Pengangguran Naik, Daya Beli Turun: Cermin Retaknya Fondasi Ekonomi Indonesia?

- Publisher

Rabu, 30 Juli 2025 - 13:40 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Gambar Steve jobs, Selebriti, terkenal. (Pixabay)

Ilustrasi Gambar Steve jobs, Selebriti, terkenal. (Pixabay)

– EDITORIAL –

SUARA UTAMA –Optimisme pemerintah soal pertumbuhan ekonomi nasional nyatanya belum mampu menjangkau realitas rakyat di lapangan. Di tengah klaim pemulihan ekonomi pasca pandemi dan masuknya investasi asing, sinyal-sinyal bahaya justru muncul dari akar rumput: angka pengangguran kembali meningkat, dan daya beli masyarakat menurun.

Pemandangan ini terasa nyata di kota dan desa. Pedagang pasar tradisional mengeluh sepi, buruh lepas menanti pekerjaan yang tak kunjung datang, dan generasi muda menghadapi langkanya kesempatan kerja layak. Bersamaan dengan itu, harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Statistik Tak Mewakili Isi Dompet Rakyat

Badan Pusat Statistik mencatat, pengangguran terbuka mengalami kenaikan, terutama di daerah urban. Sementara itu, laporan dari berbagai lembaga menunjukkan daya beli rumah tangga menurun lebih dari 10 persen dalam setahun terakhir. Sektor informal yang selama ini menopang mayoritas rakyat justru kini berguguran satu per satu akibat lemahnya perputaran ekonomi riil.

BACA JUGA :  Pernyataan Hotman Paris, Pemred SUARA UTAMA Ajak Hormati Profesi Wartawan

Laporan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif seakan tak mampu menjawab satu pertanyaan krusial: tumbuh untuk siapa?

Sumber Masalah: Fondasi Ekonomi yang Rentan

Ada empat akar persoalan utama yang patut dikritisi:

  1. Pertumbuhan Tak Merata
    Sektor yang menyerap tenaga kerja besar—seperti pertanian, industri kecil, dan manufaktur—justru tumbuh paling lambat. Sementara investasi besar cenderung padat modal, bukan padat karya.
  2. Upah Minimum vs Biaya Hidup
    Upah minimum di banyak daerah tidak sebanding dengan kenaikan harga pangan, listrik, dan transportasi. Sistem kerja kontrak dan outsourcing juga memperlemah kepastian kerja.
  3. Kebijakan Inflasi yang Gagal Menyentuh Rakyat
    Stabilitas harga hanya terasa di ruang rapat, bukan di pasar rakyat. Kenaikan harga beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lain kian menekan keluarga kelas menengah ke bawah.
  4. Digitalisasi yang Tak Ramah Pekerja
    Percepatan teknologi memang penting, tetapi harus dibarengi dengan upskilling tenaga kerja. Tanpa itu, digitalisasi hanya akan memperluas jurang pengangguran terselubung.
BACA JUGA :  KKN UMAHA Hadir untuk UMKM Desa KarangTanjung melalui Pendampingan Penerbitan NIB

Risiko Sosial: Menuju Krisis Senyap?

Jika tren ini dibiarkan, kita akan menghadapi bom waktu: gejolak sosial akibat ketimpangan ekonomi yang semakin tajam. Anak-anak muda yang tak bekerja dan tak belajar berisiko terseret pada radikalisme, kriminalitas, atau migrasi tak terlindungi. UMKM yang lumpuh berarti lesunya ekonomi akar rumput. Kesenjangan bukan hanya persoalan ekonomi, tapi juga kestabilan nasional.

Rekomendasi: Arah Baru untuk Ekonomi Rakyat

  1. Fokus pada Industri Padat Karya dan UMKM
    Beri insentif besar, hilangkan beban pajak yang tak perlu, dan buka akses pembiayaan yang ramah.
  2. Perluas Pendidikan Keterampilan dan Sertifikasi Digital
    Investasi sumber daya manusia harus melampaui jargon. Dana besar untuk pelatihan kerja harus menyasar kelompok rentan dan miskin kota.
  3. Perbaiki Mekanisme Harga Pangan
    Negara harus hadir dalam distribusi pangan. Stabilitas harga tak bisa diserahkan pada pasar semata.
  4. Evaluasi Besar-besaran UU Ketenagakerjaan
    Perlindungan tenaga kerja bukan penghambat ekonomi. Justru di sanalah stabilitas jangka panjang dibangun.
BACA JUGA :  Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami

Penutup: Rakyat Tak Hidup dalam Statistik

Ekonomi bukan sekadar angka dalam presentasi. Rakyat hidup dari kebutuhan nyata—pekerjaan, upah layak, dan harga terjangkau. Jika pemerintah serius membangun ekonomi berkeadilan, maka titik tolaknya bukan di atas menara gading pertumbuhan, tetapi di lorong-lorong pasar dan kampung-kampung yang mulai kehilangan harapan.

Pengangguran dan daya beli adalah indikator paling jujur dari keberhasilan atau kegagalan arah pembangunan.

Berita Terkait

Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah
“Quo Vadis” UU Perampasan Asset
Krisis Integritas dalam Negara Hukum
Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami
KKN UMAHA Hadir untuk UMKM Desa KarangTanjung melalui Pendampingan Penerbitan NIB
Mubeslub Ormawa UT Surabaya Bahas dan Tetapkan AD/ART sebagai Landasan Organisasi Mahasiswa
Kolaborasi KKN UMAHA dan Posyandu Karang Tanjung, Perkuat Kepedulian terhadap Kesehatan Warga
Koperasi Desa: Kesejahteraan atau Kontrol Negara?
Berita ini 112 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 21:11 WIB

Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah

Kamis, 10 September 2026 - 15:16 WIB

“Quo Vadis” UU Perampasan Asset

Kamis, 3 September 2026 - 12:19 WIB

Krisis Integritas dalam Negara Hukum

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 18:50 WIB

Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami

Minggu, 16 Agustus 2026 - 17:28 WIB

KKN UMAHA Hadir untuk UMKM Desa KarangTanjung melalui Pendampingan Penerbitan NIB

Berita Terbaru

https://mancingjitu.com/