SUARA UTAMA BERAU – Bahasa Banua yang menjadi salah satu identitas masyarakat Kabupaten Berau kini menghadapi ancaman serius. Semakin minimnya penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga maupun masyarakat membuat generasi muda mulai kehilangan kemampuan berbahasa Banua.
Sekretaris Daerah Kabupaten Berau, Muhammad Said, menegaskan bahwa pelestarian Bahasa Banua tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah hingga komunitas adat, memiliki tanggung jawab menjaga warisan budaya tersebut agar tidak punah.
“Jika generasi muda tidak lagi mengenal dan menggunakan Bahasa Banua, maka kita perlahan akan kehilangan identitas daerah,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kabupaten Berau telah meluncurkan Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal di jenjang SMP mulai tahun ajaran 2026/2027. Kebijakan tersebut diharapkan menjadi upaya strategis untuk memperkenalkan kembali bahasa daerah kepada para pelajar sejak dini.
Meski demikian, pelestarian Bahasa Banua dinilai tidak akan berhasil apabila hanya berlangsung di ruang kelas. Penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari dinilai menjadi kunci agar Bahasa Banua tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pemerintah berharap masyarakat tidak merasa malu menggunakan Bahasa Banua dalam komunikasi sehari-hari. Sebab, menjaga bahasa daerah bukan sekadar mempertahankan alat komunikasi, melainkan juga menjaga sejarah, budaya, dan jati diri Kabupaten Berau agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Penulis : Rudi Salam
Editor : Rudi'Salam
Sumber Berita: Wartawan Suara utama





