Refleksi Hijrah dan Tantangan Global : Mampukah Umat Islam Memimpin Solusi?

- Publisher

Senin, 30 Juni 2025 - 09:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA

Makna Hijrah: Dari Perpindahan Fisik ke Transformasi Peradaban

Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah adalah titik balik sejarah peradaban Islam. Bukan sekadar perpindahan fisik, hijrah adalah strategi visioner untuk membangun masyarakat berbasis keadilan, etika, dan solidaritas. Nilai-nilai hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar dimulai dari keberanian untuk keluar dari zona nyaman menuju tatanan yang lebih adil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hijrah bukan nostalgia masa lalu. Ia adalah prinsip pergerakan, kesadaran perubahan, dan keberanian meninggalkan sistem yang merusak menuju tata dunia yang lebih bermartabat. Tahun baru 1447 H adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali semangat tersebut — bukan hanya dalam level individu, tetapi juga secara kolektif sebagai umat global.

Tantangan Global: Dunia yang Gagal Menghadirkan Keadilan

Kita hidup di dunia yang saling terkoneksi namun terpecah. Konflik bersenjata di Palestina, krisis kemanusiaan di Sudan, perang di Ukraina, dan ketegangan geopolitik di berbagai kawasan menunjukkan kegagalan tata dunia saat ini dalam menjaga perdamaian. Ketimpangan ekonomi global semakin nyata — negara-negara Muslim banyak yang kaya sumber daya tetapi tertinggal secara teknologi dan inovasi. Dunia digital membawa konektivitas, namun juga memperbesar jurang disinformasi dan krisis identitas generasi muda.

BACA JUGA :  pekerja mengaku bekerja di PT BAR site PT BERAU COAL. mengeluhkan pembayaran upah molorrr.!

Dalam situasi ini, Islam memiliki kekayaan nilai universal — keadilan (al-‘adl), kasih sayang (rahmah), dan kebijaksanaan (hikmah) — yang bisa ditawarkan sebagai solusi etis global.

Potensi Umat Islam: Jumlah Besar, Tantangan Kesatuan

Umat Islam saat ini berjumlah lebih dari 1,9 miliar jiwa, tersebar di lebih dari 50 negara, dan menjadi bagian penting dalam peta kekuatan ekonomi, politik, dan budaya dunia. Namun, potensi besar ini masih terhambat oleh fragmentasi internal, konflik sektarian, dan kurangnya koordinasi lintas negara dan mazhab.

Dari Palestina hingga Rohingya, dari isu perubahan iklim hingga Islamofobia di dunia Barat, umat Islam seringkali bereaksi secara emosional, namun lemah dalam menyusun grand strategy jangka panjang.

Langkah Strategis: Dari Spirit Hijrah ke Solusi Nyata

BACA JUGA :  Pakopak Angkat Bicara, Diduga Ada Praktek Pungli Saat Penyaluran Insentif Guru Ngaji Wilayah Kecamatan Tegalsiwalan 

Jika umat Islam ingin memimpin solusi atas tantangan global, beberapa langkah strategis perlu dijalankan:

