Manifesto Filsafat Intelijen Hendropriyono: Dunia dalam Pusaran Proxi War

- Publisher

Kamis, 4 September 2025 - 11:18 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💰 Ayo Dukung Keberlanjutan Media & Jurnalisme
+ Berpartisipasi

Sketsa Hendropriyono Prakarsai Manifesto Internasional Filsafat Intelijen di Fakultas Filsafat UGM.

Sketsa Hendropriyono Prakarsai Manifesto Internasional Filsafat Intelijen di Fakultas Filsafat UGM.

SUARA UTAMA – Di tengah ketidakpastian global, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) A.M. Hendropriyono kembali menggugah publik dengan gagasan besarnya yang ia sebut sebagai “Manifesto Filsafat Intelijen”. Manifesto ini tidak sekadar refleksi pengalaman panjang di dunia intelijen, tetapi juga peringatan keras bahwa dunia kini sedang dilanda gelombang Proxi War—perang tanpa deklarasi, perang tanpa batas, dan perang yang melibatkan aktor-aktor non-negara dengan kepentingan tersembunyi.

Proxi War: Perang di Balik Tirai

Perang proksi, dalam pandangan Hendropriyono, adalah fenomena geopolitik modern di mana konflik tidak lagi berlangsung secara langsung antarnegara, tetapi diwakilkan melalui pihak ketiga. Bentuknya bisa berupa konflik ideologi, perang informasi, intervensi ekonomi, hingga infiltrasi budaya. Negara-negara besar menggunakan kekuatan teknologi, media sosial, dan jaringan global untuk mengarahkan opini publik, memecah belah persatuan bangsa, bahkan menjatuhkan rezim tanpa peluru ditembakkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Indonesia, dengan posisi geostrategis dan kekayaan sumber daya alamnya, tidak luput dari tarikan arus tersebut. Ancaman proxy bisa datang melalui isu SARA, penyebaran hoaks, tekanan ekonomi, maupun radikalisme transnasional.

Manifesto Filsafat Intelijen

Hendropriyono menegaskan bahwa intelijen bukan hanya kerja teknis di lapangan, melainkan sebuah “filsafat”—cara berpikir menyeluruh tentang menjaga eksistensi bangsa. Intelijen dalam kacamata filosofis tidak berhenti pada pengumpulan informasi, tetapi menjadi alat pertahanan eksistensial untuk memastikan bangsa tidak runtuh oleh pengaruh eksternal.

BACA JUGA :  Jasat Korban KKM KM Virgo Transport 8 Warga Lamongan di Laut Jawa Berhasil Dievakuasi

Manifesto ini mengajak masyarakat memahami bahwa intelijen adalah “pagar tak terlihat” yang melindungi republik. Ia mendorong lahirnya kesadaran kolektif bahwa setiap warga negara harus melek terhadap ancaman proksi, mulai dari ruang digital hingga ruang politik.

Tantangan Indonesia di Tengah Arus Global

Opini media nasional menilai gagasan Hendropriyono relevan dengan kondisi terkini. Perang Rusia–Ukraina, ketegangan Laut China Selatan, serta kompetisi Amerika Serikat–China menunjukkan bagaimana negara-negara besar mengeksekusi strategi proksi. Dalam skala domestik, potensi gesekan sosial di Indonesia sering kali dipicu narasi yang disebarkan dari luar negeri untuk melemahkan kohesi nasional.

Pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia menekankan bahwa peringatan Hendropriyono adalah alarm penting: “Kita tidak boleh memandang enteng proxy war. Bentuknya bisa halus, tapi daya rusaknya menghancurkan,” ujarnya.

Korelasi Aksi Rusuh Demo dan Pusaran Proxi War Global

Fenomena rusuh dalam aksi unjuk rasa di berbagai daerah di Indonesia beberapa waktu terakhir juga tidak bisa dilepaskan dari konteks pusaran proxi war global. Hendropriyono dalam berbagai pandangannya kerap menekankan bahwa proxi war tidak selalu hadir dalam bentuk konfrontasi militer, tetapi justru menyusup dalam dinamika politik domestik dan gejolak sosial masyarakat.

BACA JUGA :  Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami

Aksi unjuk rasa pada dasarnya adalah ekspresi demokrasi yang sah. Namun, ketika muncul pihak-pihak yang memanfaatkan momentum tersebut untuk menyulut kerusuhan, menyebarkan narasi provokatif, hingga memicu bentrokan antara aparat dan masyarakat, di situlah indikasi “tangan tak terlihat” dari kepentingan proksi bisa terbaca.

Media nasional menyoroti bahwa pola penyusupan dalam aksi massa sering kali memiliki karakter serupa dengan pola destabilisasi yang terjadi di berbagai negara lain: infiltrasi isu sensitif, pendanaan terselubung, hingga operasi informasi di media sosial. Semua ini sejalan dengan strategi proxi war yang bertujuan melemahkan legitimasi pemerintah, menciptakan instabilitas politik, dan membuka celah bagi kepentingan asing untuk masuk.

Sejumlah pakar intelijen menilai, bila tidak ditangani dengan cerdas, aksi rusuh bisa menjadi pintu masuk perang proksi—di mana konflik sosial domestik dimanfaatkan sebagai alat tawar-menawar geopolitik. Bahkan, Presiden Prabowo dalam beberapa pernyataannya menegaskan bahwa aparat harus sigap mengamankan unjuk rasa agar tetap dalam koridor demokrasi, sekaligus menindak tegas provokator yang menyusup membawa agenda destruktif.

BACA JUGA :  “Quo Vadis” UU Perampasan Asset

Dengan demikian, korelasi aksi rusuh dengan pusaran proxi war global jelas terlihat: apa yang tampak sebagai kericuhan lokal bisa saja merupakan bagian dari strategi besar untuk menggerogoti ketahanan nasional.

Antara Pesimisme dan Harapan

Sebagian pihak menilai bahwa pandangan Hendropriyono cenderung “pesimistis” karena terlalu menekankan ancaman global. Namun, bagi banyak pengamat, pesimisme ini justru adalah bentuk kewaspadaan strategis. Di era serba terbuka, waspada bukan berarti takut, melainkan cerdas dalam membaca peta kekuatan global.

Hendropriyono, lewat Manifesto Filsafat Intelijen-nya, sejatinya mengingatkan publik bahwa kedaulatan tidak hanya dipertahankan dengan senjata, tetapi juga dengan kesadaran kolektif dan kecerdasan bangsa.

Penutup, Dunia memang berada dalam pusaran Proxi War. Namun, bangsa yang mampu membaca arus dan menyiapkan strategi akan tetap berdiri tegak. Indonesia tidak boleh lengah. Manifesto Hendropriyono seharusnya tidak hanya dibaca sebagai doktrin intelijen, melainkan juga sebagai seruan moral: agar negara, masyarakat sipil, akademisi, hingga media bersama-sama menjaga republik ini dari gempuran yang tidak kasatmata.

Berita Terkait

Ingkar Janji Bukan Perkara Sepele: Ada Konsekuensi Hukum dan Tanggung Jawab Akhirat
Karya Terbaik Lahir dari Pemikiran Sendiri, Bukan Copas atau Ketergantungan pada AI
Satpolairud Polres Lamongan Bantu Evakuasi Jenazah ABK KM Mayangsari II yang Meninggal Dunia di Perairan Masalembo
Jasat Korban KKM KM Virgo Transport 8 Warga Lamongan di Laut Jawa Berhasil Dievakuasi
Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk
Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah
“Quo Vadis” UU Perampasan Asset
Krisis Integritas dalam Negara Hukum
Berita ini 71 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 19:26 WIB

Ingkar Janji Bukan Perkara Sepele: Ada Konsekuensi Hukum dan Tanggung Jawab Akhirat

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:42 WIB

Karya Terbaik Lahir dari Pemikiran Sendiri, Bukan Copas atau Ketergantungan pada AI

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Satpolairud Polres Lamongan Bantu Evakuasi Jenazah ABK KM Mayangsari II yang Meninggal Dunia di Perairan Masalembo

Kamis, 24 September 2026 - 10:18 WIB

Jasat Korban KKM KM Virgo Transport 8 Warga Lamongan di Laut Jawa Berhasil Dievakuasi

Senin, 21 September 2026 - 22:38 WIB

Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp