Mala Prohibita vs Mala in Se dalam Delik Penghinaan

- Publisher

Sabtu, 3 Januari 2026 - 20:01 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💰 Ayo Dukung Keberlanjutan Media & Jurnalisme
+ Berpartisipasi

Ilustrasi perbandingan konsep Mala Prohibita dan Mala in Se dalam delik penghinaan. Sosok pria berkacamata dalam ilustrasi ini merepresentasikan Eko Wahyu Pramono, S.Ak, praktisi hukum dan pemegang Izin Kuasa Hukum (IKH) Pengadilan Pajak, yang memberikan pandangan mengenai perbedaan pendekatan hukum pidana antara sistem Barat dan Indonesia.

Ilustrasi perbandingan konsep Mala Prohibita dan Mala in Se dalam delik penghinaan. Sosok pria berkacamata dalam ilustrasi ini merepresentasikan Eko Wahyu Pramono, S.Ak, praktisi hukum dan pemegang Izin Kuasa Hukum (IKH) Pengadilan Pajak, yang memberikan pandangan mengenai perbedaan pendekatan hukum pidana antara sistem Barat dan Indonesia.

SUARA UTAMA – Surabaya, 3 Januari 2026 – Dalam kajian perbandingan hukum pidana, kerap muncul anggapan bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) di berbagai negara pada dasarnya memiliki substansi yang sama. Anggapan ini hanya benar pada tataran umum. Ketika masuk ke jenis delik tertentu, perbedaan antarnegara justru tampak sangat tajam dan mendasar.

Advokat Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP berpendapat bahwa setidaknya terdapat tiga delik yang hampir tidak pernah sama di seluruh dunia, yakni delik politik, delik kesusilaan, dan delik penghinaan. Dari ketiganya, delik penghinaan menjadi yang paling kompleks karena berada di persimpangan antara kebebasan berekspresi, perlindungan martabat manusia, dan peran negara dalam hukum pidana.

Pendekatan Amerika Serikat: Mala Prohibita

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam sistem hukum Amerika Serikat, delik penghinaan umumnya tidak diposisikan sebagai kejahatan yang melekat secara moral pada perbuatannya. Penghinaan lebih sering dipahami sebagai mala prohibita, yaitu perbuatan yang dinilai salah karena dilarang oleh norma hukum tertentu, bukan karena secara kodrati dianggap jahat.

Pendekatan tersebut tidak terlepas dari kuatnya prinsip kebebasan berbicara (freedom of speech). Negara membatasi intervensi pidana terhadap ekspresi warga negara, termasuk ekspresi yang bersifat ofensif, sepanjang tidak menimbulkan ancaman nyata terhadap ketertiban umum.

BACA JUGA :  Ketua SRP Dogiyai Tegaskan Swiping Harus Sesuai SOP dan Terpusat di Moanemani

Dalam praktiknya, sengketa terkait penghinaan di Amerika Serikat lebih banyak diselesaikan melalui mekanisme hukum perdata, seperti gugatan defamation, libel, atau slander, dengan negara bertindak sebagai penyedia forum peradilan, bukan sebagai pihak yang dirugikan.

 

Negara-Negara Timur dan Konsep Mala in Se

Berbeda dengan pendekatan tersebut, sejumlah negara di kawasan Timur memandang penghinaan sebagai mala in se, yakni perbuatan yang sejak awal telah dipahami sebagai tercela secara moral. Dalam perspektif ini, penghinaan tidak hanya dilihat sebagai konflik antarindividu, tetapi juga sebagai tindakan yang berpotensi mengganggu kehormatan dan keseimbangan sosial.

Nilai kehormatan dipandang memiliki dimensi kolektif, sehingga negara dianggap memiliki legitimasi untuk memberikan perlindungan melalui instrumen hukum pidana.

 

Indonesia: Penghinaan sebagai Recht Delicten

Dalam konteks Indonesia, delik penghinaan secara konseptual ditempatkan sebagai recht delicten, yaitu perbuatan yang dipandang sebagai kejahatan karena bertentangan dengan nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.

Penghinaan dipahami sebagai tindakan yang berpotensi melanggar martabat manusia dan kehormatan kolektif. Atas dasar itu, delik penghinaan tetap diatur dalam KUHP Indonesia, meskipun disertai dengan pembatasan dan mekanisme pengamanan agar penerapannya tidak bertentangan dengan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.

 

Ilustrasi Kasus di Luar Negeri

BACA JUGA :  Kabut Asap Pekat Selimuti Padang Pariaman, Masyarakat Diimbau Waspadai Gangguan Pernapasan

Perbedaan pendekatan tersebut kembali menjadi sorotan publik setelah muncul peristiwa di Inggris yang melibatkan Bonnie Blue, terkait tindakan terhadap simbol negara Indonesia.

Peristiwa tersebut memicu berbagai reaksi di Indonesia. Sebagian masyarakat menilai tindakan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap simbol negara. Namun, dalam konteks sistem hukum Inggris, tindakan serupa tidak secara otomatis diproses sebagai tindak pidana, selama tidak memenuhi unsur ancaman terhadap ketertiban umum atau keamanan nasional.

