Jalan Tambal Sulam di Jalur Trans-Sulawesi Pangkep–Barru Disorot, Warga Pertanyakan Penggunaan Anggaran

- Publisher

Senin, 18 Mei 2026 - 19:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Suarautama.id– Kondisi jalur poros Trans-Sulawesi yang menghubungkan Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Barru kembali menuai sorotan publik. Ruas jalan nasional yang menjadi jalur utama penghubung antarwilayah di Sulawesi Selatan itu kini dipenuhi tambal sulam beton, permukaan bergelombang, hingga retakan di sejumlah titik yang dinilai membahayakan keselamatan pengendara.

 

Padahal, jalur tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu urat nadi utama transportasi logistik, distribusi barang, hingga mobilitas masyarakat lintas kabupaten dan provinsi. Ironisnya, di tengah besarnya peran jalan nasional itu terhadap roda ekonomi masyarakat, kondisi infrastruktur justru dinilai jauh dari kata layak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Pantauan di lapangan menunjukkan banyak pengendara harus mengurangi kecepatan secara mendadak saat melintasi titik jalan yang tidak rata. Sejumlah sopir truk bahkan mengaku kendaraan mereka kerap mengalami kerusakan akibat kondisi jalan yang dipenuhi tambalan kasar dan bergelombang.

BACA JUGA :  IJS Majene Tempuh Jalur Hukum, Laporkan Dugaan Pencemaran Nama Baik Organisasi ke Polres

 

“Setiap hari kami lewat di sini. Jalan ini bukan tambah bagus, malah makin banyak tambalannya. Kalau malam hari sangat berbahaya karena beberapa titik sulit terlihat,” ujar salah seorang sopir angkutan logistik yang melintas di wilayah Barru.

 

Keluhan serupa juga datang dari pengendara roda dua. Mereka mengaku waswas saat melintas terutama ketika hujan turun dan permukaan jalan licin. Tidak sedikit warga mempertanyakan kualitas pengerjaan proyek perbaikan yang dinilai hanya bersifat sementara dan tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan.

 

Masyarakat pun mulai menyoroti besarnya anggaran infrastruktur jalan yang selama ini digelontorkan pemerintah pusat maupun daerah. Warga mempertanyakan mengapa jalan nasional yang seharusnya menjadi prioritas justru tampak seperti proyek tambal sulam tanpa perencanaan jangka panjang.

 

“Anggaran perbaikan jalan tiap tahun selalu ada, tapi hasilnya begini terus. Baru beberapa bulan diperbaiki sudah rusak lagi. Publik tentu berhak bertanya uang rakyat dipakai untuk apa,” kata seorang warga.

BACA JUGA :  Presiden DPP Aliansi Alam Bersatu Jaya Minta Polisi Usut Tuntas Kebakaran Kantor Organisasi

 

Kondisi tersebut memunculkan kecurigaan publik terkait pengawasan proyek yang dinilai lemah. Sejumlah masyarakat menilai proyek jalan sering kali hanya berorientasi pada penyerapan anggaran tanpa memperhatikan kualitas pekerjaan di lapangan.

 

Tidak sedikit warga yang mulai mempertanyakan transparansi penggunaan dana proyek infrastruktur, mulai dari proses pengerjaan hingga kualitas material yang digunakan. Apalagi, kerusakan yang terus berulang dinilai menjadi indikasi bahwa ada persoalan serius dalam pelaksanaan proyek jalan nasional tersebut.

 

“Kalau kualitas pengerjaan benar dan pengawasan ketat, seharusnya jalan nasional tidak cepat rusak seperti ini. Masyarakat jangan terus disuguhi tambal sulam yang ujung-ujungnya membahayakan pengguna jalan,” ungkap tokoh masyarakat setempat.

 

Selain mengancam keselamatan, kondisi jalan yang rusak juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi warga. Waktu tempuh distribusi barang menjadi lebih lama, biaya operasional kendaraan meningkat, dan risiko kecelakaan terus menghantui para pengguna jalan setiap harinya.

BACA JUGA :  Pemdes Desa Rasau Gelar Malam Renungan HUT ke-81 Kemerdekaan RI

 

Warga berharap pemerintah tidak lagi hanya melakukan perbaikan sementara yang dinilai menghabiskan anggaran tanpa hasil nyata. Mereka meminta adanya audit menyeluruh terhadap proyek-proyek perbaikan jalan di jalur Trans-Sulawesi, termasuk evaluasi kualitas pengerjaan dan pengawasan teknis di lapangan.

 

Masyarakat juga mendesak pemerintah untuk lebih transparan terkait penggunaan anggaran infrastruktur agar kepercayaan publik tidak terus menurun. Sebab bagi warga, jalan nasional bukan sekadar proyek tahunan, melainkan fasilitas vital yang menyangkut keselamatan ribuan pengguna jalan setiap hari.

 

Hingga kini, kondisi sejumlah titik di ruas Pangkep–Barru masih dikeluhkan pengguna jalan. Di tengah tingginya mobilitas kendaraan, masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah serius sebelum kerusakan yang terus dibiarkan itu memicu jatuhnya korban di jalur Trans-Sulawesi.

Berita Terkait

Lapas Bangko Perkuat Layanan Kesehatan, Pastikan Hak Dasar Warga Binaan Terpenuhi
Dugaan Illegal Logging di Pulau Bayur Bergulir: Ada Upaya Hentikan Pemberitaan, LSM Siapkan Laporan
Warga Resah, Aktivitas PETI Dompeng di Tanjung Lamin Disebut Makin Mendekati Permukiman
Pisah Sambut Kalapas Bangko, Heri Tinggalkan Kesan, Syaikoni Bawa Harapan Baru
Founder Suara Utama Resmikan Reformasi Struktur Manajemen Redaksi Periode 2026 – 2027
Penayangan Film Mencari Jeda Jadi Ruang Apresiasi Karya Cine Vidya 2026
Bupati Yudas Tebai Turun Langsung ke RSUD Dogiyai, Dengarkan Keluhan Nakes
Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Desa Rasau Gelar Festival Pentas Seni & Pembagian Hadiah
Berita ini 56 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:06 WIB

Lapas Bangko Perkuat Layanan Kesehatan, Pastikan Hak Dasar Warga Binaan Terpenuhi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:19 WIB

Dugaan Illegal Logging di Pulau Bayur Bergulir: Ada Upaya Hentikan Pemberitaan, LSM Siapkan Laporan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Warga Resah, Aktivitas PETI Dompeng di Tanjung Lamin Disebut Makin Mendekati Permukiman

Kamis, 20 Agustus 2026 - 12:48 WIB

Pisah Sambut Kalapas Bangko, Heri Tinggalkan Kesan, Syaikoni Bawa Harapan Baru

Rabu, 19 Agustus 2026 - 23:19 WIB

Founder Suara Utama Resmikan Reformasi Struktur Manajemen Redaksi Periode 2026 – 2027

Berita Terbaru

mancingjitu slot thailand slot thailand https://www.marcopolodijon.com/