Stimulus Rp16,23 Triliun Disebut Konsumtif, Kontradiktif dengan Pajak

- Publisher

Senin, 15 September 2025 - 16:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Yulianto berpendapat bahwa Dana Rp16,23 triliun harus diawasi ketat agar benar-benar sampai ke rakyat.

Yulianto berpendapat bahwa Dana Rp16,23 triliun harus diawasi ketat agar benar-benar sampai ke rakyat.

SUARA UTAMA – Jakarta, 15 September 2025 – Pemerintah resmi meluncurkan paket kebijakan ekonomi baru yang terdiri dari delapan program akselerasi dan lima program penyerapan tenaga kerja. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp16,23 triliun.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, delapan program akselerasi akan berjalan sepanjang 2025. Program pertama berupa penyaluran 20.000 lulusan perguruan tinggi ke sektor industri dengan skema gaji sesuai upah minimum provinsi (UMP) selama enam bulan, dengan alokasi Rp198 miliar.

Selain itu, pemerintah menanggung pajak penghasilan (PPh) bagi 552.000 pekerja sektor padat karya, pariwisata, hotel, restoran, dan kafe, dengan anggaran Rp120 miliar. Bantuan pangan juga akan digulirkan berupa penyaluran 10 kilogram beras per keluarga pada Oktober–November 2025, dengan anggaran Rp7 triliun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah pun menanggung sebagian iuran jaminan kecelakaan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM) bagi 731.361 pekerja informal, termasuk pengemudi transportasi online, sopir logistik, hingga kurir. Dana Rp36 miliar disiapkan oleh BPJS.

BACA JUGA :  Sawit Berdiri di Atas Lahan yang Sudah Dibebaskan, PT BBA Tolak Tuntutan Ganti Rugi Baru

Program lainnya mencakup penurunan bunga layanan perumahan bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan dari BI rate +5% menjadi BI rate +3% (Rp150 miliar), deregulasi PP Nomor 28 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, serta perluasan sistem OSS di 170 kecamatan. Pemerintah juga menyiapkan pengembangan working space di Jakarta, yang akan diperluas ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, Manado, Makassar, dan Batam.

Program Penyerapan Tenaga Kerja

Pemerintah juga menargetkan penciptaan jutaan lapangan kerja melalui lima program:

  • Koperasi Desa Merah Putih: menyerap 1 juta tenaga kerja hingga akhir 2025.
  • Kampung Nelayan Merah Putih: mencakup 100 desa dengan target 8.645 tenaga kerja, dan proyeksi 200.000 lapangan kerja dari 4.000 titik dalam jangka panjang.
  • Revitalisasi tambak Pantura: 20.000 hektare tambak, dengan potensi 168.000 tenaga kerja.
  • Modernisasi kapal nelayan: 1.000 kapal, diperkirakan membuka 200.000 lapangan kerja baru.
  • Perkebunan rakyat: replanting 870.000 hektare dengan komoditas prioritas tebu, kakao, kelapa, kopi, mete, dan pala, yang diperkirakan menyerap 1,6 juta tenaga kerja.
BACA JUGA :  Menata Masa Depan Wisata Nusantara melalui Formula Pariwisata Berbasis Masyarakat dari Pantai Galung oleh UT Surabaya

Kritik Konsultan Pajak Senior

Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, Konsultan Pajak senior sekaligus Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Jawa Timur, menilai paket kebijakan ini sarat nuansa populis.

“Anggaran Rp16,23 triliun tampak besar, tapi jika diurai, sebagian besar diarahkan pada program konsumtif: subsidi PPh, bantuan pangan, dan potongan iuran BPJS. Itu hanya meredam keresahan sesaat, bukan memperkuat fondasi ekonomi. Ini lebih mirip strategi pencitraan ketimbang kebijakan ekonomi yang menyentuh akar masalah,” tegas Yulianto.

Menurut Yulianto, istilah populis di sini berarti kebijakan yang terlihat pro-rakyat karena manfaatnya cepat dirasakan, tetapi cenderung hanya memberi efek jangka pendek dan tidak menyelesaikan persoalan struktural.

Ia juga menyoroti kontradiksi kebijakan fiskal pemerintah. “Di satu sisi, negara menggelontorkan triliunan rupiah untuk program insentif. Di sisi lain, target penerimaan pajak terus digenjot tanpa memperhatikan beban dunia usaha. Pola ini kontraproduktif: fiskal negara defisit, pengusaha pun makin tertekan,” kritiknya.

BACA JUGA :  Genah Rasa Snack: Pelopor Oleh Oleh Bandung 24 Jam yang Guncang Shopee Lewat Kelezatan Tempe Goreng Fenomenal!

Program penyaluran 20.000 lulusan dan janji jutaan lapangan kerja baru pun ia nilai sangat ambisius tetapi sulit diverifikasi. “Apa jaminannya bahwa pekerjaan itu benar-benar produktif dan berkelanjutan? Jangan sampai yang dikejar hanya angka, sementara kualitas pekerjaan dan kontribusinya bagi ekonomi nasional minim,” ujarnya.

Ia menegaskan perlunya transparansi dan pengawasan independen. “Tanpa audit terbuka, publik tidak akan tahu apakah Rp16,23 triliun ini benar-benar bermanfaat atau hanya berhenti di tabel anggaran. Pemerintah jangan berhenti pada seremoni peluncuran, tapi harus berani menunjukkan data realisasi dan dampak nyata di lapangan,” pungkas Yulianto.

Tanggapan Pemerintah

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian belum memberikan tanggapan langsung atas kritik yang disampaikan. Pemerintah sebelumnya menegaskan bahwa paket kebijakan ini dirancang untuk mempercepat pemulihan ekonomi sekaligus memperluas lapangan kerja di berbagai sektor.

 

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal
Tim Investigasi HAM Soroti Penanganan Kasus Kembru Berdarah oleh Komnas HAM
Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)
Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh
Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Pemerintah Desa Bontolempangan Dorong Solusi Komprehensif Atasi Dampak Tambang
Aktivitas Tambang Diduga Tak Berizin di Karst Bontolempangan Terus Berjalan
Kepolisian Resor (Polres) Berau bersama tim gabungan lintas instansi, Sidak terkait dugaan penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
Berita ini 56 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:17 WIB

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:21 WIB

Tim Investigasi HAM Soroti Penanganan Kasus Kembru Berdarah oleh Komnas HAM

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:45 WIB

Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:45 WIB

Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:11 WIB

Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Berita Terbaru