lk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777slot777slot gacorslot gacorslotzonawin777slot thailandslot gacorslot thailandslot thailandslot thailandsitus totositus totozonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777tempur777slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacoratatotoatatotototo 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtogel 4dtogel 4datatotototo 4dtoto 4dtoto 4datatotototo 4dtoto 4d

Pancasila di Tengah Krisis Keteladanan

- Publisher

Selasa, 3 Juni 2025 - 02:18 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Suara Utama, Setiap 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Teks sakral lima sila itu dikumandangkan di berbagai instansi, dari istana hingga sekolah-sekolah. Namun pertanyaannya, apakah Pancasila masih hidup dalam praktik, atau hanya menjadi simbol yang diulang tanpa makna?

Pancasila lahir sebagai panduan moral, dasar negara, dan ideologi pemersatu. Nilai-nilainya—ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial—merupakan fondasi yang seharusnya menjadi kompas etika bagi seluruh warga negara, terutama para pemegang kekuasaan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa implementasinya jauh dari harapan, terutama di kalangan pejabat publik.

Kita hidup dalam realitas yang kontras. Di satu sisi, pejabat negara rutin mengutip Pancasila dalam pidato dan pernyataan resmi. Namun di sisi lain, praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, gaya hidup mewah, dan lemahnya kepedulian terhadap rakyat menjadi pemandangan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya meresap sebagai karakter moral dalam birokrasi dan kepemimpinan nasional.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, misalnya, mengajarkan empati, keadilan, dan perlakuan manusiawi terhadap sesama. Tapi bagaimana sila ini dijalankan ketika pelayanan publik masih diskriminatif, ketika aparat hukum tidak berpihak pada yang lemah, atau ketika pejabat lebih sibuk mencitrakan diri daripada mendengarkan jeritan rakyat?

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, seolah menjadi utopia. Ketimpangan ekonomi semakin tajam. Akses pendidikan dan kesehatan berkualitas masih menjadi kemewahan bagi sebagian besar rakyat. Sementara itu, sejumlah pejabat justru terlibat dalam praktik memperkaya diri sendiri di tengah penderitaan masyarakat.

BACA JUGA :  Ruri Jumar Saef Ketua team Nawacita - Astacita Presiden RI, dorong Polres Probolinggo, proses Hukum WNA Terkait Kasus Suarni

Pancasila menekankan pentingnya persatuan, namun elit politik sering kali mempertajam perbedaan demi kepentingan elektoral. Demokrasi dijunjung tinggi dalam sila keempat, namun proses pengambilan keputusan publik sering kali tidak mencerminkan aspirasi rakyat, melainkan dikendalikan oleh kepentingan segelintir elite.

Realitas ini menimbulkan krisis keteladanan. Padahal, nilai-nilai Pancasila tidak akan hidup dalam masyarakat jika tidak diwujudkan oleh mereka yang menjadi panutan. Pejabat publik seharusnya bukan hanya memahami Pancasila secara teoritis, tetapi juga menghidupinya dalam tindakan. Tanpa keteladanan dari pemimpin, masyarakat akan kehilangan arah, dan Pancasila akan tergerus oleh pragmatisme serta politik transaksional.

Sudah saatnya refleksi terhadap Pancasila tidak lagi bersifat simbolik. Dibutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap bagaimana nilai-nilai Pancasila diintegrasikan ke dalam kebijakan publik, etika birokrasi, pendidikan, dan budaya politik kita. Pendidikan Pancasila bukan sekadar mata pelajaran, tetapi harus menjadi proses pembentukan karakter yang nyata dan berkelanjutan.

BACA JUGA :  Jalan Limunjan–Mantaritip tercatat dalam Nomor Kontrak 05/PPK-PJ.1

Pancasila tidak boleh dibiarkan menjadi slogan kosong. Ia harus menjadi roh dalam setiap keputusan dan kebijakan yang dibuat oleh negara. Para pejabat publik harus menjadi cerminan nilai-nilai Pancasila—jujur, adil, sederhana, dan berpihak pada rakyat.

Tanpa itu semua, Pancasila hanya akan menjadi dokumen historis yang kehilangan relevansi. Padahal, di tengah kompleksitas tantangan bangsa hari ini—dari kemiskinan, intoleransi, hingga degradasi moral—Pancasila adalah jawaban yang paling esensial. Bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijalankan.

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

Ketua Panitia Ungkap Perjuangan Umat Persiapkan Peresmian Gereja Paroki Idakebo
Uskup Timika Bernadus Pemberkatan Goa Maria di Paroki Idakebo
Indonesia Gelar Dialog Global Tata Kelola Royalti Hak Cipta Lintas Negara di Era Digital
Yohanes Degei Tegaskan Ketertiban Ketertiban Jelang Peresmian Gereja Katolik Idakebo
Kepsek Ancelina: HUT ke-63 Jadi Momentum Kemajuan Pendidikan SMP YPPK Fransiskus Moanemani
Umat Stase Goodide Kembangkan Literasi Iman melalui Buku 50 Tahun Pelayanan Katekis Germanus Goo
Bupati Yudas Tebai Serahkan Bantuan Rp300 Juta Untuk Peresmian Gereja
Irjen Pol Dekananto Eko Purwono Resmi Ditunjuk Jadi Kapolda Jawa Timur
Berita ini 53 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Ketua Panitia Ungkap Perjuangan Umat Persiapkan Peresmian Gereja Paroki Idakebo

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:47 WIB

Uskup Timika Bernadus Pemberkatan Goa Maria di Paroki Idakebo

Selasa, 6 Oktober 2026 - 02:59 WIB

Indonesia Gelar Dialog Global Tata Kelola Royalti Hak Cipta Lintas Negara di Era Digital

Senin, 5 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Yohanes Degei Tegaskan Ketertiban Ketertiban Jelang Peresmian Gereja Katolik Idakebo

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:58 WIB

Kepsek Ancelina: HUT ke-63 Jadi Momentum Kemajuan Pendidikan SMP YPPK Fransiskus Moanemani

Berita Terbaru

https://mancingjitu.com/