PBB dan ASEAN Desak Indonesia Transparan Usai Tragedi Demonstrasi Akhir Agustus

- Publisher

Sabtu, 6 September 2025 - 20:59 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Polisi dengan tameng pengendali massa di tengah demonstrasi. Komunitas internasional menyoroti dugaan penggunaan kekuatan berlebihan.

Polisi dengan tameng pengendali massa di tengah demonstrasi. Komunitas internasional menyoroti dugaan penggunaan kekuatan berlebihan.

SUARA UTAMA – Jakarta, 6 September 2025. Gelombang demonstrasi yang mewarnai pekan terakhir Agustus 2025 di sejumlah daerah Indonesia kini mendapat perhatian tajam dari komunitas internasional. Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mendesak pemerintah Indonesia menggelar penyelidikan menyeluruh terkait jatuhnya korban jiwa, termasuk Affan Kurniawan, pengemudi ojek daring yang meninggal pada 28 Agustus 2025.

Juru Bicara OHCHR, Ravina Shamdasani, menegaskan pihaknya mengawasi ketat dinamika di lapangan. “Kami prihatin dengan dugaan penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh aparat keamanan. Hak masyarakat untuk berkumpul secara damai dan menyampaikan pendapat harus dihormati sesuai standar hukum internasional,” ujarnya melalui situs resmi OHCHR, Senin (1/9/2025).

OHCHR juga menekankan perlunya investigasi yang cepat, menyeluruh, dan transparan agar setiap dugaan pelanggaran HAM dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Kritik dari ASEAN

Sorotan serupa datang dari ASEAN Parliamentarians for Human Rights (APHR). Dalam pernyataan pers, Jumat (29/8/2025), APHR menilai tindakan represif aparat semakin memperburuk situasi. Mereka mengutuk penggunaan gas air mata, meriam air, hingga kendaraan lapis baja untuk membubarkan massa, serta upaya penghalangan terhadap relawan medis dan jurnalis.

Menurut APHR, tuntutan massa saat itu berkisar pada isu fundamental: upah layak, kondisi kerja yang adil, transparansi anggaran, hingga penolakan atas kebijakan pertambangan yang dianggap merugikan masyarakat. Namun, alih-alih dijawab melalui dialog, aspirasi tersebut justru dijawab dengan kekerasan.

Arlene Brosas, anggota APHR asal Filipina, menegaskan pelaku kekerasan harus dimintai pertanggungjawaban. Sementara Wong Chen, anggota parlemen Malaysia yang juga tergabung dalam APHR, menyebut Indonesia kini menghadapi ujian serius apakah memilih jalan reformasi atau represi.

BACA JUGA :  Pelatihan Menulis Digelar di MTS Mamba’ul Ulum Pekon Margoyoso, Tanggamus

Respons Pemerintah

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menegaskan pemerintah telah membentuk tim pemantau khusus dan membuka mekanisme pengaduan publik. “Presiden menegaskan aparat yang terbukti bersalah akan diproses sesuai hukum. Pemeriksaan internal Polri dilakukan cepat, terbuka, dan dapat dipantau publik,” kata Kemlu, Kamis (4/9/2025).

Menteri HAM Natalius Pigai menyebut kritik OHCHR terlambat. Menurutnya, Presiden Prabowo sudah lebih dahulu bertindak pada 29 Agustus dengan menemui keluarga Affan Kurniawan serta menegaskan komitmen kebebasan berekspresi sesuai International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR).

Dampak Internasional

Ririn Tri Nurhayati, akademisi Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada, mengingatkan bahwa tekanan global tak bisa dianggap remeh. “Meski bukan Dewan Keamanan, OHCHR punya otoritas moral. Indonesia wajib menanggapi serius agar konsistensi komitmen HAM tetap terjaga,” jelasnya.

BACA JUGA :  Respons Cepat Polisi, Dua Terduga Pelaku Penganiayaan di Bitung Diamankan

Ririn juga menegaskan bahwa kedaulatan negara modern menuntut pemerintah melindungi rakyatnya. “Kritik eksternal wajar jika negara gagal memenuhi kewajiban itu. Bukan intervensi, melainkan bentuk keprihatinan,” tambahnya.

Suara Mahasiswa Ilmu Hukum

Eko Wahyu Pramono, mahasiswa Ilmu Hukum, menilai transparansi pemerintah menjadi kunci.
“Janji penegakan hukum harus dibuktikan dengan langkah nyata. Kasus Affan Kurniawan pada 28 Agustus 2025 adalah ujian awal apakah pemerintah benar-benar konsisten menegakkan HAM sekaligus memastikan akuntabilitas aparat,” ujarnya kepada Wartawan Suara Utama.

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Tambang PT MTN Makin Dekat dengan Rumah Warga, 100 KK Palayo Mengeluh: Sosialisasi Dipertanyakan, Manajemen Bungkam ‎
Fakta Sidang Kasus 997 Ekstasi Samarinda: Advokat Krissandi & Partners Buktikan Kliennya Hanya Sopir Carteran Tanpa ‘Mens Rea’
Bapelkum Bitung Bekali 15 Peserta MagangHub dengan Etos Kerja dan Integritas
Mubeslub Ormawa UT Surabaya Bahas dan Tetapkan AD/ART sebagai Landasan Organisasi Mahasiswa
Kisah Inspiratif Pedagang Dimsum Naik Kawasaki ZX25R di Cimahi
Kades Renah Alai Mangkir dari Panggilan Penyidik Polres Merangin, Pemeriksaan Dijadwalkan Ulang
Pelatihan Menulis Digelar di MTS Mamba’ul Ulum Pekon Margoyoso, Tanggamus
Diakon Alex Pigai Apresiasi Kadis Pendidikan Dogiyai Bantu 50 Sak Semen
Berita ini 3,034 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:50 WIB

Tambang PT MTN Makin Dekat dengan Rumah Warga, 100 KK Palayo Mengeluh: Sosialisasi Dipertanyakan, Manajemen Bungkam ‎

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:43 WIB

Fakta Sidang Kasus 997 Ekstasi Samarinda: Advokat Krissandi & Partners Buktikan Kliennya Hanya Sopir Carteran Tanpa ‘Mens Rea’

Selasa, 11 Agustus 2026 - 02:19 WIB

Bapelkum Bitung Bekali 15 Peserta MagangHub dengan Etos Kerja dan Integritas

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:52 WIB

Kisah Inspiratif Pedagang Dimsum Naik Kawasaki ZX25R di Cimahi

Senin, 10 Agustus 2026 - 17:59 WIB

Kades Renah Alai Mangkir dari Panggilan Penyidik Polres Merangin, Pemeriksaan Dijadwalkan Ulang

Berita Terbaru

Berita Utama

Bang Nahar Strategis Wafat, Sulbar Kehilangan Putra Terbaiknya

Selasa, 11 Agu 2026 - 16:33 WIB

Berita Utama

15 Peserta MagangHub Mulai Jalani Pemagangan di Bapelkum Bitung

Selasa, 11 Agu 2026 - 12:15 WIB

mancingjitu slot thailand slot thailand https://www.marcopolodijon.com/