transparansi dalam administrasi pajak, terutama di era digital. “Sebagai konsultan pajak dan Ketua Komite Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur, saya selalu mengingatkan bahwa pengelolaan pajak yang baik tidak hanya menghindari masalah hukum, tetapi juga menciptakan ekosistem perpajakan yang sehat dan transparan,” ujarnya.

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

BEMNUS Sulawesi Barat Soroti Rencana Pengangkatan Kembali Nakes PPPK di Mamuju : “Jangan Jadikan Tenaga Kesehatan Korban Kebijakan Anggaran
Bapelkum Bitung Dorong Pelayanan Hukum Makin Dekat dengan Masyarakat
Jam Pelayanan Masih Berlangsung, BEMNUS Sulbar Soroti Kosongnya Loket Layanan Disdikpora Majene
Semangat Pengayoman Menggelora, Bapelkum Bitung Meriahkan Fun Walk Sambut HUT RI ke-81
Semarak HUT RI ke-81, Lapas Kelas IIB Bangko Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk Warga Binaan, Keluarga dan Masyarakat
Bapelkum Bitung Tebar Kepedulian, Bagikan Sembako untuk Security dan TAD Sambut HUT RI ke-81
Bapelkum Bitung dan BNNK Perkuat Sinergi Sambut HUT RI ke-81
Diduga Minim Pelayanan Saat Jam Kerja, Warga Kampung Baruh Desak Evaluasi Kinerja Lurah dan Pegawai
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:24 WIB

BEMNUS Sulawesi Barat Soroti Rencana Pengangkatan Kembali Nakes PPPK di Mamuju : “Jangan Jadikan Tenaga Kesehatan Korban Kebijakan Anggaran

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:19 WIB

Bapelkum Bitung Dorong Pelayanan Hukum Makin Dekat dengan Masyarakat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 00:07 WIB

Jam Pelayanan Masih Berlangsung, BEMNUS Sulbar Soroti Kosongnya Loket Layanan Disdikpora Majene

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:47 WIB

Semangat Pengayoman Menggelora, Bapelkum Bitung Meriahkan Fun Walk Sambut HUT RI ke-81

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:39 WIB

Semarak HUT RI ke-81, Lapas Kelas IIB Bangko Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk Warga Binaan, Keluarga dan Masyarakat

Berita Terbaru

mancingjitu slot thailand slot thailand