Ragukah Kita dengan Al-Qur’an? Sebuah Tafsir Al-Baqarah Ayat 2

- Publisher

Jumat, 18 Oktober 2024 - 20:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

    Abu Mahdi Ibn Ibrahim
    Abu Mahdi Ibn Ibrahim

Oleh: Abu Mahdi ibn Ibrohim

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 2:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Artinya: Kitab itu tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa.

Penggunaan isim isyarah (dzaalika) pada ayat ini yang berarti “itu,” menunjukkan suatu benda yang jauh dari orang yang menunjuk. Ini adalah i’tibar (upaya Allah yang mengajak kita berpikir) bahwa Al-Qur’an ini akan dianggap sesuatu yang jauh. Tidak semua orang berkenan mendekatinya, menerimanya, mempelajari isinya, dan beriman kepadanya.

Mengapa demikian? Bisa saja Allah menggunakan isim “haadzal kitaab” yang bermakna “kitab ini,” yang menunjukkan sesuatu yang dekat. Secara fakta, Al-Qur’an (Kalamullah) ini sudah diturunkan dan berada di tengah-tengah manusia Quraisy, yang mendengarkan langsung Rasulullah SAW membacakannya. Beberapa sahabat yang mendengarnya bahkan menuliskannya di pelepah kurma di tempat masing-masing.

BACA JUGA :  Aksi kriminalitas berdarah terjadi di sebuah hunian warga Di kawasan Jalan Bujangga,Tanjung Redeb. Kabupaten Berau.

I’tibar ini menegaskan pula bahwa hanya orang-orang yang benar-benar bertakwa yang akan menjadikan Al-Qur’an itu selalu dekat dengannya. Hal ini ditegaskan pada akhir ayat dengan menyebutkan kriteria orang yang akan menjadikan Al-Qur’an dekat.

Berdasarkan isim isyarah ini, terdapat pula kelompok manusia yang menyikapi Al-Qur’an dengan setengah-setengah, yaitu yu’minuuna biba’din wa yakfuruuna biba’din (beriman kepada sebagian isinya dan mengingkari sebagian lainnya). Mereka seperti Bani Israil, yang hanya mengambil bagian dari Taurat yang cocok dengan akal dan hawa nafsu mereka, sementara bagian lain yang tidak sesuai mereka abaikan.

Ketika akal dan hawa nafsu menginginkan keuntungan duniawi, sebagian ayat (aturan Allah) dalam Kitab-Nya dibuang dan digantikan dengan aturan yang menguntungkan kedudukan dan kepentingan duniawi mereka. Terutama terkait hukum dan aturan Allah yang terdapat dalam Zabur, Taurat, hingga Injil. Oleh karena itu, Allah mengingatkan agar Al-Qur’an tidak diperlakukan serupa oleh para pengikut Rasul-Nya seperti umat terdahulu yang memperlakukan kitab suci mereka.

BACA JUGA :  Predator Koruptor Kelahiran Wilayah Yang di Juluki Surga Yang Hilang,Terpilih Menjadi Presiden LSM LIRA

Yang kedua, disebut Al-Kitab juga sebagai isyarat bahwa firman Allah ini, meskipun turun secara terpisah ayat-ayat dan surat-suratnya, suatu ketika—setelah proses wahyu rampung—akan mengalami kodifikasi (pembukuan) sebagaimana layaknya sebuah kitab. Larangan Nabi kepada beberapa sahabat untuk mencatat Al-Qur’an di lembaran-lembaran mereka semata-mata adalah bentuk kehati-hatian agar Al-Qur’an tidak tercampur dengan perkataan beliau (hadits).

Yang ketiga, Allah memberikan garansi bahwa dalam Al-Qur’an tidak ada bagian yang patut diragukan, karena semuanya berasal dari Allah (Kalamullah). Bukan ucapan Nabi Muhammad (manusia) yang bisa salah atau dipengaruhi akal dan nafsu. Allah sendiri dalam ayat lain menjamin, “Dialah yang menurunkan Al-Qur’an ini dan akan menjaganya” dari perubahan yang mungkin dilakukan oleh tangan-tangan manusia yang ingin mencampur-adukkan yang haq dengan yang batil.

BACA JUGA :  Pakopak Angkat Bicara, Diduga Ada Praktek Pungli Saat Penyaluran Insentif Guru Ngaji Wilayah Kecamatan Tegalsiwalan 

Yang keempat, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah hudan (petunjuk). Oleh karena itu, harus dijadikan sebagai acuan hidup bagi orang-orang yang mengaku bertakwa. Secara harfiah, dapat disimpulkan bahwa jika seseorang mengaku bertakwa tetapi tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup, maka patut diragukan atau belum sempurna takwanya.

Demikianlah sedikit penjelasan tentang makna surat Al-Baqarah ayat 2 ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca dan mampu mengubah pola pikir kita agar menjadi seseorang yang sempurna nilai takwanya. Aamiin.

Penulis : Abu Mahdi Ibn Ibrahim

Editor : Redaksi Suara Utama

Berita Terkait

Progam PRONA 2010 dan PTSL 2018 Desa Gading Kulon, Diduga Merugikan Negara, Masyarakat dan Ahli Waris Hingga Ratusan Juta Rupiah 
HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal
Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)
Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh
Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Perselisihan di Warung Mentawak Berujung Pemukulan, YL Lapor ke Polres Merangin  
Silatnas dan Milad 2026 Perkuat Ukhuwah, Komitmen, dan Kompetensi Anggota AR Learning Center serta Suara Utama
Raker Ma’had Ar-Rohmah Bogor Perkuat Mutu Pendidikan dan Prestasi Santri
Berita ini 97 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:37 WIB

Progam PRONA 2010 dan PTSL 2018 Desa Gading Kulon, Diduga Merugikan Negara, Masyarakat dan Ahli Waris Hingga Ratusan Juta Rupiah 

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:17 WIB

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:45 WIB

Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:45 WIB

Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:11 WIB

Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Berita Terbaru