  1. Penguatan Pendidikan Kritis dan Etis
    Pendidikan Islam perlu direorientasi untuk melahirkan generasi berintegritas tinggi, berwawasan global, dan mampu menjadi jembatan antarbudaya, bukan justru eksklusif dan tertutup dari zaman.
  2. Ekonomi Inklusif dan Berbasis Etika Islam
    Prinsip ekonomi syariah yang adil dan bebas riba bisa menjadi alternatif dari sistem kapitalisme yang eksploitatif. Inisiatif keuangan sosial seperti zakat, wakaf, dan koperasi bisa direvitalisasi untuk menyelesaikan ketimpangan.
  3. Diplomasi Kemanusiaan Umat Islam
    Dunia Islam perlu mengembangkan diplomasi lintas negara-negara Muslim untuk menjadi motor perdamaian dunia, bukan hanya menjadi objek konflik. Persatuan dalam isu-isu kemanusiaan harus menjadi prioritas.
  4. Reformasi Tata Kelola Keagamaan dan Politik
    Negara-negara Muslim harus berani mereformasi sistem politik dan keagamaan yang korup, otoriter, dan tertutup, menjadi lebih transparan dan demokratis — sesuai dengan maqashid syariah.
  5. Kolaborasi dengan Dunia Internasional
    Kepemimpinan umat Islam tidak berarti isolasi. Justru perlu mengedepankan kolaborasi global dengan menjunjung prinsip rahmatan lil-‘alamin, menjadi mitra aktif dalam mengatasi isu-isu dunia.
BACA JUGA :  Sengkarut Makan Bergizi Gratis Soreang: Air Mata UMKM di Balik Ambisi '4.000 Kue Semalam' dan Bayang-Bayang Politik Partai Penguasa

Kesimpulan: Hijrah Sebagai Proyek Peradaban

Hijriah 1447 H menandai saat yang tepat untuk umat Islam bertanya pada diri: apakah kita ingin terus menjadi korban arus zaman, atau bangkit menjadi pelaku perubahan? Spirit hijrah tidak hanya berbicara tentang meninggalkan keburukan, tetapi juga membangun masa depan bersama.

Untuk itu, umat Islam tidak cukup hanya memimpin doa, tetapi juga harus siap memimpin solusi. Dengan semangat hijrah, umat Islam bisa dan harus mengambil bagian dalam menyusun kembali arah dunia yang lebih adil dan beradab.

Catatan Penutup:
Tulisan ini mengundang refleksi lintas kelompok, tanpa memonopoli kebenaran. Hijrah adalah milik semua yang ingin bergerak menuju nilai-nilai luhur. Tahun baru ini adalah panggilan bagi kita semua — untuk berhijrah dari apatisme ke aksi, dari perpecahan ke persatuan, dari keluhan ke solusi.

 

Sumber Berita: Referensi : • Al-Qur'an Surah Al-Hasyr ayat 8-9: Spirit muhajirin-anshar dalam membangun masyarakat beradab. • Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-‘Azim: Tafsir makna hijrah sebagai perpindahan fisik dan spiritual menuju nilai ilahi. • Karen Armstrong, Islam: A Short History (2002): Hijrah bukan hanya eksodus, tapi revolusi spiritual-sosial. • Ali Shariati, Hajj: Menyamakan hijrah dengan proses penghilangan ego menuju kesadaran kolektif umat. • Yusuf al-Qaradawi, Fiqh al-Awlawiyyat (Fiqh Prioritas): Pentingnya umat Islam memilih perjuangan yang strategis dan prioritas demi peran global. • Mohammad Natsir & Buya Hamka (tokoh Indonesia): Islam bukan sekadar agama pribadi tapi basis etika publik. • Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam: Dorongan untuk membangun peradaban Islam berbasis rasionalitas dan spiritualitas.

Berita Terkait

Progam PRONA 2010 dan PTSL 2018 Desa Gading Kulon, Diduga Merugikan Negara, Masyarakat dan Ahli Waris Hingga Ratusan Juta Rupiah 
HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal
Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)
Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh
Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Perselisihan di Warung Mentawak Berujung Pemukulan, YL Lapor ke Polres Merangin  
Silatnas dan Milad 2026 Perkuat Ukhuwah, Komitmen, dan Kompetensi Anggota AR Learning Center serta Suara Utama
Raker Ma’had Ar-Rohmah Bogor Perkuat Mutu Pendidikan dan Prestasi Santri
Berita ini 70 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:37 WIB

Progam PRONA 2010 dan PTSL 2018 Desa Gading Kulon, Diduga Merugikan Negara, Masyarakat dan Ahli Waris Hingga Ratusan Juta Rupiah 

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:17 WIB

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:45 WIB

Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:45 WIB

Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:11 WIB

Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Berita Terbaru