Acai Diduga Kendalikan 5 Ekskavator PETI di Air Liki, Warga Tantang Penegak Hukum Bertindak

Rabu, 19 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA,Merangin – Aktivitas penambangan emas ilegal (PETI) di wilayah Kecamatan Tabir Barat, khususnya di Desa Air Liki, kembali menjadi sorotan tajam publik. Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini di lapangan, diduga terdapat lima unit alat berat ekskavator yang beroperasi dan memporak-porandakan kawasan yang dikenal sebagai bumi tali undang tambang teliti tersebut. Alat-alat berat itu disebut-sebut dikendalikan oleh Acai bersama adiknya, Andi.

Sejumlah warga yang ditemui media ini mengaku geram dengan semakin brutalnya aktivitas tersebut. Mereka mengatakan bahwa Acai bukanlah pemain baru dalam dunia tambang emas ilegal di Kabupaten Merangin.

“Iya, bang… itu pemain lama. Sudah bertahun-tahun dia geluti PETI di wilayah Air Liki,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Informasi yang ditelusuri menyebutkan bahwa lima unit ekskavator itu bekerja di wilayah Air Liki dan meluas hingga ke jalur Melapis arah sungai. Kawasan yang sebelumnya merupakan lahan produktif dan jalur aliran air kini berubah menjadi cekungan-cekungan besar dan galian yang tak beraturan.

Warga menilai kerusakan lingkungan yang ditimbulkan sudah berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan dan berpotensi memicu bencana ekologis di masa mendatang.

Warga serta sejumlah aktivis menantang aparat penegak hukum untuk tidak tebang pilih dalam melakukan penindakan terhadap aktivitas ilegal tersebut. Mereka mempertanyakan mengapa hingga saat ini aktivitas PETI di Air Liki tetap berjalan leluasa meskipun sudah ramai diperbincangkan publik.

BACA JUGA :  Mengangkat Tangan Saat Berdoa: Pendekatan Berdasarkan Hadis

“Kami minta Polres Merangin cek langsung ke lapangan. Viral lima alat berat itu bukan tanpa alasan. Kalau ini tidak direspons, jelas akan ada laporan resmi ke Polda Jambi,” tegas salah satu aktivis lingkungan yang ditemui media ini.

Menurut mereka, kehadiran alat berat dalam jumlah besar bukanlah operasi kecil-kecilan. Aktivitas semacam ini dianggap mustahil berlangsung tanpa ada pihak yang mengetahui ataupun menutup mata.

Sejumlah tokoh masyarakat mengkritik keras minimnya tindakan konkret dari penegak hukum. Mereka menilai aparat tidak boleh hanya bergerak ketika kasus sudah viral atau ketika tekanan publik memuncak.

“Kalau masyarakat kecil, cepat ditangkap. Tapi kalau sudah pakai alat berat besar, kenapa seolah banyak alasan? Kami tidak mau aparat tebang pilih,” kata warga lainnya.

Mereka juga menegaskan bahwa aktivitas tambang ilegal yang menggunakan ekskavator merupakan pelanggaran serius yang seharusnya menjadi prioritas penertiban, bukan dibiarkan merajalela hingga merusak wilayah hukum Kabupaten Merangin.

Jika benar adanya keterlibatan lima unit ekskavator milik Acai dan adiknya dalam aktivitas PETI di Air Liki, maka penegak hukum memiliki pekerjaan rumah besar untuk menertibkan dan menindak tegas. Masyarakat menuntut komitmen nyata dari aparat untuk menjaga kelestarian alam serta menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Situasi ini sekaligus menjadi ujian bagi aparat penegak hukum di Merangin, apakah mereka benar-benar hadir untuk menjaga keadilan dan lingkungan atau justru membiarkan kerusakan terus berlanjut tanpa kendali.

Penulis : Ady Lubis

Sumber Berita : Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Sat Resnarkoba Polres Bitung Ungkap Peredaran Obat Keras Trihexyphenidyl di Pusat Kota
Status Irwan Saputra Dipertanyakan dalam Sidang Korupsi KUR BNI Kampar
Kedok “Duda” Berujung Penipuan: Saksi Kunci Bongkar Siasat Licin Terlapor di Polresta Samarinda
PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan
Mahasiswa FH Unila Asal Tanggamus Raih Juara Nasional Lomba Dakwaan Hukum Tindak Pidana Lingkungan Hidup
Prabowo Siap ‘Mengejutkan’ Mafia Tambang dan Pengusaha Ilegal
Indonesia, Negara Hukum di Persimpangan Jalan
Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 17:24

Sat Resnarkoba Polres Bitung Ungkap Peredaran Obat Keras Trihexyphenidyl di Pusat Kota

Rabu, 28 Januari 2026 - 00:48

Status Irwan Saputra Dipertanyakan dalam Sidang Korupsi KUR BNI Kampar

Selasa, 27 Januari 2026 - 18:49

Kedok “Duda” Berujung Penipuan: Saksi Kunci Bongkar Siasat Licin Terlapor di Polresta Samarinda

Senin, 26 Januari 2026 - 15:19

PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan

Jumat, 23 Januari 2026 - 21:57

Mahasiswa FH Unila Asal Tanggamus Raih Juara Nasional Lomba Dakwaan Hukum Tindak Pidana Lingkungan Hidup

Kamis, 22 Januari 2026 - 23:16

Prabowo Siap ‘Mengejutkan’ Mafia Tambang dan Pengusaha Ilegal

Selasa, 20 Januari 2026 - 14:38

Indonesia, Negara Hukum di Persimpangan Jalan

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:47

Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles

Berita Terbaru