Kehilangan dalam Perspektif Logika: Ketika Rasa Bertemu Nalar

- Publisher

Rabu, 23 April 2025 - 10:03 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💰 Ayo Dukung Keberlanjutan Media & Jurnalisme
+ Berpartisipasi

Suara Utama, Kehilangan adalah bahasa sunyi yang dirasakan setiap insan, entah karena ditinggal, melepaskan, atau sekadar tak bisa memiliki. Ia datang tak diundang, lalu menetap dalam diam yang menyiksa. Namun, adakah tempat bagi logika di antara lara yang seolah hanya bisa dipahami oleh rasa?

Apakah kehilangan hanya urusan hati, atau ada ruang di mana nalar turut bicara?
Secara alami, kehilangan menimpa sisi emosional manusia. Ia memicu reaksi batiniah yang dalam—kesedihan, penyesalan, bahkan penyangkalan. Kehilangan orang yang dicintai, mimpi yang tak tercapai, masa lalu yang tak bisa kembali—semuanya menyisakan jejak emosional yang sering kali tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
Namun manusia tidak hanya diciptakan dengan rasa, tetapi juga dengan akal.

Dalam sunyi dan sedihnya kehilangan, logika mencoba menyusup perlahan. Ia tidak datang untuk menghapus duka, melainkan untuk menatanya, memberi bingkai bagi rasa yang berserakan. Logika bertanya: mengapa ini terjadi ? Apa pelajaran di balik ini?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa yang masih bisa diselamatkan dari yang hilang?
Dalam perspektif logika, kehilangan dapat dipahami sebagai bagian dari keteraturan hidup—bahwa segala sesuatu memiliki awal dan akhir, bahwa tak ada yang abadi.

Logika mengajarkan bahwa kehilangan bukan kehancuran, melainkan transisi. Ia mengubah, bukan memusnahkan. Ia menandai bahwa sesuatu pernah berarti, dan sekarang menuntut kita untuk menemukan makna baru di dalamnya. Namun bukan berarti logika menolak rasa. Justru pertemuan antara rasa dan logika menciptakan ruang penyembuhan. Rasa membantu kita menangis, jujur terhadap luka; logika membantu kita berdiri kembali, menata arah.

Dalam kehilangan, kita tidak harus memilih salah satu. Kita bisa merasa sepenuh-penuhnya, lalu berpikir seperlunya. Kita bisa menangis, lalu perlahan mengerti.

BACA JUGA :  Kolaborasi 30 TBM Kab. Tanggamus Dorong Akselerasi Literasi Berbasis Kearifan Lokal

Kehilangan yang hanya diproses oleh rasa akan menjebak kita dalam keputusasaan. Kehilangan yang hanya diproses oleh logika akan terasa hampa, seperti memahami luka tanpa benar-benar merasakannya. Keseimbangan keduanya adalah kunci.

Ketika rasa bertemu nalar, kehilangan tidak lagi menjadi akhir, melainkan pintu untuk memahami kedalaman diri dan arti kehidupan.

logika tidak dimaksudkan untuk mengalahkan rasa, melainkan menjadi sahabatnya. Dalam kehilangan, rasa dan logika berdansa dalam sunyi—menemani, menuntun, dan menenangkan.

Karena dalam keheningan itulah, manusia belajar menjadi utuh kembali.
Kehilangan, dalam bentuk apa pun—orang, kesempatan, atau harapan—selalu mengetuk pintu hati lebih dulu sebelum akal sempat menyusun kata. Ia datang dengan getir, merayap dalam diam, memukul titik-titik emosi yang tak bisa dijelaskan dengan rumus. Namun, rasa saja tak cukup. Kita butuh nalar untuk menampung dan menata kekacauan yang ditinggalkan oleh kepergian.

Logika tak menghapus duka, tapi ia membantu kita memahami: bahwa semua yang hadir, suatu saat akan pamit. Bahwa setiap pertemuan mengandung potensi perpisahan, dan bahwa hidup bukan soal menghindari luka, tapi belajar berjalan bersamanya.

Dalam balutan logika, kehilangan adalah bagian dari siklus. Ia bukan akhir, tapi transisi. Ia bukan kutukan, tapi kesempatan—untuk mengenal diri, menata ulang tujuan, dan mungkin, membuka ruang bagi hal baru. Logika mengajak kita berdamai, bukan dengan menolak rasa, tapi dengan menyandingkannya. Sebab justru dalam perpaduan keduanya—rasa yang merintih dan logika yang menenangkan—kita bisa menerima secara sadar.

Dalam Islam, kehilangan—baik berupa kehilangan orang tercinta, harta, kesehatan, maupun harapan—dipandang sebagai bagian dari ujian hidup yang sudah ditetapkan oleh Allah. Kehilangan bukan hukuman, tapi cara Allah mendidik hati dan memperkuat iman. Berikut ini beberapa pandangan Islam tentang kehilangan:

  1. Kehilangan adalah Ujian
BACA JUGA :  PETI Gunakan Ekskavator Milik Cuncun di Pematang Kandis, Beranikah Aparat Bertindak ?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehilangan adalah bagian dari skenario kehidupan yang sudah ditulis, dan orang yang bersabar dijanjikan kabar gembira oleh Allah.