Perbedaan respons ini dinilai mencerminkan perbedaan cara pandang antara sistem hukum yang menempatkan penghinaan dalam kerangka mala in se dan sistem hukum yang lebih dekat pada konsep mala prohibita.

 

Pandangan Praktisi Hukum

Menanggapi fenomena tersebut, Eko Wahyu Pramono, S.Ak, praktisi hukum sekaligus pemegang Izin Kuasa Hukum (IKH) pada Pengadilan Pajak yang tergabung dalam Subur Jaya Lawfirm, menyatakan bahwa perdebatan mengenai delik penghinaan sering kali berangkat dari perbandingan yang tidak kontekstual.

Menurutnya, menyamakan pendekatan hukum Indonesia dengan sistem Anglo-Saxon berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
“Dalam sistem hukum Indonesia, penghinaan tidak semata-mata dipandang sebagai pelanggaran normatif, tetapi sebagai recht delicten, yaitu perbuatan yang sejak awal dipahami bertentangan dengan nilai martabat manusia,” ujar Eko.

Ia menambahkan bahwa pendekatan negara-negara Barat yang menempatkan penghinaan dalam ranah perdata merupakan konsekuensi dari sejarah dan pilihan nilai hukum mereka.
“Pendekatan tersebut tidak bisa serta-merta diterapkan di Indonesia tanpa mempertimbangkan bangunan nilai hukum yang berbeda,” jelasnya.

BACA JUGA :  Dedy Andesman Disorot Terkait Aktivitas PETI dan Penampungan Emas di Sungai Manau, Aparat Tidak Tahu atau Tak Mau Tahu?

Terkait reaksi publik atas peristiwa di Inggris, Eko menilai hal tersebut mencerminkan perbedaan cara pandang terhadap simbol negara.
“Bagi masyarakat Indonesia, simbol negara memiliki makna kolektif yang kuat. Reaksi publik perlu dipahami dalam kerangka nilai hukum yang hidup di masyarakat,” katanya.

 

Perbedaan Nilai, Bukan Penilaian Sistem

Lebih lanjut, Eko menekankan bahwa perbedaan pendekatan terhadap delik penghinaan tidak dapat dinilai sebagai keunggulan atau kelemahan suatu sistem hukum.
“Hukum pidana selalu mencerminkan sejarah, budaya, dan nilai yang ingin dilindungi oleh suatu bangsa,” ujarnya.

 

Penutup

Perbandingan delik penghinaan antarnegara menunjukkan bahwa hukum pidana tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan nilai budaya. Perbedaan antara mala prohibita dan mala in se bukan semata konsep akademik, melainkan realitas yang memengaruhi cara negara merespons suatu perbuatan.

Peristiwa di luar negeri tersebut menjadi ilustrasi bagaimana satu tindakan dapat dipahami secara berbeda oleh sistem hukum yang berlatar nilai berbeda. Dalam konteks ini, diskursus hukum pidana dituntut untuk tetap kontekstual dan proporsional

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

1.800 Polisi Gerebek Kampung Bahari, 26 Orang Diamankan
Kelompok Tumenggung Jon Serahkan 20 Pucuk Senjata Api Rakitan kepada Polres Merangin
Ruri Jumar Saef Prihatin!, Kasus Dugaan Penganiayaan Suarni di Probolinggo Berujung Prapradilan dan SP3, Kemana Arah Ke Adilan Korban?. 
Diduga Dikelola Wandri, PETI Excavator di Sungai Ulak Merangin Disorot
Diduga Milik Sukro, Aktivitas PETI di Mentawak Dikeluhkan Warga, Polres Merangin Diminta Bertindak
Ketua Dewan Pakar SUARA UTAMA Kolonel (Purn) Oktovianus Karundeng Berdiskusi dengan Staf Khusus Menteri Agama
Kejati Jambi Sita Dua Mobil Hybrid dan Puluhan Barang Bukti dalam Kasus Dugaan Korupsi Anggaran DPRD Merangin
DPRD dan Pemprov Babel Dorong Raperda Kelautan hingga Lingkungan Hidup
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 14:49 WIB

1.800 Polisi Gerebek Kampung Bahari, 26 Orang Diamankan

Minggu, 1 November 2026 - 11:56 WIB

Kelompok Tumenggung Jon Serahkan 20 Pucuk Senjata Api Rakitan kepada Polres Merangin

Minggu, 1 November 2026 - 10:45 WIB

Ruri Jumar Saef Prihatin!, Kasus Dugaan Penganiayaan Suarni di Probolinggo Berujung Prapradilan dan SP3, Kemana Arah Ke Adilan Korban?. 

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:49 WIB

Diduga Dikelola Wandri, PETI Excavator di Sungai Ulak Merangin Disorot

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Diduga Milik Sukro, Aktivitas PETI di Mentawak Dikeluhkan Warga, Polres Merangin Diminta Bertindak

Berita Terbaru

Penggrebekan Kampung Bahari oleh Polres Jakarta Utara || Sumber : tribratanews.metro.polri.go.id

Berita Utama

1.800 Polisi Gerebek Kampung Bahari, 26 Orang Diamankan

Minggu, 1 Nov 2026 - 14:49 WIB

Chat via WhatsApp