Djojodigdo dan Pesanggrahan Djojodigdan: Jejak Seorang Patih di Tanah Blitar

- Publisher

Kamis, 12 Juni 2025 - 20:19 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💰 Ayo Dukung Keberlanjutan Media & Jurnalisme
+ Berpartisipasi

Gapura masuk Pesanggrahan Djoyodigdan

Gapura masuk Pesanggrahan Djoyodigdan

Blitar, 12 Juni 2025 — Di balik rerimbun pepohonan tua dan tembok tua yang berdiri tegak sejak abad ke-19, terdapat sebuah rumah besar yang tak hanya menyimpan sejarah panjang Blitar, tetapi juga kisah mistis yang melegenda di kalangan masyarakat Jawa. Inilah Pesanggrahan Djojodigdan, rumah peninggalan R.Ng. Bawadiman Djojodigdo, seorang Patih Blitar yang dikenal bijak, sakti, dan dihormati baik oleh rakyat maupun penguasa kolonial.

 

Jejak Leluhur Perang dan Pengabdian

Djojodigdo bukanlah sosok biasa. Ia lahir di Kulon Progo pada 29 Juli 1827, dalam keluarga bangsawan-pejuang. Kakeknya adalah RT. Projo, Bupati Kulon Progo. Ayahnya, RT. Kartodiwirjo, merupakan salah satu panglima kepercayaan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830). Kartodiwirjo gugur dalam pertempuran melawan Belanda, dan sejak itu, Djojodigdo bersama ibunya hidup berpindah-pindah demi menghindari kejaran kolonial, hingga akhirnya bermukim di Blitar.

BACA JUGA :  Dinkes Dogiyai Gelar Pelatihan Pengelola Imunisasi

Nasib menuntunnya menjadi tokoh penting. Pada 8 September 1877, Djojodigdo resmi diangkat sebagai Patih Blitar, mendampingi Bupati KPH. Warsokoesoemo. Dengan kecerdasan dan kedekatan pada rakyat, Djojodigdo cepat dikenal sebagai pemimpin yang bukan hanya memerintah, tetapi mengayomi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mitos Cemeti Sakti dan Lahar Gunung Kelud

Di luar perannya sebagai pejabat, Djojodigdo juga menjadi tokoh spiritual. Masyarakat Blitar percaya, beliau memiliki ilmu kadigjayaan luar biasa, termasuk cemeti sakti yang konon dapat menundukkan kekuatan alam. Kisah yang paling banyak diceritakan turun-temurun adalah peristiwa letusan Gunung Kelud tahun 1901.

Ketika lahar panas mengancam pusat kota Blitar, Djojodigdo dikabarkan membelokkan aliran lahar dengan ayunan cemeti. Peristiwa itu begitu membekas, hingga Ratu Wilhelmina II dari Belanda menganugerahkan beliau Gold Medal atas jasanya melindungi rakyat dan wilayah dari bencana alam.

BACA JUGA :  Terindikasi Kontradiktif, Terbongkar Oknum KPPBC TMP C Probolinggo Diduga Kuat Lakukan Pembiaran 

 

Pesanggrahan dan Makam Gantung

Rumah besar yang ia tinggali, Pesanggrahan Djojodigdan, dibangun tahun 1875 bersamaan dengan pembangunan Kantor Bupati Blitar. Tanahnya adalah tanah perdikan, hadiah bagi seorang Patih, yang kini tersisa seluas 2,7 hektar dan dikelola oleh Yayasan Keluarga Djojodigdo.

Namun bukan hanya rumahnya yang penuh cerita. Makam Djojodigdo, yang dikenal sebagai “Makam Gantung”, menyimpan aura misteri yang kuat. Jasad Djojodigdo diyakini tidak dikubur langsung menyentuh tanah, melainkan diletakkan di atas pondasi setinggi 50 cm.

Menurut Lasiman, juru kunci makam, hal ini dilakukan karena Djojodigdo disebut memiliki ilmu Pancasona ilmu keabadian yang membuat seseorang tidak bisa mati selama tubuhnya menyentuh tanah. Maka sebelum wafat, senjata, baju kebesaran, dan ilmunya harus “digantung” secara simbolis agar ruhnya bisa pergi dengan tenang.

BACA JUGA :  SMPN 14 Denpasar bersama Unud Kembangkan Kantin Hijau untuk Tekan Sampah Makanan dan Risiko Obesitas

“Kalau jasadnya menyentuh bumi, diyakini bisa hidup lagi,” ujar Lasiman, yang telah delapan tahun menjaga kompleks pemakaman itu.

Djojodigdo wafat pada 11 Maret 1909 dalam usia 84 tahun, dan makamnya dibangun pada 18 Agustus 1910. Hingga kini, makam itu masih sering diziarahi, bukan hanya oleh keturunannya, tetapi juga oleh mereka yang mencari ketenangan, inspirasi, bahkan petunjuk gaib.

 

Warisan yang Hidup di Tengah Zaman

Hari ini, Djojodigdo dikenang sebagai tokoh yang melampaui zamannya: seorang pejabat yang adil, spiritualis yang rendah hati, dan simbol perlawanan yang cerdas terhadap penjajahan.

Antara sejarah dan mitos, nama Djojodigdo tetap hidup. Bagi warga Blitar, ia bukan sekadar bagian dari masa lalu, melainkan sosok penjaga nilai-nilai keadilan, keberanian, dan kebijaksanaan yang terus relevan, bahkan di tengah dunia yang serba digital.

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Mas Andre Hariyanto

Berita Terkait

Ruri Jumar Saef Prihatin!, Kasus Dugaan Penganiayaan Suarni di Probolinggo Berujung Prapradilan dan SP3, Kemana Arah Ke Adilan Korban?. 
Ketua Dewan Pakar SUARA UTAMA Kolonel (Purn) Oktovianus Karundeng Berdiskusi dengan Staf Khusus Menteri Agama
Selain Dugaan Arogansi, Anti Kritik dan Intimidatif, Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terindikasi Melanggar Kode Etik dan Disiplin ASN
Puncak Acara Hari Tani: Pelantikan 7 Juta Relawan Tani Indonesia
Sikap Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terbongkar, Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Segera Akan Melakukan Koordinasi 
Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan
Pasca Pemberitaan Pabrik PT Sasa Inti Gending Bersihkan Sampah di Area Irigasi, Petani Meminta OPD melakukan Investigasi
BBM Jenis Pertalite Hilang di Pasaran Pengecer, Pedagang Keliling Sebut Urat Nadi Masyarakat Pegunungan Hilang 
Berita ini 225 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 10:45 WIB

Ruri Jumar Saef Prihatin!, Kasus Dugaan Penganiayaan Suarni di Probolinggo Berujung Prapradilan dan SP3, Kemana Arah Ke Adilan Korban?. 

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Selain Dugaan Arogansi, Anti Kritik dan Intimidatif, Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terindikasi Melanggar Kode Etik dan Disiplin ASN

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:24 WIB

Puncak Acara Hari Tani: Pelantikan 7 Juta Relawan Tani Indonesia

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:23 WIB

Sikap Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terbongkar, Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Segera Akan Melakukan Koordinasi 

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:14 WIB

Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan

Berita Terbaru

Penggrebekan Kampung Bahari oleh Polres Jakarta Utara || Sumber : tribratanews.metro.polri.go.id

Berita Utama

1.800 Polisi Gerebek Kampung Bahari, 26 Orang Diamankan

Minggu, 1 Nov 2026 - 14:49 WIB

Chat via WhatsApp