  1. Sabar dan Ridha Membawa Pahala Besar

Rasulullah bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma ajirni fi musibati wa akhlif li khairan minha’, melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.(HR. Muslim)

Doa ini menjadi kunci menerima kehilangan dengan hati yang berserah, sekaligus harapan bahwa Allah akan memberi ganti yang lebih baik, entah dalam bentuk atau waktu yang berbeda.

  1. Segala Sesuatu Milik Allah

Kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” bukan sekadar penghiburan. Ia adalah pengingat akidah: bahwa segala sesuatu—termasuk orang-orang yang kita cintai—adalah milik Allah. Ketika mereka diambil, kita sedang mengembalikan sesuatu yang memang bukan milik kita secara mutlak.

  1. Kehilangan Membentuk Kedekatan dengan Allah

Dalam masa kehilangan, banyak orang justru menemukan Allah lebih dekat dari sebelumnya. Tangisan dalam doa, perenungan dalam malam, dan kesadaran akan kefanaan dunia seringkali menumbuhkan kedewasaan iman dan spiritualitas.

Dalam Islam, kehilangan bukan tanda bahwa Allah jauh. Justru itu adalah panggilan lembut untuk mendekat, untuk menyandarkan diri sepenuhnya hanya kepada-Nya. Ketika rasa tak mampu, logika tak menjawab, maka keimanan menjadi pelita.

BACA JUGA :  Bapas Padang Perkuat Tugas dan Fungsi serta Sinergi Reintegrasi Sosial melalui Kelayan Binter

Kalau kamu sedang mengalami kehilangan, semoga hatimu dikuatkan dan Allah mengganti dengan sesuatu yang lebih baik dari arah yang tak disangka.

Refleksi: Saat Kehilangan Menyapa

Terkadang hidup tak memberi peringatan. Tiba-tiba saja sesuatu atau seseorang yang begitu berarti, hilang dari genggaman. Dan di saat itu, hati terasa kosong. Seperti ada ruang yang dulu penuh cinta, kini hanya diisi sunyi dan tanya. Mengapa harus pergi? Mengapa sekarang?

Namun perlahan aku belajar—bahwa kehilangan bukan akhir, melainkan awal dari pemahaman. Bahwa semua yang aku cintai, sejatinya hanya titipan. Dan setiap titipan, cepat atau lambat, akan kembali kepada Pemiliknya yang sejati.

Aku boleh menangis, sebab air mata bukan tanda lemahnya iman. Tapi setelahnya, aku harus bangkit. Karena hidup ini bukan tentang siapa yang tinggal, tapi tentang bagaimana aku terus berjalan, tetap berserah dan percaya bahwa Allah tak pernah mengambil sesuatu kecuali untuk diganti dengan yang lebih baik, di dunia atau di akhirat.

Doa Saat Menghadapi Kehilangan

“Ya Allah…

Aku lelah, tapi aku tahu Engkau tak pernah meninggalkanku.
Aku sedih, tapi aku tahu Engkau lebih tahu apa yang terbaik untukku.
Aku kehilangan, tapi aku tahu Engkau sedang mengajarkanku arti kepasrahan.

Tenangkan hatiku, ya Rabb.
Lapangkan dadaku menerima takdir-Mu.
Dan jika Engkau berkenan, gantilah yang hilang dengan sesuatu yang lebih Engkau ridhoi.

Aku percaya, di balik luka ini, ada cinta-Mu yang bekerja dalam diam.
Maka cukupkan aku dengan-Mu, ya Allah…
Karena ketika aku punya Engkau, aku tak pernah benar-benar kehilangan.”

 

 

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

Ponpes Muhammadiyah Sabilil Muttaqien Gisting Tanggamus Memperingati Hari Santri 2026
Dugaan Penyelewengan Dana Gizi Rp200 Juta di Puskesmas Simpang Limbur Merangin Disorot, Nama Eks Kapus Fifi Maisari Disebut
Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan
Pasca Pemberitaan Pabrik PT Sasa Inti Gending Bersihkan Sampah di Area Irigasi, Petani Meminta OPD melakukan Investigasi
Pemkot Pangkal Pinang Serbu Titik Sampah Liar di Bukit Intan: Soroti Dampak Kesehatan hingga Siapkan Opsi Sanksi Tegas
BBM Jenis Pertalite Hilang di Pasaran Pengecer, Pedagang Keliling Sebut Urat Nadi Masyarakat Pegunungan Hilang 
Kebakaran Gunung Arjuno – Welirang, Founder Persatuan Kelana Alam Indonesia Ajak Masyarakat Berdoa dan Turun Hujan
Bapelkum Bitung Edukasi Pelajar SMAN 2 Bitung melalui Program “Bapelkum Bitung Mengajar”
Berita ini 159 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Ponpes Muhammadiyah Sabilil Muttaqien Gisting Tanggamus Memperingati Hari Santri 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:36 WIB

Dugaan Penyelewengan Dana Gizi Rp200 Juta di Puskesmas Simpang Limbur Merangin Disorot, Nama Eks Kapus Fifi Maisari Disebut

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:14 WIB

Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Pasca Pemberitaan Pabrik PT Sasa Inti Gending Bersihkan Sampah di Area Irigasi, Petani Meminta OPD melakukan Investigasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Pemkot Pangkal Pinang Serbu Titik Sampah Liar di Bukit Intan: Soroti Dampak Kesehatan hingga Siapkan Opsi Sanksi Tegas

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp