LDII Ingatkan Bencana Lingkungan di Masa Depan Bisa Dicegah oleh Generasi Muda

Selasa, 27 Juni 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA, Jakarta – Ancaman perubahan iklim dan bencana alam menjadi perhatian berbagai pihak. LDII yang sejak 2007 juga fokus terhadap pelestarian lingkungan, mengingatkan peran penting generasi muda dalam mencegah pemanasan global dan perubahan iklim.

“Pada tahun 2007, LDII mengadakan “Aksi Penanaman Serentak Indonesia dan Pekan Pemeliharaan Pohon” di Desa Cibadak, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan tersebut menjadi tonggak awal pergerakan Bulan Menanam Nasional yang diadakan setiap bulan Desember,” ungkap Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso.

Gerakan bertajuk LDII Go Green itu, telah berhasil menanam 4 juta lebih pohon dan mengupayakan arboretum di Perkebunan Teh Jamus, Ngawi, Jawa Timur. Sebagai tindak lanjut Go Green, DPP LDII membuat program yang melibatkan generasi muda dalam pencegahan pemanasan global, dengan menghelat webinar internasional, pada Sabtu (24/4).

Acara tersebut menghadirkan Prof. Cordia Chu dari Griffith University, Australia, “Kami menyadari bahwa peran generasi muda sangat penting dalam menjaga keberlanjutan alam dan menciptakan masa depan yang lebih baik,” ujar KH Chriswanto.

Webinar yang berlangsung hybrid dan diikuti pengurus LDII di 34 provinsi tersebut, diharapkan berdampak besar terhadap pelestarian lingkungan. Menurutnya, saat umat Islam berupaya menyelematkan lingkungan, sama halnya menyelamatkan seluruh umat manusia. “Menjaga ekosistem akan memberikan oksigen dan air yang penting bagi umat manusia. Artinya, apa yang dilakukan ormas Islam dalam melestarikan lingkungan, berkontribusi bagi kehidupan manusia yang lebih panjang dan sehat,” harap KH Chriswanto.

LDII juga mendorong kolaborasi antargenerasi, yakni peran pemimpin dan tokoh masyarakat sebagai mentor bagi generasi muda dalam upaya pelestarian lingkungan, “Kerja sama yang erat antara generasi muda dan orang dewasa akan memperkuat gerakan pelestarian lingkungan dan membawa perubahan yang signifikan,” imbuhnya.

Dalam webinar internasional itu, Direktur Centre for Environment and Population Health School of MDP Medicine Griffith University, Australia, Prof. Cordia Chu mengapresiasi komitmen LDII.

Ia mengatakan bahwa LDII sebagai organisasi keagamaan berbasis komunitas, terus aktif menggelar aksi peduli lingkungan. “LDII perlu mempublikasikan aksi tersebut kepada masyarakat luas. Ini bukan sekadar propaganda, tetapi kampanye peduli lingkungan. Bagikan cara LDII merawat kelestarian alam agar dapat menjangkau skala yang lebih luas,” pesannya.

Chu mengajak warga LDII untuk menggelorakan aksi peduli lingkungan dengan penerapan green lifestyle pada kehidupan sehari-hari. Seperti menghemat pemakaian air, bijak penggunaan lampu dan listrik, menerapkan konsep 3R (reduce, reuse, recycle), menggunakan kendaraan bebas polusi, dan lain-lain. “Kita perlu tindakan yang mendesak untuk menyusun strategi pencegahan dampak perubahan iklim dan segera melakukan aksi peduli lingkungan,” katanya.

BACA JUGA :  Pengajian Ahad Legi & Pengukuhan BPH Klinik Pratama PKU Muhammadiyah berjalan sukses

Menurutnya, penanganan masalah lingkungan membutuhkan aksi kolektif global yang dilakukan secara sadar, sukarela, berjejaring, dan berkelanjutan. “Yang paling penting, kita perlu bertindak dengan segera. Ini bukan sesuatu yang bisa kita main-mainkan,” tegasnya.

Ia menyebutkan lima hal yang perlu ditanamkan untuk mendorong kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian bumi. “Yaitu bagaimana kita melihat bumi, bagaimana kita menggerakkan aksi peduli kelestarian bumi, bagaimana kita peduli terhadap tempat tinggal kita di bumi, bagaimana kita mengelola bumi, dan bagaimana kita peduli terhadap kesehatan bumi,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, Ary Tirto Djatmiko dalam webinar itu juga mengatakan, penanganan iklim yang berubah, membutuhkan minimal 10 tahun untuk prakiraan, sedangkan bencana bisa terjadi mendadak. “Gempa bumi tektonik dan vulkanik tidak bisa diprakirakan, namun bukan berarti tanda-tandanya tidak diketahui tapi bisa melalui metode pendekatan medikasi, adaptasi, advokasi,” ucap Ary.

Kemajuan teknologi bukan berarti meninggalkan kearifan lokal peninggalan nenek moyang, atau di masyarakat Jawa disebut pronoto mongso atau penentuan musim. “Generasi milenial saat ini mungkin belum memahami tanda-tanda alam, sehingga diperlukan sharing knowledge dari senior ke juniornya berupa sosialisasi maupun training,” ujarnya.

Sementara itu, Pelatih dan Pendidik Institut Hijau Indonesia, Amal, yang juga sebagai pembicara menyebut bencana ekologi dapat menyebabkan perang untuk memperebutkan sumber daya alam, salah satunya pangan, “Pangan merupakan penunjang kehidupan, saat sumberdaya pangan kian terbatas, perebutan pangan bisa memicu peperangan,” ujar Amal.

Berdasarkan Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), dunia akan menghadapi berbagai bahaya iklim yang tidak terhindarkan selama dua dekade mendatang. Bahaya iklim tersebut disebabkan terjadinya pemanasan global 1,5 derajat Celcius (2,7 derajat Fahrenheit).

Kondisi ini berdampak tidak dapat diprediksinya cuaca, atau perubahan cuaca yang terjadi secara ekstrim. Selain itu juga berpotensi terhadap ketersediaan pangan, dimana pangan yang diproduksi tidak semaksimal dulu lagi. Hal ini berakibat pada perekonomian masyarakat tentunya. “Kita harus mulai beradaptasi dan mulai mengupayakan agar perubahan iklim tidak semakin parah. Bila kita lupa terhadap kondisi alam, alam tidak bisa memaksa untuk mengingat kondisi kita. Bila kita tidak menjaga dan merawatnya, bencana bisa terjadi,” ungkap Alam.

Berita Terkait

Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka
AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026
Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan
Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah
Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:04

Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:15

AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:13

Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:20

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 13:42

Publik Menilai BK Ketakutan, Ketua BK Akan Berkonsultasi Dengan Oknum Terduga Pelanggar Kode Etik

Berita Terbaru