Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Menyambangi lokasi Pasca Longsor Susulan. Ditumbit Melayu, kecamatan Teluk bayur.

- Publisher

Rabu, 3 Juni 2026 - 10:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Suara utama.id Berau, – Garis retakan tanah yang menganga di Kampung Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, bukan lagi sekedar ancaman geologis biasa. Ini adalah bom waktu dengan sumbu pendek yang siap meledak kapan saja.

Pasca-insiden longsor susulan yang menghantam pada Minggu (31/5/2026), tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau akhirnya tiba di lokasi pada Senin (1/6/2026) pagi.

Namun, bagi warga yang didera ketakutan, kedatangan birokrat ini dinilai terlambat, formalitas belaka, dan kehilangan urgensi kemanusiaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Longsoran masif sepanjang hampir 200 meter di bantaran Sungai Kelay ini dituding bukan murni bencana alam, melainkan akibat dari akumulasi pembiaran bertahun-tahun atas eksploitasi lingkungan skala besar dan kelalaian fatal birokrasi.

Kemarahan warga Tumbit Melayu telah mencapai titik didih. Ismail, salah satu tokoh masyarakat setempat, mengungkap fakta mengejutkan, ancaman bencana ini sudah dilaporkan secara resmi ke instansi pemerintah sejak setahun lalu. Namun, laporan itu menguap di laci meja pejabat tanpa ada tindakan preventif.

“Pas saya menanyakan yang punya rumah, kurang lebih satu tahun lalu sudah melaporkan ancaman ini ke pemerintah terkait, tapi sama sekali tidak direspons oleh Pemerintah Kabupaten Berau. Sekarang kondisinya sudah sangat parah. Satu rumah sudah hanyut terkena longsor waktu itu, dan ini longsor sudah memanjang kurang lebih 200 meter,” ujar Ismail dengan nada tinggi di lokasi kejadian, Senin (1/6/2026).

BACA JUGA :  Pertalite dan Solar Langka di Banjar Kalsel, Namun Masih Banyak Dijual Eceran

Ismail melontarkan kritik tajam yang menampar wajah pemangku kebijakan yang berada di kabupaten Berau maupun provinsi Kalimantan Timur.

“Apakah pemerintah menunggu jatuh korban jiwa baru mau bergerak. Yang saya takutkan, saat masyarakat sedang terlelap di dalam rumah, longsor susulan menghantam. Wallahualam apa yang akan terjadi nanti. Jangan sampai jatuh korban dulu, baru pemerintah sibuk memotong pita belasungkawa!” cetus Ismail retoris.

Investigasi di lapangan mengonfirmasi bahwa abrasi dan longsor di Tumbit Melayu tidak terjadi di ruang hampa. Ada korelasi linear yang kuat antara kerusakan struktural tanah dan aktivitas industri ekstraktif yang mengepung kampung mereka.

Berdasarkan kesaksian warga, Tumbit Melayu kini telah diubah menjadi zona eksploitasi komoditas tinggi yang brutal, seperti Pertambangan Batu Bara yang mengubah lanskap dan kestabilan hidrologi tanah. Pembalakan Hutan, baik yang berlindung di balik izin legal maupun yang digerakkan oleh cukong ilegal, merampas akar pohon sebagai penahan air. Penambangan Pasir yang diduga Ilegal, Mengeruk dasar dan bibir sungai secara liar di sekitar areal pemukiman.

BACA JUGA :  Kemenkum Tak Sekadar Mendengar, "PASTI Ada Solusi" Hadirkan Jawaban bagi Masyarakat.

Kombinasi destruktif ini membuat kawasan pemukiman warga kehilangan benteng alamiahnya. Tanah kehilangan daya ikat, sementara arus Sungai Kelay terus menggerus fondasi kampung dari bawah.

Secara geografis, wilayah RT 1 dan RT 2 Tumbit Melayu kini berada dalam status Siaga Merah. Kerusakan tanah kian diperparah oleh faktor hidrometeorologi intensitas hujan ekstrem yang tak menentu serta siklus banjir tahunan yang kian agresif.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Berau, Masyhadi, mengakui situasi kritis ini berdasarkan verifikasi lapangan yang baru dilakukan.

“Hasil tinjauan lapangan untuk informasi bahwa 3 rumah warga yang terdiri dari 3 KK dan 10 jiwa ini perlu penanganan karena sudah berada di posisi pinggir longsor dan teras rumah sudah dilepas karena terkena longsor,” kata Masyhadi.

Masyhadi menambahkan adanya kekhawatiran besar jika banjir kiriman datang dari hulu Sungai Kelay, dampak langsung yang fatal tidak akan terhindarkan.

BACA JUGA :  Bau Akram Dai Hadiri Puncak Adat Limboro Rambu-Rambu

“Rekomendasinya jika mungkin direlokasi, tapi tentu harus dirapatkan dengan para pihak agar sesuai dengan ketentuan,” jelasnya normatif.

Bagi warga, retorika rapat dan sesuai ketentuan dari pemerintah adalah bentuk penundaan yang mengancam nyawa. Kesabaran warga Tumbit Melayu sudah habis.

Lebih lanjut, Ismail kembali menegaskan bahwa jika Pemerintah Daerah Berau tidak segera menurunkan tim teknis secepatnya untuk melakukan penguatan struktur tebing secara masif atau mengeksekusi evakuasi yang aman, warga siap mengambil tindakan ekstrem.

“Kami warga RT 1 dan RT 2 berada di garis depan ancaman ini. Potensi bencananya sangat besar karena abrasi Sungai Kelay terus dipicu oleh cuaca ekstrem dan banjir tahunan. Kami menuntut Pemerintah Daerah Berau dan instansi terkait segera mengambil tindakan nyata. Turun ke lokasi sekarang juga,” tuntut Ismail memberikan ultimatum keras.

“Ini soal keselamatan nyawa manusia, bukan proyek jangka panjang yang bisa ditunda. Jika dalam waktu dekat penanganan ini masih lambat dan berbelit-belit, kami pastikan masyarakat Tumbit Melayu akan mengepung Kantor Bupati Berau untuk melakukan unjuk rasa besar-besaran.”tutupnya

Penulis : Rudi salam

Sumber Berita: Suara utama. Id

Berita Terkait

Gunakan Excavator, Aktivitas PETI Diduga Milik Kunep di Desa Pulau Baru Jadi Sorotan Warga
Tak Terima Lahan Dikuasai Pihak Lain, Ahli Waris Amer Husin di Kelurahan Mampun Siap Seret Merry-Tomy ke Ranah Hukum
PC IMM Majene Kecam Penangkapan Dua Aktivis Penolak TPA Salurano, Desak Evaluasi Kapolres Mamasa
PFII Dinilai Jadi Solusi Pembiayaan Daerah, SMSI Dorong Sinergi Percepat Penerbitan Obligasi Daerah
Menjadi Manusia yang Bermanfaat dan Berjiwa Penolong
Tarif Merek UMKM Tak Naik, Pencatatan Hak Cipta Lagu Gratis Mulai Agustus 2026
PETI Diduga Milik Jayak Kian Merajalela di Tanjung Benuang, Warga Tagih Ketegasan APH
Warga Sebut Aktivitas PETI di Bangko Tinggi Diduga Milik Tekun, Bantaran Sungai Merangin Kian Rusak
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 08:48 WIB

Gunakan Excavator, Aktivitas PETI Diduga Milik Kunep di Desa Pulau Baru Jadi Sorotan Warga

Sabtu, 25 Juli 2026 - 20:59 WIB

Tak Terima Lahan Dikuasai Pihak Lain, Ahli Waris Amer Husin di Kelurahan Mampun Siap Seret Merry-Tomy ke Ranah Hukum

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:54 WIB

PC IMM Majene Kecam Penangkapan Dua Aktivis Penolak TPA Salurano, Desak Evaluasi Kapolres Mamasa

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:26 WIB

PFII Dinilai Jadi Solusi Pembiayaan Daerah, SMSI Dorong Sinergi Percepat Penerbitan Obligasi Daerah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 11:55 WIB

Menjadi Manusia yang Bermanfaat dan Berjiwa Penolong

Berita Terbaru

FOTO: Momen Penulis Mas Andre Hariyanto bersama sahabat santri Pesantren Bisnis Indonesia Malang Raya (Dok. Internal/SUARA UTAMA)

Artikel

Menjadi Manusia yang Bermanfaat dan Berjiwa Penolong

Sabtu, 25 Jul 2026 - 11:55 WIB

mancingjitu slot thailand slot thailand